MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 34. Mandi Ruat Dan Kabar Buruk


__ADS_3

Keluarga Pak Hasan kembali kerumah mereka, jarak antar kabupaten yang lumayan jauh, sangat melelahkan mereka. Fadli bersikap biasa-biasa saja pada Pak Hasan dan keluarga, seolah tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Shinta.


"Bapak istirahat dulu ya!" Sapa Pak Hasan berpamitan setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan Fadli.


"Silakan pak!" Fadli mempersilakan mertuanya.


Bu Rohani langsung masuk kedapur untuk menyiapkan makan siang, Shinta menghampirinya dan menceritakan semua yang terjadi disaat dirinya berduaan dirumah. Bu Rohani khawatir karena ritual yang ia lakukan diketahui oleh Fadli, ia sangat malu.


"Makanya, Tina sudah peringatkan tidak usah melakukan hal-hal konyol seperti itu!" Tukas Tina.


Bu Rohani ketar-ketir apalagi saat Shinta memberitahu bahwa Fadli menanyakan siapa orang yang mengubur fotonya bersama jenazah agar pandangan Lara padanya dingin dan tak berminat mencintainya lagi.


"Tapi bukan kita yang melakukan itu?!" Tegas Bu Rohani membela diri.


"Meski begitu dia mencurigai kita, karena dia melihat bekas ritual digudang!" Timpal Shinta cemas.


"Kau tak usah khawatir, nanti aku akan bicara pada Fadli!" Ucap Bu Rohani menenangkan Shinta.


...*****...


"Nak, hari sudah pukul tiga, ayo bersiap!" Ucap Mama Hanum menyuruh Lara siap-siap.


Lara mengangguk seraya bersiap-siap, sementara Mama Hanum mempersiapkan berbagai macam bunga dan barang-barang lain yang diminta Amak untuk memandikan Lara. Sambil bersiap-siap, Mama Hanum menjaga Nada yang sudah rapi dan harum.


"Malang benar nasibmu, nak! Semoga jin pesugihan itu berhenti mengincarmu untuk dijadikan tumbal!" Ucap Mama Hanum lirih.


Bi Ratih datang menghampiri Mama Hanum yang sedang menggendong Nada, ia akan ikut bersama mereka membawa Lara kerumah Amak.


"Hanum, apakah semua yang dibutuhkan Amak sudah beres?" Tanya Bi Ratih.


"Sudah, kak! Ivan mana? Sebentar lagi Lara selesai bersiap! Kita pergi sekarang juga sebelum Maghrib!" Ujar Mama Hanum.


"Ivan sudah siap!" Jawab Bi Ratih.


Lara muncul dari dalam kamar, ia sudah siap untuk pergi.


"Kita berangkat sekarang?" Tanya Mama Hanum pada Lara.


"Iya, ayo!" Ucap Lara seraya meraih Nada dari gendongan Mama Hanum.


"Ayo!" Timpal Bi Ratih berjalan keluar sambil membawa tas anyaman berisi berbagai macam bunga. "Kau bawa barang-barang yang lain!" Ucap beliau pada Mama Hanum disertai anggukan adiknya itu.


Mereka berempat masuk kedalam mobil Ivan, mobil itu kemudian meluncur menuju rumah Amak yang tak begitu jauh dengan tempat mereka.


...*****...


"Permisi!" Seru seseorang diluar sana sambil mengetuk pintu rumah Bunda Najah.


Bi Leha yang tinggal disana bergegas keluar menemui orang tersebut.

__ADS_1


"Eh ada Hanifah!" Sapa Bi Leha seraya mempersilakannya masuk kedalam. "Silakan masuk!"


Wanita separuh baya yang bernama Hanifah itu masuk.


"Kak Leha, aku minta tolong bagaimana melepas ilmu hitam kuyang ini!" Ucap Hanifah memelas.


"Astaga, aku malah mencari seseorang yang ingin menggantikan Najah, apa kau tidak punya kenalan?" Tanya Bi Leha.


"Tidak ada yang bersedia, karena aku miskin. Kalau aku memiliki harta kekayaan seperti Kak Najah, pasti aku cepat menemukan orang yang bersedia menggantikanku!" Tegasnya panjang lebar.


"Tapi kau punya anak perempuan!" Ucap Bi Leha menimpali.


"Anak-anakku tidak ada yang bersedia menggantikanku, bahkan salah satu dari mereka merantau ke Jakarta bersama suaminya, tak sudi menemuiku!" Keluh Hanifah.


