
Fadli memilih berdiam diri di ruang kerjanya di saat jam istirahat, entah kenapa bayangan Shinta hadir dalam benaknya. Fadli teringat istri keduanya pasti segera melahirkan, ia mengutuk dirinya sendiri yang telah menuduh Shinta sebagai orang yang mengirim santet Parang Maya pada Lara.
"Aku sangat berdosa pada Shinta, aku menuduhnya hanya karena aku pernah memergokinya mengirim guna-guna padaku! Tapi aku seharusnya tidak berburuk sangka, dia pasti sangat bersedih dengan semua tuduhanku padanya!" Bisik Fadli dalam hati, ia merasa sangat bersalah pada Shinta. Meski istri kedua, tapi Shinta bukan wanita j*l*ng atau mata duitan, seperti kebanyakan wanita-wanita perebut suami orang yang mengincar harta dan tahta. Shinta dan Lara hampir sempurna dimata Fadli, bahkan dirinya tak bisa membenci keduanya.
Fadli bucin, malah sekali dua, gaes!!!! Uhuk.. .
Tok tok tok! Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Fadli.
"Masuk!" Ucap Fadli.
"Pak, ada surat untuk Bapak dari desa!" Ucap security yang membawakan sepucuk surat untuk Fadli.
Fadli meraih amplop dari security tersebut, "Terima kasih, Pak!" Ia sembari merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan dan menyerahkan pada security itu.
"Terima kasih banya, Pak! Semoga selalu dimudahkan rezekimu!" Ucap security seraya beranjak pergi.
Fadli mengangguk sembari tersenyum, senyumannya nampak hambar karena beban masalah dalam keluarganya. Fadli membaca nama pengirim surat.
Dari: Hasan dan keluarga
Untuk: Fadli
"Ayah mertua!" Fadli bergegas merobek pinggir amplop dan segera membaca isi surat yang dikirim oleh mertuanya.
'Assalamu'alaikum
Kepada anakku Fadli yang terhormat, ditempat.
Bagaimana keadaanmu dan keadaan istri dan anakmu, semoga dalam keadaan sehat sejahtera dan selalu dalam lindungan-Nya. Kami disini sekeluarga dalam keadaan sehat-sehat saja. Melalui goresan kalam ini, abah ingin mengabarkan bahwa anakda Shinta telah melahirkan bayi laki-laki, dengan keadaan sehat, begitupula anakda Shinta dalam keadaan sehat wal'afiat.
Jika anakda Fadli berkenan, sudi kiranya pulang kekampung untuk sekedar menjenguk anak dan istrimu!
Wassalam
Ttd:
Hasan dan keluarga.
Begitulah kira-kira isi surat dari orang tua Shinta yang bergaya retro alias jadul, maklum jaman dulu belum ada ponsel apalagi sosial media dan aplikasi untuk sekedar berkirim pesan, tapi orang di desa biasanya mengirim surat melalui jasa kantor pos, atau melalui supir taksi antar kabupaten yang tiap hari berangkat dari desa ke kota dan sebaliknya.
Fadli termenung sejenak setelah membaca isi surat dari ayah mertuanya, antara bahagia dan sedih bercampur jadi satu dalam pikirannya. Fadli bahagia karena Shinta melahirkan seorang putra dengan selamat, sedangkan disisi lain ia bersedih karena keadaan Lara dan Bunda Najah yang semakin hari semakin memprihatinkan.
Jam istirahat sudah habis, Fadli dan rekan-rekannya kembali menekuni tugas mereka. Fadli tak sabar ingin pulang, ia akan mencari cara agar bisa pulang kekampung untuk menjenguk Shinta dan bayinya yang baru lahir. Setelah beberapa jam kemudian jam kerja berakhir, Fadli dan rekan-rekannya bersiap pulang.
"Ada apa denganmu, Fadli?" Sapa Anton melihat Fadli yang tak biasanya tergesa-gesa.
"Ada urusan yang harus kuselasaikan, Ton. Permisi!" Fadli bergegas pamit dan pulang.
__ADS_1
"Apakah istrinya masih sakit?" Gumam Anton menduga-duga.
