
Mbak Mina menyiapkan makan siang yang di beli Fadli di rumah makan, ia menata makanan di atas meja sembari menunggu mereka selesai bersih-bersih. Nada sedang belajar tengkurap di kasur kecil empuk miliknya, Fadila menemaninya selagi Mbak Mina menata makanan. Sementara Lara dari pagi tidak bisa bangkit dari tempat tidur, seluruh tubuhnya terasa sakit menusuk-nusuk, dan lemas tak berdaya, makanpun tak berselera, sehingga kondisi tubuhnya makin melemah.
Sesekali Fadila menengok Lara untuk memastikan kondisinya baik-baik saja, tak ada perubahan, keadaan Lara tetap seperti itu sepanjang waktu. Terkadang Lara menjerit, kemudian menangis tersedu-sedu. Fadila ikut merasakan sakit yang di derita Lara, ia teringat ucapan ayahnya jika ia menjadi paranormal seperti almarhumah neneknya, maka dia akan sangat berjasa bagi mereka yang membutuhkannya. Melihat kondisi Lara seperti itu, Fadila mulai membenarkan penjelasan ayahnya malam itu, ia mulai menyetujui jika dirinya di nobatkan sebagai paranormal, meski hnarus berhadapan dengan makhluk-makhluk ghaib yang menyeramkan.
"Mungkin ini sudah jalan hidupku?" Gumam Fadila, ia membayangkan dirinya akan berbaur dengan berbagai macam bunga, dupa dan menyan jika harus berurusan makhluk-makhluk tak kasat mata itu.
"Ayo makan!!" Fadli membuyarkan lamunannya.
Fadila mengikuti Fadli menuju ruang makan kemudian makan bersama.
"Kak Lara tidak mau makan!" Ucap Fadila.
"Nanti akan kucoba memberinya makan sesendok dua sendok sebelum aku pulang kampung!" Sahut Fadil.
"Kakak berangkat sekarang?" Tanya Fadila.
"Iya, sebelum malam! Aku ingin mengejar waktu, karena besok harus tugas." Jawab Fadli sambil menikmati makan siangnya.
"Berarti besok kakak sudah pulang?" Fadila bertanya lagi.
"Harus, aku tak bisa minta izin, karena baru saja aku cuti sebulan di kampung!" Ucap Fadli menjelaskan.
"Oh, baiklah! Tapi hati-hati dijalan, tidak baik bepergian malam-malam, apalagi dalam keadaan lelah sehabis bekerja." Fadila mewanti-wanti Fadli.
"Siap, adikku! Aku sudah memohon pada Mbak Mina agar bermalam disini untuk menemani kalian!" Fadli sengaja membiarkan Mbak Mina menginap di rumahnya malam itu, karena khawatir Fadila merasa kesendirian menjaga Lara dan Nada.
__ADS_1
"Baik, kak!"
Fadli bergegas kekamar membawa piring kecil berisi makan siang untuk Lara, ia mencoba memaksa Lara agar makan walau sedikit. Tapi tak berhasil, Lara makan hanya sesendok, ia tak memiliki napsu makan. Fadli sebenarnya tak sampai hati meninggalkannya ke kampung dalam keadaan seperti ini, tapi dia berkewajiban menengok Shinta dan anaknya yang baru lahir.
"Lara, aku pamit pulang ke kampung, sebentar saja!" Ucap Fadli memberitahu Lara.
Lara tak bergeming, ia hanya menatapnya dengan tatapan layu dan sendu, kedua bola matanya yang biasanya berbinar-binar kini tak terlihat lagi, redup hampir padam. Fadli mengelus rambut Lara yang biasanya wangi kini berbau minyak urut dan bau herbal akar dan daun-daunan, meski begitu Fadli tetap menyayanginya.
"Kak, lihat! Wajah Kak Lara sangat pucat!" Ucap Fadila.
Fadli melihatnya biasa-biasa saja, tapi tidak dengan Fadila. Penglihatannya berbeda, ia melihat wajah Lara pucat pasi seperti mayat.
"Apakah ini yang di katakan Pak Mantir bahwa ajal Lara sudah di ambang pintu?" Rintih Fadli dalam hati.
"Kenapa kak?" Tanya Fadila melihat wajah Fadli yang menunduk sedih.
"Baiklah, aku pergi dulu! Kutitipkan Lara dan Nada bersamamu, tolong jaga mereka!" Ucap Fadli berpesan.
Fadila mengangguk, ia terharu dengan ketulusan cintanya pada Lara. Fadli berangkat agar dijalan tidak terlalu malam, karena jarak dari komplek ke kampung lumayan makan waktu sekitar dua jam setengah. Fadila mengantar Fadli kedepan rumah, ia melambaikan tangannya sampai mobil kakaknya menghilang keluar dari gang komplek.
