MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 24. Tumbal Kedua


__ADS_3

"Aku akan menemui Lara dan keluarganya sekarang juga!" Gumam Bi Leha sambil berjalan menuju pekarangan.


"Bi, mau aku antar?" Tawar Yusuf yang sedang minum teh dikedai warga didekat rumah Bunda Najah.


"Antar aku sekarang bisa?" Tanya Bi Leha.


"Iya Bi, ayo?!" Ajak Yusuf beranjak dari duduknya.


"Sebentar, aku kunci pintu rumah dulu!" Jawab Bi Leha sembari mengunci pintu rumah Bunda Najah.


"Bunda Najah sendiri didalam rumah?" Tanya Yusuf.


"Iya, aku tinggal sebentar kerumah Lara, ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya!" Jelas Bi Leha bergegas masuk kedalam Mobil pick up milik Yusuf.


"Baiklah, mari segera kita berangkat!" Ucap Yusuf menyetir mobilnya menuju rumah Lara didesa tetangga.


Mobil melaju menelusuri jalan raya, suasana hening, Bi Leha malas bicara, ia memilih diam sambil memikirkan bagaimana cara mengatasi permasalahan keluarga Najah.


Tak terasa Mobil Yusuf sudah tiba dipekarangan rumah Lara. Mama Hanum menyambut kedatangan Bi Leha dengan senang hati, ia mempersilakan Bi Leha masuk kedalam rumah.


"Apa kabar kalian semua? Baik-baik saja, kan?! Semoga Nada tidak diganggu siapapun!" Ucap Bi Leha seraya menggendong Nada.


"Bi, makhluk hitam besar itu datang mengganggu Nada malam setelah aku kembali dari rumah Bunda Najah! Mengapa bisa begitu, Bi?" Lara memberitahu sekaligus bertanya pada Bi Leha.


"Aku akan menceritakan semuanya sekarang, jangan panik dan takut jika ini menyangkut keselamatan kalian!" Pinta Bi Leha.


Bi Leha mulai bercerita panjang lebar tentang asal usul makhluk hitam besar dan mengerikan itu (bisa dibaca di bab 22), Lara dan keluarganya terkejut mendengar penjelasan dari Bi Leha. Awalnya mereka tak mengira rumah tangga Lara akan serumit dan semenakutkan seperti ini, akhirnya Lara dan keluarga harus menerima kenyataan pahit, keselamatan Nada sedang terancam.


"Sekarang Nada adalah target yang sedang diincar oleh jin pesugihan itu, Nada adalah tumbal kedua oleh kakeknya sendiri!


"Keterlaluan! Jadi bagaimana menyingkirkan jin pesugihan itu, Bi?" Tanya Lara marah bercampur kebingungan


"Kita coba tanyakan pada pawang Kuyang, Pak Ahmad. Semoga dia punya solusi untuk menyingkirkan makhluk hitam yang mengincar tumbal itu!" Saran Bi Leha.

__ADS_1


"Pak Ahmad itu pawang kuyang, apa hubungannya dengan jin pesugihan?" Tanya Bi Ratih.


"Jin pesugihan keluarga Hamdan dan Najah masih sejenis kuyang, tapi untuk pesugihan bukan pengasih seperti yang dimiliki Najah. Untuk pesugihan, mereka menggunakan minyak kuyang putih, jin minyak kuyang putih ini bisa berubah wujud menjadi wanita tua, atau sosok hitam besar dan tinggi yang mencekik almarhumah Faiza, dan yang sedang mengincar Nada!" Bi Leha menjelaskan panjang lebar.


"Sangat menyeramkan, Saleha!" Seru Bi Ratih terbelalak.


"Aku juga tak menyangka sebelumnya, Najah yang kukenal sangat religius ternyata semudah itu bersekutu dengan iblis, dan itu dilakukannya jauh sebelum dia memiliki ilmu hitam kuyang!" Sesal Bi Leha sambil geleng-geleng kepala.


"Aku sangat menyesal membiarkan Lara menikah dengan Fadli." Ucap Mama Hanum menunduk.


"Ma, ini murni kesalahanku, bukan kesalahan Mama. Akulah yang patut disalahkan, karena waktu itu aku bersedia menikah dengan Fadli!" Lara berucap dengan tatapan hampa, selain suaminya selingkuh, keluarganya memiliki permasalahan yang diluar nalar.


"Seandainya aku tahu Najah datang kemari melamarmu, akan kugagalkan pernikahan itu, karena didesa kami sudah tak ada orang tua yang mengizinkan putri mereka menikah dengan keluarga Hamdan dan Najah!" Bi Leha menepuk jidatnya.


