MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 22. Diikuti Jin Pesugihan


__ADS_3

Lara tiba dirumah orang tuanya, kedatangannya disambut tanda tanya oleh mereka. "Kak Ratih, Lara kembali!" Mama Hanum berseru pada Bi Ratih yang berada dirumahnya, rumah mereka berdekatan, jadi sangat mudah bercakap-cakap meski cuma lewat jendela dapur.


"Kamu enggak bercanda, kan?" Tanya Bi Ratih bergegas keluar rumah.


"Masuk nak, kenapa kamu balik lagi?" Tanya Mama Hanum seraya membantu Lara menjinjing tas bajunya dan bayinya.


"Ceritanya panjang, Ma! Nanti kuceritakan didalam!" pinta Lara buru-buru masuk.


"Apapun itu, aku senang banget kalau Lara disini! Kan kita jadi lega, tanpa rasa khawatir karena dia jauh!" Bi Ratih senang Lara kembali.


"Pasti ada yang enggak beres, kak!" Timpal Mama Hanum curiga.


"Simpan kecurigaanmu, yang penting anak cucumu kembali tak kurang satu apapun!" Bi Ratih berujar kemudian menyusul Lara masuk kedalam rumah, Mama Hanum menyusul mereka dari belakang.


Lara duduk disofa sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar, terlihat seolah lepas dari ancaman namun diwajahnya nampak sebuah kekhawatiran yang teramat sangat.


"Minum dulu nak!" Mama Hanum menyodorkan gelas air minum berisi air putih, Lara segera mereguknya.


"Ma, aku kembali karena.. ." Lara memulai kisahnya dari awal dia datang kembali kerumah Fadli.


Mama Hanum dan Bi Ratih terdiam menyimak apa yang terjadi pada Lara dan Nada seharian semalaman dirumah Fadli.


"Begitulah ceritanya!" ucap Lara menutup ceritanya.


"Bulu kudukku berdiri!" Bi Ratih bergidik takut.


"Untung kalian enggak kenapa-kenapa!" gumam Mama Hanum.


"Pesugihan biasanya minta tumbal, itu lebih parah dari ilmu kuyang!" Ucap Bi Ratih cemas.


"Kita harus cari cara supaya Lara terbebas dari tumbal dan sejenisnya! Bagaimana mengatasi semua ini?" Mama Hanum panik.


"Bi Leha nanti mau kesini, setelah mencari informasi lengkap pesugihan apa yang dimiliki keluarga Bunda Najah! Aku enggak mengerti mengapa masalah rumah tangga dan hidup kami jadi semakin sulit!" Lara mengeluh putus asa.

__ADS_1


Lara tak pernah menyangka kehidupannya akan berubah sedemikian rupa, ia mengira pernikahannya akan menjadi awal kebahagiaan dalam hidupnya, ternyata malah sebaliknya.


*****


"Pak, bapak tahu apa saja tentang keluarga Pak Hamdan?" tanya Bi Leha pada seorang lelaki sepuh yang ia temui diujung desa.


"Sebelum rumah tangganya rusak dengan Najah, Hamdan berguru sama orang pedalaman, pesugihan. Kekayaannya yang melimpah sekarang didapat dari pesugihan, tapi pastinya dengan perjanjian tumbal!" Terang Pak Sepuh menjelaskan perihal Pak Hamdan, suami Bunda Najah.


"Tumbal? Tapi aku rasa selama ini mereka aman-aman saja, enggak ada tumbal yang menjadi korban didesa kita, pak?!" Bi Leha memastikan.


"Coba ingat-ingat kehidupan Hamdan dan Najah beberapa tahun sebelum Najah menganut ilmu hitam kuyang!" Pak Sepuh meminta Bi Leha mengingat kehidupan sahabatnya dari sebelum Bunda Najah menjadi seorang kuyang.


"Hmmmm apa ya? Najah dan Hamdan setelah menikah.. " Bi Leha berpikir keras, "Faiza!" seru Bi Leha terbelalak.


"Ya, Faiza!" Pak Sepuh dan Bi Leha meneruskan obrolan mereka terkadang sambil berbisik, tak ingin ada yang mendengar mereka.


Siapakah sosok Faiza? Mari kita sama-sama cari tahu penjelasannya ketika Bi Leha datang menemui Lara nanti, beliau berjanji akan mencari informasi terlebih dahulu, baru kemudian akan memberitahu Lara tentang seluk beluk keluarga Bunda Najah dan Pak Hamdan.


