MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 89. Meminta Maaf


__ADS_3

Shinta penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Lara padanya, "Apakah dia akan memaki-makiku? Atau memintaku bercerai dengan Fadli?" Bisik Shinta dalam hati sambil keluar dari kamar kecil.


"Shinta, selama ini aku telah berburuk sangka terhadapmu, aku sudah menuduhmu sebagai pengirim santet dan guna-guna padaku! Tapi kau bukan pelakunya, maafkan aku!" Ucap Lara sambil meraih tangan Shinta.


Hal itu tidak pernah di duga sama sekali oleh Shinta, tapi ia lega karena dugaannya tentang Lara akan memakinya ternyata salah.


"Aku bisa mengerti, kakak tidak perlu minta maaf!" Shinta memegang tangan Lara. "Aku yang seharusnya minta maaf padamu, karena telah merebut suamimu!" Ucap Shinta tertunduk.


Lara melepas tangannya dari tangan Shinta, jiwanya bergetar teringat Fadli dan Shinta telah melukai hatinya di saat ia mengandung Nada. Lara menyeka air mata yang tak terasa meleleh di pipinya, ia bergegas pergi meninggalkan Shinta.


"Hmmm sudah kuduga, ujung-ujungnya pasti tentang masalah hati!" Gumam Bi Leha yang menguping pembicaraan mereka dari tadi.


Shinta merasa bersalah telah membangkitkan luka lama Lara, ia tak seharusnya mengungkit hal tersebut, tapi semuanya sudah terlanjur, ia masuk kedalam rumah dengan langkah gontai dan tak bergairah.


Dikejauhan Mama Hanum memperhatikan gerak-gerik mereka semua, mulai dari Lara yang menunggu Shinta di kamar kecil sampai Bi Leha yang sembunyi-sembunyi mengintip mereka.


"Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan, aku harus mengetahui apa saja yang terjadi di antara mereka! Tapi aku heran kenapa Lara tidak menunjukkan rasa marah dan kebenciannya pada Shinta yang telah merebut Fadli darinya?!" Mama Hanum bertanya-tanya mengapa Lara tidak membenci Shinta yang jelas-jelas adalah seorang madu olehnya.


"Hanum?! Kau sedang apa?" Bi Ratih mengejutkan Mama Hanum yang dari tadi memperhatikan Lara, Shinta dan Bi Leha.


"Iseng-iseng melihat Lara dan Shinta yang berpapasan di kamar kecil!" Ucap Mama Hanum dengan nada mencibir.


"Mereka akur? Ilmu sihir apa yang diberikan Fadli pada mereka sehingga mereka bisa akur seperti itu?!" Bi Ratih terheran-heran dengan sikap Lara yang tak pernah menampakkan kebencian pada Shinta.


Tok tok tok.... tiba-tiba terdengar pintu di luar digedor-gedor dengan kuat.


"Siapa diluar?" Tanya Bi Leha sambil berjalan kedepan ingin mengetahui siapa yang menggedor-gedor pintu.


"Ini aku Fadli!" Seru Fadli dari luar.


"Oalah, kukira siapa! Kenapa harus gedor-gedor pintu?" Tanya Bi Leha sambil membuka pintu.


"Kukira kalian sudah tidur!" Gumam Fadli bergegas masuk ke dalam rumah.


"Baru saja mereka mau beristirahat setelah berhari-hari kelelahan dan kurang tidur!" Ucap Bi Leha.


Fadli berjalan menuju ruang tengah dimana istri-istrinya sedang beristirahat, ia melemparkan pandangannya pada kedua anak-anaknya, Nada dan bayi laki-laki yang belum sempat di berinya nama, ia duduk didekat mereka dan menciumi keduanya secara bergantian.

__ADS_1


Lara dan Shinta memperhatikan Fadli sambil berkaca-kaca, entah apa yang ada dalam pikiran mereka masing-masing. Fadli menoleh ke arah mereka satu persatu, ada Mama Hanum dan Bi Ratih juga, ia tak bisa banyak bicara, karena masih terpukul atas kepergian Bunda Najah.


"Fadli, kau sudah makan malam?" Tanya Bi Leha.


Fadli menggeleng.


"Lara, ayo siapkan makan untuk suamimu! Shinta, bantu Lara!" Perintah Bi Leha.


Tanpa disuruh dua kali, keduanya beranjak kedapur untuk menyiapkan makan malam untuk Fadli yang nampak kelelahan sehabis tugas langsung pulang ke kampung.


"Bi, mereka akur?" Tanya Fadli heran pada Bi Ratih.


