MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 96. Kuyang Baru


__ADS_3

Menjelang Maghrib banyak para undangan yang rata-rata terdiri pria datang untuk pengajian hari ketujuh kematian Bunda Najah. Fadli menyambut kedatangan tamu-tamu dan mempersilakan mereka masuk kedalam. Sebagian tamu mengucapkan belasungkawa pada Fadli, karena Fadli pergi bertugas di hari kematian Bunda Najah, sehingga warga yang melayat tidak bisa langsung berbelasungkawa padanya.


Setelah para tamu sudah datang semua, acara pengajianpun di mulai, pengajian dan tahlil di baca beriringan, kemudian di susul dengan acara makan malam. Menjelang pukul sebelas malam, pengajian sudah selesai, para tamu pulang kerumah mereka masing-masing.


Sedangkan para warga yang menjadi relawan gotong royong di dapur, mereka tidak pulang sebelum dapur beres, Fadli sangat berterima kasih pada warga yang dengan tulus membantunya.


"Merekalah yang selalu datang paling awal jika ada apa saja dirumah ini! Padahal mereka bukan tetangga paling dekat rumah, tapi mereka rela dan tulus datang kemari membantu kita!" Ucap Bi Leha memberitahu Fadli.


"Iya Bi, aku tahu! Mereka sangat baik, tolong suruh mereka datang kemari besok untuk acara pemberian nama pada bayi laki-laki kami!" Pinta Fadli pada Bi Leha.


"Sudah aku beritahu tadi, mereka pasti datang membantu!" Ucap Bi Leha.


"Baguslah kalau begitu!" Sahut Fadli.


"Bi, Pak, kami pulang!" Seru salah orang warga.


"Terima kasih, jangan lupa besok datang lagi!" Ucap Bi Leha sambil mengingatkan.


"Iya, Bi! Jangan khawatir, pasti kami datang lagi!" Sahut warga.


"Eh, eh! Jangan lupa tuh bawa berkah buat anak-anak di rumah!" Bi Leha menunjuk ke arah baskom besar yang berisi beberapa kantong plastik berkah untuk di bawa pulang oleh warga.


Warga berbondong-bondong mengambil berkah masing-masing dari dalam baskom, setelah itu mereka pulang, kebetulan malam telah larut, waktu menunjukkah sudah diatas pukul dua belas malam.


Fadli dan keluarga duduk berleyeh-leyeh di ruang tengah sambil menyiapkan tempat tidur bersama.


Fadli menggendong bayi laki-lakinya yang sebentar-sebentar terbangun, Shinta tidak nampak di situ.


"Shinta mana?" Tanya Fadli pada mereka.


"Tidak ada disini, mungkin dia di dapur!" Sahut Mama Hanum yang kebetulan berada di dekat Fadli.


"Biar ku cari, mungkin dia ada di dapur!" Ucap Bi Leha.


"Terima kasih, Bi!" Ucap Fadli.


Bi Leha melangkah ke dapur, rumah Fadli besar, lebar dan panjang kebelakang, mereka harus melewati lorong-lorong yang di apit kamar tidur sebelum menemukan ruang dapur.

__ADS_1


Kini rumah itu terang benderang dan nampak tenang, jauh dari sebelumnya rumah itu sangat menyeramkan dan gelap serta bau anyir dar4h. Rumah Vampire versi lokal.


