
Lara menyuap nasi kemulutnya dengan pelan, karena tenaganya sangat lemah bahkan untuk mengangkat sendok saja tidak kuasa, tapi ia tak mau cengeng dan terus menerus ketergantungan pada Fadli, ia berusaha makan sendiri.
Mereka sibuk menikmati makan siang mereka dan tak menyadari Fadila belum kembali dari kamar mandi sudah hampir satu jam.
...*****...
Auuuuuuuuuum aaauuuuummm aaauuuum, bunyi mengaum terdengar sangat dekat dikedua belah telinga Fadila, ia ternyata tak sadarkan diri, namun suara auman binatang buas membuatnya tersadar, Fadila membuka matanya, ia melihat seekor harimau putih sedang berada di dekat kepalanya, tepat di tempat ia terbaring di atas rerumputan.
Fadila tak berani bergerak karena takut mengecoh harimau putih yang sedang mandi di sampingnya.
"Aku berada dimana? Papaaaa!" Fadila berteriak memanggil ayahnya.
Hening, tak terdengar suara kehidupan disitu, hanya bunyi semilir angin yang berhembus menerpa ranting pohon dan dedaunan, tapi sesekali masih terdengar auman harimau putih tadi.
Fadila mencoba menjauh dari harimau putih tersebut, namun jarak mereka sangat berdekatan, jika Fadila bergerak sedikit saja, maka harimau putih itu akan menerkamnya. Fadila memilih untuk pura-pura tak sadarkan diri, menunggu harimau putih itu menjauh.
Ekspektasi Fadila salah, alih-alih harimau putih itu pergi malah makin mendekatinya dan yang menambah Fadila makin ketakutan, harimau putih tersebut menjilati rambutnya layaknya harimau menjilati sesama harimau.
"Apa yang dia inginkan dariku?" Ucap Fadila dalam hati.
Fadila berusaha untuk tidak bergerak agar tidak menimbulkan suara, ia terpaksa membiarkan harimau putih itu menjilatinya, namun tanpa dia sadari, di sekilingnya penuh dengan sosok-sosok mengerikan berwujud setengah manusia setengah binatang yang rata-rata memiliki tanduk dan taring serta kuku-kuku yang panjang. Makhluk-makhluk itu berusaha mendekati Fadila, namun harimau putih tadi menghalau mereka dengan aumannya yang menggelegar. Fadila baru sadar bahwa setiap harimau putih itu mengaum, setiap itu juga makhluk-makhluk tersebut menjauh dan mundur.
Rupanya auman harimau putih tersebut sangat ditakuti oleh makhluk-makhluk yang mengerikan itu, meski begitu Fadila tetap tidak berani bergerak, ia khawatir mengecoh harimau putih dan menerkamnya, apalagi kepalanya tepat berada di mulut harimau putih tersebut. Tapi Fadila sedikit merasa aman berada di dekat binatang buas berbulu tebal itu.
...*****...
Sementara di ruang tengah, Pak Hamdan memberitahu Fadli persoalan pabrik penggiling padi dan beberapa petak sawah dan kebun yang sudah berpindah tangan pada pemilik baru.
"Ma'afkan ayah, ayah memberikan semua itu pada pemilik baru secara cuma-cuma, tapi ini demi kemaslahatan keluarga kita, jin pesugihan itu tiap malam menggangguku karena mengincar tumbal! Dan aku tidak mengetahui sebenarnya dia mengincar bayimu, tapi dia juga datang padaku setiap malam menagih tumbal. Aku bersyukur masih ada yang mau mewarisi ilmu hitam pesugihan itu, dan aku sangat berharap ada yang bersedia mewarisi ilmu kuyang milik ibumu!" Ucap Pak Hamdan menunduk.
"Ayah tak perlu minta maaf, kekayaan itu milik ayah sendiri, kami tidak berhak marah pada ayah!" Sahut Fadli.
__ADS_1
"Iya, tapi disitu ada hak kalian, dan aku benar-benar tak bisa mempertahankannya, karena pewaris ilmu pesugihan meminta imbalan yang tidak main-main. Namun mulai saat itu, dia yang akan menanggung semua resiko dari jin pesugihan! Aku berharap semoga jin pesugihan tersebut tidak mengincar bayimu lagi." Ucap Pak Hamdan berharap keselamatan cucu pertamanya.
"Akhir-akhir ini Nada jarang menangis, kurasa memang tidak di ganggu lagi oleh jin pesugihan itu!" Ujar Fadli melegakan perasaan ayahnya.
"Iya, ayah! Nada tidur nyenyak tiap malam, biasanya sering menagis, aku sendiri melihat berkali-kali saat makhluk besar hitam dan mengerikan itu ingin mencekiknya!" Ucap Lara lemah dan pelan.
"Syukurlah, setidaknya salah satu masalah kalian sudah teratasi." Sahut Pak Hamdan.
