MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 69. Dilarang Bi Leha


__ADS_3

Shinta melirik kearah jam dinding, waktu menunjukkan tepat pukul setengah tiga malam.


"Fadli sudah tidur beberapa jam, semoga kondisinya kembali fit dan segar, aku harus membangunkannya sekarang!" Shinta berujar dalam hati.


Sebenarnya Shinta tidak tega membangunkan Fadli yang masih tidur dengan nyenyak, tapi karena keharusan, maka ia terpaksa membangunkannya.


"Bang, sudah setengah tiga malam!" Bisik Shinta pelan di dekat telinga Fadli.


Fadli menggeliat sambil mengucek-ngucek matanya.


"Masih mengantuk!" Ucap Fadli bermalas-malasan sambil beringsut dari ranjang.


"Cuci muka, Bang! Supaya tidak mengantuk!" Ucap Shinta.


"Iya, aku ingin mandi sekalian!" Balas Fadli sembari pergi ke kamar mandi yang terletak di belakang.


Rumah keluarga Shinta sama seperti rumah keluarga Lara yang masih dengan desain zaman jadul yang belum mempunyai kamar mandi di dalam kamar tidur, kebanyakan rumah warga juga seperti itu atau langsung mandi ke sungai, MCK (mandi, cuci, kakus). Author jadi teringat masa-masa bocah ketika mandi di sungai, hehe.


Setelah kurang lebih setengah jam, Fadli sudah kembali dari kamar mandi, ia segera memakai bajunya dan bersiap untuk berangkat menjenguk Bunda Najah kemudian meneruskan perjalanan kembali ke kota.


"Maaf, aku harus pergi sekarang!" Ucap Fadli menghampiri Shinta yang duduk bersandar di ranjangnya.


"Aku tidak bisa menyiapkan sarapan untukmu!" Balas Shinta sedih.


"Tidak mengapa, aku sarapan di jalan saja nanti!" Fadli mengeluarkan dompetnya dan memberi uang nafkah pada Shinta.


"Aku rindu saat-saat bersamamu!" Ucap Shinta lirih.


"Aku akan mencari cara agar kita bisa bersama-sama kembali seperti dahulu!" Fadli tak tega harus berpisah lagi dengan istrinya yang kedua, apalagi sehabis melahirkan yang seharusnya dia ada bersamanya.


Shinta tak ingin berharap lebih banyak, karena statusnya sebagai istri kedua.


"Aku harus berangkat sekarang, jaga dirimu dan rawat anak kita baik-baik, aku akan menyempatkan diri untuk menjenguk kalian sekali seminggu!" Ucap Fadli berjanji.


"Hati-hati dijalan! Hari masih gelap, pelan-pelan bawa mobil!" Pesan Shinta mencemaskan Fadli.


"Jangan khawatir, aku tidak akan kebut-kebutan!" Fadli bangkit seraya mengec*p dahi dan kening Shinta dengan penuh kasih kemudian menggendong dan mencium bayinya.


"Kau sudah punya nama untuk bayi kita?!" Tanya Shinta.


"Belum, aku sengaja memberimu kesempatan untuk menamainya dengan nama pilihanmu!" Ucap Fadli.

__ADS_1


"Tidak, aku ingin kau yang menamai bayi kita!" Shinta menolak.


"Baiklah, kau cari nama yang bagus, dan aku juga akan mencari nama untuknya, minggu depan aku kembali dan kita akan mendiskusikan namanya!" Ucap Fadli memberi saran.


Shinta mengangguk, Fadli meletakkan bayinya di dekat Shinta kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka. Shinta sedikit terhibur karena Fadli berjanji akan menjenguknya setiap minggu, awalnya ia mengira Fadli tak akan peduli lagi dengannya.


Tak berapa lama, Fadli sudah meninggalkan rumah keluarga Shinta, ia menyetir mobilnya perlahan menuju kediaman ibunya di desa yang tidak terlalu jauh jaraknya dari desa tempat tinggal Shinta. Sebelum adzan Subuh, Fadli sudah tiba di rumahnya, ia memiliki kunci sendiri sehingga ia bisa masuk kerumah tanpa membangunkan Bi Leha.


"Fadli?" Bi Leha terkejut melihat Fadli yang tiba-tiba muncul.


"Bi, aku baru saja pulang dari rumah Shinta!" Ucap Fadli menenangkan Bi Leha.


"Kukira kau datang dari kota malam-malam!" Bi Leha lega, ia sempat bingung mengapa Fadli datang di malam gelap gulita.


"Kemaren sore aku berangkat dari kota, langsung kerumah Shinta, dia melahirkan bayi laki-laki!" Fadli menjelaskan alasan kedatangannya.


"Oh, Shinta melahirkan, selamat nak! Semoga ibu dan bayi dalam keadaan sehat!" Bi Leha memberi ucapan selamat.


"Alhamdulillah, Bi!" Fadli nampak lesu.


"Kenapa kau murung? Apa kabar Lara dan Nada disana?!" Tanya Bi Leha.


"Bi..!" Fadli tak bisa berkata-kata, ia tiba-tiba menghambur memeluk wanita yang mulai renta itu.


"Bi... Lara, Bi!" Fadli menangis menumpahkan kesedihan yang selama ini ia pendam, biasanya ia menangis di pelukan Bunda Najah, tapi kini sang ibu terbaring bagai jasad tak bernyawa. Namun ia menganggap Bi Leha seperti ibu kandungnya sendiri, tempat ia berkeluh kesah selain pada Bunda Najah.


