MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 68. Tak Ada Harapan Sembuh


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat dirasakan Shinta, padahal dirinya tidak tidur, ia berjaga karena bayinya yang baru berusia dua hari itu tidak mau tidur. Sementara Fadli masih terlelap, terlihat diwajahnya menampakkan lelah dengan beban dan pikiran. Shinta melayangkan pandangannya kearah jam dinding yang tergantung ditembok kamarnya, jam menunjukkan pukul dua malam. Fadli berpesan dibangunkan jam tiga malam, Shinta berpikir lebih baik membiarkannya tidur beberapa menit lagi.


...*****...


Sementara di kota, Pak RT ragu meninggalkan rumah Fadli, meski ada Fadila dan Mbak Mina yang menjaga Lara, tapi ia khawatir akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Akhirnya Pak RT dan Pak Mantir memutuskan untuk berlembur di rumah Fadli.


Mbak Mina menyuguhkan kopi dan biskuit untuk teman ngobrol Pak RT dan Pak Mantir agar tidak mengantuk, waktu hampir menunjukan pukul tiga malam. Fadila berada di kamar bersama Lara yang kadang sadar kadang pingsan, sementara Nada tertidur pulas diatas ranjang.


"Mantir, aku heran kenapa kesaktianmu tidak bisa melepaskan Parang Maya yang dikirim dukun pedalaman itu?!" Tanya Pak RT penasaran.


"Fadli datang terlambat, sementara Parang Maya tersebut sudah berakar di dalam tubuh istrinya, ibarat pohon, teluh itu sudah menjalar kemana-mana, seandainya mereka datang sejak dua tiga bulan setelah terkena teluh, aku yakin bisa melepaskannya. Selain itu, Parang Maya ini bukan sembarang teluh, tapi teluh Cuca Peruntus kekuatannya lebih hebat dari teluh manapun! Cuca Peruntus tersebut menggerogoti organ dalam tubuh si target, membuatnya tak berdaya seperti yang kau lihat sekarang dengan keadaan istri Fadli." Pak Mantir merasa kecewa karena penyembuhannya kali ini tidak terlihat akan berhasil.


Pak RT manggut-manggut, ia menyayangkan kedatangan Fadli dan Lara yang sudah terlambat, tapi masih beruntung bisa mengetahui siapa pengirim teluh tersebut dan menangkal aura-aura jahat meski untuk sementara.


"Aku pernah mendengar ceritamu bahwa kau pernah menolong seorang pria yang raganha disiksa Macan Kumbang sampai mati!" Pak RT mengingatkan Pak Mantir tentang pengalamannya pernah menolong seorang pria yang raganya diserang Macan Kumbang.

__ADS_1


"Pria itu sangat malang, Macan Kumbang itu bukan hanya memakan organ dalam tubuhnya, tapi dukun pemilik Macan Kumbang tersebut memanggang target bagaikan memanggang seekor kambing." Pak Mantir mengingat-ngingat peristiwa tersebut.


"Bagaimana kau tahu mereka memanggang target?" Tanya Pak RT.


"Dukun itu terlebih dahulu memerintahkan Macan Kumbang untuk memangsa seluruh organ dalam tubuh target, dan sekujur tubuh luar target penuh dengan luka seperti dicakar-cakar, timbul luka memar merah kebiru-biruan. Bukan hanya aku yang melihat, tapi anggota keluarga target juga melihat luka cakaran dan memar-memar tersebut. Setelahnya, target kepanasan, dan merasa kesakitan seperti terkena tusukan dari lubang d*b*r sampai ubun-ubunnya. Padahal sang dukun menusuk seekor kambing dari lubang d*b*r sampai kekepala kambing tersebut, persis seperti kambing guling! Nah, setelah tiga hari dalam keadaan tersebut, bagian tubuh luar target penuh dengan luka-luka bakar, padahal dia terbaring kaku diatas kasurnya tidak dapat bergerak sedikitpun! Hingga di hari ke empat, target menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sang dukun tak pernah mengirim teluh dengan satu ilmu, ia mengirim berbagai ajian sampai target benar-benar sengsara agar pengirimnya puas." Jelas Pak Mantir panjang lebar.


"Iya Mantir, aku sering mendengar bahkan melihat sendiri kejadian-kejadian seperti itu! Karena dari hal-hal tersebut aku bisa mengenalmu" Sahut Pak RT.


