MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 95. Pilih Nama


__ADS_3

Fadli dan keluarganya masing-masing mencari nama untuk bayi laki-lakinya, sejenak mereka melupakan masalah-masalah yang begitu berat yang selama ini mengusik hidup mereka.


"Sekarang tunjukkan nama-nama yang kalian temukan untuk bayi kak Fadli!" Ucap Fadila mengambil kertas dan pulpen untuk mengoleksi nama-nama yang ditemukan oleh anggota keluarga yang ada di rumah itu.


"Syarif!" Ucap Bi Ratih.


"Baik, kita temukan satu nama!" Ucap Fadila seraya mencatat nama tersebut.


"Faisal, awal huruf F sama seperti ayahnya!" Ujar Bu Intan.


"Wah, Mama dapat inisial nama yang bagus!" Puji Fadila pada ibunya. "Ayo siapa lagi yang menyumbang nama?!" Tanyanya.


"Fuad, berawalan huruf F juga!" Ujar Mama Hanum turut menyumbang nama.


"Siap, nama-nama yang kalian temukan sudah kucatat di buku ini!" Sahut Fadila.


"Firman, kurasa ini cocok untuk bayi laki-laki Fadli!" Seru Pak Hamdan.


"Maaf Papa, nama Firman seharusnya cocok untuk anak pertama! Soalnya nama itu lebih berwibawa!" Ucap Fadila menjelaskan.


"Bukankah bayi laki-laki Fadli juga anak pertama?!" Sanggah Pak Hamdan.


"Tapi sudah ada Nada!" Ucap Fadila melirik kearah Nada yang duduk dipangkuan Lara.


"Baiklah, berarti aku mencari nama lain?" Tanya Pak Hamdan.


"Tak perlu, Pak! Firman juga nama yang bagus!" Seru Fadli membela ayahya.


"Tuh, Fadli juga senang dengan nama itu!" Ucap Pak Hamdan merasa menang.


Bibir Fadila manyun, karena di kalahkan ayahnya sendiri. Fadli menowel-nowel pipi Fadila yang membulat gara-gara manyun.


"Baiklah, mari kita lanjutkan!" Seru Fadila.


"Dilan!" Ucap Bi Leha singkat.


"Wah nama yang bagus!" Ucap Fadila suka dengan nama pilihan Bi Leha.

__ADS_1


"Fadi! Aku suka nama itu!" Ucap Lara turut memberikan nama.


"Aku juga suka nama itu!" Seru Shinta.


"Tidak boleh, satu orang satu nama! Kak Shinta harus kreatif, cari nama lain!" Ucap Fadila menegaskan.


Fadli melirik kearah Lara dan Shinta, ia bangga mereka bisa akur seperti tak terjadi perebutan hati.


"Lara benar-benar berhati mulia, sesabar itu menghadapi istri mudaku selama ini!" Gumam Fadli dalam hati.


"Woy, kak Fadli kenapa bengong? Ayo, mana nama yang kakak pilih?" Tanya Fadila membuyarkan lamunan Fadli.


"Biar Shinta saja yang memilih nama untukku!" Ucap Fadli.


"Tidak bisa, tidak bisa! Satu orang harus menyumbang satu nama!" Fadila menolak perminyaan Fadli.


"Baiklah, nama pilihanku Rahmat!" Ucap Fadli.


"Nama yang bagus, sepertinya anaknya bakal penurut, tapi apakah kakak tidak punya nama yang lebih modern?" Serang Fadila tak menguping nama pilihan Fadli.


Fadli garuk-garuk kepala.


"Baiklah!" Fadila kembali mencatat nama-nama bayi yang akan di berikan pada bayi laki-laki Fadli.


"Ayo yang lainnya! Mana nama yang kalian pilih?" Seru Lara.


"Sekarang giliranku! Aku memilih nama yang keren untuk keponakanku, Jeremy!" Ucap Fadila tersenyum.


"Tidak, tidak boleh! Itu nama orang Bule!" Tolak Fadli disertai tawa oleh keluarganya.


"Kita bebas memilih nama! Nanti nama yang terbaik menurut pilihan kalian akan menjadi nama bayi laki-laki kakak!" Ucap Fadila membela diri, "Kak Shinta, nama apa yang kau pilih?" Tanya Fadila kearah Shinta.


"Aku tidak punya pilihan, biar nama-nama yang kalian temukan saja!" Jawab Shinta.


"Tidak boleh, kakak harus memilih nama!" Seru Fadila.


"Alfian?!" Ucap Shinta bingung.

__ADS_1


"Iya, Alfian! Nama yang bagus! Kalau aku memilih nama Yusuf saja!" Ucap Pak Sholeh yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan keluarga Fadli.


