
"Kak, apakah semua ucapan Amak harus kita sampaikan pada Lara dan Fadli?" Tanya Mama Hanum minta pendapat pada Bi Ratih.
"Tunggu dulu, aku heran siapa yang iri dengki pada rumah tangga mereka?" Bi Ratih bertanya-tanya.
"Kata Saleha, warga didesa mereka tidak ada yang bersedia menikahkan putri mereka dengan Fadli, dengan alasan Najah seorang kuyang!" Tukas Mama Hanum.
"Berarti bukan warga desa mereka!" Bi Ratih berpikir keras.
"Apakah salah satu dari warga desa kita?" Tapi kurasa orang-orang disini tidak mungkin melakukannya!" Bantah Mama Hanum.
"Kenapa kita tidak bertanya langsung pada Amak?" Sela Bi Ratih sambil garuk-garuk kepala.
"Mungkinkah Amak mengetahui pelakunya?!" Mama Hanum tidak yakin.
"Tapi dia bisa menebak alasan kedatangan kita!" Jawab Bi Ratih.
"Benar juga, tapi menurutku lebih baik tanyakan pada Fadli saja!" Ucap Mama Hanum.
"Tanyakan pada Lara terlebih dahulu, baru Fadli! Mungkin Lara punya bayangan siapa sosok yang membencinya." Saran Bi Ratih.
Dua kakak beradik itu terus mengobrol membicarakan permasalahan rumah tangga Lara dan Fadli.
...*****...
Sudah beberapa hari ini jin pesugihan tidak datang mengganggu Lara dan bayinya, ia berharap seterusnya begitu. Fadli tidak bersama mereka, ia pergi kerumahnya menemui ibunya yang terbujur kaku menyatu dengan semen cor, hanya kepala beliau yang bergerak kekiri kekanan tatkala melihat Fadli datang.
"Bunda, kapan bunda bisa sembuh?" Bisik Fadli sambil tersedu.
Bi Leha menepuk-nepuk pundak Fadli dengan rasa iba. "Aku menyerah, sampai saat ini aku tidak bisa menemukan wanita yang bersedia menggantikan ibumu! Semua wanita di desa ini menolak meski diberi imbalan perhiasan, lahan dan uang!" Keluh Bi Leha, wajahnya yang berkerut terlihat lelah dengan penderitaan sahabatnya.
"Seandainya aku seorang perempuan, aku yang akan menggantikan Bunda, Bi!" Ucap Fadli.
"Hush, tidak boleh bicara begitu!" Bi Leha mengingatkan.
"Tapi sampai kapan bunda terbaring seperti ini, seperti jasad tanpa nyawa?" Keluh Fadli.
"Sampai ada seseorang yang bersedia menggantikannya! Kau tak tahu seperti apa kekuatan ibumu, meski terbujur kaku seperti mayat, dia sering merayap sampai keatas atap didalam kamar ini!" Jelas Bi Leha yang sudah tak asing dengan aksi mengerikan Bunda Najah di malam-malam tertentu.
__ADS_1
"Bagaimana Bunda Bisa keluar dari semen cor ini? Lagi pula kondisi beliau sangat lemah, sudah tidak ada daya upaya untuk bangkit, jangankan untuk merayap ditembok, berdiri saja beliau tidak mampu?!" Fadli bertanya-tanya keheranan.
"Kalau penglihatan orang normal, memang seperti orang sakit, tapi orang yang memiliki indra keenam, bisa melihatnya merayap dengan wujud menyeramkan, giginya bertaring dan matanya melebar!" Ucap Bi Leha memberitahu. "Tak jarang warga yang pergi kepasar subuh, sering melihat penampakan sosok hitam merangkak diatas atap rumah kalian, kurasa penampakan itu adalah ibumu, atau jin pesugihan!"
"Apakah warga beranggapan rumah kami ini adalah rumah angker?" Fadli khawatir.
"Lebih dari angker, mereka pasti berasumsi yang tidak-tidak, apalagi setelah ibumu di cor dan tidak kunjung meninggal meski sudah seperti jasad tanpa nyawa." Bi Leha menjelaskan.
"Bi, cobalah sekali lagi bujuk seorang warga untuk mewarisi ilmu bunda! Berikan imbalan yang banyak, agar dia bersedia! Aku sangat lelah melihat keadaan Bunda." Ucap Fadli mengeluh.
"Sepertinya aku harus mencari target didesa lain, kalau warga didesa kita sudah tak ada yang bersedia mewarisi minyak kuyang pengasihan berwana Hijau milik ibumu!" Bi Leha berharap didesa lain ia bisa mendapat target baru.
"Didesa mana, Bi?" Tanya Fadli.
"Didesa suami anakku! Aku akan meminta Hamida untuk mengawasi warga yang membutuhkan ilmu hitam ini!" Jawab Bi Leha.
"Semoga saja ada warga yang dengan ikhlas bersedia mewarisi ilmu hitam milik Bunda!" Harap Fadli. "Bi, sepertinya aku harus kembali kerumah Lara!" Ucap Fadli bangkit dari duduk.
"Apakah sikap Lara masih dingin?" Tanya Bi Leha.
