MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 88. Bertemu Setan Dan Jin


__ADS_3

Shinta menengok ke bak mandi berbentuk persegi empat berisi air penuh, di dalam bak mandi itu hitam pekat, padahal biasanya terlihat garis-garis lantai bak mandi dibawah sana, entah kenapa tiba-tiba berubah hitam seperti langit yang gelap.


Shinta mengedipkan matanya, setelah ia membuka matanya kembali ia melihat berbagai macam makhluk aneh dan menyeramkan sedang berlalu lalang di depannya, ada yang berjalan kayang dengan kepala mendongak, ada tubuh tanpa kepala berjalan menenteng kepalanya sendiri, dan di tangan kirinya nampak kapak berlumuran darah, ada pula sosok berjalan salto dengan kepala berputar kemuka dan kedepan, namun anehnya makhluk-makhluk itu tidak mempedulikan Shinta sama sekali. Makhluk-makhluk tersebut berjalan searah satu jurusan entah ingin kemana, Shinta seolah tak ada di antara mereka.


Shinta bersyukur dirinya tidak dapat dilihat oleh makhluk-makhluk tersebut, tapi ia bingung bagaimana mencari jalan untuk pulang kerumah ibu mertuanya, ia mengira sedang tersesat di belakang rumah, di jalan menuju sawah dan hutan.


"Kearah mana aku harus melangkah?" Bisik Shinta dalam hati dengan rasa cemas.


Plok plok plok.. seseorang menepuk-nepuk bahu Shinta dari belakang, Shinta menoleh kearahnya.


"Aaaaaaaaaa!" Shinta terperanjat karena sosok yang menepuk-nepuk bahunya berwajah menyeramkan penuh dar*h bercucuran, pipinya berlobang-lobang, kepalanya mengeluarkan nan*h dengan belatung, mulutnya penuh dengan kalajengking, sementara matanya nampak keluar dari tengkoraknya. Shinta menutup matanya dengan kedua belah tangannya, dugaannya salah, ternyata makhluk-makhluk itu melihatnya, hanya saja mereka terkesan cuek, tapi makhluk yang ada didepannya entah kenapa berani menyapanya.


"Selamat datang!" Seru makhluk tadi dengan suara berat dan menakutkan.


Perlahan Shinta memberanikan diri membuka matanya, ia berusaha mengontrol rasa takutnya, setelah matanya terbuka, seketika ia terbelalak, karena makhluk-makhluk berbagai macam jenis dan wujud makin banyak di sekelilingnya, tapi untungnya mereka berjalan tak peduli dengan keberadaannya.


"Aku dimana?" Ucap Shinta memberanikan diri bertanya pada makhluk yang menepuk bahunya tadi.


"Kau akan terbiasa dengan hal ini!" Jawab makhluk tersebut sambil menunjuk lurus ke depan.


"Apa maksudmu?" Tanya Shinta sembari mengarahkan pandangannya kearah yanh di tunjuk oleh makhluk didepannya tadi.


Shinta melihat pintu kamar kecil mulai terbuka renggang, ia gembira tak terkira telah menemukan jalan pulang.


"Shinta? Shinta?" Dari tadi Lara memanggil Shinta namun tak kunjung keluar dari kamar kecil, bahkan Lara terpaksa mengintipnya namun ia tak melihat ada Shinta di dalam.


Bi Leha masih memantau mereka berdua di balik gorden dari kejauhan.


"Shin..!" Belum selesai Lara memanggil Shinta, ia sudah keluar dari kamar kecil.


"Kak Lara?! Maaf terlalu lama menungguku!" Ucap Shinta terbata-bata.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Lara menatap Shinta dari ujung rambut sampai keujung kaki.


"A..aku? Iya aku aku baik-baik saja, kak!" Shinta masih gugup berhadapan dengan Lara.


"Apakah orang yang ada di depanku ini Shinta atau jin kiriman Mama Hanum dan Bi Ratih?" Gumam Lara dalam hati masih menatap Shinta tak berkedip.


"Kak Lara ada perlu apa denganku?" Tanya Shinta membuyarkan lamunan Lara.


"Eh itu.. aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" Ucap Lara seraya mengajaknya duduk di kursi yang ada di depan kamar kecil.


Lara tak mengajak Shinta masuk kedalam rumah, ia sengaja di depan kamar kecil agar tak ada keluarganya yang memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Ada apa ya?! Tanya Shinta cemas.


Bi Leha penasaran apa yang mereka bicarakan, karena percakapan mereka sangat pelan sehingga ia tidak mendengar dengan jelas.


"Duh, anak-anak meresahkan kalau sudah rebutan lelaki!" Ucap Bi Leha sambil menepuk jidatnya, beliau berjalan menuju kamar kecil ingin menguping pembicaraan Lara dan Shinta. "Aku berdiri disini saja, agar mereka tidak melihatku!" Gumam Bi Leha dalam hati duduk di belakang pintu masuk ke dapur, pintu yang menghubungkan ke kamar kecil.


