
Pertarungan antara Harimau Putih dan Macan Kumbang terus berlanjut, keduanya saling menerkam, menggigit dan mencakar. Tapi menjelang adzan Isya, Macan Kumbang itu berhenti menyerang Harimau Putih, ia berlari sangat kencang meninggalkan medan laga. Fadila yang berubah menjadi Harimau Putih kini kembali seperti wujudnya semula, ia merasakan seluruh tubuhnya remuk redam, tapi ia tak menyadari telah menjadi seekor Harimau Putih. Fadila bersikeras bangkit, keadaannya saat ia sadar sedang telungkup, ia ingin bangkit karena panik melihat Lara tergeletak tak berdaya dilantai.
"Mbaaaak!" Teriak Fadila dengan suara serak.
Mbak Mina tak menyahut.
"Mbaaaak, kau dimana?" Fadila mencari-cari Mbak Mina yang tak nampak batang hidungnya.
Lamat-lamat terdengar suara seseorang yang sedang menggeliat, Fadila mengarahkan pandangannya kebelakang pintu, ternyata Mbak Mina tersungkur disana sedang menggeliat baru tersadar dari pingsan.
"Ma..ma..mana kedua bi..binatang buas itu?" Tanya Mbak Mina terbata-bata.
"Mbak Mina, kau baik-baik saja?" Tanya Fadila memastikan keadaan Mbak Mina.
"Ka..ka..kaaau apakah kau Harimau Putih itu?" Tanya Mbak Mina dengan ekspresi ketakutan seraya mengambil langkah seribu, ia berlari keluar rumah sambil ketakutan, saking begitu takut, ia lupa memasang sandalnya, akhirnya Mbak Mina berlari dengan telanjang kaki.
"Mbak Mina sepertinya syok berat!" Gumam Fadila lirih tak mempermasalahkan Mbak Mina yang meninggalkannya, ia memaklumi keadaan Mbak Mina, siapapun yang berada dalam posisinya pasti akan mengambil cara yang sama.
Fadila bangkit pelan-pelan, ia mendekati Lara yang tak sadarkan diri.
"Kak Lara, bangun kak!" Fadila menyentuh pipi Lara agar sadar, tapi Lara tak bergeming, sedangkan Fadila tak sanggup membawanya ketempat tidur, tenaganya terkuras habis saat bertarung melawan Macan Kumbang, meski ia tak sadar kenapa tenaganya hilang entah kenapa.
Fadila pasrah dengan keadaan, ia berusaha meraih bantal di atas ranjang untuk menopang kepala Lara yang tergeletak di lantai, selebihnya ia memilih diam sembari menunggu Lara sadar. Disisi lain Fadila khawatir dengan keadaan Nada yang dari tadi berada di ruang tengah, tapi ia tak mendengar suara atau tangisan Nada sejak tadi.
"Ya Tuhan, kenapa kami harus begini?! Bagaimana dengan keadaan keponakanku diluar sana?!" Fadila menangis terisak sembari berusaha ngesot menuju ruang tengah untuk memastikan keadaan Nada. Usahanya sia-sia, persendiannya tak bisa digerakkan, seluruh tubuhnya melemah seperti orang lumpuh.
"Apakah aku lumpuh?" Tangis Fadila pecah seketika merasa dirinya tak berdaya sama sekali.
Tiba-tiba tangisannya terhenti, ia mendengar derap langkah suara kaki diluar sana menuju kedalam rumah.
"Pak RT, Pak Mantir! Mereka berada di dalam kamar, Pak!" Ucap Mbak Mina.
Ternyata Mbak Mina bukan melarikan diri karena ketakutan semata, tapi dia pergi kerumah Pak RT dan menceritakan semua yang terjadi di rumah Fadli, hingga akhirnya Pak RT bergegas memanggil Pak Mantir. Fadila sangat terharu dengan ketulusan Mbak Mina, ia menduga Mbak Mina pulang kerumahnya karena ketakutan, ternyata dugaannya salah.
"Bu Lara?!" Pak RT mengetuk pintu kamar.
Mbak Mina menyelonong masuk ke dalam bersama Pak RT dan Pak Mantir.
