
Seluruh warga desa tempat tinggal Bunda Najah dan desa-desa tetangga geger dengan kematian beliau dan penasaran siapa yang mewarisi ilmu keabadian milik Bunda Najah tersebut.
Disisi lain warga desa merasa lega, karena bau bangkai yang menyengat tersebut sudah tidak tercium lagi setelah jasad Bunda Najah dimandikan meski tukang mandi jenazah susah payah membersihkan daki yang menempel pada kulitnya, selain itu belatung dan kutu busuk berkeliaran di sekujur jasad almarhumah. Setiap kali jasad itu disiram dengan air dan digosok, setiap itu pula belatung dan kutu busuk keluar bergumpal-gumpal dan berdesak-desakkan. Tak kurang dari tujuh kali mereka memandikan jenazah tersebut, itupun masih ada seekor dua ekor belatung merayapinya.
"Ini bukan efek ilmu Kuyang, tapi ilmu awet muda!" Seru salah seorang tukang mandi jenazah.
"Benar, ilmu Kuyang tidak begitu, pemiliknya abadi, tidak mati. Tapi ilmu awet muda, pasti badannya dipenuhi belatung dan kutu busuk disaat pelaku sedang sakit parah atau menjelang tutup usia!" Timpal tukang mandi jenazah yang lain.
"Aku diberi air suci oleh Pak Kiyai untuk setiap jenazah yang tidak normal seperti kebanyakan, air untuk memandikan jenazah harus di campur dengan air yang sudah didoakan!" Seru tukang mandi jenazah yang ketiga.
"Aku dengar hal itu, tapi aku tak berani memintanya pada Pak Kiyai. Semoga kau bisa menolong jenazah ini, setidaknya almarhumah berpulang dalam keadaan bersih!" Tukas tukang mandi jenazah.
"Insya Allah atas kehendak-Nya, dan konon air doa-doa ini juga bisa mengeluarkan jimat-jimat dan ilmu yang tertanam di dalam tubuh!" Seru tukang mandi jenazah tadi.
"Baiklah, kau lakukan yang terbaik, dan terakhir aku akan menusuk jarum emas di telapak kaki almarhumah jika kakinya nanti tiba-tiba tegak!" Tambah tukang mandi jenazah yang pertama.
Konon kata orang-orang tua dulu ditanah Kalimantan, jika terdapat jenazah dengan kaki yang tegak disaat mengkafaninya, maka jenazah itu akan jadi hantv, apalagi jika alm/almh orang yang memiliki ajian dan ilmu hitam, Allah a'lam.
"Alhamdulillah akhirnya belatung dan kutu busuk itu sudah lenyap, apakah karena efek dari air doa-doa ini?" Tanya tukang mandi jenazah pada temannya.
"Entahlah, yang pasti kata Pak Kiyai, jenazah akan membuang semua ajian yang ada dalam tubuhnya jika dimandikan dengan air ini!" Ucapnya.
"Lihat, lihat! Ada sesuatu keluar dari ubun-ubun jenazah!" Seru yang lain.
"Seperti telur puyuh!" Pekik tukang mandi jenazah.
"Ini yang dikatakan orang-orang sebagai ajian awet muda!"
"Seiring dengan keluarnya benda itu, belatung dan kutu busuk tadi sudah lenyap tak satupun keluar dari jasad jenazah!"
__ADS_1
"Alhamdulillah, benar sakali!"
"Semoga almarhumah bisa tenang di hari kepulangannya, terbebas dari urusan dunia!"
"Aamiin!" Jawab mereka berbarengan.
"Ingat, tak boleh satu pun diantara kita menceritakan kejadian ini pada warga! Ini adalah kode etik profesi kita, selain itu wajib hukumnya, kita harus menjaganya!" Salah seorang tukang mandi jenazah mengingatkan, yang lain mengangguk setuju.
"Jenazahnya sudah bersih!"
"Kita tunggu sebentar lagi, mungkin anak atau menantu almarhumah ingin memandikan!"
"Baiklah!"
"Aku kedepan, mencari salah satu kerabat dekat almarhumah!"
Mobil Fadli meluncur tepat di depan rumahnya, ia tidak bisa masuk kedalam pekarangan, akhirnya ia memarkir mobilnya di halaman rumah tetangganya tepat di seberang rumahnya. Lara turun dari mobil dengan perlahan sambil menggendong Nada, ia berjalan memasuki pekarangan.
