MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 60. Atap Rumah


__ADS_3

Suatu malam yang kelam tanpa adanya cahaya rembulan hanya di terangi bohlam temaram di setiap teras rumah warga di desa tempat tinggal Fadli, bahkan ada sebagian rumah warga yang tidak menerangi terasnya sama sekali. Meski begitu, pemuda-pemuda di desa itu sangat rajin ronda bergiliran setiap malamnya, suara jangkrik dan binatang-binatang kecil lainnya terdengar mengalun merdu terkadang iramanya berubah mencekam membuat suasana malam yang pekat menjadi menyeramkan.


Seorang pemuda yang berniat pergi ke pos ronda lewat tepat di depan rumah Fadli, tak sengaja matanya tertuju ke rumah besar dan megah milik Fadli itu, ia heran mengapa masih ada orang yang berada di pekarangan di tengah malam yang sunyi dan gelap gulita, ia melihat seseorang namun tak di kenalinya sedang berdiri tepat menghadap kearahnya, karena cahaya bohlam yang temaram, wajah orang itu tidak nampak terlihat, tapi pemuda tersebut yakin bahwa orang yang berdiri menghadap kearahnya itu sedang mengamatinya.


"Hei, kau siapa?" Seru pemuda itu.


Tak ada sahutan, tapi sosok yang menghadap kearahnya itu masih berdiri ditempatnya semula.


"Kau siapa? Jangan macam-macam dirumah warga, atau aku akan berteriak!" Ancam pemuda tersebut.


Sosok itu tidak menjawab, tapi masih berdiri tegak menghadap kearahnya.


"Jika kau tidak berkepentingan dengan pemilik rumah ini, lebih baik kau pergi dari sini!" Bentak pemuda itu mulai kasar sambil mengacung-ngacungkan tongkat kayu yang sengaja di bawanya untuk meronda.


Sosok itu masih tidak bergeming, pemuda tersebut menjadi tak karuan, ia merasa dirinya perhatikan oleh sosok asing di depannya.


"Baiklah, aku akan memanggil warga, agar mereka menghakimimu!" Ucapnya menantang.


Belum sempat pemuda itu melakukan sesuatu, tiba-tiba sosok yang tadi berdiri beberapa meter dari tempatnya kini kedua belah tangannya sudah memegang lehernya. Yang lebih mengejutkan lagi, sosok asing tersebut masih berdiri ditempatnya, sedangkan tangannya memegang leher pemuda. Tubuh pemuda itu naik keatas beberapa jengkal dari tanah karena diangkat oleh tangan sosok tersebut. Tak terdengar suara apa-apa, hanya geraman yang nampak marah. Pemuda yang hendak meronda tadi kelepak-kelepak, kakinya memandang tangan panjang sosok misterius itu, ia tak bisa berteriak karena lehernya dipegang.


Perlahan sosok itu mendekatkan wajah pemuda dengan wajahnya, sang pemuda tak melihat wajah sosok misterius tersebut, wajahnya rata, tak ada mata, hidung dan mulut layaknya manusia, tapi mengapa ia seolah bisa melihatnya bahkan memegang lehernya. Pemuda itu tak mau ambil pusing, ia sibuk berjuang melepaskan dirinya dari cengkeraman sosok yang sangat misterius itu. Alih-alih selamat, dirinya malah naik semakin tinggi keudara.


"Apa yang akan sosok misterius ini lakukan padaku? Apakah dia akan mengangkatku tinggi ke atas kemudian menjatuhkan aku kebawah!" Gumam pemuda itu dalam hati.


Tanpa ia sadari, sosok misterius yang berwajah rata itu semakin besar dan tinggi. Sang pemuda merasa dirinya hampir menyehtuh langit, dan ia berpikir dirinya sudah dekat dengan ajal. Pemuda itu ketakutan yang tak terhingga, sedangkan sosok misterius itu memain-mainkan badan pemuda tersebut, sehingga tubuhnya berayun-ayun di udara.


"Tamatlah riwayatku malam ini!" Rintih pemuda itu dalam hati, iapun mulai kehilangan keseimbangannya, dan tanpa di sadarinya, ia sampai kencing dalam keadaan ketakutan.

__ADS_1


Pemuda itu tak peduli dengan keadaannya yang basah dan pesing, ia masih menendang-nendang tangan sosok misterius yang masih memegang lehernya. Berbagai upaya ia lakukan, namun tak berhasil, ia kelelahan dan jatuh pingsan.