"Rudi, sebenarnya aku mengirim perisai berbentuk pedang ular emas untuk istri Pak Fadli sebelum Isya tadi. Perisai tersebut kukirim melalui ritual, aku merasa tak enak sejak aku pulang dari sini pagi tadi. Berhubung malam ini malam Jum'at, aku yakin dukun santet di pedalaman itu akan mengirim kekuatan ekstra untuk menyakiti Lara. Dan dugaanku benar, ternyata dia mengirim Macan Kumbang peliharaannya!" Ucap Pak Mantir emosi.
"Dan menjelang Isya mereka berhenti bertarung, Pak! Soalnya aku sadarkan diri saat adzan Isya berkumandang!" Mbak Mina memberitahu.
__ADS_1
"Berarti Macan Kumbang tersebut keluar dari raga istri Pak Fadli setelah kau mengirim perisai!" Ucap Pak Rudi atau Pak RT.
"Sepertinya begitu, dan selain perisai itu, wanita ini dijaga peliharaan leluhurnya, seekor Harimau Putih!" Ucapan Pak Mantir membuat Fadila terkejut, ia heran mengapa pria setengah baya itu mengetahui tentang keluarganya.
"Maaf, Pak! Bapak siapa?" Tanya Fadila.
"Aku teman Fadli!" Ucap Pak Mantir singkat.
"Pak, ini Fadila, adik perempuan oleh Pak Fadli!" Ucap Mbak Mina memberitahu Pak RT dan Pak Mantir.
"Oh, beruntung Fadli punya saudara disini!" Sahut Pak RT.
"Berapa hari Fadli pulang kampung?" Tanya Pak Mantir.
"Besok sudah kembali!" Jawab Fadila.
"Semoga saja tidak ada hal yang bisa menundanya disana. Karena lebih cepat lebih baik!" Ucap Pak Mantir.
"Pak, maaf saya ingin bertanya! Mengapa Bapak mengetahui tentang Harimau Putih?" Tanya Fadila yang penasaran dari tadi.
Pak Mantir diam sejenak, kemudian memberi aba-aba pada Mbak Mina untuk membenarkan posisi tubuh Lara yang terbaring tidak karuan. Dari tadi mereka membantu Lara berbaring pada sebuah kasur yang ditaruh di lantai saja, lebih aman daripada diatas ranjang, karena kondisi Lara yang tak menentu, kadang normal kadang berada dalam pengaruh alam bawah sadarnya.
Semua yang ada disitu terbelalak mendengar ucapan Pak Mantir.
"Apa maksudmu dengan Harimau Putih, Mantir?" Tanya Pak RT.
"Khodam atau peliharaan leluhur keluarga Fadli dari garis ayahnya, yang sekarang menurun pada adiknya ini!" Sahut Pak Mantir.
"Ckckckck, Pak Fadli bukan main, sepertinya semua anggota keluarganya masing-masing memiliki ilmu kanuragan!" Pak RT berdecak kagum.
"Sebagian saja, buktinya Fadli tidak punya apa-apa! Tapi adiknya ini calon paranormal hebat, entah dia akan berperan hebat seperti neneknya dahulu, atau bagaimana tak ada yang tahu! Tapi dia bersama Harimau Putih itu kemanapun dia pergi!" Ucap Pak Mantir.
"Harimau putih itu sekarang ada disini?" Tanya Pak RT.
"Iya!" Jawab Pak Mantir.
"Oh!" Pak RT terkejut dan takut, mulutnya membentuk guru O.
"Berarti yang bertarung dengan Macan Kumbang tadi bukan Fadila, Pak?" Tanya Mbak Mina tak kalah takjubnya dengan Pak RT.
"Fadila, raganya dipinjam oleh Harimau Putih itu! Karena sesungguhnya Harimau Putih tersebut tidak kasat mata, sehingga dia meminjam raga Fadila. Sama halnya dengan Macan Kumbang tadi, dia juga meminjam raga istri Fadli!" Jawaban Pak Mantir makin membuat mereka terkejut, ternyata selama ini bukan hanya di film-film ada binatang buas yang bersahabat dengan manusia.
__ADS_1
"Lantas siapa pemilik Macan Kumbang itu, Pak?" Tanya Fadila penasaran, Mbak Mina pun turut penasaran.