Author pernah/sering masuk ke rumah kuyang waktu bocah, auranya benar-benar ngeri, siang-siang pun tetap aja penuh mistis, padahal orangnya ada. Itu waktu author kelas 5 SD, rumah kuyang itu tepat di belakang sekolah, dan beliau memang di hormati banget oleh warga dan orang sekitar, padahal pada tau kalo beliau itu kuyang. Mungkin warga cari aman, sengaja berbaik-baik sama beliau biar gak di ganggu. Mata beliau tajam banget, tapi gak berani natap kalau kita tatap, beraninya pas kita lengah, apalagi cewek-cewek yang sedang PMS, suka banget deketin mereka, besoknya lutut mereka biru-biru kemerahan, konon kata orang-orang kampung itu dihisap sama kuyang karena pas PMS. Author juga sering kena begituan, badan pegel dan sakit-sakitan, lho! Ada bekas gigi-giginya juga, tapi aneh gak berdarah. Coba kalian praktekkan gigit lutut agak kenceng, pasti timbul bekas gigitan tapi tandanya cepat ilang, beda pas digigit kuyang, biru kemerah-merahan, kayak lebam gitu. Heeeey ngeri deh pokoknya, sekarang sadar kok bisa-bisanya Author mainnya di rumah kuyang?! Kita gak bisa nolak pas diajak si kuyang untuk sekedar duduk-duduk diteras rumah beliau, kayak di hipnotis gitu, nurut aja. Ntar beliau minta cariin uban, jadi makin lama disitu, pas dewasa jadi takut bgt dekat-dekat kuyang, boro-boro main kerumah mereka, lewat belakang rumah mereka aja auto ngibrit kalo sekarang. Buat para pembaca setia, kalo ada satu di antara kalian pengen jadi kuyang, tolong jangan izinin sodara-sodara kalian meski dikasih imbalan segede apapun, soalnya fatal bgt. Susah mau mati, selagi hidup aja udah jadi hantu, bagaimana matinya nanti. Pengalaman Author sama sodara-sodara, kalo ada kuyang di kampung yang mati auto gak berani ke sungai (dua puluh tahun yang lalu) saat itu jarang ada wc dirumah-rumah, kalo mau buang air kecil/besar kudu ke sungai, mau jam berapapun itu. Makanya kita sering banget liat kuyang terbang di atas air, soalnya mereka gak mau terbang di atas daratan, takut kena tali jemuran terbuat dari ijuk atau dedak di belakang rumah warga yang sering di bakar setelah memilih padi dan hampa, akhirnya dedaknya dibakar dibelakang rumah. Kalo kuyang terbang diatas dedak atau jemuran, auto jatuh dong. Makanya doyan bgt terbang diatas air, bunyinya itu lho, gemerincing, berisik, kek gimana deh gak bisa jelasin, tapi kitanya tau-tau bungkam gak berani ngomong pas kebetulan nemu begituan, makanya kakak Author lebih memilih buang air kecil dirumah, parahnya dia bawa baskom dan air ke kamar, tuh baskom sama air dimasukkan kedalam kelambu juga saking takutnya sama teror kuyang hahaha. sorry jadi curhat jaman masa penjajahan. Yuk kita lanjut cerita keluarga Fadli.. .


"Najaaaaaah!" Bi Leha berteriak sangat keras, teriakannya terdengar orang-orang yang berada di ruang tengah, mereka serentak berlarian ke dapur ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Bi, Bi, Bi Leha, ada apa?" Tanya Fadli mengguncang-guncang bahu Bi Leha.


Bi Leha tidak bisa berkata-kata, beliau menunjuk ke pojok ruang yang dimana mereka menaruh sisa makan malam pengajian tadi. Fadli memandang ke arah tersebut, Bunda Najah sedang mengubek-ngubek makanan dan memakannya dengan lahap. Fadli terhenyak tak bisa berkata-kata, yang lain berdatangan memastikan apa yang sedang terjadi di dapur. Tapi mereka tak melihat apa-apa, hanya Fadila dan Mama Hanum yang bisa melihatnya, Fadli pun sudah tak bisa melihat ibunya di situ.


Fadli terduduk lemas, ternyata arwah Bunda Najah masih berkeliaran, bukan di luar, tapi di dalam rumah. Lara menepuk-nepuk bahu Fadli dengan lembut, ia mencoba menenangkan suaminya yang lemas duduk di lantai.


Fadli menoleh kearah Pak Sholeh, tatapannya memelas dan berharap agar Pak Sholeh mampu mengatasi masalah Bunda Najah.


"Kukira semalam tidak muncul dia sudah tenang, tapi ternyata dia berada di dalam rumah!" Ucap Pak Sholeh kearah Fadli.


