
Setelah beberapa hari dari rumah Pak Sholeh, Lara nampak sehat, tidak merasakan mual, pusing dan tidak diganggu oleh makhluk-makhluk halus kiriman dukun santet. Fadli merasa lega dengan kondisi Lara yang lumayan membaik, iapun bertekad pergi kerumahnya untuk melepas rindu pada ibunya.
Lara sudah lama tidak bertemu Bunda Najah, apalagi setelah mendapat kabar dirinya di santet, ia memilih untuk berdiam diri dirumah.
...*****...
"Wanita itu rupanya memiliki pagar diri, susah sekali untuk diterobos, siapa yang berani menghalangi pekerjaanku ini?" Gumam dukun santet sambil melenguh.
Dukun santet itu mengeluh karena targetnya memiliki sebuah kekuatan yang tak biasanya membentenginya. Berbagai macam ritual ia lakukan untuk menyiksa Lara malam itu, namun selalu membalik padanya. Sang dukun beberapa kali terpental saat menyerang benteng yang melindungi Lara, setiap kali mendekati benteng pertahanan milik Lara, pasti akan diserang sebuah cahaya putih yang menyilaukan.
"Kurang ajar, dimana dia mendapatkan perlindungan itu?!" Ucap Dukun santet tersebut dengan geram.
Karena penasaran, dukun santet itu pergi menuju pohon Kariwaya dan naik keatasnya sembari mengambil boneka berbentuk wanita yang terbuat dari kain putih tempat jiwa Lara dikurung. Dukun tersebut menggantung boneka itu diatas dahan pohon yang lebih tinggi, karena angin berhembus sangat kencang diatas ketinggian pohon.
"Rasakan ini, hufttt!" Dukun santet merasa puas setelah menggantung boneka ditempat ketinggian.
Sang dukun turun dari pohon seraya memperhatikan boneka kain yang terikat didahan pohon meliuk-liuk kekiri kekanan diterpa angin yang sangat kencang. Setelah memastikan boneka masih ditiup angin, sang dukun akhirnya kembali kegubuk reot miliknya, ia meneruskan ritual Parang Maya dan berusaha sedapat mungkin untuk membuat Lara makin teraniaya.
"Rambut, aku akan membakar rambut ini dengan darah ayam cemani, hahaha! Dia akan menjambak-jambak rambutnya dan berteriak histeris seperti orang gila!" Sang dukun tak pernah lelah melancarkan aksinya.
Aroma dupa yang bercampur berbagai macam benda menusuk penciuman sangat tajam, baunya membuat pusing orang yang mencium, kebetulan gubuk sang dukun jauh dari pemukiman, sehingga aksi sang dukun tidak mengganggu warga.
"Datuk segala datuk penghuni rimba ini, makhluk segala makhluk, keluarlah! Aniaya wanita itu, jangan kalah dengan tabir putih yang membentenginya!" Ucap sang dukun mengutus makhluk-makhluk tak kasat mata.
Angin bertiup sangat kencang bersamaan keluarnya makhluk-makhluk tak kasat mata dari persemayaman mereka.
...*****...
__ADS_1
"Aaaaaaaaakh aaaakh aaaakh!!!" Lara mendadak berteriak keras, Nada menangis gara-gara teriakan ibunya.
Mama Hanum berlari-lari menuju kamar Lara.
"Nak, ada apa nak?" Mama Hanum mengguncang-guncang tubuh Lara.
Mama Hanum mendapati Lara yang sedang menjambak-jambak rambutnya, matanya melotot seperti mau lepas, pandangannya nanar keseluruh ruangan.
"Lara, Lara!!! Sadar, nak! Sadar!" Mama Hanum masih mengguncang-guncang tubuh Lara agar dua sadarkan diri.
Lara bukannya sadar, malah menjerit-jerit histeris seraya menjedot-jedotkan kepalanya ke tembok seperti orang yang kehilangan akal sehatnya.
"Hanum, ada apa lagi?!" Tanya Bi Ratih yang baru saja muncul.
"Dari tadi sia menjambak-jambak rambutnya, kak! Dan tidak mau berhenti!" Jawab Mama Hanum.
"Hari sudah malam, kita tunggu sampai besok saja! Mungkin Fadli kembali besok pagi?!" Mama Hanum menolak.
"Tapi bagaimana jika Lara begini terus semalaman?!" Bi Ratih cemas.
"Kita harus bisa menghentikannya, kak! Tolong pegang tangannya!" Pinta Mama Hanum.
