MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 56. Ayah Dan Anak Bertemu


__ADS_3

Setelah menurunkan Pak RT di Balai Kota, Fadli tidak langsung pulang kerumahnya, ia mampir sebentar di rumah makan untuk membeli makan siang karena selama ini Lara tidak bisa beraktifitas di rumah seperti biasanya.


Mobil Fadli memasuki pekarangan rumah minimalisnya, disana nampak terparkir sebuah mobil BMW hitam keluaran tahun 95an, Fadli menoleh kekiri kekanan mencari tahu siapa pemilik mobil tersebut. Tak ada seorangpun disekitar pekarangan, namun ia melihat dua pasang sandal di teras rumahnya, berarti pemilik mobil tersebut sudah berada di dalam rumah. Fadli keluar dari mobil sembari membantu Lara berjalan.


Mbak Mina muncul menyambut kedatangan Fadli dan Lara, "Pak, Bu! Ada tamu di dalam!"


"Siapa?" Tanya Fadli.


Belum sempat mbak Mina menjawab, tiba-tiba muncul Pak Hamdan. "Aku!"


Fadli terbelalak, ia tak menyangka sosok ayahnya yang puluhan tahun meninggalkannya kini ada di hadapannya.


"Hai, kakak!" Seru Fadila yang berdiri di belakang ayahnya.


Fadli makin terbelalak melihat kemunculan seorang gadis.


"Ini Fadila, adikmu!" Ucap Pak Hamdan mengenalkan Fadila pada Fadli.


Fadila mengulurkan tangannya menyalami Fadli, mau tak mau Fadli membalas uluran tangannya, Lara pun turut menyalami Fadila.


"Apakah dia istrimu?" Tanya Pak Hamdan memecah keheningan.


Fadli mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena ia masih tak percaya dengan sosok ayah yang selama ini tidak pernah menemuinya tiba-tiba hadir di depan matanya.


"Fadli, kenapa kau linglung seperti itu?" Seru Pak Hamdan.


"Aaaa, mari masuk ayah!!!" Ucap Fadli sambil masuk ke dalam. "Silakan duduk!"


Pak Hamdan dan Fadila kembali duduk setelah menyambut kedatangan Fadli dan Lara, sementara Nada berbaring di kasur kecil miliknya sambil bermain. Fadila mendekati Nada dan bermain bersamanya.


"Permisi Pak, aku pamit mengantar Lara ke kamar!" Ucap Fadli sembari membimbing Lara berjalan ke dalam kamar.


"Silakan!" Pak Hamdan memandangi anak dan menantunya yang nampak janggal. "Hmmm ada apa dengan mereka?" Bisik Pak Hamdan dalam hati.


Tak lama kemudian Fadli muncul kembali menemui ayahnya.


"Mbak Mina, tolong buat minuman! Ayah mau minum apa?" Tanya Fadli.


"Apa saja!" Jawab Pak Hamdan datar.


Keduanya mengobrol seputar kehidupan keluarga mereka, Fadli menceritakan tentang Lara yang sekarang dalam pengaruh guna-gun, Pak Hamdan terkejut bukan main apalagi tahu bahwa santet yang dikirim orang asalah santet yang benar-benar mematikan, Cuca Peruntus.

__ADS_1


"Cuca Peruntus, santet ini sangat berbahaya!!" Gumam Pak Hamdan. "Siapa orang yang tega mengirim guna-guna pada istrimu?"


"Belum tahu, Pak!" Ucap Fadli berbohong.


"Teluh ini akan merusak organ dalam tubuh target, dan setelah hancur, si target akan binasa!" Pak Hamdan memberitahu.


Fadli berlagak seolah terkejut, padahal ia sudah mendalami tentang teluh Cuca Peruntus tersebut.


"Apakah kau sudah mengobati istrimu?" Tanya Pak Hamdan.


"Sekarang kami sedang berobat!" Sahut Fadli.


Mbak Mina muncul membawa air minum bersama beberapa macam kue yang ia beli di warung, ia menyuguhkannya pada mereka.


"Fadila, kemari! Duduk bersama kami!" Seru Pak Hamdan pada Fadila yang asyik bermain dengan Nada.


"Mbak Mina, tolong jaga Nada!" Pinta Fadli pada mbak Mina.


"Baik, Pak!" Ucap mbak Mina sembari menggendong Nada dan membawanya ke depan.


