
Fadli makin kalut, karena makin hari kondisi Lara tidak menentu, ia ingin cepat-cepat membawanya tinggal bersamanya di kota.
"Nak, hari ini kau akan membawa Lara ke rumah sakit?" Tanya Mama Hanum pada Fadli.
"Iya, Ma! Aku akan membawanya berobat, sekarang!" Jawab Fadli.
"Biar aku temani!" Ucap Mama Hanum menawarkan diri.
"Tidak usah, Ma! Aku takut menunggu seharian, karena dokter spesialis yang akan kukunjungi selalu memiliki pasien banyak!" Tolak Fadli halus, padahal ia ingat pesan Pak Sholeh untuk tidak mengikutsertakan kerabat dalam proses penyembuhan Lara.
"Baiklah, atau biarkan Nada bersamaku dirumah!" Mama Hanum sangat ingin membantu.
"Emmm, tapi bagaimana nanti jika Nada haus!" Fadli sulit untuk menolak niat baik ibu mertuanya.
"Ada susu formula pengganti ASI (air susu ibu). Dari pada Lara ribet, lebih baik biarkan Nada dirumah!" Ujar Mama Hanum.
"Masuk akal! Baiklah Ma, biarkan Nada dirumah saja!" Fadli akhirnya menyetujui saran ibu mertuanya.
Mama Hanum pergi kekamar menjemput Nada, Lara sudah selesai bersiap, kondisinya masih tidak stabil, bahkan untuk berjalan ia harus berpegangan pada tembok atau apa saja yang ada didepannya.
"Semoga lekas sembuh, nak! Berikan Nada pada Mama, biar Mama yang rawat hari ini! Agar kau leluasa berobat kedokter!" Ucap Mama Hanum.
"Baik, Ma!" Lara menyerahkan Nada pada ibunya.
Fadli datang menjemput Lara dan membantunya berjalan menuju mobil, Mama Hanum ikut keluar rumah melepas kepergian Lara dan Fadli.
"Dadah Mama, dadah papa!" Ucap Mama Hanum seraya melambai-lambaikan tangan Nada kearah Lara dan Fadli.
Kemudian, mobil Fadli meluncur dengan cepat meninggalkan desa tempat tinggal Lara.
...*****...
"Intan, kau mau membantuku?" Ucap Pak Hamdan.
__ADS_1
"Mewaris pesugihan milikmu?" Tanya Bu Intan.
"Iya, mungkin ada salah satu keluargamu yang bersedia?! Apa kau tak kasihan dengan suamimu yang tiap malam diganggu jin pesugihan?" Tanya Pak Hamdan.
"Resikonya apa? Dan berapa besar imbalan yang akan kau berikan pada pewaris pesugihan milikmu nanti?" Tanya Bu Intan, istri kedua oleh Pak Hamdan.
"Dia bisa membuat perjanjian dengan jin pesugihan, dan boleh memilih tumbal yang lebih mudah untuk diberikan! Imbalannya, aku akan memberikan pabrik penggiling padi di desaku! Selain itu, pewaris ilmu ini akan kaya raya dan tidak pernah miskin selamanya!" Jawab Pak Hamdan secara detail.
"Aku akan menanyakannya dulu pada salah seorang kerabatku!" Ucap Bu Intan.
"Jangan membuang-buang waktu!" Ucap Pak Hamdan.
"Baik, berarti kau akan pulang ke desamu untuk mengurus surat menyurat dan balik nama kepemilikan pabrik penggiling padi?" Tanya Bu Intan.
"Nanti kalau sudah benar-benar ada yang bersedia mewaris pesugihan ini!" Jawab Pak Hamdan.
"Aku yakin pasti ada yang bersedia!" Ucap Bu Intan yakin.
Bu Intan pamit keluar menemui kerabat-kerabatnya untuk merundingkan masalah pewaris pesugihan. Apakah ada yang bersedia mewarisinya?
...*****...
Belatung, kutu busuk, berkeliaran dari kepala sampai ujung kaki Bunda Najah yang terbujur kaku didalam wadah berbentuk peti yang telah di cor beberapa bulan yang lalu. Bau bangkai dan busuk merebak didalam ruangan tempat ia terbaring, bahkan baunya menyeluruh rata didalam rumah. Bi Leha sudah terbiasa dengan suasana seperti itu, ia tak mempermasalahkannya, namun ia merasa jijik dengan belatung dan kutu busuk yang keluar dari tubuh Bunda Najah. Hingga akhirnya ia membuat selokan kecil berisi air, disekeliling pembaringan Bunda Najah agar belatung dan kutu busuk tidak berkeliaran kemana-mana.
