
Bunda Najah berhasil memasuki Rumah Sakit tanpa kepergok siapapun, ia merayap menuju ruang bersalin. Ular besar hitam tersebut kemudian menyusup disela-sela ventilasi yang berbentuk kotak persegi panjang, ia bertahan disitu, menunggu dokter dan perawat keluar dari ruangan.
Tak lama kemudian, ruangan telah kosong, hanya ditempati pasien yang sedang bersalin. Bunda Najah dengan wujud ular besarnya mulai merayap menghampiri pasien tersebut, sosok ular besar itu mulai bereaksi, ia menghisap darah bekas bersalin sang pasien.
"Nikmat sekali! Seandainya aku bisa menggunakan ilmu Palasik milikku, akan kumangsa seluruh organ dalam pasien ini!" Keluh Bunda Najah.
Ilmu miliknya tak sesakti ketika ia masih sehat, namun khodamnya dengan wujud ular besar berwarna hitam, masih bisa berkeliaran membantu Bunda Najah mencari mangsa untuk bertahan hidup dalam kondisinya yang sangat kritis.
"Aaaaaaaaah!" Pasien berteriak histeris melihat ular yang sangat besar melilit dibrankar diujung kakinya.
Dokter dan beberapa perawat datang memeriksa keadaan pasien diruang bersalin.
"Ada apa bu?" Tanya dokter dan perawat bersamaan. Sang Dokter mencek kondisi pasien.
"Ada u-u-ular!" Jawab pasien terbata.
"Dimana? Tidak ada apa-apa disini!" Tukas perawat tak melihat ular yang dimaksud oleh sang pasien.
"Tadi ular itu berada di ujung brankar!" Jawab pasien ketakutan. "Pindahkan aku dari ruangan ini, sus!" Pinta pasien bergidik, bulu romanya berdiri.
"Pak, pasien sudah sadar, apakah sekarang boleh dibawa keruang rawat inap?" Tanya perawat itu pada dokter.
"Iya, bisa! Lebih baik karena pasien bisa ditemani keluarga!" Jawab dokter memberi izin. "Ibu tidak usah khawatir, disini tidak ada ular, mungkin halusinasi ibu karena baru sadar dari bius, sehingga melihat hal-hal aneh!" Dokter menenangkan pasiennya.
"Tapi ular itu seperti nyata, dok!" Bantah pasien lemah karena tenaganya belum benar-benar fit.
"Bu, sebaiknya ibu beristirahat, kondisi ibu belum benar-benar stabil, kami akan beri ibu obat penenang!" Ucap perawat sambil menyuntikkan obat penenang kemudian mempersiapkan segala kebutuhan untuk kepindahan pasien keruang rawat inap.
Sepertinya tenaga kesehatan yang bekerja disitu faham dengan kondisi sang pasien, karena dokter mengizinkan pasien dipindah keruang rawat inap sebelum waktunya.
"Lenny, padahal dia tidak ada! Kenapa pasien tadi ketakutan seperti melihat kuyang?!" Bisik seorang perawat pada temannya.
__ADS_1
"Kurasa ada kuyang lain, atau jangan-jangan memang dia yang sengaja datang meski dia sedang absen!" Jawab perawat yang bernama Lenny itu. "Sudahlah, tak baik menggunjing. Lebuh baik kita bereskan pekerjaan kita!" Ucapnya menimpali.
Kedua perawat wanita itu kembali beraktifitas menyelesaikan tugas mereka, sang pasien akhirnya diantar keruang rawat inap dan dijaga oleh keluarganya.
"Yang penting aku sudah memangsa darah bersalin pasien itu, hmmmmm!" Gumam Bunda Najah merayap pergi setelah hampir saja kedapatan oleh dokter dan perawat.
Misi Bunda Najah malam itu berhasil meski berbagai macam rintangan ia lalui, perlahan ia bergerak merosot kembali menuju rumahnya yang jaraknya lumayan jauh.
...*****...
"Lara, ada apa nak?" Seru Mama Hanum terkejut mendapati Lara terengah-engah dan sesak nafas.
"Ma, ma.. ada so-so-sok tangan mengerikan di-dibalik pintu!"
Brakkkkkk!!!! Baru saja Lara selesai bicara, pintu kamar tertutup keras dengan sendirinya. Lara menggigil, ia menghambur kearah Mama Hanum dan memeluknya sangat erat. Diwaktu bersamaan Nada menangis karena terkejut mendengar kegaduhan didalam kamar.
"Tenang, nak! Baca doa, jangan takut! Mama ada disini." Ucap Mama Hanum mengelus-ngelus rambut Lara untuk menenangkannya.