Mobil Fadli melaju dengan cepat menuju rumah, selain teringat kondisi Lara, ia ingin cepat-cepat sampai dan memikirkan bagaimana caranya agar bisa pulang ke kampung. Tapi Fadli berubah pikiran, ia membelokkan mobil keruas jalan yang lain. Tak butuh waktu lama, mobil Fadli berhenti di depan sebuah rumah megah berwarna putih dengan pagar besi dan hiasan keemasan.
Fadli menekan bel yang ada disamping pagar.
"Siapa, ya?!" Tanya seorang wanita.
"Fadli!" Jawab Fadli singkat.
"Ma, Kak Fadli! Buka pintu gerbang!" Seru seorang wanita lain.
Wanita itu menurut, ia menekan tombol bel dan pintu gerbangpun terbuka. Fadli masuk, ia tahu Fadila yang mengarahkan wanita tadi untuk membuka pintu gerbang. Ternyata Fadli kerumah ayannya, itulah alasan kenapa dia berubah pikiran.
"Kak Fadli!" Seru Fadila menyambut Fadli di depan pintu. "Mari masuk, kak!"
"Disini saja, Dila!" Ucap Fadli nampak buru-buru.
"Kenapa buru-buru? Mari berkenalan dulu dengan Mama!" Ajak Fadila menarik lengan Fadli.
Fadli tak enak, akhirnya ia ikut masuk ke dalam rumah, padahal rencananya ia hanya ingin mengajak Fadila kerumahnya.
"Ma, Mama! Ini Kak Fadli!" Ucap Fadila mengenalkan Fadli.
"Kalian berdua sangat mirip!" Tukas Bu Intan seketika setelah melihat Fadli. "Ayo masuk!"
"Terima kasih, Bu! Saya mampir sebentar saja! Ayah mana?" Tanya Fadli menatap kedalam rumah mencari ayahnya.
Fadli akhirnya menceritakan tentang niat kedatangannya bahwa ia akan meminta Fadila menjaga Lara dirumah, dengan senang hati Fadila menyetujui ajakan Fadli.
"Silakan, bawa saja Fadila!" Ucap Bu Intan mengizinkan Fadila ikut bersama Fadli.
Fadila ikut bahagia mendengar kakak seayahnya menjadi seorang ayah untuk kedua kalinya.
"Tapi, siapa yang akan menjemput Papa?" Tanya Fadila teringat ayahnya yang sedang bersama temannya.
"Nanti Mama yang akan menjemput Papa!" Ucap Bu Intan.
"Serius?" Tanya Fadila sembari menyerahkan kunci mobil pada ibunya.
Fadila meminta waktu beberapa menit untuk bersiap-siap, Fadli mengangguk. Ia tak enak dengan ibu sambungnya yang harus menjemput ayahnya nanti, Fadli hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengajak Fadila kerumah. Tapi di tolak oleh Fadila sendiri, karena ia bersedia menjaga Lara dan Nada jika Fadli pulang kekampung untuk menjenguk Shinta dan bayinya. Bahkan ibu sambungnya, memaksa Fadila untuk ikut bersama Fadli kerumahnya.
Fadli sangat berterima kasih pada ibu sambungnya yang ramah tamah dan baik, berbeda dengan pemikirannya selama ini, ia mengira seorang ibu sambung adalah tokoh antagonis yang jahat seperti di film-film. Ternyata ibu sambungnya orang yang baik.
"Apakah karena kebaikan dan lemah lembutnya, sehingga ayah tertarik pada Bu Intan dan rela menceraikan Bunda?!" Gumam Fadli dalam hati.
"Kak? Kenapa melamun?!" Tiba-tiba Fadila muncul dari kamarnya membawa sebuah tas kecil berisi pakaiannya, kemunculannya membuyarkan lamunan Fadli.
__ADS_1
"Eh tidak, aku hanya teringat Lara dan Nada dirumah!" Jawab Fadli beralasan.
"Jangan bohong, paling-paling kakak teringat Kak Shinta?" Ledek Fadila sambil tersenyum.
"Ah tidak kok!" Ucap Fadli malu.
"Aku yang menyetir!" Ucap Fadila masuk kedalam mobil dan duduk di jok depan.
