
Pak Hamdan menceritakan pada Fadila bahwa penyakit yang di alami istri pertamanya adalah penyakit yang tidak ada obatnya, jadi percuma untuk di rawat di rumah sakit. Fadila percaya saja, karena ia kurang tahu hal-hal klenik, jadi tak mempermasalahkan penyakit apa yang di derita ibu sambungnya itu.
"Fadila, besok ayah ingin mengajakmu bertemu dengan saudara laki-lakimu, dia bekerja di kota, tak jauh dari tempat tinggal kita!" Ucap Pak Hamdan.
"Kenapa Fadila baru di beritahu bahwa Fadila punya saudara, Pa?" Tanya Fadila bingung.
"Ini hanya karena konflik rumah tangga ayah dan ibu sambungmu, maafkan ayah!" Ucap Pak Hamdan.
"Apakah Mama tahu tentang semua ini?" Fadila kembali bertanya.
"Iya, dia tahu sejak dulu!" Ucap Pak Hamdan menghela napasnya.
"Fadila bahagia punya saudara, apalagi mereka adalah kakak-kakakku!" Ucap Fadila berbunga-bunga.
Fadila fokus menyetir mobil menuju kediamannya, sementara Pak Hamdan banyak melamun setelah kembali dari desa.
...*****...
"Mbak Mina, tolong jaga Nada, ya?! Kami pergi dulu!" Ucap Fadli pada mbak Mina.
"Baik, Pak!" Mbak Mina meraih Nada dari gendongan Fadli.
Setelah itu Fadli menggandeng tangan Lara dan membantunya masuk kedalam mobil. Lara kehilangan kendali, ia tidak bisa berjalan dengan benar, kepalanya pusing, karena makhluk-makhluk ghaib kiriman dukun santet mengganggunya tak henti sejak pulang dari rumah Pak Mantir, bahkan ia kembali pada kebiasaannya menjambak rambut. Tubuh Lara kurus, wajahnya pucat pasi, rambutnya tak terawat, matanya memandang kosong, sesekali menjerit.
Fadli memutar mobilnya menuju rumah Pak RT yang ada di di ujung komplek, ia menjemput Pak RT karena mereka akan pergi kerumah Pak Mantir. Sesaat kemudian, Pak RT sudah masuk kedalam mobil, dan mereka pun pergi.
Sekitar seperempat jam di perjalanan, mereka tiba di rumah Pak Mantir. Mereka bertiga masuk ke dalam setelah Pak Mantir muncul dan mengajak mereka masuk.
"Silahkan duduk! Bagaimana? Pasti lebih banyak makhluk-makhluk ghaib lain yang datang mengganggu?!" Tebak Pak Mantir mengetahui apa yang terjadi.
"Bagaimana Pak Mantir bisa mengetahuinya?" Tanya Fadli takjub.
"Jika dukun santet yang mengirim Parang Maya itu sangat hebat, maka disuatu tempat pasti ada orang yang lebih hebat darinya!" Ucap Pak Mantir penuh makna.
"Ya, aku sudah menceritakan tentang kehebatanmu pada Pak Fadli!" Ucap Pak RT tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan menolong demi kebaikan, aku juga bisa mengirim Parang Maya, tapi aku harus melihat dulu duduk persoalan pengirim dan target. Karena aku tak akan mengirim Parang Maya pada orang yang tidak bersalah, tapi tak semua orang berbuat seperti itu. Aku tidak bisa menolong orang yang ingin balas dendam hanya karena kebencian dan iri dengki. Tapi, kau bisa mengirim balik Parang Maya ini pada pengirim sebenarnya!" Ucap Pak Mantir panjang lebar.
"Siapa mereka, Pak?" Tanya Fadli penasaran ingin tahu.
"Apakah kau siap mengetahui siapa pengirimnya?" Tanya Pak Mantir.
"Siapapun pengirimnya, kami diap untuk mengetahuinya!" Ucap Fadli sangat berharap.
"Mereka dua orang perempuan, dan seorang laki-laki! Kalian belum bisa menebak mereka sejak pulang dari rumahku?" Tanya Pak Mantir masih ragu memberitahu siapa pengirim Parang Maya tersebut.
"Tak seorangpun yang bisa kami curigai, Pak!" Ucap Fadli.
"Coba ingat-ingat, siapa kira-kira sainganmu atau istrimu?! Katakan saja!" Pak Mantir sengaja mengulur-ulur waktu karena belum siap untuk memberitahu mereka.
