
Fadli membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak biasanya dia mengebut dijalanan. Pikirannya gundah dan kalut, ada rasa bersalah pada Shinta karena telah memarahinya, tapi disisi lain ia sangat yakin bahwa Shinta dan keluarganya yang mengirim santet Parang Maya pada Lara. Keyakinannya itulah yang membuatnya emosi dan kalap, padahal belum ada bukti yang jelas jika Shinta pengirim santet sebenarnya.
Tak berapa lama, Fadli sudah tiba didepan rumah Lara, ia segera memarkir mobilnya. Mama Hanum menyambanginya didepan pintu sembari menyuruhnya lekas-lekas masuk kedalam. Fadli menurut, ia mengikuti Mama Hanum masuk kedalam kamar. Fadli terhenyak, ia melihat Lara menjambak-jambak rambutnya sambil mencakar wajahnya sendiri. Akibatnya, wajahnya merah-merah bekas cakaran kukunya.
"Lara!" Sapa Fadli pelan seraya melepaskan tangan Lara yang menjambak rambutnya, namun tangannya kembali menjambak-jambak. "Lara, kita akan pergi ke kota! Kau harus sembuh, Lara.. Lara, berhenti menjambak-jambak rambutmu sendiri!" Fadli menitikkan air mata melihat kondisi Lara yang seperti orang gila, padahal baru dua hari ia meninggalkannya.
Fadli beranjak dari ranjang, ia membuka lemari sembari mengambil tas besar untuk bepergian, ia kemudian memasukkan pakaian milik Lara dan Nada untuk dibawa ke kota nanti.
"Kalian harus ikut denganku, aku tak akan meninggalkan kalian dalam keadaan seperti ini!" Gumam Fadli, sementara Lara masih menjambak-jambak rambutnya dan sesekali berteriak seolah kesakitan.
Mama Hanum datang dengan wajah murung melihat Fadli yang sedang berbenah-benah.
"Kau akan membawa Lara dan Nada bersamamu?" Tanya Mama Hanum.
"Iya, Ma! Aku tak bisa membiarkannya dalam keadaan seperti ini!" Jawab Fadli.
"Sepertinya kau tidak percaya padaku!" Ucap Mama Hanum lirih.
"Bukan begitu, Ma! Aku sangat berterima kasih selama ini kau merawat dan menjaga mereka dengan segala yang terbaik dari yang terbaik, tapi sekarang aku yang harus menjaga mereka." Tegas Fadli.
"Baiklah, tapi jika kau kesulitan, segera berkabar padaku!" Ucap Mama Hanum.
Fadli mengangguk seraya kembali membenahi pakaian-pakaian Lara dan Nada. Mama Hanum berbalik, ia pergi keteras untuk menenangkan Nada yang gelisah dan sesekali merengek karena kepanasan, udara hari itu lumayan sangat terik.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, telah berpulang ke Ramatullah, Ibu Jamilah sekitar pukul tiga petang, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat salah pada almarhumah, semoga amal ibadah almarhumah diterima dan mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya, Aamiin!"
Terdengar berita duka dari Masjid, warga mulai berkumpul di halaman rumah salah satu warga, mereka membicarakan kematian Ibu Jamilah yang mendadak tanpa terdengar kabar sakit sama sekali.
__ADS_1
"Jamilah sering bercerita bahwa dirumah baru yang ditempatinya ada penunggunya!" Ucap warga yang kenal dekat dengan Ibu Jamilah.
"Apa yang pernah dilihatnya disana?" Tanya warga lain penasaran ingin tahu.
"Dia pernah bercerita, dia melihat sosok makhluk besar tinggi, dengan buah d*da besar yang menggantung seperti pepaya, sosok itu berdiri tepat didepan ranjang dan ingin mencekiknya." Jelas warga tersebut.
Bi Ratih yang baru keluar dari rumah, ikut berkumpul dengan warga karena penasaran dengan cerita warga tersebut.
"Dia tahu rumah yang dibangun diatas tanah kosong itu ada makhluk halusnya, mungkin makhluk halus dari pohon durian yang ada disamping rumah tersebut!" Ucap salah seorang warga.
"Nah, itu! Dia juga bilang sosok makhluk besar tadi menyuruhnya angkat dari rumah itu! Penunggu rumah tersebut tak mau menempati rumah bersama-sama!" Kata warga tadi.