"Siapakah yang mewaris ilmu Kuyang milik Bunda Najah?" Warga berbisik-bisik sambil menanak serabi putih, kue khas yang terbuat dari tepung beras dicampur dengan parutan kelapa yang dibuat saat ada orang meninggal.
"Menantu beliau?" Duga warga.
"Hush, itu dia baru datang!" Seru warga menunjuk kearah Lara yang berjalan didepan mereka.
"Permisi!" Ucap Lara memberi salam.
Warga tersenyum kearahnya.
"Apakah dia mendengar ucapanku tadi?" Tanya wanita yang menanak serabi gugup.
__ADS_1
"Entahlah!" Jawab temannya.
"Ibu-ibu kalau berkumpul pasti ghibah, tak peduli itu di tempat orang berkabung, atau di majlis ta'lim!" Seru wanita lain yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka.
Wanita tadi terdiam malu, Lara sempat mendengar dugaan warga terhadapnya, tapi ia acuh tak acuh saja, karena ia tak merasa melakukannya.
"Lantas siapakah pewaris ilmu Kuyang milik Bunda Najah??? Bi Leha? Apakah Bi Leha yang mewarisnya?" Bisik warga yang lain, karena masih penasaran.
"Mungkin saja terjadi, karena warga protes dengan keberadaan almarhumah pada Bi Leha! Kudengar Bi Leha minta waktu dua hari untuk membuat keputusan, kalau tidak Bunda Najah dibuang kehutan jauh dari pemukiman agar bau bangkai dari tubuhnya tidak mengusik warga sekitar! Tapi Tuhan berkehendak lain, mungkin ini yang terbaik buat almarhumah!" Jawab warga.
"Ya, kurasa Bi Leha tidak punya pilihan lagi, sehingga beliau bersedia mewarisi ilmu Kuyang milik sahabatnya!" Timpal yang lain.
Mereka tak menyadari bahwa Fadli lewat didepan mereka, namun Fadli tak mau berasumsi sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang bersedia mewaris ilmu Kuyang milik ibunya.
"Aku sangat berterima kasih yang tak terhingga pada orang yang ikhlas mewaris ilmu hitam milik Bunda! Jika dia wanita berumur, aku angkat dia menjadi ibuku, jika wanita muda, akan ku berikan rumah ini untuknya beserta biaya hidup sampai masa tuanya!" Fadli berujar dalam hati, ia bergegas masuk ingin menemui Bi Leha dan kerabat dekatnya yang lain.
Lara sudah duduk berdekatan dengan Mama Hanum, Bi Ratih dan Bi Leha, mereka nampak biasa-biasa saja seolah tak ada perseteruan diantara mereka. Fadli mengalihkan pandangannya pada seorang wanita muda yang duduk disamping Bi Leha, sosok yang sangat di kenalnya, sosok tak asing baginya, Shinta! Fadli terhenyak, ia tak percaya bagaimana Shinta bisa berada dirumahnya, bahkan sebelum kedatangannya.
"Fadli, tengok jenazah ibumu untuk yang terakhir, ajak istri-istrimu untuk memandikannya!" Sapa Bi Leha seraya memberikan perintah pada Fadli.
Fadli masih kebingungan dengan keberadaan Shinta, namun Bi Leha buru-buru mengajaknya bersama istri-istrinya kebelakang untuk memandikan jenazah Bunda Najah.
Lara terlihat biasa-biasa saja, tak nampak diwajahnya sedang cemburu pada madunya yang usianya lebih muda darinya. Bi Leha memandu mereka memandikan jenazah Bunda Najah yang kurus kering dan ceking itu, tak terasa air mata mereka jatuh membasahi pipi. Meski Bunda Najah seorang Kuyang, namun beliau adalah ibu oleh Fadli, mertua oleh menantu-menantunya.
Isak tangis terdengar di pemandian jenazah, warga diluar turut prihatin mendengar tangisan mereka.
Jenazah sudah benar-benar bersih, kemudian mereka membawanya keruang tengah untuk dikafani, Fadli mengikuti semua prosesi pelepasan terakhir ibunya. Jenazah sudah siap untuk di shalatkan kemudian di makamkan.
Selamat tinggal Bunda Najah, semoga arwahmu diterima disisi-Nya, author jadi teringat seorang Kuyang di kampung waktu kecil dulu, beliau sangat baik hati dan penyayang, apapun yang beliau beli, pasti beliau bagi-bagikan pada orang-orang yang duduk setongkrongan dengan beliau, author rada-rada takut kalau dekat beliau, padahal beliau lemah lembut. Tapi sayang sekali, beliau seorang Kuyang.. .
__ADS_1