*****


Lara terjaga ditengah malam oleh suara benda jatuh dari atap rumah, ia menatap sekeliling kamar, tak ada apa-apa, tapi ternyata sesosok hitam besar dan tinggi berada tepat disampingnya, sedang mencekik bayinya, sosok itu adalah sosok yang ada dirumah suaminya kemaren malam, jin pesugihan.


"Lepaskan anakkuuuuu!!!" teriak Lara seraya menyingkirkan tangan makhluk itu dari leher Nada.


Namun tangan makhluk hitam besar itu sangat kuat, bahkan Nada kecil yang masih bayi tidak bisa menangis akibat cekikan makhluk tersebut.


"Lara, ada apa, nak?" Mama Hanum datang terburu-buru, ia melihat Lara seperti berjuang melerai sesuatu dari Nada, namun tak ada apa-apa disitu.


"Lepaskan bayiku! Lepaskaaaaan!" Lara berteriak nyaring sambil meraih cermin kecil dari bawah bantal bayinya, ia memperlihatkan cermin kecil itu pada makhluk hitam besar tersebut.


Brakkkkk dummmmmm!!!!! Seketika tubuh besar makhluk hitam itu ambruk kelantai.


"Enyah, pergi dari sini!" bentak Lara.

__ADS_1


"Kamu bicara sama siapa, nak?" tanya Mama Hanum bingung.


"Jin jahat hitam besar dan tinggi, ma! Itu dia tumbang enggak berkutik dilantai! Tolong usir dia pakai cermin, Ma!" pinta Lara panik ketakutan.


Mama Hanum menurut, ia mengambil kaca besar diruang tengah dan membawanya kearah yang diberitahu Lara. Mama Hanum tak melihat apa-apa, tapi Lara melihat sosok mengerikan itu perlahan terbang menuju kisi-kisi jendela kamarnya dan menghilang.


"Makhluk itu sudah pergi, Ma! Terima kasih!" Ucap Lara seraya memeluk bayinya erat.


Lara menangis tersedu-sedu mengapa makhluk itu mengincar bayinya, padahal ia mengira dengan kembali kerumah orang tuanya, makhluk itu tak akan mengikutinya.


"Kenapa makhluk itu lenyap hanya dengan cermin?" tanya Mama Hanum heran. "Bukannya cermin ditakuti kuyang?" Mama Hanum kembali bertanya.


"Ma, kata Bi Leha, makhluk itu jin pesugihan, mungkin masih ada kaitannya dengan kuyang, sehingga takut dengan cermin!" kata Lara bergetar, ia masih panik memikirkan keselamatan Nada.


"Enggak masuk akal?!" Mama Hanum bingung tak mengerti hal seperti itu.


"Kita tunggu penjelasan Bi Leha, Ma!" Ucap Lara.


"Tapi kenapa kamu tahu cara mengusir makhluk itu?" Mama Hanum kembali bertanya.


"Hanya coba-coba, ternyata dia takut pada cermin, sama seperti kuyang!" ucap Lara kesal.


"Kalau kuyang adalah manusia jadi-jadian, tapi makhluk yang kamu sebut adalah makhluk mengerikan bertubuh tinggi, besar, berambut panjang terurai kedepan dengan mata terbelalak dan air liur yang merembes! Lantas makhluk ini jin atau manusia jadi-jadian, atau mertuamu sendiri berubah jadi makhluk itu?" ujar Mama Hanum penasaran.


"Bi Leha bilang itu bukan Bunda Najah, tapi jin pesugihan!" jawab Lara.


Suasana menjadi hening, Mama Hanum mengambil bantal dan memilih tidur dikamar Lara untuk menjaga Lara dan bayinya, mereka dirumah itu cuma bertiga, ayah oleh Lara jarang pulang karena pekerjaan beliau yang sering keluar kota bahkan antar provinsi.


Lara tidak bisa tidur setelah kejadian tadi, ia bolak balik diranjanhnya, gelisah tak karuan, ia takut makhluk itu datang lagi dan mengganggu bayinya.


"Kamu enggak tidur juga?!" Tanya Mama Hanum menengok Lara yang ada disebelahnya.


"Enggak bisa tidur, Ma!" Jawab Lara.

__ADS_1


"Baca doa, nak! Ayo tidur, nanti sakit!" Ucap Mama Hanum, seraya berbalik dan kembali terlelap.


Lara berusaha untuk tidur, namun kantuk tak kunjung datang, hinggga sampai pagi ia terjaga, menjelang subuh baru bisa terlelap.


__ADS_2