
Fadli ingin menangis, ia tahu dirinya harus kuat dan bisa menjadi tempat bernaung Lara, tapi ia sangat cengeng, kelemahannya adalah Lara, wanita pertama setelah ibunya yang mengajarkan cinta dan kasih, ia tak kuasa jika harus berpisah dengan Lara sekarang. Fadli memijit-mijit kepalanya, pikirannya penuh dengan berbagai macam pertanyaan.
"Apakah aku harus minta pendapat pada Bi Leha?" Tiba-tiba Fadli teringat Bi Leha, wanita sebaya dengan ibunya yang ia anggap sebagai ibu kedua.
"Siapa wanita sebaya dengan ibumu itu?" Tanya Pak Mantir.
"Bagaimana Bapak bisa mengetahui aku sedang memikirkannya?" Tanya Fadli terheran-heran, padahal ia hanya bicara dalam hati tentang Bi Leha.
"Jangan tanyakan hal itu, kami suku Dayak rata-rata bisa membaca pikiran orang lain!" Jawab Pak Mantir membuat Fadli takjub.
"Berarti aku tidak boleh berkata sembarangan meski dalam hati, Pak?" Tanya Fadli.
"Seharusnya begitu, tapi tak jarang banyak manusia yang tidak sopan santun, mereka sering membuat hati orang lain terluka, kalau itu terjadi pads suku Dayak, mereka tak akan tinggal diam! Mereka akan membunuh tanpa menyentuh manusia-manusia yang tidak tahu sopan santun itu!" Pak Mantir menjelaskan.
"Iya, Pak! Aku tahu hal itu sejak aku kecil, ibuku sering bercerita orang-orang suku Dayak terkenal hebat dan sakti! Aku salut dengan kehebatan Bapak!" Ucap Fadli sungguh-sungguh. "Oh iya, wanita sebaya dengan ibuku itu adalah teman kecil ibu, sekarang beliau merawat ibuku yang sedang sakit parah!" Jelas Fadli.
Pak Mantir manggut-manggut sambil memegang janggut tipisnya yang mulai tumbuh dibawah dagunya.
"Apakah kau tidak terpikir mewarisi ilmu hitam milik ibumu untuk istrimu?" Pak Mantir tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang tak terduga oleh Fadli.
"Maksud Bapak?" Fadli terkejut bukan kepalang, ia syok.
"Hanya itu satu-satunya cara sekarang yang bisa membuat istrimu bertahan hidup! Pemilik ilmu kuyang akan bisa hidup abadi sampai kapanpun kecuali ada yang mewaris ilmu tersebut! Sama sepeti halnya dengan ayahmu yang kini baru saja terbebas dari ilmu hitam pesugihannya!" Ucap Pak Mantir datar sambil menatap kedepan tak berkedip seolah melihat sesuatu.
__ADS_1
"Bapak? Kau mengetahui semua tentang seluk beluk keluargaku?" Fadli makin tak percaya, ia terhenyak karena Pak Mantir mengetahui apa saja yang ada dalam kehidupan keluarganya.
Pak Mantir terkekeh melihat Fadli yang sangat terkejut.
"Sebenarnya kami bisa mengetahui semua hal orang-orang sekitar kami bahkan orang asing, tapi jika kami tidak berurusan dengan mereka, kami tidak aka ikut campur. Berhubung kau sedang berobat denganku, sehingga aku terpaksa mengulik banyak tentang kehidupanmu dan orang-orang sekitarmu! Kau tak usah malu tentang keluargamu, masih banyak orang lain yang memiliki berbagai macam ilmu hitam, tapi itu tidak dibenarkan. Kalau perlu buang jauh-jauh ilmu hitam tersebut jika memudharatkan." Pak Mantir menjelaskan mengapa ia mengetahui tentang keluarga Fadli sembari menasihatinya agar tidak salah langkah.
"Tidak, aku tidak malu. Hanya takjub dengan kehebatanmu, Pak! Dan mengapa nasihat Bapak melarangku menganut ilmu hitam, tapi Bapak sendiri menyuruhku mewariskan ilmu kuyang ibuku pada istriku, apa maksud Bapak?" Tanya Fadli gagal faham berkali-kali.
"Jika melakukannya dengan sengaja, itu lebih baik tidak usah. Tapi jika melakukannya karena terpaksa atau dalam keadaan mendesak, itu boleh-boleh saja, tapi tetap tidak di benarkan!" Ucap Pak Mantir.
...Dad dig dur seeer...