"Baiklah, jangan ngebut!" Ucap Fadli menasihati.
"Hah, kapan aku ngebut, kak? Aku tidak pernah seperti itu!" Sanggah Fadila tidak mau dituduh tukang kebut di jalanan.
"Iya, iya kakak percaya, kok! Ayo, buruan tancap! Kakak sudah lapar, sebelum pulang kita mampir di rumah makan dulu buat beli makanan!" Ucap Fadli.
"Baik, apakah kakak tidak bosan tiap hari makan diluar?" Tanya Fadila.
"Bosan, tapi terpaksa. Seandainya Lara sehat, dia tak akan mengizinkanku membeli makanan diluar. Dia pintar masak, masakannya enak-enak!" Ucap Fadli memuji Lara.
"Oh begitu, suatu hari nanti aku ingin Kak Lara memasak untukku!" Fadila bercita-cita makan makanan yang di masak oleh Lara.
Fadli tertawa kecil.
"Ah, adakah kemungkinan Lara bisa sembuh seperti sedia kala?! Kalaupun sembuh, apakah karena kekuatan ilmu kuyang yang akan diwarisinya dari Bunda?! Berarti Lara harus menjadi seorang kuyang?" Fadli berbicara dalam hatinya, ia tak mengharapkan semua itu terjadi, ia ingin Lara sembuh tapi bukan menjadi seorang kuyang, manusia siluman pemangsa darah wanita bersalin atau menstruasi dan memakan ari-ari bayi baru lahir.
"Kak?! Kulihat dari tadi kau melamun terus! Kakak memikirkan kesembuhan Kak Lara?" Tanya Fadila prihatin melihat Fadli, meski baru bertemu, keduanya seolah sudah lama bersama.
"Iya, Dila! Kakak bingung menghadapinya!" Ucap Fadli menunduk.
"Kakak tahu tentang cerita Harimau Putih?" Ucap Fadila tiba-tiba.
"Memangnya kenapa? Apakah ayah pernah bercerita padamu tentang Harimau Putih?" Fadli bertanya pada Fadila.
"Apakah kakak mengetahuinya?!" Fadila balik bertanya ingin tahu apa saja yang di ketahui Fadli tentang Harimau Putih itu.
"Bunda pernah bercerita bahwa almarhumah nenek kita memiliki Harimau Putih yang selalu menjaga keluarga! Tapi selama Bunda menikah dengan ayah, Bunda tak pernah melihat Harimau Putih itu, karena dia datang kerumah ayah jauh sebelum kematian almarhumah nenek! Apakah kau tahu sesuatu tentang Harimau Putih?" Fadli pun penasaran.
"Hmmm ternyata kau tidak mengetahui cerita sebenarnya! Tapi aku juga baru sekarang mengetahuinya, karena Papa baru saja menceritakannya padaku!" Ucap Fadila.
"Bagaimana cerita versi ayah?" Tanya Fadli ingin tahu.
"Waktu itu, sepulang dari rumah kakak, Papa bercerita tentang sosok Harimau Putih itu!" Fadila mulai bercerita dari dirinya terkunci di kamar mandi, sampai melihat makhluk-makhluk yang menyeramkan dan kedatangan Harimau Putih yang menjadi penolongnya, iapun menceritakan asal usul Harimau Putih tersebut.
Fadli terhenyak, mulutnya menganga, ternyata ia baru mengetahui silsilah keluarga dari garis ayahnya memiliki ilmu semua, dia hanya tahu bahwa almarhumah neneknya hanya sebagai tabib yang menyembuhkan orang sakit, tapi bukan sebagai paranormal.
"Lantas kau akan menjadi Paranormal?" Tanya Fadli.
"Aku belum siap, tapi kata Papa, akulah yang akan memelihara Harimau Putih itu!" Ucap Fadila tak bersemangat.
__ADS_1
"Mungkin di balik semua ini ada berkah yang tersembunyi!" Ucap Fadli berharap semuanya akan baik-baik saja.
Tak terasa mobilnya berhenti tepat di pekarangan rumah minimalis miliknya, keduanya turun dari mobil dan segera masuk kerumah.