
Fadli meninggalkan rumahnya setelah selesai sembahyang Subuh, awalnya ingin langsung ke kota, tapi ia merubah rencananya, ia berniat mampir kerumah keluarga asuh Lara.
"Aku harus bersikap biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa! Aku tak boleh gegabah dan marah, semoga aku bisa mengontrol emosiku!" Bisik Fadli dalam hati.
Fadli masuk ke desa tempat tinggal Lara selama ini, ia ingin melihat bagaimana sikap keluarganya selama di tinggalkan Lara ke kota. Fadli sengaja menyetir mobilnya dengan pelan, dan mampir disebuah warung yang berjarak beberapa buah rumah dari rumah Lara. Kebetulan Fadli sedang lapar, maka ia memutuskan sarapan terlebih dahulu sebelum kerumah Lara. Fadli memesan menu sarapan yang diinginkannya pada pemilik warung, tak lama kemudian sarapan untuknya sudah siap dinikmati. Fadli tak ingin membuang-buang waktu, sehingga ia menyantap sarapannya dengan cepat-cepat, kemudian membayarnya pada pemilik warung dan pergi kerumah Lara dengan jalan kaki, ia sengaja memarkir mobilnya di dekat warung.
Hayo loh, apakah Fadli ingin mengintip aktifitas Mama Hanum dirumah?!
...*****...
Di kota, Fadila kelelahan setelah ikut bergadang dengan Mbak Mina, Pak RT dan Pak Mantir, ia pamit tidur sebentar demi memulihkan tenaganya yang terkuras semalaman. Mereka pun mempersilakannya tidur, begitupula dengan Pak RT dan Pak Mantir, mereka tiduran di ruang tengah sembari menunggu kedatangan Fadli, sementara Mbak Mina rela menahan kantuknya untuk waspada dan berjaga-jaga, lagi pula si kecil Nada sudah bangun.
Seperti yang di khawatirkan Mbak Mina, tiba-tiba Lara gemetar dan kejang-kejang, urat-uratnya membesar dan kebiru-biruan. Mbak Mina memercikkan air pemberian Pak Mantir pada sekujur tubuh Lara, tapi tubuh Lara masih gemetar. Mbak Mina berusaha mengatasinya sendirian, karena tidak tega membangunkan mereka yang masih terlelap gara-gara semalaman tidak tidur. Mbak Mina berharap apa yang dialami Lara tidak berlangsung lama, tetapi dugaannya salah, tubuh Lara semakin gemetar sampai giginya beradu hingga menimbulkan bunyi.
Fadila terbangun mendengar suara yang ditimbulkan Lara, ia tidak tahu harus berbuat apa selain hanya memperhatikan saja.
"Lantas, kapan aku mempunyai kekuatan seperti nenek?!" Gumam Fadila dalam hati.
"Dila? Kau sudah bangun?" Tanya Mbak Mina menoleh kearah Fadila.
"Aku terbangun karena suara kak Lara!" Sahut Fadila.
"Tubuh Bu Lara gemetar, urat-uratnya timbul dan membesar, badannya sangat dingin!" Ucap Mbak Mina memberitahu.
"Sejak kapan?" Tanya Fadila.
"Sejak kau masih tidur, dan sampai sekarang tidak berhenti juga." Sahut Mbak Mina.
"Sangat menyedihkan jika begini terus menerus!" Fadila tidak sanggup melihat penderitaan Lara.
"Aku akan membangunkan Pak Mantir jika Bu Lara belum juga berhenti gemetar!" Mbak Mina pun tak karuan melihat Lara yang kejang-kejang dari tadi.
"Ini benar-benar kejam, melebihi tindakan kriminal!" Fadila geram.
"Mereka harus merasakan hal yang sama, kalau aku di posisi Bu Lara, aku akan kirim balik teluh itu pada pengirimnya! Biar mereka tahu bagaimana siksaan santet yang sangat pedih". Mbak Mina terbawa emosi.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Pak RT tiba-tiba muncul di depan pintu kamar karena mendengar percakapan antara Fadila dan Mbak Mina.
"Bu Lara kejang-kejang dan gemetar dari tadi, Pak!" Mbak Mina berseru dengan perasaan cemas.
"Pak Mantir masih tidur!" Sahut Pak RT.
"Iya, oleh karena itu kuurungkan niatku untuk membangunkan kalian!" Ucap Mbak Mina.
"Biarkan Pak Mantir tidur dulu, Pak! Kasihan, baru saja tidur, jangan di ganggu! Tunggu beberapa saat lagi." Timpal Fadila.
Pak RT terpaksa menuruti permintaan Fadila.
...*****...
"Hanum, bagaimana kata Pak Ampong? Kapan eksekusi?" Tanya Bi Ratih berapi-api.