Derap langkah terdengar dari luar kamar, kreiiiit.. pintu terbuka, kepala Bi Ratih menyembul dari balik pintu menengok kearah Lara dan Mama Hanum. Lara masih trauma dengan kejadian baru saja, ia tak berani menoleh kearah pintu.
"Kak, ada makhluk lain lagi yang datang mengganggu Lara!" Ucap Mama Hanum memberitahu Bi Ratih.
"Kenapa makhluk-makhluk tak kasat mata senang mengganggu Lara?! Ada apa dengan anak ini?! Apa karena menantu seorang kuyang?" Celoteh Bi Ratih menduga-duga.
"Tidak juga, banyak kuyang didesa kita, anak-anak dan menantunya biasa-biasa saja! Tapi sejak kelahiran Nada, kehidupan Lara benar-benar berubah, sering didatangi makhluk-makhluk itu!" Ucap Mama Hanum dengan wajah khawatir.
"Kau dimana saja? Bukankah sudah kukatakan, sebaiknya kau temani anak dan cucumu tidur dikamar mereka kalau Fadli tidak ada!?" Cerocos Bi Ratih marah pada Mama Hanum.
"Aku tidur dikamarku, tak mungkin aku tidur disini, karena kupikir Fadli datang malam-malam!" Ucap Mama Hanum membela diri.
"Ah sudahlah, sebaiknya kau tidur disini, meskipun Fadli datang, dia tak akan marah! Sekarang aku pulang atau disini saja?" Tanya Bi Ratih.
__ADS_1
"Kakak pulang saja, istirahat! Biar aku disini menemani Lara dan Nada. Jangan lupa, besok kita kerumah Amak!" Ucap Mama Hanum seraya mengingatkan.
"Baiklah, aku pulang dulu, sebentar lagi pagi. Ayo, kembali tidur!" Bi Ratih pamit pulang.
Mama Hanum menenangkan Lara sambil menggendong Nada dan menidurkannya, Lara mencoba memejamkan matanya, karena kelelahan setelah berjuang menahan takut.
"Tidur nak, nanti kau sakit kalau bergadang seperti ini!" Ucap Mama Hanum seraya menyelimuti Lara dan Nada, kemudian ia merebahkan badannya disamping Nada.
Malam itu terasa lebih panjang dirasakan oleh Lara, meski diam ia tak bisa memejamkan mata sedetikpun.
"Ini tak bisa dibiarkan, hari demi hari kejadian aneh datang silih berganti menggangguku, lama-lama aku bisa gila!" Bisik Lara dalam hati. "Aku harus mencari tahu bagaimana melepaskan tumbal anak pertama jin pesugihan itu!" Lara bertekad kuat untuk melawan.
Adzan Subuh terdengar berkumandang, mata Lara tetap tak bisa diajak kompromi, ia masih terjaga, khawatir sewaktu-waktu makhluk tadi datang mengganggu atau merebut bayinya. Keselamatan Nada benar-benar terancam, Lara tak bisa tenang sebelum matahari muncul.
"Nak, sudah subuh! Mama kedapur dulu menyiapkan sarapan, ya?!" Ucap Mama Hanum melihat Lara yang tidak tidur juga.
Lara hanya mengangguk, Mama Hanum beranjak dari tempat tidur, ia pergi kedapur untuk menyiapkan sarapan.
...*****...
Matahari telah terbit di ufuk timur, keluarga Pak Hasan bersiap untuk pulang setelah tiga hari dirumah duka. Pak Hasan menenangkan adiknya, Bu Rose yang kini menjanda.
"Rose, kau harus bersihkan uang dan hartamu, jika didapat dari Samsul, lebih baik sedekahkan saja. Mungkin uang dari Samsul uang yang ia peroleh dari pesugihan!" Nasihat Pak Hasan pada Bi Rose.
"Baik, nanti uang dan perhiasan yang dibeli suamiku akan kuserehkan pada keluarganya, aku akan memulai hidup baru dengan usahaku sendiri!" Janji Bi Rose tak ingin terjerat perjanjian dengan iblis.
"Jangan khawatir, nanti aku akan membantumu membuka usaha! Kalau kau tidak betah disini, kau bisa pulang kerumahku!" Ajak Pak Hasan.
"Nanti kupikirkan, bang! Sekarang, biarkan aku disini karena ada beberapa urusan suamiku yang harus kubereskan dengan warga." Ucap Bi Rose.
"Kalau begitu, kami pamit dulu!" Pak Hasan berpamitan.
__ADS_1
"Yang sabar Rose!" Ucap Bu Rohani.
Pak Hasan dan keluarganya pulang, motor yang ia bawa ditumpangkan pada sebuah mobil box pengangkut barang, alhasil ia dan keluarga menumpang mobil antar kabupaten.