
Malam yang gelap telah berganti dengan pagi yang diterangi cahaya sang surya dari ufuk Timur. Mama Hanum sudah sadarkan diri, ia segera mengitarkan pandangannya mencari-cari Bi Ratih, namun Bi Ratih tak ada disekitarnya.
Mama Hanum bangkit dan duduk sambil membenarkan rambutnya, orang yang tadi malam datang menghampirinya.
"Siapa yang meninggal?" Seketika Mama Hanum menghampiri orang itu dan mengguncang-guncang tubuhnya.
"Najah!" Jawab Bi Ratih yang baru datang dari dapur.
Mata Mama Hanum terbelalak, ia sangat terkejut mendengar berita yang tak diinginkannya itu, iapun menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah, bu! Itu semua kehendak Tuhan! Bunda Najah sudah tenang disisi-Nya!" Ucap wanita yang datang berkabar sejak tadi malam, ia sengaja tidak kembali karena ingin menunggu Mama Hanum siuman.
Mata Bi Ratih mendelik menatap wajah Mama Hanum, ia tahu tangisannya bukan karena kematian Bunda Najah, tapi ia bersedih karena bukan Lara yang meninggal.
Mama Hanum duduk bersandar di tembok, ia menjerit dalam hati.
"Kenapa Najah yang meninggal? Kenapa bukan Lara? Uuuuuh uh uh!" Gumam Mama Hanum dalam hati.
"Sudah kuduga, Pak Apong tidak berhasil!" Cetus Bi Ratih.
"Siapa Pak Apong?" Tanya warga yang ada disitu.
"Eh, itu! Orang pintar yang pandai meramu obat-obatan dari tumbuhan!" Jawab Bi Ratih sekenanya.
"Oh, tapi sudah kehendak Tuhan, meski berobat kemanapun tak akan sembuh kalau Tuhan tak menginginkannya!" Ucap warga begitu polos yang tak tahu maksud sebenarnya ucapan Bi Ratih.
"Aku harus kembali sekarang! Mereka pasti sibuk mempersiapkan pemakaman." Ucap wanita yang diutus memberi kabar duka tersebut.
Mama Hanum dan Bi Ratih mengangguk, wanita itu pamit, kemudian wargapun berpamitan satu persatu yang dari subuh mampir sekedar menjenguk kondisi Mama Hanum.
"Terima kasih!" Ucap Mama Hanum pada warga yang memberikan perhatian padanya.
"Kita harus melayat!" Ucap Bi Ratih.
"Aku tak bersemangat!" Jawab Mama Hanum.
"Tidak boleh begitu, mungkin saja giliran Lara hari ini atau besok!" Ucap Bi Ratih membujuk Mama Hanum.
"Dukun santet tak berguna! Menyesal aku memerintahnya mengerjakan Parang Maya! Seharusnya kita mencari dukun yang benar-benar sakti!" Sesal Mama Hanum penuh amarah.
"Sudahlah, percuma kau marah-marah, nanti malah dicurigai warga! Ayo siap-siap untuk melayat, Ivan sudah datang tadi malam, biar dia yang mengantar kita melayat!" Ucap Bi Ratih bangkit dan pulang kerumahnya untuk bersiap melayat.
"Tunggu!" Mama Hanum menghentikan langkah Bi Ratih.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" Tanya Bi Ratih berbalik.
"Kau sadar bagaimana Najah bisa meninggal?" Tanya Mama Hanum.
Mulut Bi Ratih ternganga, ia baru sadar bahwa Bunda Najah tak akan mati kecuali ilmu Kuyang miliknya diwaris oleh seseorang.
"Kira-kira siapa pewaris ilmu Kuyang milik Najah?" Bi Ratih bertanya-tanya.
"Aku tak bisa menebaknya!" Jawab Mama Hanum.
"Jangan-jangan Leha yang mewarisnya?" Bi Ratih menduga-duga.
Mama Hanum menggerakkan tangannya dengan isyarat tidak tahu.
"Kita harus tahu siapa yang mewarisi ilmu keabadiannya itu!" Kilah Bi Ratih penasaran.
"Kita pasti mengetahui siapa pewarisnya!" Ucap Mama Hanum yakin dan optimis.
"Apakah Lara?" Tanya Bi Ratih.
Mama Hanum terperanjat, ia seolah membenarkan ucapan Bi Ratih.
"Jangan-jangan ucapanmu benar!" Seru Mama Hanum dengan kedua bola matanya membelalak besar hampir copot dari kelopaknya.