"Iya, padahal aku sudah memberinya pandangan, lebih baik pindah rumah, meskipun rumah kecil tapi aman. Tapi dia memilih tetap tinggal disitu sampai akhirnya terjadi hal seperti ini!" Jawab warga yang lain.
"Suaminya tidak merasakan kejanggalan itu?" Tanya warga.
"Berarti itu kesalahan mereka tidak mengindahkan teguran penunggu rumah itu!" Ucap warga penuh sesal.
"Beda dengan Bu Aisyah, beliau pindah kerumah orang tuanya setelah cerai dengan suaminya, dirumah ibunya juga ada penunggu, tapi tidak meminta nyawa. Cuma, makhluk-makhluk ghaib dirumah itu membuat semua anggota keluarga seperti orang tidak waras. Lihat Bu Aisyah, dulu sangat bersahaja dan cantik, sekarang tidak terurus, baju compang-camping dan rambut acak-acakan, berjalan kehulu kehilir sambil tersenyum terkadang tertawa. Sangat memprihatinkan sekali!" Salah satu warga bercerita tentang warga lainnya.
"Kalau menurut ahli medis, Bu Aisyah hanya depresi gara-gara cerai dengan suaminya!" Timpal warga.
"Secara logika memang begitu, tapi tidak dengan orang pintar. Coba perhatikan secara seksama, bagaimana mungkin semua anggota keluarga dalam rumah itu mengalami depresi yang sama?" Tukas warga tak percaya dengan pendapat ahli medis.
"Benar juga, jadikan hal seperti itu sebagai pembelajaran, agar kita lebih berhati-hati dimanapun kita berada!" Ucapnya menimpali.
"Dan yang sangat disayangkan kenapa Ibu Jamilah tidak hengkang saja saat mendapat teguran dari penunggu rumah tersebut?!" Gumam warga sedih.
__ADS_1
"Nasi sudah menjadi bubur!" Jawab warga yang lain.
"Jenazah Ibu Jamilah kapan dimakamkan?" Tanya warga lagi.
"Besok pagi, hari sudah mulai gelap, tak mungkin warga memakamkan jasad almarhumah malam-malam gelap." Timpal warga lainnya.
"Tapi kita bisa melayat sekarang, bukankah begitu?" Tanya warga yang lain.
"Iya, kita bisa melayat sekarang! Mari kita melayat bersama-sama?!" Ajak salah satu warga.
Warga mulai berpencar pulang kerumah masing-masing. Bi Ratih pulang kerumahnya setelah menguping pembicaraan warga, ia menghampiri Mama Hanum dan menceritakan semua kejadian yang baru saja ia dengar.
"Ternyata di desa kita masih penuh dengan mistis, kukira jaman sudah modern tidak ada lagi hal-hal yang berbau klenik semacam itu!" Gumam Bi Ratih.
"Masih, bahkan desa kita ini terkenal dengan memiliki banyak makhluk-makhluk ghaib yang hebat dan berani! Contohnya, seorang warga baru yang berkunjung kemari, jika tidak memberi salam pada penunggu kampung, dia akan kepuhunan. (ditegur makhluk halus penunggu kampung) Ujung-ujungnya mati sia-sia." Jelas Mama Hanum.
"Iya, aku tak pernah menganggap hal itu dengan serius. Tapi ternyata memang tak bisa diremehkan!" Bi Ratih menimpali.
"Intinya kita harus waspada, tak ada salahnya berhati-hati meski didalam rumah sendiri!" Mama Hanum menasihati.
"Aku khawatir dengan Ivan, dia suka keluyuran malam-malam buta memancing di ladang, huh!" Bi Ratih mengkhawtirkan putra semata wayangnya.
Mama Hanum menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan kasar, ia lalu bercerita pada Bi Ratih tentang keinginan Fadli yang akan membawa Lara dan Nada bersamanya. Bi Ratih agak keberatan jika Fadli memboyong keluarga kecilnya untuk tinggal di kota.
"Aku tidak bisa melarangnya, dia suaminya dan berhak melakukan apa yang menurutnya baik!" Tegas Mama Hanum.
"Tapi kita tidak bisa melihat kondisi Lara setelah ini?! Kau tak seharusnya mengizinkan Lara ikut!" Bi Ratih meminta pertimbangan Mama Hanum untuk melarang Lara ikut bersama Fadli.
__ADS_1