Bi Ratih memegangi tangan Lara agar tidak mengenai rambut dan menjambak-jambaknya, namun tenaga Bi Ratih kalah dengan kekuatan dahsyat yang dimiliki Lara entah dari mana datangnya.
Lara terus menerus menjambak-jambak rambutnya, bahkan mencakar-cakar wajahnya sambil berteriak dan menangis. Warga sekitar sudah tak asing lagi mendengar teriakan Lara yang tiba-tiba, mereka mulai terbiasa, kadang ada yang datang kerumah untuk sekedar melihat kondisinya.
Semalaman telah lewat, Lara tak juga berhenti menjambak-jambak rambutnya, kecuali saat matahari terbit, ia mulai tenang dan tertidur. Lara tidur telentang sambil memegangi rambutnya, wajahnya merah-merah bekas cakaran kukunya sendiri. Mama Hanum mengambil Nada dan merawatnya selama Lara tak sadarkan diri, sementara Fadli belum pulang dari rumah ibunya.
__ADS_1
...*****...
Dirumah Bunda Najah, pagi itu Fadli dan Bi Leha sedang sarapan bersama, ia menceritakan perihal Lara yang terkena santet. Fadli sengaja bercerita pada Bi Leha, ia ingin melihat reaksi wanita berusia 67 tahun itu. Namun Bi Leha terkejut bukan kepalang saat mendengar penuturan Fadli, ia nampak syok berat dan tak percaya akan nasib Lara yang sangat malang.
"Aku tak menyangka!" Ucap Bi Leha terhenyak.
"Aku minta do'a Bi Leha untuk kesembuhan Lara!"
Fadli menceritakan semua kejadian dan penderitaan yang dilalui Lara setiap menjelang Maghrib dan sepanjang malam.
"Semoga masalah keluargamu ini cepat berakhir, nak! Aku sangat lelah melihat penderitaan kalian, duka keluarga kalian sama seperti dukaku juga." Ucap Bi Leha dengan mata berkaca-kaca.
"Bi Leha, apakah tidak ada tanda-tanda ada orang yang bersedia mewarisi ilmu hitam kuyang milik Bunda?" Tanya Fadli. "Aku kasihan dengan Bibi, terus menerus disini untuk Bunda, kau rela mengorbankan kebebasanmu!" Fadli merasa segan pada Bi Leha.
"Belum ada yang bersedia mewaris, nak! Tapi Bibi tak akan berputus asa mencari orang yang benar-benar bersedia mewarisinya. Kau harus menyediakan lahan, uang atau perhiasan sebagai imbalan jasa pewaris nanti. Kau tak usah merasa segan terhadapku, anggap aku sebagai bibimu sendiri. Apakah masa cutimu hampir habis?" Tanya Bi Leha.
"Iya Bi, sisa beberapa hari lagi! Oleh karena itu aku ingin sekali ada yang mewarisi ilmu hitam milik Bunda, agar aku bisa meninggalkannya dengan lega! Soal imbalan untuk jasa pewaris, Bibi tak usah khawatir. Aku sudah menyiapkannya, nanti aku juga aku akan memberitahu Fadil jika akau menememuinya di kota!" Tutur Fadli panjang lebar.
"Baiklah. Iya, kau harus memberitahu Fadil soal lahan dan kekayaan orang tuamu yang akan kau gunakan untuk imbalan jasa pewaris, agar tidak terjadi salah faham!" Bi Leha setuju dengan ucapan Fadli untuk mendiskusikan perihal kekayaan orang tuanya.
Fadli tak lupa menceritakan pada Bi Leha, bahwa dia akan membawa Lara kekota untuk sementara. Bi Leha sangat senang mendengar keputusan Fadli, karena ia tahu perjuangan Lara yang sangat besar dalam mengurus ibu mertuanya sebelum ia melahirkan.
"Lara pantas mendapatkan yang terbaik, jangan sia-siakan dia, nak!" Ucap Bi Leha pada Fadli.
Fadli mengangguk, kemudian ia menghampiri Bunda Najah dan mencium wajahnya, karena ia akan meninggalkannya ke kota. Fadli tak merasa jijik dengan wajah sang ibu yang dipenuhi kutu busuk berkeliaran dari rambut hingga wajah, ia menangis melihat kondisi ibunya yang hari demi hari sangat memprihatikan.
Sebenarnya Fadli tidak tega meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti itu, tapi profesinya yang bertugas untuk negara yang membuatnya terpaksa untuk meninggalkannya. Fadli pamit pulang, Bi Leha mengantarnya sampai kedepan pintu.
__ADS_1