
Fadli kalut, ia tak bisa tenang sebelum menemukan orang yang mengubur fotonya bersama jenazah dengan hakikat agar Lara tidak mencintainya lagi. Ia merenung sejenak, mengingat-ngingat warga kampungnya yang tak mungkin melakukan hal bodoh itu, karena warga tak berminat sama sekali memiliki menantu putra seorang kuyang.
Lalu siapa orang yang bermaksud menghancurkan hubungannya dengan Lara?
Malam makin larut, Fadli kelelahan berpikir macam-macam, ia membaringkan badannya disamping Shinta yang merajuk. Fadli tertidur setelah sulit untuk memejamkan matanya.
...*****...
"Arghrghrgrhgrh arghrghrgrhgrh arghrghrgrhgrh... shhshhshshshhsh...!" Bunda Najah menggeram dan mendesis bersamaan.
Badan dan wajahnya yang kurus menonjolkan tulang-tulang itu mengejang dengan kuat, urat-uratnya membesar dan biru kemerahan. Bi Leha terjaga, ia memeriksa kondisi sahabat kecilnya yang berubah wujud menjadi ular berwarna hitam yang sangat besar sekali. Tubuh Bunda Najah yang berubah wujud menjadi ular itu menggeliat-geliat ingin keluar dari semen cor yang menahan tubuhnya, desisannya terdengar nyaring.
"Shshshshshhhhhh... !"
"Najah! Kau mau kemana?" Tanya Bi Leha.
"Keluar mencari mangsa!" Jawab Bunda Najah dengan suaranya yang serak dan berat.
"Sebaiknya kau musnahkan ilmu pesugihan minyak kuyang warna putih itu! Kasihan anak cucumu menanggung beban akibat perbuatan kalian!" Tegas Bi Leha.
"Itu adalah urusan Hamdan, bukan aku arghrghrgrhgrh arghrghrgrhgrh arghrghrgrhgrh... !" Bunda Najah keluar dari semen cor yang biasanya menahan tubuhnya saat berwujud manusia agar tidak berkeliaran.
"Sekarang kau mau memangsa siapa?" Tanya Bi Leha.
"Didesa ini tidak ada mangsa, hanya ada beberapa wanita yang sedang menstruasi, namun darah mereka tidak cukup untuk membuatku bertahan hidup!" Jelas Bunda Najah dalam wujudnya yang masih menjadi ular.
"Terus, kemana kau ingin pergi?" Bi Leha kembali bertanya.
"Ke rumah sakit tempat wanita bersalin Shshshshshhhhhh.. !" Bunda Najah meluncur meninggalkan tempat tidurnya.
Karena Bunda Najah tak bisa lagi melakukan ritual terbang dengan mencopot kepalanya dan isi organ dalam tubuhnya, maka satu-satunya cara dengan berubah wujud menjadi ular hitam yang besar. Bi Leha tak kaget lagi dengan pemandangan seperti itu, karena ia sering melihat sahabatnya itu berubah wujud dikala malam hari. Bunda Najah dengan wujud ularnya akhirnya lenyap, Bi Leha bisa tidur dengan tenang sepeninggal sahabatnya itu.
__ADS_1
Bunda Najah bertualang jauh dari wilayahnya untuk mencari mangsa, karena diwilayahnya sendiri tidak ada korban yang bisa dimangsa, wujudnya sebagai seekor ular merayap dan meluncur laju menuju tempat mangsanya.
Kressskkk kreskkkk kreskkkk, terdengar bunyi aneh berisik lewat didekat pos ronda. Dua orang pria yang meronda malam itu merasa terganggu dengan suara aneh itu.
"Man, coba tengok bunyi apa itu?" Perintah seorang pria.
"Paling suara dedemit!" Ucap pria yang beranama Aman.
"Hush, jangan sembarangan! Bagaimana kalau benar?" Jawab Agus.
"Penakut! Biar aku lihat!" Tantang Aman sambil keluar dari pos ronda. "Ulaaaaaar, besar sekali!" Teriak Aman lari kencang.
"Hah, pasti kau bercanda?! Baru saja aku bilang, jangan bicara sembarangan!" Celutuk Agus geleng-geleng kepala sambil memeriksa sumber bunyi.
Ternyata apa yang dikatakan Aman benar, seekor ular berwarna Hitam yang panjang dan sangat besar melilit tiang pos ronda kemudian merayap laju mengejar Aman yang sudah berlari tunggang langgang.
Agus pelanga pelongo antara heran dan takut, ia tertegun tak bisa berbuat apa-apa setelah melihat ular besar itu mengejar temannya.
"Astaga, bagaimana ini? Aman dikejar oleh ular besar itu! Aku tak berani bertindak gegabah, tapi ini tidak bisa dibiarkan, apakah aku harus membangunkan warga?" Ucap Agus setelah sadar.
"Amaaaan?! Aman! Aman! Tolooooong ada ular!" Agus bereriak keras.
