MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 92. Mengambil Hutang


__ADS_3

Mak Inang masuk kedalam rumah, ia seolah sedang bermimpi di saat terbangun.


"Siapa Mak?" Tanya Pak Musa suami Mak Inang.


"Tidak ada siapa-siapa, angin ribut di luar, mungkin suara ketukan tadi dari suara-suara pohon kelapa yang saling bergesek satu sama yang lain!" Jawab Mak Inang berbohong.


"Sudah tengah malam, Mak! Sebaiknya kita tidur!" Ajak Pak Musa.


"Baiklah!" Mak Inang tak menolak ajakan suaminya.


Pasangan suami istri yang sudah sepuh itu beranjak tidur karena malam sudah makin larut.


"Aku akan bertanya pada Saba dan Mara apakah mereka mengalami hal yang sama seperti yang kualami tadi!" Mak Inang bertekad akan menanyakan kejadian yang di alaminya pada teman-teman seprofesi dengannya.


Malam itu sangat dingin, bulan purnama enggan bersinar, sehingga suasana malam menjadi mencekam.


"Assalamualaikum!" Ucap seseorang di luar sedang memberi salam.


"Alaikum salam!" Sahut orang yang ada di dalam rumah, orang tersebut pemilik sebuah warung teh, ia sedang membuat kue-kue basah untuk di jual nanti diwarungnya.


"Kembalikan uangku!" Seru orang yang berada di luar sana.


"Kau siapa? Hari masih gelap, aku belum punya uang, jualanku belum laku!" Ucap pemilik warung tersebut.


"Antarkan uangku pada anak menantuku!" Ucap orang diluar itu.


"Sudah kubilang aku belum punya uang, daganganku belum laku!" Ucap pemilik warung tak bergerak dari tempat duduknya yang sedang sibuk membuat kue-kue.


Bau kembang Kamboja tercium sangat menyengat oleh pemilik warung.


"Dari mana datangnya aroma bunga busuk dan hangus ini?" Gumam pemilik warung tersebut.


Seperti biasa ia membuat kue-kue sebelum matahari terbit, biasanya ia mulai bekerja mulai jam satu malam. Suaminya pergi ke pasar pagi membeli lauk pauk dan sayur mayur untuk di jual sebagai teman nasi nanti pagi.


"Kapan kau berniat mengantarkan uang milikku?" Tanya orang yang masih berada di luar.


"Aduuuh, kenapa kau terlalu banyak bicara?!" Pemilik warung emosi, ia keluar ingin menemui orang yang berada diluar yang sedang menagih uang miliknya.


Pemilik warung seketika terhenyak melihat sosok yang berdiri di depannya, pocong dengan wajah menghitam dan bau busuk.


"Kau.. kau.. kau siapa?" Tanya pemilik warung terbata-bata.

__ADS_1


"Najah!" Seiring dengan namanya disebut, sosok pocong itu menghilang dalam sekejap.


Pemilik warung itu tak kuasa berdiri, tubuhnya melemah dan gemetar, iapun terduduk dilantai setelah mengetahui dirinya berdiskusi dengan seorang pocong yang mengaku sebagai Bunda Najah.


...****************...


"Waktu sudah menunjukkan pukul tiga malam. Fadli, tolong buat kopi hitam untuk kami!" Pinta Pak Hamdan menyuruh Fadli.


"Baik Pak, sekarang aku pulang!" Jawab Fadli seraya berjalan menuju rumahnya.


Orang-orang dirumah sedang terlelap tidur, hanya Lara yang tak karuan menunggu hasil lembur Fadli bersama ayahnya dan Pak Sholeh. Fadli segera menghampiri Lara dan memberitahunya tentang keinginan ayahnya. Lara bergegas ke dapur untuk membuat kopi pahit hitam pesanan ayah mertuanya.


Beberapa saat kemudian Fadli telah kembali membawa termos tahan panas berisi kopi pahit hitam, ia menyuguhkan kopi tersebut pada mereka kemudian meminumnya bersama-sama. Pak Sholeh nampak serius dengan pekerjaannya, ia tak kenal lelah menunggu sosok pocong Bunda Najah kembali ke pusaranya.


...****************...


"Siapa kau menarik-narik kasurku!?" Tanya seorang pria sambil tidur.


Kasurnya ditarik-tarik sangat mengganggu tidurnya, pria itu marah-marah dalam keadaan tidur, ia merasa sangat terganggu.


"Kasurku!" Seru seseorang dengan tegas.


"Jangan ganggu tidurku!" Bentak pria itu sangat keras.