"Hmmmmm, mereka pasti memikirkan resikonya sehingga menolak menggantikanmu! Apa kau bosan dengan ilmu hitam ini?" Tanya Bi Leha.


"Tidak, hanya saja aku kewalahan menghadapinya. Aku mengidap kanker rahim, dan sudah beberapa kali operasi, lahan dan perhiasan sudah banyak terjual, tapi aku tidak sembuh juga, dan tidak mati pula efek ilmu keabadian ini!" Hanifah mengeluh dengan wajah memelas. "Lebih baik terbaring seperti Kak Najah ini daripada menghabiskan harta kekayaan!" Tambahnya.


"Coba sekali lagi kau bujuk salah satu anak perempuanmu! Pasti salah satu diantara mereka akan iba padamu!" Bi Leha menyarankan.


"Aku sudah berkali-kali memohon pada mereka, tapi mereka bersikeras menolak! Aku pernah mencoba mewariskan ilmu keabadian ini pada seekor kucing, tapi tidak manjur. Kucing itu memang beringas diantara kucing-kucing lain, ia memangsa anak ayam, burung dan anak-anak kucingnya sendiri. Tapi ilmu hitam tersebut tetap kembali padaku!" Tegas Hanifah.


"Ada-ada saja, lantas kucing itu bagaimana sekarang?" Tanya Bi Leha.


"Entah kemana, aku tak melihatnya lagi ada disekitar rumahku!" Tukas Hanifah. "Aku iri dengan Sarinah, secepat itu dia menemukan pewaris, kenapa tidak aku saja?" Ucapnya termenung.


"Sarinah sangat beruntung, pewarisnya bersedia dengan kemauannya tanpa dipaksakan! Sedangkan Najah, sulit sekali mewariskan ilmunya, beberapa orang yang kami ajak untuk kerjasama malah pergi begitu saja, mereka tak ingin beresiko, dan iman mereka sangat kuat sehingga menolak imbalan kekayaan meski sebanyak apapun!" Ucap Bi Leha menjelaskan.


"Jangan gegabah! Apakah tidak ada pilihan lain?" Larang Bi Leha.


"Kurasa tidak ada! Dengan cara ini mungkin aku bisa terbebas dari belenggu ilmu hitam ini!" Harap Hanifah.


"Aku tak punya saran lain selain menyuruhmu untuk berdiskusi dengan anak-anakmu!" Ucap Bi Leha menghembuskan napas kasar.


"Mereka sudah lepas tangan, tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka!" Hanifah berputus asa.


"Keputusan mau bagaimana kau mengatasinya, ada ditanganmu! Aku sendiri tak punya saran selain menyuruhmu membujuk anak-anakmu! Kita memiliki masalah yang sama, aku hampir berputus asa merawat Najah yang sampai detik ini tak kunjung sembuh!" Jelas Bi Leha.


"Kak Leha sahabat Kak Najah dari kecil, apakah Kakak tidak berniat mewarisi ilmu Kak Najah?" Tanya Hanifah mendadak.


Bi Leha terdiam, tak pernah selama ini ada orang yang menanyakan pertanyaan seperti itu.


...*****...


"Silakan masuk!" Amak menyambut kedatangan Mama Hanum dan keluarga.


"Terima kasih!" Ucap Mama Hanum mewakili keluarganya seraya masuk beriringan kedalam rumah Amak yang sederhana.


"Lucunya!" Ucap Amak menyapa Nada yang digendong oleh Lara.

__ADS_1


"Amak, kemaren Amak bilang kalau suami anakku diguna-guna orang!" Ucap Mama Hanum membuka pembicaraan.


Amak diam sambil menatap tajam kearah Mama Hanum, seolah menyelam kedalam matanya sangat jauh kedasar. Kemudian Amak menarik napasnya dalam-dalam.


"Ya! Menantu dan anakmu sudah lama dalam pengaruh guna-guna! Bahkan keselamatan anakmu sekarang sangat terancam!" Jelas Amak mengejutkan mereka.


Lara dan keluarganya terbelalak mendengar penjelasan Amak.


"Keselamatanku?" Tanya Lara cemas.


"Ada apa dengan keselamatannya?" Mama Hanum turut bertanya.


"Seseorang mengirim teluh!" Jawab Amak singkat.


Jawaban Amak menambah kecemasan Mama Hanum yang semula hanya mencemaskan Fadli. Lara antara percaya dan tidak, tapi ia merasakan keanehan-keanehan yang terjadi padanya sejak kelahiran Nada.