"Lara kenapa?" Tanya Bi Leha berusaha menenangkan Fadli yang menangis sesenggukan.


Fadli bangkit dan duduk dihadapan Bi Leha, ia menarik nafasnya kemudian bercerita tentang apa yang dialami Lara dan menceritakan siapa sebenarnya Mama Hanum dan Bi Ratih serta misi apa yang mereka inginkan sehingga tega untuk menghabisi Lara. Sontak Bi Leha terkejut, ia tak menyangka keluarga Lara yang selama ini ia kenal baik ternyata musuh besar dan pembunuh berdarah dingin yang serakah dengan harta dan kekayaan.


"Ternyata selama ini mereka hanya bersandiwara, aku tidak pernah menduga sama sekali, mereka seperti keluarga sedarah! Apakah kamu yakin dengan ucapan pria bernama Mantir itu?" Bi Leha belum yakin sepenuhnya dengan cerita Fadli.


"Bi, Pak Mantir keturunan suku D*y*k asli, dia dukun yang hebat, dan bisa menerawang kehidupan masa lalu kita!" Ucap Fadli meyakinkan Bi Leha.


Bi Leha bungkam, ia syok mengetahui Lara terkena santet Parang Maya yang mematikan, air matanya menetes tak terasa.


"Lara!" Bi Leha tersandar di tembok.


"Bi, aku ingin membawa minyak kuyang milik Bunda!" Ucap Fadli mengejutkan Bi Leha.


"Untuk apa?!" Bi Leha bertanya dan menatap Fadli dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


"Lara!" Jawab Fadli singkat.


"Tidak, Lara tidak boleh mewarisi ilmu kuyang!" Tolak Bi Leha.


"Tapi, Bi! Hanya ini cara satu-satunya agar Lara bisa bertahan hidup!" Ucap Fadli memelas.


"Kau harus memikirkan resikonya! Lihat keadaan ibumu yang sampai sekarang terbaring bagaikan mayat! Kau mau Lara juga bernasib sama seperti ibumu?" Ketus Bi Leha.


"Bi, Lara dalam masa genting, Pak Mantir bilang ini adalah puncak dimana dukun itu akan membinasakan Lara!" Ucap Fadli sambil tersedu.


"Coba kau bicarakan dengan Hanum dan Ratih, suruh mereka menarik kembali teluh yang mereka kirim!" Saran Bi Leha.


"Tidak bisa, Bi! Teluh itu sudah mengakar sampai ke tulang-tulang Lara, usianya sudah diambang pintu!" Bibir Fadli bergetar.


Bi Leha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sangat kasar.


"Kau tidak meminta pendapat Pak Sholeh?" Tanya Bi Leha.


"Sudah berkali-kali kami datang kerumah beliau, dan Lara sudah diobati, di ruqiyah dan sebagainya, tapi waktu itu beliau tidak mau memberitahu kami siapa pengirim teluh tersebut! Beliau pernah berkata, nanti kau tak akan bisa menahan amarahmu jika tahu siapa pengirim teluh itu!" Jawab Fadli.


"Pantas saja Pak Sholeh tidak memberitahumu, ternyata pengirimnya adalah orang satu atap!" Celetuk Bi Leha penuh emosi.


"Dan Pak Sholeh pernah berpesan agar kami tidak menceritakan pada keluarga dekat manapun bahwa kami sedang berobat untuk melepaskan teluh!" Ujar Fadli.


"Iya, karena kalau mereka mengetahui kalian sedang berobat, mereka akan menyiksa Lara terus menerus!" Balas Bi Leha.


"Itupun Lara disiksa setiap waktu!" Ucap Fadli kemudian menceritakan seperti apa keseharian Lara dalam menjalani siksaan santet yang membuatnya menderita.


"Kirim balik saja teluh itu, biar puas!" Ketus Bi Leha.


"Tidak Bi, lebih baik kita serahkan pada yang berwajib!" Tolak Fadli.


"Tapi kau tidak punya bukti, sangat mustahil masalah santet dan mistis bisa diperkarakan pada yang berwajib!" Sanggah Bi Leha.


"Bukan masalah santet, tapi kasus pembataian keluarga kandung Lara!" Ucap Fadli.


"Aaah, itu perkara yang rumit, apalagi kejadiannya sudah puluhan tahun, hampir tiga dekade! Bagaimana kau akan membawa kasus itu kemeja hijau?!" Tanya Bi Leha.


"Jika ada bukti kuat!" Jawab Fadli berapi-api.


"Pulanglah sekarang, nanti kau terlambat bertugas! Aku akan bicarakan masalah minyak kuyang pada Pak Sepuh terlebih dahulu, aku ingin meminta solusi pada beliau! Oh iya, beberapa malam yang lalu ada kejadian yang menyeramkan di depan rumahmu!" Bi Leha mulai menceritakan kejadian yang dialami pemuda yang berada di atas atap.

__ADS_1


Fadli geleng-geleng kepala menanggapi kejadian yang tak masuk akal tersebut, ia heran mengapa keluarganya selalu disangkut pautkan dengan makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut. Hari mulai pagi, Fadli pun pamit pulang, ia menghampiri Bunda Najah yang tak berdaya dipembaringannya, kemudian menciumnya dan pergi.


__ADS_2