Jantung Fadli berdegup kencang tak beraturan, ia tak bisa membayangkan jika Lara harus menjadi seorang kuyang, ia tahu betul bagaimana kegiatan kuyang setiap malam, apakah Lara juga harus seperti itu? Apakah ia siap jika istrinya bernasib sama seperti ibunya yang tiap malam mencari mangsa ari-ari bayi segar dan darah orang bersalin demi kelangsungan hidupnya?! Fadli kembali berada dalam dilema yang sangat besar, ibarat mengumpakan 'dimakan mati bapak, tidak dimakan mati emak'. Jika Lara tidak mewarisi ilmu kuyang milik Bunda Najah, maka ajal Lara segera tiba, tapi jika Lara bersedia mewarisinya, maka Lara akan bertahan dalam dunia ini, sunggut sangat berat beban yang sedang dirasakan Fadli saat ini. Belum tentu Lara juga mau menerkma saran tersebut.
"Aku akan menceritakan semua hal ini pada istriku. Lihatlah, sampai sekarang dia belum bisa bangun akibat santet itu, dia pingsan beberapa kali dalam semalaman karena melihat makhluk-makhluk ghaib berbagai macam jenis dan bentuk!" Fadli mengeluh sedih.
"Iya, akupun melihat mereka, di pekarangan sana beratus-ratus makhluk tak kasat mata dengan wujud setengah binatang setengah manusia, belum lagi di dapur dan di belakang sana, mereka berebutan keluar masuk, bahkan rela berjejal-jejalan di rumah ini!" Ucap Pak Mantir yang tak sengaja di dengar Mbak Mina, ia bergidik mendengarnya.
"Pantas saja hawa rumah ini sangat panas sejak kedatanganku dari desa!" Ucap Fadli yang sering kepanasan karena rumahnya di penuhi oleh makhluk tak kasat mata.
"Untuk sekarang, aku akan memagari rumah kalian agar mereka tidak berani masuk! Tapi ilmu santet dukun di pedalaman sana terus bekerja!" Ucap Pak Mantir bangkit dari duduk sambil membuka buntelan kain berwarna abu-abu dan mengeluarkan isinya, garam kasar.
"Apa yang akan Bapak lakukan dengan garam kasar ini?" Tanya Fadli.
__ADS_1
"Aku akan menaruhnya disetiap pojok rumahmu! Ini sarana yang ditakuti oleh makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut, dan mereka tak akan berani masuk kedalam rumah!" Pak Mantir mulai komat-kamit membaca mantra yang entah seperti apa kalimatnya, karena Fadli tidak mengerti bahasa suku Dayak.
Pak Mantir berdiri dan mengajak Fadli membantunya kesetiap pojok-pojok rumah, keduanya berjalan beriringan, Pak Mantir sesekali meninju kearah depan, ia sepertinya sedang beradu kekuatan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata itu.
"Aku sedang mengusir mereka! Sebagian dari mereka lari terbirit-birit melihatku, tapi sebagian lagi sangat bandel, mereka merasa kekuatan mereka tak akan tertandingi, sehingga mereka berani melawanku!" Ucap Pak Mantir menjelaskan.
Mbak Mina memilih tak mau tahu, ia berlagak sibuk mencuci pakaian. Sedangkan Pak Mantir menabur garam di setiap penjuru pojok rumah sambil berpesan pada Fadli agar tidak ada yang menyapu garam-garam tersebut.
Setelah beberapa saat, Pak Mantir sudah menabur semua garam yang ada dalam buntelan abu-abu miliknya, kemudian berniat untuk pulang.
"Pak Mantir tidak kerumah Pak RT?" Tanya Fadli.
"Tidak perlu, kemaren aku bertemu dengannya! Jadi, hari ini aku tak perlu menemuinya, jika kau bertemu dengannya, katakan saja padanya bahwa aku datang kemari!" Ucap Pak Mantir sembari bersiap pulang.
"Aku antar Bapak pulang, sekaligus aku pergi tugas!" Ucap Fadli menawarkan diri.
"Apakah tidak mengganggu perjalananmu?" Tanya Pak Mantir tak enak.
"Jangan sungkan, Pak! Anggap saja aku saudaramu, kau sudah banyak membantu keluargaku! Aku sangat berterima kasih padamu!" Ucap Fadli.
"Tak perlu basa-basi, Fadli. Kau sudah kuanggap bagian dari keluargaku, masalah apapun yang kau hadapi adalah masalahku juga! Aku akan selalu mendampingi kalian!" Ucap Pak Mantir tulus.
Akhirnya mereka berdua pergi bersama-sama meski Fadli harus terlambat bertugas karena mengantar Pak Mantir terlebih dahulu.
__ADS_1