Pak RT sering mendengar kejadian tersebut di sekitarnya, jadi tak asing baginya. Begitu pula author, sering menyaksikan warga yang mengalami hal seperti ini, bahkan dua kerabat author sendiri yang mengalaminya. Kalau secara logika memang tidak masuk akal, persis seperti film-film supranatural, banyak yang menampik dan tidak percaya tapi ini memang benar-benar nyata, bukan dongeng yang biasa diceritakan sebelum tidur. Tapi yang mau percaya atau tidak, balik lagi pada pendapat masing-masing. Dan tak ada kekuasaan yang lebih kuat selain kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, manusia hanya bisa berbuat, tapi hanya Tuhan yang menentukannya.


"Coba kau perhatikan kondisi istri Fadil, sedari awal ia dihantui oleh wujud-wujud makhluk menyeramkan, itu upaya dukun santet agar targetnya panik dan gila. Tidak sampai disitu saja, dukun tersebut menggunakan rambut dan kukunya sebagai sarana ritual untuk membuat target benar-benar seperti orang gila, target akan menjambak-jambak rambutnya dan mencakar wajahnya, berteriak siang malam. Kalau orang awam pasti menilai istri Fadli adalah orang dengan gangguan jiwa!" Pak Mantir memaparkan perbuatan dukun secara detail.


"Iya Pak, memang benar! Bu Lara suka menjambak-jambak rambutnya, dan mencakar wajahnya kemudian berteriak dan menangis hingga tak sadarkan diri!" Imbuh Mbak Mina membenarkan Pak Mantir.


"Hal seperti itu tidak asing bagi para target yang terkena teluh Parang Maya. Tapi jarang ada yang menyadarinya, kecuali saat teluh itu sudah menggerogoti tubuhnya, maka dari itu ingatkan anak-anak dan istri dirumah serta anggota keluarga lainnya supaya berhati-hati saat memotong rambut dan kuku, jangan buang sembarangan! Karena orang jahat akan mudah mengambilnya untuk mengguna-guna! Selain itu, pakaian kita juga bisa dijadikan sarana ritual guna-guna, intinya kita harus berhati-hati dan waspada!" Pak Mantir menasehati.

__ADS_1


"Kasihan Bu Lara!" Gumam Mbak Mina prihatin.


"Masih banyak ritual yang dilakukan dukun tersebut untuk menyiksa istri Fadil, aku menunda menceritakan padanya karena tak ingin membuatnya bersedih!" Pak Mantir sangat menghargai perasaan Fadli.


"Apakah semua orang dari suku D*y*k itu jahat? Apalagi mereka yang berilmu tinggi?" Tanya Pak RT penasaran karena yang ia tahu orang-orang suku D*y*k banyak yang sakti.


"Salah, kami sebenarnya baik pada siapapun, tapi jika ada orang yang membuat kami tersinggung, atau memulai masalah, maka kami tidak akan diam! Orang-orang mungkin akan koar-koar menyindir, menghina dan lain sebagainya, tapi kami tidak, kami akan membalas mereka dengan cara halus, guna-guna! Usahakan jangan sampai berurusan dengan suku kami kalau tidak mau celaka." Pak Mantir memperingatkan Pak RT dan Mbak Mina.


"Aku tak pernah berpikiran untuk memusuhi suku kalian, aku biasakan sopan santun pada siapapun apalagi bertemu orang sesuku denganmu! Mereka biasanya turun gunung setiap hari Selasa dan Minggu. Mereka baik, tapi vibes mistis mereka sangat terasa!" Ucap Pak RT menceritakan pengalamannya yang sering bertemu dengan orang dari suku D*y*k.


"Dan orang sukuku sangat menghormati kalian dari suku Banj*r, bahkan kami orang pertama yang akan menjaga kalian jika ada musuh yang mengganggu!" Tukas Pak Mantir.


"Benar sekali, aku tahu hal itu sejak lama. Balik lagi pada masalah istri Fadli, bagaimana kira-kira nasibnya?" Tanya Pak RT cemas.


"Ajal istri Fadli sudah berada diambang pintu, sekarang di dalam raganya telah bersemayam Macan Kumbang dan mencoba untuk menyantap organ dalam tubuhnya yang sudah rusak oleh teluh Cuca Peruntus! Harapan untuk sembuh aangat jauh, tapi kita tidak tahu entah ada mukjizat apa nanti yang akan menyembuhkannya dan bisa sehat seperti sedia kala!" Ucapan Pak Mantir membuat Fadila yang baru keluar dari kamar sangat terkejut, ia berdiri terpaku didepan pintu kamar.

__ADS_1


"Semoga ada cara yang bisa melepaskan teluh itu darinya!" Pak RT berharap kesembuhan Lara.


"Aamiin!" Mbak Mina turut prihatin dengan keadaan majikan perempuannya.


__ADS_2