...*****...


"Ada yang melihat Iful?" Tanya wanita separuh baya pada pemilik warung.


"Tidak?! Memangnya dia kemana, Bu Diah?" Tanya pemilik warung.


"Tadi malam jam sebelas, dia menyusul teman-temannya untuk meronda! Tapi sampai pagi ini dia belum pulang!" Jawab Bu Diah.


"Coba tanyakan pada teman-temannya, mungkin mereka tidur di pos ronda!" Ucap pemilik warung menyarankan.


"Sudah kutanyakan pada salah satu temannya yang tadi malam meronda, tapi katanya Iful tidak datang!" Jawab Bu Diah dengan wajah cemas.


"Sebaiknya kau pergi ke pos ronda saja, biasanya anak-anak muda ada disitu, bergadang terus tertidur sampai pagi!" Pemilik warung kembali memberikan sarannya.


Tapi sesampainya di pos ronda, dia tidak menemukan satupun pemuda-pemuda yang biasanya nongkrong disitu. Perasaan Bu Diah makin cemas, Iful putranya tidak pulang sejak tadi malam, ia memutuskan untuk kembali kerumah. Dalam perjalanan pulang, ia dikejutkan dengan beberapa warga berlarian menuju rumah Bunda Najah, Bu Diah penasaran apa yang sedang terjadi di sana.


"Ada apa?! Kenapa kalian berlari-lari?" Tanya Bu Diah pada salah satu warga yang berpapasan dengannya.


"Tidak tahu, tapi kata mereka ada warga berada di atas atap rumah Bunda Najah!" Jawab warga.


"Kenapa bisa berada di atas atap rumah?" Tanya Bu Diah.


"Entahlah!" Jawab warga tersebut dengan ekspresi ingin tahu sambil berlari-lari kecil.


Bu Diah jadi penasaran mengapa ada warga yang bisa berada di atas atap rumah, padahal atap rumah Bunda Najah yang bergaya Eropa itu lumayan tinggi, harus memakai tangga jika ingin naik ke atas atap. Akhirnya Bu Diah membatalkan niatnya untuk pulang, ia memilih untuk pergi ke rumah Bunda Najah karena penasaran dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Ternyata warga sudah berkumpul di pekarangan rumah Bunda Najah menyaksikan kejadian yang tak masuk akal tersebut.


"Ayo cepat turunkan pemuda itu!" Perintah Bi Leha pada salah seorang warga yang bersedia mengevakuasi anak muda yang berada di atas atap.


"Tolong turunkan aku!" Ucap pemuda itu dengan nada ketakutan.


Mata Bu Diah tertuju kearah pemuda yang berada di atas atap rumah Bunda Najah, ia langsung mengenali pemuda yang tak lain adalah putrinya sendiri, Iful.


"Fuuuuuul, anakku!" Teriak Bu Diah seraya berlari menerobos kerumunan dan menghampiri tempat dimana Iful berada.


"Ibuuu!" Iful senang ibunya datang, matanya berbinar.


"Kenapa kau bisa berada di situ nak?" Tanya Bu Diah khawatir pada anaknya.


"Ceritanya panjang, Bu! Biarkan aku turun dulu dari atas atap, aku akan menceritakan semuanya!" Jelas Iful.


"Baik, nak! Jangan berbuat apa-apa sebelum penolong datang menolongmu!"


Bi Leha tercengang dengan penuturan pemuda yang bernama Iful tersebut.


"Jangan-jangan ada dedemit milik keluarga Najah yang mengganggu anak muda ini!" Gumam Bi Leha dalam hati dengan perasaan curiga.


Setelah perjuangan dan usaha selama beberapa waktu, akhirnya para relawan berhasil menurunkan Iful dari atas atap, Bu Diah bergegas meraih pundak anaknya dan memeluknya. Warga akhirnya lega setelah Iful turun, satu persatu persatu warga kembali kerumah masing-masing


"Ibu sangat khawatir karena kau tidak pulang sejak tadi malam!" Ucap Bu Diah sambil menangis.


"Sudahlah, kau tak usah mencemaskannya lagi. Mari masuk?" Ucap Bi Leha sambil mengajak ibu dan anak masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Beberapa warga menghampiri Bu Diah dan Ifan ingin tahu mengapa dia bisa berada di atas atap rumah.


__ADS_2