"Sudahlah, apa yang terjadi biarlah terjadi, ini sudah suratan takdir Lara! Sekarang, lebih baik kita memikirkan bagaimana cara mengatasi jin pesugihan laknat itu, karena ini menyangkut nyawa bayi yang tak bersalah ini." Ucap Bi Ratih mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, aku akan pergi kedesa sebelah untuk menemui Pak Ahmad si pawang kuyang itu, siapa yang bisa mengantarku menemuinya? Karena sekembalinya dari situ aku akan kembali kesini untuk memberitahu solusi dari Pak Ahmad!" Bi Leha meminta diantar bertemu Pak Ahmad.


"Biar Ivan mengantarmu, aku akan ikut bersamamu, Saleha!" Jawab Bi Ratih.


"Baik, Bi! Hati-hati ya, terima kasih banyak! Aku selalu merepotkan Bibi!" Ucap Lara berkaca-kaca.


"Sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk bersedih. Ayo, kau harus kuat menghadapi masalah ini! Jaga Lara dan bayinya, Hanum!" Sekali lagi Bi Leha berpesan pada Mama Hanum.


Bi Leha berjalan keluar kamar, Mama Hanum mengantarnya sampai kepintu depan.


"Saleha, ayo kita berangkat!" Panggil Bi Ratih melihat Bi Leha sudah berada diteras rumah.


"Ayo, lebih cepat lebih baik!" Gumam Bi Leha, "Hanum, kami pergi dulu!"


Mama Hanum mengangguk seraya menutup pintu Mobil setelah Bi Leha masuk. Mobil meluncur lenyap ditikungan, tak berapa lama Mobil tersebut sudah tiba dirumah Pak Ahmad sang Pawang Kuyang.


"Bi Leha?! Tumben kemari siang-siang begini?" Sapa Pak Ahmad seraya menyambut kedatagan Bi Leha dan keluarga Lara.

__ADS_1


"Ada urusan penting yang harus kubicarakan!" Jelas Bi Leha.


"Mari kita bicarakan didalam. Silakan masuk!" Ucap Pak Ahmad mempersilakan tamunya masuk kedalam gubuk kecil miliknya.


Mereka masuk beriringan dan menjelaskan tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka menemuinya. Pak Ahmad berpikir sejenak, ia mencerna baik-baik penjelasan dari Bi Leha.


"Sepertinya aku tak sanggup mengatasi masalah ini!?" Pak Ahmad kurang yakin dirinya bisa menyelesaikan permasalahan Lara dan keluarga suaminya.


"Aku mengira kau punya solusi untuk memecahkan teka-teki yang sangat rumit ini!" Bi Leha nampak kecewa.


"Aku menguasai sekitar dunia kuyang dan palasit, bukan kuyang pesugihan dan tumbal. Tapi jangan cemas, aku punya sahabat yang mahir berurusan dengan makhluk-makhluk astral, jin pesugihan maupun ilmu teluh!" Ucap Pak Ahmad memberi harapan.


"Syukurlah kalau begitu!!!" Timpal Bi Ratih menghembuskan napas lega.


"Kapan kita bisa menemuinya?" Tanya Bi Leha tak sabar.


"Nanti, aku harus mengabarinya terlebih dulu. Aku akan mengajak kalian menemuinya disaat dia tidak ada kesibukan melayani pasien-pasiennya yang lumayan banyak, bahkan pasiennya datang dari provinsi lain!" Jawab Pak Ahmad.


"Baiklah, usahakan secepatnya, ya!" Pinta Bi Leha mendesak.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk kalian!" Pak Ahmae berjanji.


"Kalau begitu, kami pulang dulu!" Bi Leha berpamitan.


Ivan menunggu mereka diluar, ia segera menghidupkan kembali mesin mobilnya saat melihat orang tuanya dan Bi Leha keluar dari gubuk Pak Ahmad.


"Aku akan datang langsung menemui Sholeh dan menjelaskan permasalahan kalian, setelahnya aku akan menemui kalian!" Jelas Pak Ahmad.


"Kau bisa langsung kerumah Lara, atau menemui keluarganya!" Timpal Bi Leha.


"Iya!" Jawab Pak Ahmad singkat.


"Permisi!" Ucap Bi Leha dan Bi Ratih secara bersamaan.

__ADS_1


Kedua wanita setengah baya itu masuk kedalam mobil milik Ivan. Bi Leha minta diantar langsung kerumah Bunda Najah, kebetulan jalan dari rumah Pak Ahmad melewati desa Bi Leha.


__ADS_2