"Enyah kah, jangan ganggu tidurku!" Ucap pria itu lagi.


Tapi kasurnya makin ditarik-tarik sampai lawan bicaranya makin emosi dibuatnya.


"Sialan, apa-apaan ini?!" Bentak pria itu masih dengan mata terpejam.


Ia melempar bantalnya kearah orang yang masih menarik-narik kasur yang diakuinya sebagai miliknya. Bantal terbanting keras ke tembok, pria itu baru sadar tak ada siapapun di kamar selain dirinya sendiri, iapun melayangkan pandangannya menyapu keseluruh ruangan.


"Apakah aku baru saja bermimpi?" Pria itu celingak celinguk mencari orang yang mengganggunya.


"Tidak!" Jawab sosok yang tak menampakkan wujudnya, hanya terdengar suaranya sambil cekikikan.


"Kau siapa? Dimana kau bersembunyi?" Tanya pria itu.


"Bayar lunas harga kasurku!" Jawab sosok misterius yang tak nampak batang hidungnya.


"Kau siapa?" Pria itu bertanya lagi.

__ADS_1


"Najah!" Sosok pocong berwajah gosong dan bau busuk muncul dihadapannya.


"Hah?" Pria itu terbelalak tak percaya, ia mencari sapu untuk memukul sosok pocong yang mengaku Bunda Najah tersebut.


Sapu yang di cari pria itu melayang di udara kemudian memukul kepalanya sangat keras hingga pria itu tidak sadarkan diri akibat pukulan keras yang menimpa kepalanya.


Malam sebentar lagi bertukar dengan pagi, sebagian orang telah kembali dari pasar membawa belanjaan mereka untuk di olah dan dijual kembali.


Suami pemilik warung datang, ia memarkir sepeda motor miliknya di samping warung, kemudian membawa masuk belanjaannya, ia heran kenapa warung istrinya belum buka.


"Bu, kenapa warung belum buka? Hari hampir pagi, sebentar lagi adzan Subuh!" Tanya sang suami heran.


Pemilik warung sedang sibuk memasak kue-kue basah akibat terlambat, karena ia tak sadarkan diri beberapa jam sehingga ia terlambat membuat kue-kue.


Pemilik warung itu kemudian menceritakan apa saja yang ia alami pada suaminya, mereka sadar punya hutang pada Bunda Najah sejak lama sekali, hutang mereka untuk modal warung yang kini di jalani mereka.


"Pantas saja almarhumah mengambil hutang kita!" Ucap sang suami.


"Kukira orang kaya lupa pernah memberi hutang pada kita!" Ucap istrinya.


"Salah kau sendiri sengaja tidak dibayar-bayar dari dulu!" Sang suami menyalahkan istrinya.


"Banyak, Pak! Tidak sedikit, lima puluh gram emas murni, kemana kita mencari uang untuk membayarnya?" Jawab sang istri.


"Kita harus memikirkannya dengan serius, dan setelah punya uang kita harus membayarnya pada Fadli, dari pada ibunya meneror kita!" Ujar sang suami.


Istri pemilik warung mengangguk setuju, mereka kembali beraktifitas menjalankan warung nya untuk pelanggan yang akan berdatangan setelah sholat Subuh nanti, hari itu warung mereka buka agak terlambat karena kejadian tadi malam.


Pelanggan sudah berkumpul di depan warung untuk membeli sarapan, ada yang sarapan di warung dan ada yang di bawa pulang.


Sang suami membantu membuat teh dan menyuguhkannya pada pelanggan, dan para pelanggan mulai menikmati sarapan mereka. Di desa itu terbiasa sarapan sehabis sholat Subuh karena mereka akan pergi ke ladang pagi-pagi.


"Rasa kue ini berbeda dari hari biasa!" Seru seorang pelanggan.


"Iya, kue ini juga tidak seperti biasanya! Bau basi, ada ulat!!! Seru pelanggan yang lain terkejut melihat ulat di dalam kue yang di makannya.


"Kue-kue disini juga basi, bau semua!" Pelanggan yang lain ikut kebingungan melihat kue-kue basi semua.


Pemilik warung suami istri saling pandang, mereka takut menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka tak ingin pelanggan mencap jelek warung mereka.


Akhirnya sang suami memberikan klarifikasi pada pelanggan, sebagian dari mereka ketakutan dan jijik, sebagian lagi tak percaya dengan tahyul.

__ADS_1


Padahal arwah Bunda Najah telah mengaduk-aduk dagangan mereka hingga basi tidak bisa di makan.


__ADS_2