"Wah, nama yang Bapak pilih sangat bagus, aku langsung teringat Nabi Yusuf yang sangat tampan!" Celoteh Fadila menanggapi nama pilihan dari Pak Sholeh.


"Nama-nama bagus semua, bagaimana mengambil salah satu dari nama-nama itu?" Tanya Fadli.


"Sudah kucatat semua nama-nama bayi yang kalian pilih! Hasilnya nanti kita umumkan di acara syukuran! Kita adakan pemilihan lagi setelah nama-nama itu terkumpul." Ucap Fadila menjelaskan pada Fadli sambil menutup buku.


"Besok pengajian tujuh hari, beberapa warga mulai berdatangan untuk membantu memasak, mereka sudah berada di belakang menyiapkan tungku dan mengupas kelapa untuk membuat Gulai!" Ucap Bi Leha yang baru saja kembali dari belakang menemui warga yang dengan suka rela ingin membantu pelaksanaan pengajian tujuh hari kematian Bunda Najah.


"Baik, Bi! Sekarang aku pergi kepasar untuk membeli kekurangan untuk keperluan besok, tolong catat apa saja yang kurang!" Seru Fadli seraya bersiap-siap untuk pergi.


Lara memeriksa bahan dan barang untuk dibutuhkan besok kemudian ia mencatatnya dan menyerahkan catatan tersebut pada Fadli. Sebelum matahari makin terik, Fadli pun bergegas pergi ke pasar tradisional yang tak begitu jauh dari desanya untuk membeli keperluan pengajian tujuh hari kematian Bunda Najah.


Orang-orang dirumah mulai sibuk mengerjakan keperluan untuk besok, ada yang membuat sambal gulai, ada yang memotong daging, ikan dan ayam, serta ada yang membuat kue-kue untuk pelengkap makan malam setelah pengajian nanti.


Pak Sholeh sengaja tidak pulang karena selain besok pengajian tujuh hari, beliau juga harus berjuang keras untuk mengambil roh penasaran Bunda Najah. Beliau tak pernah putus asa, tiap malam berlembur di dekat pusara Bunda Najah hanya demi mendapatkan roh gentayangan Bunda Najah yang suka mengganggu warga.


Hari berlalu begitu cepat, Fadli pulang dari pasar membawa barang belanjaan di dalam bagasi mobilnya, iapun menurunkan barang-barang yang baru di belinya dan mengantarnya ke dapur.


Orang-orang di dapur sibuk menyiapkan makan siang mereka, Fadli bergabung makan siang dengan keluarganya dan warga. Setelah hampir seharian beraktifitas, merekapun menikmati makan siang bersama-sama.


Tak terasa, malam kembali datang, Pak Sholeh sudah berada di pusara Bunda Najah sebelum Maghrib tadi, namun beliau tak menemukan asap seperti biasa yang keluar dari pusara. Bahkan suara letupan pertanda roh Bunda Najah keluar dari pusara pun tak terdengar, Pak Sholeh mengira mungkin dirinya lalai sehingga tidak memperhatikan kemunculan asap dan berubah menjadi pocong yang samar-samar kemudian lenyap gentayangan.


"Sudahlah, sepertinya aku kelelahan sehingga aku lalai menunggu asap itu muncul!" Pak Sholeh kembali mengaji dengan khusyuk di dekat pusara Bunda Najah.


Fadli dan Pak Hamdan datang menemani Pak Sholeh, mereka bertiga bergiliran mengaji sampai pagi. Semalaman berjaga, tak ada tanda-tanda Bunda Najah kembali, sama halnya seperti Maghrib tadi, kemunculannya tidak terlihat oleh Pak Sholeh.


"Apakah Pak Sholeh sehat-sehat saja? Mungkin Pak Sholeh kelelahan sehingga tidak memperhatikan kemunculan asap itu dengan seksama!" Ujar Fadli.


"Entahlah, tapi kalian melihat sendiri sebelum adzan Subuh berkumandang tidak ada tanda-tanda asap yang masuk kedalam pusara ibumu?!" Tunjuk Pak Sholeh kearah botol yang menancap di atas pusara.


"Tidak ada asap apapun, Pak! Semoga saja arwah Bunda sudah tenang dan tidak mengganggu warga lagi!" Ucap Fadli penuh seribu harapan.


"Insya Allah, besok tujuh hari kematiannya, semoga setelah itu dia tenang di alam barzakh sana!" Ucap Pak Sholeh.


"Aamiin!" Seru Fadli dan Pak Hamdan bersamaan.

__ADS_1


Mereka bertiga kembali kerumah setelah semalaman bergadang, setelah bersih-bersih mereka beranjak tidur untuk memulihkan lelah dan rasa kantuk.


__ADS_2