"Dukun santet yang menyiksa istri Fadli selama ini!" Jawab Pak Mantir dengan ekspresi penuh amarah.
"Menakutkan sekali, pantas saja ucapannya jahat sekali, sebelum menyerang Fadila, dia sempat mencaci maki dan sumpah serapah!" Timpal Mbak Mina.
"Dia merasa tertantang dengan kehadiran Harimau Putih itu!" Sahut Pak Mantir.
"Berarti kakak ipar memiliki harapan untuk sembuh?!" Tanya Fadila.
"Lima puluh persen, karena santet yang dikirim mereka sudah setahun lebih, sekarang puncak waktu dimana mereka ingin membinasakan kakak iparmu!" Jawaban Pak Mantir membuat Fadila dan yang lain menjadi tegang.
"Kenapa mereka sekeji itu? Apa yang diinginkan mereka dari kakak ipar?" Tanya Fadila terheran-heran.
"Harta dan kekayaan, istri Fadli putri dari keluarga ningrat yang malang...!" Pak Mantir menceritakan seperti apa yang ia ketahui tentang asal usul Lara.
Fadila tak habis pikir dengan orang tua asuh Lara yang sangat keji ingin membinasakan anak asuh mereka demi harta.
"Itulah serakahnya manusia!" Ucap Pak Mantir. "Aku berharap Fadli tidak gegabah jika dia bertemu dengan orang tua asuh istrinya, dia sangat syok mengetahui kenyataan sebenarnya, terutama Lara, dia masih syok sampai sekarang, dia tidak mengira orang yang selama ini bersamanya adalah musuh besar baginya dan keluarga sedarahnya." Pak Mantir merasa prihatin dengan nasib Lara.
"Benar-benar keterlaluan, orang tua asuh laknat!" Maki Mbak Mina terbawa emosi.
"Yang aku cemaskan sekarang dukun santet itu menyerang Lara dengan menggunakan sarana Macan Kumbang tersebut!" Ucap Pak Mantir cemas.
"IYA! AKU SUDAH BERADA DIDALAM RAGANYA, SIAP UNTUK MENYIKSANYA SAMPAI BINASA!" Ucap Lara yang tiba-tiba bicara.
Semua yang ada disitu tersentak, tak terkecuali Pak Mantir.
"Keluar kau dari raga wanita itu!" Bentak Pak Mantir.
"Jangan sok hebat, kutil tikus! Kau kira kau sanggup mengalahkanku? Hahaha! Kau kirim perisai pedang ular emas, tapi kau lupa menanamnya di dalam raga wanita ini, kau memberiku kesempatan untuk masuk ke dalam raganya. Dasar ceroboh!" Ejek Lara dengan pongah.
"Oh, jadi kau merasa menang dengan keberhasilanmu meminjam raga wanita ini? Pengecut, kau benar-benar tidak punya hati! Kau tahu majikanmu itu penjahat keji, mereka membantai keluarga wanita ini sejak dia masih bayi, dan sekarang kau ingin membinasakannya juga? Aku malu satu suku denganmu!" Ucap Pak Mantir mengusap wajah menahan kesabarannya.
"Aku tak peduli, aku hanya mengerjakan perintah mereka yang menyuruhku untuk membinasakan wanita ini! Aku akan mencakar seluruh organ dalam tubuhnya, kemudian memangsanya! Dia adalah santapan yang sangat empuk." Tantang Lara.
"Biadab!" Byuuuuuuuurrrr, Pak Mantir menyiram segelas air putih berisi mantra yang ia baca sambil berdebat tadi.
Sontak tubuh Lara terpelanting dan terjatuh kepembaringan kemudian diam, ia kembali jatuh pingsan. Pak RT geleng-geleng kepala menyaksikan perdebatan antara manusia normal dengan makhluk dimensi lain.
"Nada!" Mbak Mina buru-buru keluar kamar teringat Nada yang dari tadi tertidur sendirian di ruang tengah, untung Nada tidak rewel, sehingga tidak merepotkan yang mengasuhnya. Sejak terlepas dari gangguan jin pesugihan, Nada tidak rewel lagi, ia mudah tidur dan pendiam.
__ADS_1