"Kenapa pertemuan kami harus diwarnai dengan warna kelabu seperti ini?" Bisik Fadila dalam hati.
Fadila kembali ke dalam, ia dikejutkan dengan keadaan Lara, tubuhnya kejang-kejang, matanya melotot keatas, mulutnya menganga menahan sakit, tangannya berusaha melepas sesuatu di lehernya.
"Kak, Kak!" Fadila mengguncang-guncang tubuh Lara.
__ADS_1
Brukkkkk!!! Fadila terpental kebelakang ditendang oleh Lara, hampir saja kepalanya mengenai lemari. Fadila tak percaya, karena kondisi Lara yang sakit dan tak berdaya, tak mungkin bisa menendangnya sekeras itu.
"Bangs*t, ternyata kau Harimau Putih yang sekian lama raib entah kemana! Kenapa kau muncul lagi?" Teriak Lara kearah Fadila.
"K..k..kau siapa?" Fadila balik bertanya, tubuhnya gemetar karena belum terbiasa menghadapi situasi seperti itu.
Lara yang biasanya terbaring lemah lunglai kini mulai bangkit, ia merangkak dengan gesit dan menyerang Fadila, menjambak-jambak rambutnya serta menjedot-jedotkan kepala Fadila ke lemari pakaian di belakangnya.
"Aaaaaaaa, tolooooong! Mbaaaak, Mbak Minaaaaa, mbaaak!!!" Fadila berteriak histeris memanggil Mbak Mina yang berada di ruang tengah bersama Nada. Sementara Lara mulai mencekik Fadila dan mencakar-cakar wajahnya, terdengar auman yang nyaring keluar dari mulut Lara.
Mbak Mina datang tergopoh-gopoh, ia berusaha melerai Fadila dan Lara, namun nihil. Mbak Mina ikut terjengkal, tak hanya itu, Lara beberapa kali menendangnya hingga Mbak Mina tersungkur, terjerembab, hidungnya berdarah-darah. Sama halnya denga Fadila, wajahnya yang mulus kini memerah tergores kuku-kuku Lara, rambutnya acak-acakan, sikutnya berdarah. Fadila dan Mbak Mina tak sanggup menghadapi Lara yang makin beringas.
"Siapa kau? Jangan menyakiti Kakak iparku!" Keluar dari raganya!" Bentak Fadila lantang padahal dia sangat ketakutan.
"Jah*n*m! Anak kemaren sore berani membentakku! Katakan pada nenekmu, hadapi aku! Aku Macan Kumbang penghuni asli Kalimantan, bukan seperti nenekmu, pendatang dari India yang berani-beraninya menguasai wilayah Kalimantan!" Teriak Lara sambil mengaum.
Fadila dan Mbak Mina terkejut, karena tiba-tiba Lara berubah menjadi seekor Macan Kumbang belang-belang yang sedang memasang aba-aba ingin menyerang mereka. Fadila dan Mbak Mina tak berani bergerak, sedikit saja menimbulkan suara, maka Macan Kumbang didepan mereka siap untuk menerkam dan mencabik-cabik tubuh mereka.
Mbak Mina terengah-engah, napasnya turun naik, tubuhnya bermandikan keringat dingin karena ketakutan, Fadila memberi isyarat padanya agar tidak menimbulkan suara, tapi Macan Kumbang tersebut dengan gesit menerkam Fadila.
"Aaaaaaaaaaaah!!!!" brukkkk, Fadila roboh dan.. "Aaaaauuuuuuuuuuuuuummmmm!" seketika Fadila berubah menjadi seekor Harimau Putih, ia melawan Macan Kumbang yang menyerangnya sedari tadi, kedua binatang buas itu bergulat beradu kekuatan.
Mbak Mina terpekik beberapa kali, ia berteriak histeris minta tolong namun tak ada seorangpun yang datang menolongnya, ia merasa seolah berada di dimensi lain yang kedap suara, sehingga tak ada warga komplek seorangpun yang mendengar teriakannya, padahal hari belum terlalu gelap, baru saja adzan Maghrib berkumandang, ia yakin warga komplek belum tidur jam seperti itu, atau karena warga komplek acuh tak acuh, oleh karena itu tak menghiraukan teriakannya, atau mereka sudah terbiasa mendengar Lara beteriak siang malam sehingga tak menduga ada teriakan lain dari biasanya.
"Ya Allah, tolong hamba! Aku sangat ketakutan!" Mbak Mina gemetar, sampai ia tak sadar kencing di celana karena sangat ketakutan melihat dua ekor binatang buas di depannya yang tak berhenti bertarung.
__ADS_1
Mbak Mina menangis sejadi-jadinya, ia pasrah apapun yang akan terjadi padanya, tangisannya tak dipedulikan kedua ekor binatang buas tersebut, akhirnya Mbak Mina tak sadarkan diri.