Fadila beringsut duduk ke sofa disamping ayahnya, ia mulai menyeruput teh yang ada di depannya. Pak Hamdan mulai bercerita bahwa ia dan Fadila baru saja kembali dari desa, serta menceritakan tujuan mengapa dirinya datang ke desa. Dengan bahasa isyarat, Pak Hamdan menceritakan bahwa ia sudah mewariskan ilmu hitam pesugihan pada seorang kerabat dari istrinya yang kedua.


"Pabrik penggiling padi dan beberapa petak sawah sudah ku balik nama pada pemiliknya yang baru, sehingga kalian tidak perlu heran jika pabrik penggiling padi telah di miliki orang lain." Ucap Pak Hamdan.


"Kau tak perlu takut dengan keselamatan anakmu! Dia sekarang aman, tanpa ada yang mengincarnya!" Tukas Pak Hamdan memberitahu.


"Terima kasih yang sebesar-besarnya, Pak! Aku hampir saja putus asa menghadapi permasalahan rumah tanggaku!" Ucap Fadli.


"Kakak, dimana kamar mandi?" Tanya Fadila.


"Di belakang, dari ruang makan kau berjalan lurus, kamar mandi tepat ada disamping pintu." Ucap Fadli memberitahu.


"Terima kasih!" Fadila segera pergi kekamar mandi, ia berjalan mengikuti intruksi Fadli dan benar kamar mandi tepat berada di samping pintu menuju pekarangan belakang.


Fadila masuk kedalam kamar mandi, aura negative mulai ia rasakan sejak masuk. Tercium bau bunga mawar busuk, namun tak ada bunga di sekitar kamat mandi. Brukkk, pintu kamar mandi tertutup sangat kencang, padahal Fadila tidak menutupnya.


"Aneh!" Gumam Fadila pada dirinya sendiri.


Fadila membuka resleting celana jeans miliknya, kemudian menjongkok untuk menunaikan hajatnya.


Pussssssshhhhhhhhh, lamat-lamat terdengar suara seseorang sedang meniup angin kearah Fadila.

__ADS_1


"Ops, ada apa ini? Siapa yang berani mengintipku?" Bentak Fadila kearah ventilasi kamar mandi.


Suasana di luar mulai gelap karena sudah terdengar suara adzan dari Masjid sekitar komplek, Fadila buru-buru membuka pintu kamar mandi, namun pintu tersebut sulit sekali dibuka.


Dor, dor, dor... Fadila menggedor-gedor pintu kamar mandi, tapi tetap tidak bisa terbuka.


"Mbak, apakah mbak ada di dapur? Tolong buka pintu kamar mandi!" Seru Fadila.


Di dapur tak terdengar siapapun, Fadila kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi, namun pintu tersebut semakin tertutup.


"Paaa, Kaaaak, mbaaak!!!" Fadila berteriak minta bukakan pintu kamar mandi.


Tak seorangpun mendengar teriakannya.


"Hihihi." Seketika terdengar suara tawa cekikikan di belakan kamar mandi.


Fadila mendadak terkejut, bulu kuduknya merinding, ia kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Bukaaaa, tolong buka pintu!" Teriak Fadila.


...*****...


Sementara di ruang tengah, Fadli dan ayahnya sedang menikmati makan siang mereka yang telat beberapa jam karena sibuk berbincang-bincang, Fadli mengantar sepiring nasi ke dalam kamar untuk Lara.


"Lara, kau bisa makan sendiri?" Tanya Fadli.


Lara mengangguk seraya meraih piring makan siang untuknya.


"Kau bisa duduk keluar bersama kami?" Tanya Fadli.


"Iya, aku sudah istirahat! Bantu aku berjalan ke ruang tengah!" Pinta Lara.


"Baiklah, kalau begitu mari makan siang bersama di ruang tengah!" Ajak Fadli.


Fadli menuntun Lara berjalan ke ruang tengah dan duduk bersama ayah mertuanya, mereka bertiga mulai menikmati makan siang.


Nada duduk di kursi bayi miliknya sambil makan biskuit rusk, mbak Mina sudah pergi sehingga Fadli yang menjaga Nada.


"Bagaimana keadaanmu, nak?" Tanya Pak Hamdan menyapa Lara yang sudah terlihat segar setelah istirahat beberapa jam di kamar.


"Lumayan, Pak! Tapi rasa sakit dan nyeri diseluruh tubuhku tidak pernah hilang!" Jawab Lara meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Itu pengaruh santet Cuca Peruntus, nak!" Ucap Pak Hamdan dengan ekspresi sedih.


__ADS_2