Pak Hamdan dan yang lain geleng-geleng kepala mendengar cerita Bi Leha yang sempat melihat sosok Bunda Najah sedang melahap makanan, ia melihat Bunda Najah melahapnya dengan kedua belah tangannya memasukkan makanan ke dalam mulutnya hingga berjejal dan berserakan di lantai.


...****************...


"Maksudmu?" Jawab peronda yang lain.


"Tidak ada lagi kuyang senior yang sering meresahkan warga!" Ucapnya lagi.


"Belum aman, aku tahu dari cerita warga, banyak yang di ganggu beliau!" Tuturnya menjelaskan.


"Setidaknya wanita-wanita di desa ini terbebas dari teror dihisap atau digigit kuyang, bahkan di palasit kuyang yang bisa-bisa nyawa taruhannya!" Sela peronda.


"Benar juga, tapi kau jangan senang dulu! Beliau meninggal karena ada penerusnya, nah penerusnya itu siapa?" Tanya peronda pada temannya.


"Waduh, masalah baru dong? Semoga penerusnya bukan warga disini!" Ucapnya berharap.


Keduanya kemudian menyeruput kopi pahit hangat yang mereka bawa dari rumah sambil memakan pisang goreng, lumayan untuk menjaga mata agar tidak mengantuk.


"Kuyang-kuyang.. .!" Teriak salah seorang warga dari dalam rumahnya.


Kedua peronda tadi terkejut, baru saja mereka membicarakan makhluk jadi-jadian itu, tiba-tiba saja muncul, keduanya saling pandang.

__ADS_1


"Yuk kita periksa rumah warga yang berteriak tadi!" Ajak peronda pada temannya.


"Yuk!"


Mereka bergegas berlari menuju rumah warga yang heboh karena melihat kuyang, salah satu diantara mereka menggedor-gedor pintu rumah warga tersebut. Warga dengan cepat membuka pintu, dan menceritakan bahwa ada tangan dan jari-jarinya yang lancip sedang memegang jendela dapur, tepat di dekat tempat cuci piring. Kebetulan warga tersebut sedang menstruasi, dan kuyang tersebut berusaha masuk, tapi di kejar oleh suami warga.


"Bapak mengajar kuyang tadi kearah mana, Bu?" Tanya peronda.


"Lurus kearah rumah Fadli!" Jawab warga gemetar.


Kedua peronda tadi lagi-lagi saling pandang, padahal mereka tahu bahwa Bunda Najah sudah meninggal, mengapa masih ada kuyang yang terbang kearah rumahnya?!


"Sudahlah, mungkin kuyang lain mengalihkan perhatian agar rumah aslinya tidak di ketahui warga!" Ucap peronda.


"Mungkin kuyang yang masih tersisa di desa ini, kan masih ada beberapa wanita yang masih menganut ilmu kuyang yang sama!" Ujar peronda lain.


Suami warga yang mengejar kuyang tadi sudah kembali, beliau berhenti berlari dan bergabung dengan istri dan dua orang peronda tadi.


"Berhasil menangkapnya, Pak?" Tanya peronda.


"Tidak, kuyang itu belum mahir terbang, soalnya dia terbang di atas daratan! Tapi aku tidak bisa mengejarnya, dia menghilang di semak-semak di belakang rumah Bunda Najah. Oleh karena itu aku kembali kerumah!" Ucap suami warga ngos-ngosan.


"Berarti kuyang baru?!" Tanya peronda pada temannya yang dibalas temannya dengan kernyitan dahi yang berarti tidak tahu.


...****************...


Brukkk! Bunyi pintu belakang terbanting keras.


"Siapa disana?" Teriak Bi Leha sambil berlari menuju ruang belakang.


Shinta muncul dari dalam kamar kecil, dengan tenang ia melangkah menuju dapur dan masuk kedalam rumah.


"Kau dari mana saja?" Tanya Bi Leha.


"Dari kamar kecil, Bi!" Sahut Shinta.


"Mari masuk, malam sudah sangat larut!" Bi Leha mengajak Shinta masuk.

__ADS_1


__ADS_2