Bi Leha mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Ajian apa yang kau berikan pada istri-istrimu, Fadli?" Tanya Mama Hanum meledek.


Fadli menarik nafasnya sangat panjang kemudian melepaskannya dengan kasar.


"Ma, aku ingin membuang jauh-jauh hal klenik yang selama ini mengekang keluargaku! Aku tak mau anak istriku terperangkap dalam lingkaran ilmu hitam!" Sahut Fadli penuh ambisi.


Raut wajah Bi Leha berubah sendu seolah menyimpan sesuatu yang di sembunyikannya dari Fadli.


"Tak ada, aku hanya teringat Najah! Seandainya waktu bisa di putar kebelakang, nasib Najah tak akan setragis ini." Sesal Bi Leha.


"Sepertinya Bi Leha menyembunyikan sesuatu dariku?!" Fadli penasaran, firasatnya berkaya bahwa Bi Leha merahasiakan sesuatu.


"Aku terpukul, nak!" Jawab Bi Leha singkat tak mau banyak bicara.


Lara dan Shinta kembali dari dapur membawa nampan berisi makan malam untuk Fadli, Lara menyerahkan nampan tersebut padanya.


"Aku makan sendirian saja?" Tanya Fadli.


"Kami semua sudah makan malam setelah tamu-tamu pengajian pulang!" Jawab Bi Leha mewakili yang lain.


Fadli pun menikmati makan malamnya ditemani Bi Leha, sementara Lara dan Shinta memilih beristirahat disamping anak-anak mereka.


Fadila muncul dari dalam kamar, ia meraih Nada dan membawanya kembali ke kamar setelah beberapa saat bersama Lara.

__ADS_1


"Ayah mana, Dila?" Sapa Fadli.


"Tidur!" Jawab Fadila singkat karena mengantuk.


Fadila kembali kekamar, Fadli melanjutkan makan malamnya sendirian.


"Bi, ada yang ingin kutanyakan nanti!" Ucap Fadli.


"Aku sudah tahu pasti kau ingin bertanya padaku!" Sahut Bi Leha.


Tok tok tok, ada suara orang mengetuk pintu lagi, Bi Leha beranjak dari duduknya, gerakannya tidak leluasa lagi karena faktor usia, tapi ia tak suka berdiam diri.


"Siapa diluar malam-malam seperti ini?" Tanya Bi Leha sambil membuka pintu.


"Bi, Bi, Bi... ada orang menangis tersedu-sedu di pemakaman!" Seru seorang warga yang membawa sayur mayur untuk di jual ke pasar pagi.


"Kau melihat siapa orangnya?" Tanya Bi Leha.


"Tidak nampak, tapi orang itu berjalan menuju rumah ini!" Jawab warga. "Aku hanya memperingatkan untuk waspada, bisa saja pencuri atau orang berniat tidak baik!" Ucapnya.


"Terima kasih atas perhatiannya, kau dengar suara tangisan perempuan atau laki-laki?" Tanya Bi Leha penasaran.


"Sepertinya perempuan, tapi suaranya sangat berat. Hati-hati ya, aku pamit dulu". Ucap warga tersebut.


Bi Leha menutup pintu sambil mencerna kata-kata warga tadi.


"Apakah tangisan Najah? Apakah jin Qarin Najah? Kalau iya, aku khawatir akan mengganggu warga, dan warga pasti berasumsi itu adalah almarhumah Najah yang bergentayangan!" Bi Leha mulai cemas.


Bi Leha bergegas menemui Fadli dan menceritakan apa saja yang dia dengar dari warga di luar tadi, Fadli termenung mendengar penuturan Bi Leha, keduanya berasumsi hal yang sama, mereka menduga tangisan tersebut memang dari jin Qarin Bunda Najah.


Fadli nampak kusut, ia sangat risau dengan apa yang diucapkan warga.


"Masalah yang satu belum selesai datang masalah baru, kenapa ini harus terjadi?" Ucap Fadli sambil memijit-mijit kepalanya.


"Hanya ada satu solusi, panggil Pak Sholeh dan minta pada beliau untuk menundung (mengusir arwah) jin Qarin Najah!"


Fadli setuju dengaj saran Bi Leha.

__ADS_1


"Fadli, sebaiknya kau tidur, kau pasti kelelahan setelah tugas. Lain kali saja aku akan menceritakan hal-hal yang ingin kusampaikan padamu!" Ucap Bi Leha sembari berbaring ingin tidur.


Fadli mengangguk, iapun ingin beristirahat.


__ADS_2