Aman tidak bisa berbuat apa-apa karena badan dan otot persendiannya dililit oleh ular besar itu, tubuh aman melemah. Agus belum berhasil membangunkan warga, ia berinisiatif untuk memukul tiang listrik agar teriakannya didengar oleh warga.
Teng teng teng!!! Bunyi tiang listrik dipukul dengan sebuah batu besar berhasil membangunkan warga. Beberapa warga keluar dari rumahnya dan menyaksikan kejadian mengerikan didepan mata mereka, salah seorang warga mengambil tongkat kayu dan memberanikan diri untuk melepaskan lilitan ular besar yang melilit tubuh Aman.
"Bunuh saja ular itu!" Teriak seorang warga.
"Jangan, sepertinya bukan ular sungguhan!" Ucap warga.
"Ular jadi-jadian?" Tanya warga yang lain.
__ADS_1
"Iya, bisa jadi siluman, atau datuk penunggu hutan!" Jelas warga.
Warga mengurungkan niat mereka untuk membunuh ular besar tersebut. Benar saja, seperti dugaannya ular besar tersebut adalah Bunda Najah yang berubah wujud. Warga pelan-pelan melepas lilitan ular besar dari tubuh Aman, dan perlahan ular besar itu melepaskan lilitannya kemudian merayap pergi masuk kedalam lembah ditepi jalan. Malam itu hampir saja Bunda Najah celaka, karena nyawanya ada ditangan warga. Beruntung salah seorang warga mengenali antara ular sungguhan dan jadi-jadian.
"Hmmmm hampir saja aku celaka! Aku sangat haus, aku harus mencari mangsaku! Ini tidak bisa dibiarkan dalam keadaan begini, tenggorokanku terasa kering." Keluh Bunda Najah kehausan, tentunya haus darah wanita bersalin. Bunda Najah segera merayap dengan cepat menuju rumah sakit.
...*****...
Lara terjaga ditengah malam, tak sengaja matanya tertuju kearah pintu, entah kenapa pintu kamarnya tidak tertutup dengan rapat, seingatnya ia menutup kamarnya sebelum tidur. Tak diduga olehnya, muncul sebuah tangan berwarna hitam dengan jari dan kuku-kukunya yang panjang dan runcing seolah melambai-lambai kearahnya.
Lara terhenyak, tak ada bunyi atau suara tapi tiba-tiba tangan itu berada dibalik pintu kamarnya, ia mencoba berteriak, namun seolah ada yang menahannya, mulutnya menganga, tenggorokannya kaku tak bisa mengeluarkan suara, keringat dingin mulai bercucuran membasahi seluruh badannya.
"Apakah aku ketindihan?" Bisik Lara dalam hati.
Lara duduk mematung dengan mata terbelalak dan mulut menganga, badannya kaku bahkan untuk menengok bayinya saja ia tak sanggup. Tangan itu terus melambai-lambai kearahnya. Perlahan Lara bisa menggerakkan persendiannya.
"Maaaaaa, Mamaaaaaa!!!!!" Lara berteriak sekencang-kencangnya saat terbangun dari alam bawah sadarnya.
Tangan itu masih melambai kearahnya, meski Lara berada di dalam kelambu, namun ia bisa melihat dengan jelas tangan makhluk yang mengganggunya itu dari sekat pembatas kelambu yang terbuat dari kain jaring jala tipis. Mama Hanum tak kunjung datang, Lara mulai gelisah, sementara tangan dengan jari dan kuku-kukunya yang runcing itu terus melambai dan gerakannya makin cepat. Jantung Lara berdegup kencang seperti roll coaster.
......Dad dig dug seeer.. .......
Lara menangis sejadi-jadinya, tangisannya terdengar pemuda-pemuda yang meronda diluar, salah satu dari pemuda tersebut menggedor rumah Lara tepat dibagian kamar tempat Lara tidur.
Dug dug dug!!! "Kak, kak, kak Lara! Ada apa?" Tanya pemuda itu dari luar sambil menggendor rumahnya dengan keras.
"Tolong, toloooong panggilkan ibuku, suruh ibuku kekamarku! Gedor saja kamar beliau!" Pinta Lara dengan suara terengah-engah ketakutan.
"Baik kak, sebentar ya!?" Ucap pemuda itu.
Lara akhirnya lega, dan tangan makhluk mengerikan itu seketika menghilang dari balik pintu, anehnya tanpa ada suara sedikitpun.
__ADS_1
"Makhluk apakah gerangan yang baru saja menggangguku? Kalau manusia, pasti langkah kakinya terdengar saat dia berjalan, dan kalau makhluk halus kenapa tidak ada suara sama sekali? Biasanya tertawa cekikikan atau mengaum dan setidaknya seperti geraman suara Bunda Najah!" Jerit Lara dalam hati. "Makhluk apalagi yang mencoba mengusikku?!"
Makhluk apalagi yang mengganggu Lara? Apakah jin pesugihan, kuyang, kuntilanak atau maling? Siapa yang bisa menebaknya?