MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 78. Kuyang Sandah


__ADS_3

"Kau si..siapa?" Pekik Bi Ratih tergagap sambil berjalan mundur kebelakang terseok-seok karena sosok di depannya mendekat kearahnya.


Sosok besar dan tinggi tersebut berdiri dengan tegap menyambangi Bi Ratih, rambutnya yang mengkilap putih bagai perak menutupi seluruh wajahnya, jalannya yang menyilang sangat menakutkan saat makin mendekat kearah Bi Ratih, kuku-kukunya yang panjang bagai pisau tajam siap untuk mencabik-cabik tubuh mangsanya.


"Jangan ganggu dia!" Bentak Mama Hanum.


Sosok yang tiba-tiba muncul tersebut tak mempedulikan ucapan Mama Hanum, sementara Bi Ratih menggigil ketakutan.


"Kau mau apa?" Tanya Mama Hanum ketus.


"Darah, darah wanita tua ini masih suci! Kenapa kau tidak berhenti di kedai milikku tadi? Agar aku tidak repot-repot mengejar kalian sampai kemari?" Bentak sosok menyeramkan tadi.


"Kuyang Sandah! Jangan ganggu perjalanan kami, jangan sakiti saudaraku!" Teriak Mama Hanum.


"Kau salah membawa wanita ini lewat di wilayahku, sudah bertahun-tahun aku tidak meminum darah manusia, kini saatnya aku menikmati darah suci wanita ini!" Balas wanita renta yang ternyata pemilik kedai reot tadi.


"Kau bisa berburu binatang, atau tembuni bayi baru lahir! Jangan ganggu dia!" Larang Mama Hanum menengahi, ia berdiri di tengah-tengah antara Bi Ratih dan Kuyang Sandah tersebut.


"Dia pemilik darah suci satu-satunya yang melintas di wilayahku, mustahil aku melepaskannya! Hihihihi.. " Kuyang Sandah pemilik kedai reot tertawa cekikikan, tawanya menggema bersahut-sahutan di gunung yang yang gelap dan terjal itu.


"Kau tidak bisa mengorbankannya, karena dia istri raja iblis penghuni gunung Meratus! Kau akan menyesal seumur hidup!" Bentak Mama Hanum.


"Karena dengan memangsanya kesaktianku akan bertambah, dan aku bisa hidup seribu tahun lagi! Aku mengenal suaminya yang tak berguna itu, raja iblis pengecut yang tak bermanfaat untuk orang sekelilingnya, jangankan untuk orang lain, untuk istrinya saja dia tidak mau berkorban, hahaha! Kalau dia benar-benar raja iblis, dia akan mengakui istrinya meski dari bangsa manusia. Tapi kenyataannya dia memilih menjadi raja tak berguna di gunung Meratus dengan menelantarkan istrinya di desa, cuih!" Kuyang Sandah berdebat dengan Mama Hanum.


Lalu siapa Ivan yang selama ini dianggap sebagai putra Bi Ratih? Kita tunggu jawabannya pada bait-bait berikutnya.


"Kau tak akan bisa menghisap darah sucinya!" Mama Hanum menantang sang Kuyang Sandah.

__ADS_1


Sementara itu Kuyang Sandah tersebut makin mendekati Bi Ratih, ia membentangkan tangannya siap untuk meraup Bi Ratih dan menculiknya pergi, Mama Hanum menahan tubuh ceking, tinggi dan kuat itu. Di belakang mereka terdapat jurang yang sangat terjal dan dalam sedang menanti, Mama Hanum berjuang menahan tubuh tinggi meski ceking itu, tenaganya terkuras, ia terengah-engah kelelahan. Tangan Kuyang Sandah itu sudah menyentuh bahu Bi Ratih yang kini tak sadarkan diri.


Tiba-tiba angin kencang datang dan berhembus kuat, muncul sosok tak dikenali berkelebat menarik tangan Mama Hanum dan Bi Ratih dari cengkeraman Kuyang Sandah.


"Terkutuk, siapa yang berani menghalangi misiku!?" Umpat Kuyang Sandah geram.


Kuyang Sandah mengamuk di lokasi di mana mangsanya berdiri tadi, ia berang dan sangat marah telah gagal memangsa wanita pemilik darah suci itu.


"Wanita itu lepas dari cengkeramanku, susah-susah aku menunggu manusia yang memiliki darah suci sepertinya, kenapa aku harus gagal?" Kuyang Sandah itu masih emosi, amarahnya menjadi-jadi.


