MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 79. Bola Api Dan Cahaya Terang Benderang.


__ADS_3

Suasana di rumah Pak Mantir malam itu sangat hening, Pak Mantir dan Lara masih bermeditasi di tempat mereka masing-masing, sedangkan Fadli rela berjaga menunggu proses behalat. Tak peduli dengan kantuknya, ia ikhlas berjaga-jaga, padahal besok pagi ia harus tugas, tapi demi kesembuhan Lara, ia bersedia melakukan apa saja.


Malam yang masih sepertiga itu ternyata tidak sesepi pandangan mata orang normal, kenyataannya di depan rumah Pak Mantir banyak sekali makhluk-makhluk tak kasat mata sedang berkumpul dan berebutan ingin masuk. Sekujur tubuh Pak Mantir bergetar, keringat membasahi seluruh badannya, bajunya basah seperti mandi. Suaranya mulai terdengar merapal mantra-mantra yang tak dimengerti maknannya oleh Fadli. Namun Pak Mantir nampak seperti berjuang menghadapi sesuatu, sesekali tangannya menangkis dan meninju bebas ke udara. Fadli tak bisa melihat ada siapa di depan Pak Mantir, tapi ia bisa menyaksikan makhluk-makhluk ghaib diluar rumah.


Fadli mengintip Lara di dalam kamar, ia khawatir makhluk-makhluk ghaib diluar sana menyerangnya. Tapi Lara sedang duduk bersila dengan tenang dalam meditasinya, Fadli menarik napas lega. Tatkala ia keluar kamar, sekali lagi ia melihat Pak Mantir seolah sedang menahan benda berat yang menhimpitnya, ada suatu energi besar yang membuatnya berjuang menguras tenaganya. Fadli ingin menolong Pak Mantir, tapi ia tak tahu dengan cara apa. Alih-alih menolong, ia takut merusak prosesi ritual behalat yang sedang berlangsung.


"Sebaiknya aku menemui Bu Mantir!" Gumam Fadli dalam hati, "Tapi aku takut mengganggu, mungkin beliau sedang tidur!" Fadli mengurungkan niatnya.


Tak sengaja ia melihat bayangan seseorang di dapur, tak ada orang lain dirumah itu selain istri Pak Mantir dan putra mereka, Fadli memberanikan diri berjalan ke dapur. Namun tak seperti yang Fadli duga, ternyata tak ada siapapun disana.


Fadli berbalik keluar, tapi langkahnya terhenti ketika ia merasa ada seseorang yang memegang bahunya, jantungnya berdebar, tangan orang yang memegang bahunya terasa dingin seperti es, leher Fadli terasa berat untuk menoleh kearah orang yang berdiri di belakangnya tersebut. Tapi rasa penasarannya membuatnya memberanikan diri untuk menoleh siapa orang tersebut.


"Pak Mantir?" Pekik Fadli terpekik.


Fadli menoleh keruang tengah, Pak Mantir masih bersemedi, sedangkan orang yang ada dibelakangnya adalah Pak Mantir yang lain.


"Kau siapa? Jangan coba-coba mengecoh proses ritual yang sedang dilakukan Pak Mantir!" Ancam Fadli sambil berjaga-jaga.


Sosok yang berwujud Pak Mantir tersebut tersenyum beberapa saat, kemudian wajahnya datar dan pucat. Sosok itu berjalan kedepan membawa baskom dari stainless berisi air dan menaruhnya di depan Pak Mantir. Fadli mengikuti sosok tersebut, ia tak ingin sosok itu mengganggu Pak Mantir yang sedang bersemedi. Tak sengaja Fadli menoleh kedalam air yang ada di baskom yang di bawa oleh sosok kembaran Pak Mantir. Fadli melihat bola api membara sedang menghimpit Pak Mantir, kadang tubuh Pak Mantir tak terlihat oleh kepungan bola api yang makin memerah. Fadli terpatung, ternyata Pak Mantir dari tadi sedang berjuang melawan bola api itu, posisi Pak Mantir membelakangi kamar dimana Lara berada, sedangkan bola api tersebut berusaha menyingkirkan Pak Mantir, agar bisa menembus kamar tersebut. Fadli menoleh kearah sosok kembaran Pak Mantir tadi, namun sosok tersebut sudah lenyap.


"Parang Maya? Cuca Peruntus? Apakah bola api itu satu diantara santet tersebut yang akan membinasakan Lara?!" Gumam Fadli khawatir.


Fadli berjalan mondar-mandir tak karuan, ia khawatir Pak Mantir kewalahan menghadapi bola api itu sendirian.

__ADS_1


"Nak!" Bu Mantir memanggil Fadli dari pintu dapur seraya melambaikan tangan kearahnya.


Fadli bergegas menghampiri Bu Mantir dan ingin meminta penjelasan tentang keadaan Pak Mantir, belum sempat Fadli bertanya, Bu Mantir sudah mendahuluinya.


"Kau tak perlu khawatir, suamiku sedang berusaha yang terbaik. Dan dia tidak membutuhkan pertolongan dari kita, kau bisa menunggunya menyelesaikan prosesi ritual dengan tenang!" Jelas Bu Mantir.