"Berarti yang selama ini mengganggu Lara bukan hanya sekedar jin pesugihan?" Tanya Bi Ratih menerka.


"Iya, banyak makhluk-makhluk tak kasat mata lain yang mengelilinginya, bahkan mereka mengikutinya sampai kesini, tapi sekarang mereka ada diluar!" Tegas Amak makin mengejutkan mereka.


...Dag dig dug seeer...


Bulu roma Lara berdiri, ia mengingat setiap malam mendengar suara-suara aneh dan terakhir wujud tangan berkuku panjang dan runcing dibalik pintu yang sangat mengerikan.


"Jadi bagaimana sekarang, Amak?" Tanya Mama Hanum setengah panik.


"Kita mandikan anakmu dulu, untuk melepas pengaruh kebenciannya terhadap suaminya! Dia harus rukun dengan sang suami, agar mudah menghilangkan teluh yang sekarang lebih mengancam keselamatannya!" Amak mengajak Lara kebilik kecil tempat mandi.


Mama Hanum menyerahkan beberapa buah tas anyaman berisi berbagai macam bunga dan barang-barang untuk keperluan mandi.


Amak memulai ritual mandi melenyapkan pengaruh kebencian Lara pada Fadli, tanpa disadari, Lara menangis sejadi-jadinya entah ia menyesal karena selama ini mengabaikan Fadli atau menangis karena kabar buruk yang baru saja diberitahukan Amak.


Teluh atau santet, guna-guna yang mematikan targetnya, itu yang biasa diketahui oleh Lara. Hal semacam itu tidak asing baginya, karena ia sering menemui kejadian seperti itu yang terjadi pada warga didesanya. Biasanya guna-guna seperti itu dikirim oleh orang-orang yang iri dengki atau saingan. Lara berpikir sejauh ini dirinya tidak mempunyai musuh ataupun saingan, kecuali setelah Fadli menikah.


"Apakah Shinta yang mengirim santet ini padaku?" Gumam Lara dalam hati.


Amak dengan khusyuk melaksanakan ritual mandi ruat untuk membersihkan Lara dari pengaruh guna-guna kebencian terhadap Fadli. Setengah jam lebih telah berlalu, ritual mandi ruat selesai. Amak menyuruh Lara mengganti bajunya dan keluar dari bilik, Lara duduk disamping Mama Hanum dengan wajah murung. Tak lama kemudian Amak muncul dari bilik seraya duduk.


"Amak, ada ritual lain setelah ini?!" Tanya Mama Hanum.


"Tidak, tapi anakmu harus mandi ruat sendiri dirumah, selama tiga minggu berturut-turut setiap malam Jum'at seperti ini! Nanti aku beri sebotol air bunga yang sudah kudoakan untuk mandi ruat dirumah! Campur air tersebut kedalam gayung berisi air setiap kali melakukan ritual mandi ruat." Ucap Amak


"Amak, bagaimana mengatasi ilmu teluh kiriman seseorang itu?" Tanya Bi Ratih mengkhawatirkan keselamatan Lara.


"Untuk itu bukan kafasitasku, aku hanya melakukan ritual-ritual untuk memanggil suami atau istri yang tidak pulang, atau membantu mensejahterakan pasangan yang tidak rukun!" Jawab Amak membuat Lara makin cemas.


"Terus, bagaimana kami mengatasi teluh ini? Dan siapa yang mengubur foto Fadli bersama jenazah?" Tanya Mama Hanum dengan dahi mengerut.


"Cari orang pintar yang religius, bukan dukun! Disebuah desa diperbatasan kabupaten ada seorang ustadz yang mahir, beliau mampu melihat siapa pengirim guna-guna melalui sarana air. Kalian bisa menanyakan siapa yang mengirim guna-guna foto dikubur bersama jenazah, dan siapa yang mengirim teluh!" Ucap Amak memberitahu.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih untuk keterangannya, Amak! Kami akan menemui ustadz itu secepatnya!" Balas Mama Hanum seraya menyerahkan amplop berisi sejumlah uang untuk imbalan mandi ruat.


Lara dan keluarganya berpamitan pada Amak, hari sudah malam, suasana gelap dan pekat dipekarangan Amak karena rumah Amak agak jauh dari jalan utama, rumahnya dikelilingi pohon-pohon kelapa dan beberapa pohon rambutan dan mangga. Lara merinding mengingat ucapan Amak bahwa banyak makhluk-makhluk tak kasat mata yang mengikutinya.


__ADS_2