"Najah, kapan kau mengakhiri semua ini?!" Gumam Bi Leha. "Aku sudah jenuh dengan keadaanmu yang tak kunjung sembuh! Tapi aku tak akan membiarkanmu sendirian dalam kesengsaraan ini!" Ucapnya lagi.
Sejenuh apapun yang dirasakan Bi Leha merawat sahabatnya, namun ia tak tega membiarkan sang sahabat terlunta-lunta sendirian. Sementara kedua anak-anak sahabatnya sibuk dengan tugas dan study mereka.
"Aku berharap semoga ada orang yang bersedia mewarisi pengasihan milikmu, Najah!" Gumam Bi Leha sambil menyuapi makanan kemulut sahabatnya.
Meski sakit tak berdaya dan hanya kepalanya saja yang bisa bergerak, namun Bunda Najah makan layaknya orang normal bahkan sanggup makan tiga piring nasi, lauk dan sayur mayur. Hal yang diluar nalar bagi orang awam, namun Bi Leha tahu semua itu dikendalikan oleh ilmu kuyang. Selain itu, khodam milik Bunda Najah adalah seekor ular besar berwarna hitam, semenjak ia terbaring kaku tak berdaya, khodamnya lah yang sering berkeliaran mencari mangsa.
"Bi Leha!" Panggil seseorang yang hanya terlihat kepalanya menyembul dari balik jendela kamar tepat dimana Bi Leha berada.
__ADS_1
"Astaga, kau membuatku terkejut! Ada yang bisa kubantu?" Tanya Bi Leha.
"Ada ular besar warna berwarna hitam diatas atap rumah ini!" Ucap orang itu ketakutan.
"Oh, tenang! tidak usah takut, itu ular penunggu rumah ini!" Jawab Bi Leha berbohong.
"Penunggu? Berarti siang-siang juga muncul?" Tanya orang tersebut.
"Iya, tidak peduli siang atau malam kalau dia ingin muncul!" Jelas Bi Leha.
"Tapi warga ingin membunuhnya, mereka khawatir ular itu turun dari atas atap dan merayap kepemukiman warga!" Ucap orang itu khawatir.
"Jangan dibunuh, ular itu penunggu rumah ini, dia tidak akan kemana-mana!" Bi Leha memberitahu lebih jelas.
"Baik, tapi jika ular ini membahayakan, kalian harus bertanggung jawab!" Ucap orang itu seraya pergi.
"Iya, iya! Aku bisa memastikan ular itu tidak akan mengganggu!" Jawab Bi Leha yang tidak didengar lagi oleh orang itu. "Lagi pula, kenapa khodam Najah harus menampakkan diri disiang bolong seperti ini!?" Gerutu Bi Leha.
Tiba-tiba saja ular itu ada didepan mata Bi Leha, tubuhnya bertumpu membentuk lilitan, kepalanya mendongak kearah Bi Leha seraya menganga dan memamerkan taringnya yang tajam dan lidahnya yang bercabang menjulur-julur.
"Najah, hentikan leluconmu! Itu tidak lucu, kenapa kau membuat masalah baru? Warga memergokimu, mereka ingin membunuhmu! Jangan bersikap konyol, ini bukan waktunya untuk bercanda! Apakah kau bangga dengan keadaanmu seperti itu?" Bi Leha memarahi sosok ular besar itu.
Seperti patuh dan menurut dengan ucapan Bi Leha, ular besar berwarna hitam itu lenyap seketika.
"Sssshhhhh ssshhhh ssshhh!" Bunda Najah mendesis.
"Najah, tolong jangan tambah masalah baru!" Pinta Bi Leha sambil memercikkan air ekstrak Jeriangau yang konon sangat ditakuti oleh kuyang.
Bunda Najah berhenti mendesis, ia kembali tenang.
...*****...
Mobil Fadli tiba dipekarangan rumah Pak Sholeh, Fadli sengaja berbohong pada Mama Hanum jika ia akan membawa Lara kedokter spesialis, padahal ia membawa Lara kerumah Pak sholeh.
__ADS_1