"Belum tahu kapan dia akan mengeksekusi target, tapi Pak Ampong bekerja sangat giat. Jika dulu Pak Ampong hanya menyiksanya dengan sarana benda-benda tajam, rambut, pakaian, foto, darah ayam hitam, dan boneka kain yang di gantung di dahan pohon tinggi dan sejenisnya. Sekarang sudah sampai tahap.. ." Belum selesai Mama Hanum berbicara, Bi Ratih langsung menyambungi pembicaraan.
"Sudah sampai tahap mana?" Bi Ratih penasaran.
Mereka tak menyadari jika Fadli berada di balik pintu dapur, ia sengaja masuk tanpa salam karena memang ingin menyelidiki apa saja yang di lakukan orang tua Lara palsu jika tidak ada Lara dirumah.
"Kapan suamimu memberitahumu?" Tanya Bi Ratih.
"Tadi malam, dia datang sebentar dan kembali lagi ke pedalaman!" Jawab Mama Hanum.
"Ada yang melihat kedatangan Mukhlis?" Tanya Bi Ratih lagi.
"Tidak ada, biarkan warga mengira Mukhlis bekerja tidak pernah pulang!" Ucap Mama Hanum terkekeh.
"Bagus, biarkan suamimu mengelola lahan yang berhektar-hektar milik keluarga Lara di pedalaman sana!" Ucap Bi Ratih serakah.
"Aku memang menyuruhnya jangan jauh-jauh dari lahan dan kebun kita!" Sambung Mama Hanum bangga.
"Aku sudah tidak sabar menunggu kematian Lara, agar kita bisa memiliki kekayaannya sepenuhnya!" Seru Bi Ratih bersemangat.
__ADS_1
Akhirnya rasa penasaran dan ketidak yakinan Fadli terjawab, Pak Mantir tidak menuduh orang sembarangan, terawangannya benar adanya. Fadli syok mengetahui sifat asli orang yang selama ini ia hormati layaknya mertua dan kerabat istrinya, ternyata sebenarnya adalah manusia berhati ibl*s. Fadli menahan emosinya yang mulai mendidih, ia ingin sekali menghajar kedua wanita itu, atau menghabisi mereka saat itu juga. Tapi ia teringat kedua istri dan anak-anaknya yang membutuhkan keberadaannya, oleh karena itu ia berusaha sedapat mungkin mengontrol emosinya.
"Macan Kumbang, apa maksud mereka?!" Bisik Fadli dalam hati sambil bertanya pada diri sendiri.
Fadli belum mengetahui kejadian Macan Kumbang yang menyerang Harimau Putih di rumahnya berhubung ia berangkat pulang menengok Shinta kemaren.
Mama Hanum dan Bi Ratih yang masih belum menyadari keberadaan Fadli terus melanjutkan obrolan mereka. Fadli kembali ke depan dan berpura-pura seolah baru datang, ia mengetuk pintu sambil mengucap salam. Mama Hanum dan Bi Ratih terkejut tiada terkira, mereka saling pandang satu sama yang lainnya.
"Kenapa dia datang pagi-pagi?" Bisik Bi Ratih pelan.
"Sssttt, bersikaplah seperti biasa, jangan gugup! Semoga percakapan kita tadi tidak didengar olehnya!" Ucap Mama Hanum sembari pergi ke depan untuk menyambut kedatangan Fadli.
Dan di depan sana, Fadli pun bersikap seperti biasa.
"Nak Fadli? Kenapa datang pagi-pagi? Mana Lara dan Nada?" Ucap Mama Hanum dengan nada sopan dan lemah lembut.
"Heh, sok perhatian!" Gumam Fadli pelan sambil tersenyum sinis.
"Nak, kau bicara apa?" Tanya Mama Hanum yang heran melihat Fadli bicara pada dirinya sendiri.
"Tidak ada, Ma! Aku hanya teringat Lara dan Nada!" Ucap Fadli berbohong.
"Masuk, nak! Mama buatkan sarapan!" Mama Hanum mengajak Fadli sarapan.
"Tidak usah, Ma! Aku disini saja, karena aku lagi buru-buru, kedatanganku ke desa karena Shinta melahirkan, kemudian aku kesini sekedar ingin menjenguk Mama dan memastikan bagaimana keadaan kalian semua!" Fadli lagi-lagi berbohong, padahal tujuannya ingin mengintip kegiatan Mama Hanum.
"Kami semua dalam keadaan sehat! Tapi Lara dan Nada baik-baik saja kan?" Mama Hanum masih sok perhatian.
"Iya, Ma! Mereka sehat dan baik-baik saja! Kalau begitu, aku pulang dulu ya!?"
"Sayang sekali, padahal aku sudah membuat sarapan!" Mama Hanum pura-pura kecewa.
Fadli tidak banyak berbasa-basi, ia kemudian berpamitan pulang.
"Mereka benar-benar biad*b!" Ucap Fadli sambil memukul setiran mobil, ia menumpahkan amarahnya setelah keluar dari desa. Emosi Fadli benar-benar meluap dan mendidih seperti gunung merapi yang siap untuk memuntahkan lahar panasnya.
__ADS_1