"Aku curiga, bisa saja ia melakukannya demi kelangsungan hidupnya, karena ilmu Kuyang membuat pemiliknya tak bisa mati sampai kapanpun kecuari diwariskan pada orang lain!" Bi Ratih menduga semakin jauh.
Berita kematian Bunda Najah membuat warga desa tetangga heboh, soalnya sebagian dari mereka mengetahui bahwa Bunda Najah adalah Kuyang senior yang sangat hebat dan tidak bisa mati bahkan sampai kurus kering dan hanya kepalanya saja yang bisa menggeleng.
"Kuyang senior itu akhirnya meninggal!" Ucap seorang warga disebuah warung teh.
"Lumayan desa kita aman, biasanya Kuyang desa tetangga suka berburu kesini, termasuk beliau! Akhirnya berkurang satu makhluk jadi-jadian yang meresahkan!" Sahut warga yang lain menimpali dengan perasaan lega.
"Ngomong-ngomong, kira-kira siapa yang mewaris ilmu Kuyang milik almarhumah?" Tanya seorang warga penasaran.
"Pasti orang terdekat almarhumah, eh tuh menantu almarhumah anaknya Mama Hanum!" Ucap warga yang lain berbisik.
"Waduh, jangan-jangan Lara yang mewarisinya!" Sahut warga bergidik ngeri.
"Benar juga, akhir-akhir ini Lara sakit-sakitan, ada kemungkinan dia yang mewarisi ilmu Kuyang tersebut jika dia sehat seperti sedia kala!" Warga lain menambahkan.
"Makanya cari mertua itu pilih-pilih, susah jadinya kalau begini!" Timpal warga.
"Bukan salah Lara juga, malah dia jadi korban jika benar-benar dia mewarisi ilmu keabadian tersebut! Kasihan.. ." Ucap warga.
__ADS_1
...****************...
Fadli bergegas pulang kerumah dari tugasnya, padahal ia baru saja berangkat kerja.
"Lara, kau sehat-sehat saja kan?" Tanya Fadli nampak buru-buru.
"Ada apa, bang? Aku lumayan baikan." Jawab Lara terheran-heran.
"Mari kita ke desa! Bunda meninggal!" Ucap Fadli singkat.
Bagaikan petir disiang hari ketika Lara mendengar ucapan Fadli.
"Kau bilang apa, bang? Kau tidak bercanda kan?" Tanya Lara bertubi-tubi.
"Sekarang tidak ada waktunya untuk menjelaskan semuanya, mari beres-beres keperluan kita untuk beberapa hari disana!" Seru Fadli sambil memasukkan pakaian-pakaiannya kedalam tas.
Lara tak bertanya lagi, ia menurut apa yanh diperintahkan Fadli. Lara berkemas memasukkan pakaian miliknya dan pakaian Nada.
Tak lama setelah itu, mereka bertiga sudah masuk kemobil, Fadli buru-buru menjalankan mobilnya.
"Pelan-pelan, bang!" Lara menasihati.
Setelah keluar komplek, tiba-tiba mobil sedan hitam menyalip mereka.
"Kak, kami duluan!" Seru Fadila sambil melambaikan tangannya.
Fadli membalas lambaian tangan adiknya, nampak didalam mobil itu ada Pak Hamdan dan Bu Intan.
"Kau yang memberitahu mereka?" Tanya Lara.
"Iya, pulang dari tugas tadi!" Jawab Fadli tak karuan.
"Yang sabar, bang! Aku tahu bagaimana perasaan abang saat ini!" Ucap Lara bersedih.
"Aku ikhlas, Lara! Tapi Fadil tidak ada dikampung, dan tak mungkin untuknya minta izin mendadak seperti ini. Tapi aku sudah menghubunginya lewat telpon kosnya." Ucap Fadli sedih.
"Fadil pasti kuat, dia pemuda yang tangguh!" Sahut Lara mencoba menenangkan Fadli.
"Aku berharap kejadian ini tidak mengganggu psikis Fadil, karena dia menyayangi Bunda! Dia pasti sangat kehilangan!" Fadli tertunduk sendu.
"Tapi kurasa ini yang terbaik untuk Bunda, daripada beliau hidup namun seolah jasad tak bernyawa!" Ucap Lara pelan.
"Dan yang membuatku penasaran siapa yang mewarisi ilmu Kuyang milik Bunda?!" Fadli bertanya-tanya.
__ADS_1
"Tak ada orang dekat selain Bi Leha, dia sahabatnya paling setia! Kurasa beliau yang mewarisnya!" Ujar Lara mencoba menduga-duga.
"Bisa jadi, aku harap semuanya baik-baik saja disana!" Gumam Fadli.