"Itu adalah resiko atas perbuatanmu! Wajar jika Lara bersikap begitu!" Bi Leha membela Lara.
"Aku bisa memakluminya, Bi! Oleh karena itu aku sangat bersabar terhadap sikapnya saat ini.
Fadli membelai rambut ibunya sebelum pergi meninggalkan beliau, ia sebenarnya jijik melihat kutu busuk yang berkeliaran dikepala ibunya, bersarang pada rambut ibunya yang kusut dan bau. Tapi walau bagaimapun, Bunda Najah adalah ibunya sendiri.
...*****...
"Fadli?! Nama yang tak asing bagiku! Dua wanita yang datang menemuiku kemaren sore ingin anak mereka kembali rukun dengan suaminya yang bernama Fadli! Dihari yang sama wanita lain datang ingin seseorang yang bernama Fadli pulang kerumah istrinya setelah hampir dua minggu tidak pulang. Hmmmm, apakah Fadli yang mereka maksud adalah Fadli yang sama?" Amak menggumam dalam hati sambil mengerjakan ritual mengariyau sosok pria bernama Fadli atas permintaan pasiennya.
Amak komat kamit membaca mantra sambil mengaduk rebusan cabe merah dan sesekali melempar kertas berisi merica kedalam rebusan cabe merah yang mendidih, ia sesekali tersedak efek oleh rebusan cabe merah yang menimbulkan aroma pedas menyengat.
Malam itu Fadli nampak gelisah, ia merasa gerah padahal suhu udara malam sangat sejuk, bahkan sesekali berhembus angin kencang yang dingin. Fadli keluar rumah hanya memakai kaos dalaman berwarna Putih dan sarung pria. Ia duduk diteras sambil memegang kipas rotan, keringatnya bercucuran membasahi kaos dalamnya.
"Kenapa malam ini sangat panas?!" Gumam Fadli dalam hati. "Padahal bukan musim kemarau!"
Fadli mengipas-ngipasi tubuhnya dengan kipas rotan, namun keringatnya tak kunjung kering, tubuhnya basah bermandi keringat.
__ADS_1
"Nak, kau masih diluar?" Sapa Mama Hanum didepan pintu.
"Iya, Ma! Panas, aku duduk disini dulu!" Seru Fadli.
"Udara sangat dingin, nak! Didalam juga dingin, jangan-jangan kau makan yang pedas-pedas tadi siang sehingga kepanasan?" Tanya Mama Hanum.
"Entahlah, Ma! Tadi sebelum pulang aku mampir diwarung, cuma makan ketupat dengan sambal seperti biasa!" Jawab Fadli.
Mama Hanum nampak heran, dia merasa udara malam hari lumayan dingin tapi berbeda dengan Fadli. "Apakah ada yang mengirim ilmu teluh pada Fadli?" Gumam Mama Hanum.
...*****...
"Fadli, pulanglah! Kembali pada Shinta, pulanglah Fadli!" Bisik wanita setengah baya yang sedang melakukan ritual mengariyau yang diajarkan Amak.
Ritual itu dilakukannya sehabis Maghrib sampai menjelang subuh, ia duduk menghadap rebusan cabe merah pedas yang mendidih, sesekali membenarkan kayu agar api tetap menyala.
"Ma, belum selesai juga? Aku tak sanggup mencium aroma pedas cabe yang menyeledak!" Ucap Shinta pada ibunya.
"Belum, Shin! Sisa dua kali lagi! Sebelum azan Subuh pasti sudah selesai!" Jawab sang ibu.
"Seisi rumah penuh aroma menyelesak, Ma! Ayah dan adik juga tak karuan dikamar mereka!" Balas Shinta.
"Hmmm semoga Fadli juga merasakan hal yang sama, aku berharap secepatnya dia kembali padamu!" Ucap sang ibu.
"Aku juga berharap begitu, Ma!" Ucap Shinta.
Ternyata dugaan Mama Hanum dan Bi Ratih adalah benar, nama Fadli yang mereka dengar dari bilik Amak, ternyata nama Fadli dan orang yang sama, Fadli suami dari anaknya. Shinta dan ibunya sedang mengirim guna-guna untuk Fadli guna kembali pada Shinta.
"Rohani! Apakah perbuatanmu ini tidak mengarah pada kesyirikan?" Tanya ayah dari Shinta tiba-tiba.
"Tidak pak, karena aku membaca surah '.....' bukan mantra tidak karuan!" Bantah sang istri yang bernama Rohani itu.
"Tapi aku tidak setuju dengan merebus cabe merah dan lainnya bersama surah '.....', sama saja seperti pekerjaan dukun!" Jawab sang suami tak setuju.
"Apakah bapak mau anak kita menjanda? Sedangkan Shinta mengandung! Bagaimana dengan ucapan warga nanti? 'Anak pak Hasan ditinggal suami sejak mengandung', bapak mau mendengar gunjingan tetangga dan warga desa?" Bu Rohani membela diri.
Pak Hasan diam, ia kembali kekamarnya. Shinta berdiri mematung didepan pintu melihat perdebatan kedua orang tuanya.
__ADS_1