"Pak, pewaris ilmu pesugihan itu bersedia menumbalkan anak perempuannya?" Tanya Fadli.
Pak Hamdan menunduk, pertanyaan Fadli seolah-olah menyudutkannya, ia teringat kembali pada masa lalunya saat membuat perjanjian dengan iblis untuk menumbalkan putri pertama dalam keluarga demi harta kekayaan.
"Faiza, ayah bersalah besar padanya! Saat itu ayah khilaf dan tidak memikirkan keluarga karena di butakan oleh harta. Ma'afkan ayahmu, Faiza!" Ucap Pak Hamdan menangis.
Fadli sebenarnya marah pada ayahnya karena mengorbankan Faiza kakak sulungnya demi harta dan kekayaan, meski ia tidak pernah melihat sosok Faiza, namun ia merasa kakak perempuannya tersebut selalu ada untuknya.
"Pewaris ilmu pesugihan tidak mau mengorbankan keluarganya, ia membuat perjanjian baru dengan jin pesugihan, ia akan menumbalkan seorang pesuruh yang bekerja dengannya setiap tahun sekali!" Pak Hamdan memberitahu Fadli.
"Mungkin tidak tega dengan keluarganya seperti aku yang telah tega mengorbankan Faiza!" Sekali lagi Pak Hamdan menangis teringat Faiza putri sulungnya yang meninggal tragus karena dijadikan tumbal pesugihan oleh ayahnya sendiri.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi, kita tak bisa mengembalikan waktu kebelakang, tapi kedepannya semoga kita tidak pernah terjerumus lagi pada jalan yang sesat!" Ucap Fadli lirih.
"Sebenarnya Fadila juga menjadi incaran jin pesugihan itu!" Ucap Pak hamdan menjelaskan. "Tapi..!" Belum selesai beliau bicara tiba-tiba Fadli memotong ucapannya.
"Fadila mana?" Tanya Fadli menengok kesamping kiri dan kanan.
"Hah, iya?! Tadi dia pamit kebelakang sebelum Maghrib, sekarang sudah hampir adzan Isya namun dia tidak muncul?!" Sahut Pak Hamdan mendadak khawatir.
"Bang, coba cari dimana adikmu?!" Ucap Lara ikut khawatir.
"Aku akan memeriksanya kebelakang!" Fadli bergegas pergi kebelakang untuk memastikan keberadaan adik seayah beda ibu.
__ADS_1
Pak Hamdan menyusul Fadli, sementara Lara hanya bisa menunggu di ruang tengah karena kondisinya tidak mungkin bergerak cepat seperti sediakala.
"Dila? Dila? Kau dimana nak?" Tanya Pak Hamdan.
"Fadila? Kamu di kamar mandi? Fadila?" Ucap Fadli sembari memanggil Fadila dan menggedor-gedor pintu kamar mandi yang tertutup.
"Fadila terkurung di dalam kamar mandi?" Tanya Pak Hamdan kebingungan.
"Iya, sepertinya dia pingsan di dalam!" Jawab Fadli.
"Pingsan?" Pak Hamdan tambah khawatir.
"Tidak ada suara di dalam, sementara pintu kamar mandi tertutup rapat!" Terang Fadli panik.
Pak Hamdan gemetar, ia panik terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya, Fadli bergegas membuka pintu kamar mandi, namun pintu kamar mandi tidak bisa dibuka.
Fadli mencari akal, ia mengambil linggis yang ada di dapur dan membongkar pintu kamar mandi secara paksa. Bakkkkkkk, pintu kamar mandi berhasil dibuka setelah membonkarnya dengan linggis. Pak Hamdan menerobos ingin membuka pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan Fadila.
"Ayah, tunggu dulu! Pelan-pelan, aku khawatir Fadila berada di belakang pintu!" Ucap Fadli melarang ayahnya menerobos pintu kamar mandi.
Fadli membuka pintu perlahan-lahan, dan dugaannya benar, Fadila bersandar di belakang pintu kamar mandi.
"Dila? Nak, ini Papa!" Seru Pak Hamdan dari luar.
Fadila mendengar suara ayahnya yang sedang memanggilnya, harimau putih yang berada diatas kepalanya menjauh seketika, begitu pula dengan makhluk-makhluk mengerikan yang mengelilinginya, lenyap bersama menghilangnya harimau putih tersebut.
"Paaa!" Jawab Fadila dari dalam kamar mandi.
"Kamu sudah sadarkan diri, nak?" Tanya Pak Hamdan dengan nada khawatir.
Fadila bangkit perlahan dan keluar dari kamar mandi, ia langsung berlari menghambur kedalam pangkuan ayahnya. Fadila menangis sesenggukan, ia terlihat syok berat. Pak Hamdan menepuk-nepuk pundak Fadila berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1