"Istriku yang kedua?" Tanya Fadli tiba-tiba.
Lara menoleh lemah kearah Fadli, ia terkejut karena tak menyangka Fadli juga menuduh Shinta orang yang mengirim santet padanya.
"Ada orang lain selain dia?" Tanya Pak Mantir.
Lara makin terkejut mendengar ucapan Fadli.
"Salah!" Jawab Pak Mantir singkat.
Lara dan Fadli saling pandang. "Lalu siapa Pak?!" Desak Fadli sangat penasaran.
"Orang yang membesarkan istrimu selama ini!" Jawab Pak Mantir datar.
Lara dan Fadli kembali berpandangan, mereka tak mengerti dengan ucapan Pak Mantir yang kesannya mengada-ngada. Kondisi Lara sangat lemah, sehingga ia tak bisa bertanya langsung, hanya Fadli yang mewakilinya.
"Maksud Bapak siapa mereka sebenarnya?" Tanya Fadli dengan ekspresi wajah kebingungan.
"Seperti yang kukatakan! Orang yang membesarkan istrimu selama ini!" Pak Mantir mengulangi ucapannya.
"Apakah istrimu tinggal dengan orang tua asuh?" Tanya Pak RT.
__ADS_1
"Tidak, setahuku dia di asuh dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya!" Jawab Fadli terheran-heran.
"Bukan, mereka hanya orang tua asuh, dia di asuh mereka sejak kecil!" Ucap Pak Mantir.
"Lalu di mana orang tua Lara sebenarnya?!" Tanya Fadli.
"Ceritanya sangat panjang!" Ucap Pak Mantir tanpa ekspresi di wajahnya.
Lara keberatan jika Pak Mantir menuduh Mama Hanum, Bi Ratih dan Ayahnya adalah orang yang mengirim Parang Maya padanya, karena ia tahu mereka adalah orang tua kandungnya.
"Itu mustahil!" Ucap Lara pelan.
"Tak ada yang mustahil di dunia ini!" Jawab Pak Mantir masih dengan wajah tanpa ekspresi.
"Jika memang benar mereka bukan orang tua kandung istriku, apa motif mereka mengirim Parang Maya padanya? Apakah mereka lelah merawat dan membesarkannya!?" Tanya Fadli penuh dengan rasa ingin tahu.
"Keserakahan yang membuat mereka buta, sehingga dengan cara apapun mereka berusaha membinasakan istrimu!" Ucap Pak Mantir.
"Cukup, Pak! Cukup, aku belum bisa mempercayai ucapan Bapak!" Ucap Lara berusaha keras bicara karena tidak menerima jika Pak Mantir menuduh orang tuanya.
"Lara, mungkin Pak Mantir punya bukti sehingga bisa mengatakan mereka pengirim guna-guna itu!" Ucap Fadli membenarkan Pak Mantir. "Bagaimana kami bisa yakin jika mereka bukan orang tua istriku yang sebenarnya?"
"Kalian ingin mengetahui secara keseluruhannya?" Tanya Pak Mantir.
"Iya, Pak! Agar tidak ada kesalah pahaman!" Ucap Fadli.
"Sebentar!" Pak Mantir masuk ke dalam.
Lara gelisah dan kebingungan, ia merasa Pak Mantir hanya mengaku orang pintar, dukun abal-abal yang cuma bisa menuduh orang sembarangan.
Tak lama kemudian, Pak Mantir muncul membawa sebuah bokor berukir naga berwarna emas, bokor tersebut berisi air jernih dipenuhi bunga melati dan kelopak bunga mawar. Pak Mantir menaruh bokor diatas lantai dan kemudian mengajak mereka duduk menghadap kearah bokor tersebut.
"Aku tak meminta agar kalian mengakuiku sebagai orang pintar, dan aku tak peduli jika kalian menganggapku dukun abal-abal, tapi aku ingin kalian tidak was-was lagi, sehingga aku akan memperlihatkan siapa orang sebenarnya yang mengirim teluh Cuca Peruntus yang merusak organ dalam tubuhmu agar kau binasa." Pak Mantir bicara panjang lebar.
Fadli, Lara dan Pak RT tegang menunggu hasil yang akan ditunjukkan oleh Pak Mantir. Mereka harus sabar menunggu jawaban, karena Pak Mantir telah pamit ke dimensi lain untuk mengeluarkan ilmu dan kekuatannya agar bisa membuktikan perkataannya.
__ADS_1