Siapakah sebenarnya Bi Ratih? Beliau saudara oleh Mama Hanum yang menikah dengan makhluk tak kasat mata, bangsa jin. Raja iblis penghuni gunung Meratus yang terletak di hulu sungai tengah, salah satu kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan. Meski menikah, Bi Ratih belum pernah disentuh sekalipun oleh suaminya, karena mereka berbeda bangsa, selain itu hubungannya dengan Raja Iblis tidak direstui bangsa jin, kecuali Bi Ratih bersedia menjadi lelembut, karena Bi Ratih belum siap menjadi lelembut, akhirnya pernikahan mereka gantung. Keduanya berpisah, dan hidup di alam mereka masing-masing.


Siapa Ivan?


Ivan hanya anak angkat oleh Bi Ratih namun tak semua orang tahu, karena ketika Bi Ratih kekampung, ia membawa bayi Ivan bersamanya sehingga orang-orang kampung mengiranya adalah putra kandung semata wayang Bi Ratih. Bi Ratih sejak muda tinggal di kabupaten tetangga di mana ia menemukan suami tak kasat matanya itu, di pedalaman Meratus. Sedangkan Mama Hanum bersama suaminya di pedalaman di atas gunung Loksado, kabupaten sebelah tempat tinggal Bi Ratih. Setelahnya mereka masing-masing ke kampung membawa bayi kecil, Ivan dan Lara. Sementara suami Mama Hanum masih menetap di pedalaman sampai kini dengan alasan sibuk berkebun, sesekali ke kampung menjenguk istri dan keluarganya.


...****************...


"Pedalaman gunung, sepertinya kita dibawa ke tempat Pak Apong?!" Ucap Mama Hanum menatap keadaan sekitarnya.


"Syukurlah kalau begitu! Kenapa kita bisa bertemu Kuyang Sandah itu?" Umpat Bi Ratih dengan nada kesal.


"Kita melewati jalan dari kota, bukan jalan biasanya, dan aku tak mengenal medan perjalanan dari kota sehingga aku tak tahu warga setempat! Sudahlah, yang penting kita selamat!" Mama Hanum duduk di akar pohon kelapa.


"Tapi siapa yang membawa kita kemari?" Tanya Bi Ratih.


"Aku!" Jawab seorang lelaki tua.

__ADS_1


"Pak Apong?" Seru Mama Hanum dan Bi Ratih bersamaan.


Pak Apong mengangguk, sambil menyuruh mereka masuk kerumahnya. Mereka menaiki anak tangga demi anak tangga rumah tua berbentuk rumah adat yang tinggi dan sudah mulai miring itu.


"Kalian dari kota?" Tanya Pak Apong sesampainya di ruang tengah.


"Iya, Pak Apong tahu?" Sahut Mama Hanum seraya duduk beralaskan tikar anyaman yang sudah lapuk dan berlobang-lobang.


"Telepatiku mengatakan begitu!" Ucap Pak Apong.


Bi Ratih lega merasa sudah aman berada di rumah Pak Apong, diluar hari masih gelap. Seharusnya mereka tiba disini setelah fajar nanti, tapi dengan kehebatan Pak Apong mereka sudah sampai ketempat tujuan sebelum waktunya.


"Pak!?" Mama Hanum membuka pembicaraan.


"Kau yakin ingin meneruskan misimu untuk membinasakannya?" Pak Apong langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


"Iya, kalau bisa sekarang juga!" Pinta Mama Hanum.


"Kau tak menyesal?" Pak Apong berusahan meyakinkan.


"Tidak, Pak! Aku ingin melihatnya binasa saja, percuma menyiksanya berlama-lama, keburu dia mencari orang pintar untuk membebaskannya dari Parang Maya ini." Mama Hanum sangat berambisi ingin mempercepat membinasakan Lara.


"Baiklah, aku hanya sebagai perantara, kalian yang akan bertanggung jawab atas segalanya!" Tukas Pak Apong seolah tak beminat melanjutkan tugasnya.


"Ada apa Pak? Firasatku mengatakan bahwa Pak Apong menyembunyikan sesuatu dari kami! Ada apakah gerangan?" Mama Hanum penasaran, ia mulai curiga dengan sikap Pak Apong yang mencurigakan.


"Kau tahu dari mana asal usul wanita yang ingin kau habisi itu?" Tanya Pak Apong dengan nada datar dan tak bersemangat.

__ADS_1


"Iya, aku tahu semua anggota keluarganya, dan.. !" Mama Hanum berhenti bicara.


Tok tok tok, terdengar seseorang mengetuk pintu rumah Pak Apong diluar.. .


__ADS_2