"Terima kasih, bu! Kau sudah membuatku lega! Apakah ibu melihat berbagai macam wujud makhluk-makhluk ghaib diluar sana?" Tanya Fadli.


"Itu bukan hal baru bagiku, siang malam aku melihat mereka!" Jawab Bu Mantir memberi tahu.


"Ibu tidak takut? Apakah mereka tidak berani masuk?" Fadli menyerang Bu Mantir dengan pertanyaan bertubi-tubi karena rasa penasarannya yang tak terbendung.


"Rumah ini aman, mereka tidak bisa melintasi perbatasan yang dibuat oleh Bapak disekeliling rumah, sehingga mereka hanya berani berada diluar batas rumah ini!" Bu Mantir menjelaskan.


"Jin khodam milik Bapak, mereka mirip satu dengan yang lain!" Jawab Bu Mantir singkat seraya pamit ke dapur untuk mempersiapkan makanan buat sarapan nanti.


Fadli kembali keruang tengah dan memperhatikan Pak Mantir, air di dalam baskom tadi mendidih, bola api tersebut membuat seisi ruang tengah memanas, terbukti dari air dalam baskom yang menggelegak.


"Aaaaahh ahhhh aaaahhhhh!" Tiba-tiba Lara menjerit di dalam kamar.


Fadli bergegas memastikan keadaannya, ia terbelalak melihat bola api tadi berada diatas kepala Lara, kemudia perlahan-lahan masuk melewati mulutnya, sekujur tubuh Lara memerah seperti bara api, Lara menggeliat-geliat kepanasan, tubuhnya bergetar sangat kuat. Fadli mulai panik, ia berlari kedapur mengambil seember air dan membawanya menuju ruang tengah, Bu Mantir mengejarnya dari belakang.


"Nak! Jangan! Jangan!!!!!" Bu Mantir melarang Fadli melakukan hal-hal konyol.

__ADS_1


"Tapi bu? Istriku kepanasan!" Ucap Fadli panik.


"Percuma kau siram dengan air, itu energi ghaib yang dikirim untuk menghabisi istrimu, sebaiknya kau doakan dia dengan tenang dan khusyuk!" Nasihat Bu Mantir mengambil ember berisi air dari tangan Fadli.


Fadli berjalan linglung menuju kamar di mana Lara berada, tubuh Lara masih merah membara. Fadli tak berdaya, lututnya tak sanggup menahan badannya, ia terkulai lemah tak berdaya menyaksikan kondisi istrinya yang sangat mengkhawatirkan. Sedangkan diluar sana, Pak Mantir sudah mulai tenang, ia duduk bersila sambil membaca mantra-mantra.


"Kapan Lara berhenti dari kondisinya seperti ini? Aku tak tega melihatnya tersiksa terus menerus!" Fadli mengeluh sedih, ia duduk berjaga-jaga di dalam kamar dimana Lara berada.


Tak sengaja Fadli melihat sebuah bola besar berwarna perak terang benderang seperti cahaya lampu neon turun dari langit, entah kenapa ia melihat atap rumah Pak Mantir terbuka lebar hingga langit yang membentang terlihat dengan nampak dan jelas. Bola besar berwarna perak dengan cahayanya yang benderang tersebut masuk kedalam tubuh Lara menggantikan bola api tadi. Seisi ruangan terang benderang, bahkan pohon-pohon dan dedaunan disekitar rumah Pak Mantir terlihat dengan jelas secara detail, tak terkecuali buah-buahan yang menggelantung di pohon-pohon itupun nampak terlihat. Fadli takjub melihat benda tersebut, selain itu tubuh Lara berubah tak lagi memerah seperti bara api seiring dengan masuknya benda berwarna kemilau tersebut.


Fadli agak sedikit lega, karena tubuh Lara berhenti bergetar, malah ia kagum dengan cahaya terang benderang yang menguasai sekujur tubuh Lara.


...****************...


"Selesai! Aku sudah mengirim bola api untuk membinasakan target yang kalian inginkan!" Ucap Pak Apong memberi tahu.


"Apakah kau yakin?" Tanya seorang lelaki paruh baya pada Pak Apong.


"Yakin! Bola api tersebut sudah bersemayam di tubuh target, hanya beberapa jam lagi ia akan binasa!" Jawab Pak Apong.


Mama Hanum dan Bi Ratih tersenyum senang, mereka yakin kali ini Pak Apong tak akan gagal menjalankan misinya, karena mereka sering mendengar tentang kesaktian ilmunya, dan terbukti mampu membinasakan target-target sebelumnya.


"Sekarang kita hanya menunggu kabar duka dari keluarga Fadli, setelah itu kita akan membereskan harta kekayaan milik Lara!" Ucap lelaki yang tadi mengetuk pintu rumah Pak Apong.

__ADS_1


"Pak, jangan gegabah! Kita tunggu usaha kita benar-benar berjalan sesuai keinginan, baru kita lakukan misi kita selanjutnya!" Tukas Mama Hanum.


__ADS_2