...****************...


"Zul, mana senter milikmu?" Tanya Iful pada Izul.


"Ini Ful!" Seru Izul menyerahkan senter pada Iful.


"Jalanan gelap sekali! Mana cuaca sangat dingin begini, kalau tahu lebih baik tidur saja di kamar dari pada memancing di tengah malam gelap gulita ini!" Sesal Iful.


"Tapi memancing malam-malam begini sangat seru, dan ikannya besar-besar!" Sela Izul agar Iful tidak membatalkan niatnya pergi memancing ke sawah.


"Tapi cuaca malam ini tidak bersahabat! Dingin dan menyeramkan!" Sanggah Iful.


"Hush, tidak boleh begitu, lelaki tidak boleh lemah, harus jadi pemberani!" Kata Izul pongah.


"Lihat-lihat situasinya juga!" Bantah Iful tak mau kalah.


"Setan mana yang berani dengan Izul?!" Izul mulai sombong.


"Jangankan mbak Kukun, setan sejagad rayapun tak berani denganku!" Tantang Izul makin sombong.


"Alah nanti juga keciprit kalau melihat salah satu di antara mereka menampakkan diri!" Iful tak yakin dengan keberanian Izul.


"Nanti kau lihat sendiri, siapapun yang muncul malam ini, akan ku hadapi sendiri, Izul si penakluk setan-setan kampang, huahahaha!" Izul membentangkan kedua belah tangannya tetap dengan kesombongannya.


"Pasti setan-setan itu sedang menertawakanmu sekarang!" Ucap Iful terbahak-bahak melihat kesombongan Izul yang bikin geli.


Izul berjalan dengan pongahnya menuju kearah persawahan.


"Kita lewat mana, Ful!" Tanya Izul.


"Lewat samping rumah Abang Fadli!" Jawab Iful.


"Hah, apa tidak ada jalan lain?" Tanya Izul terbelalak.


"Kenapa? Apakah kau takut?" Tanya Iful.


"Ah tidak, masa takut! Itu hal kecil!" Ucap Izul mulai gugup.

__ADS_1


Izul sebenarnya takut lewat samping rumah Fadli, karena baru saja Bunda Najah meninggal, dan orang sekampung tahu siapa sosok Bunda Najah tersebut, Kuyang senior yang paling terhebat diantara kuyang-kuyang yang ada di kampung, seumur-umur beliau tak pernah terkalahkan oleh kuyang manapun.


"Ayo Zul, kau jalan lebih dulu di depan!" Pinta Iful.


"Ke..kenapa aku Ful?!" Izul tergagap.


"Ayo jalan! Kau bawa bekal?" Tanya Iful tiba-tiba.


"Iya! Kau juga bawa?" Jawab Izul sambil bertanya.


"Iya, aku bawa! Kau bawa bekal apa?" Tanya Iful lagi.


"Aku bawa lemang, apem, dan pais (kue basah khas Kalimantan terbuat dari tepung beras, santan, dan pisang yang dibungkus dengan daun pisang kemudian di kukus). Kau bawa apa?" Izul ingin tahu bekal Iful.


"Ehm ehm ehm.. . minta!" Terdengar suara berat seperti menggigil entah dari mana.


"Suara siapa?" Tanya Izul terkesiap.


"Aku tidak mendengarnya?!" Sahut Iful.


"Kau jangan bercanda, Ful!" Ucap Izul gugup.


"Aku berani bersumpah, aku tidak mendengar apapun!" Jawab Iful entah dia bercanda untuk menakut-nakuti Izul atau memang benar-benar tidak mendengar.


"Ehm ehm ehm!" Suara berat itu terdengar lagi.


"Tuh, coba dengarkan, suara itu berdehem tiga kali!" Ucap Izul melebarkan kupingnya kearah suara tersebut. "Suara itu terdengar dari area pemakaman.. ." Seketika Izul terhenti bicara karena ia baru sadar bahwa ia berada di samping pemakaman umum yang ada di pinggir jalan menuju ke sawah, disebelah jalan tepat rumah Bunda Najah.


"Zul, sudah kubilang jangan sombong, tapi kau tak mendengarku!" Sesal Iful mulai berjaga-jaga.


"Ful, aku cuma bercanda, aku tidak serius!" Ucap Izul meringis.


"Aku disiniii!" Seru suara berat tadi, suaranya tepat terdengar di pemakaman umum.


Izul dan Iful menoleh kearah dimana datangnya suara tersebut, tiba-tiba mereka melihat sosok ceking duduk diatas gundukan kuburan entah di kubur milik siapa, yang pasti Izul dan Iful berlari tunggang langgang tanpa menunggu di perintah. Bekal dan joran pancing mereka berhamburan di jalan, mereka tak mempedulikannya, masing-masing menyelamatkan diri mereka.


"Zul, setan atau hantu?" Tanya Iful di sela-sela larinya.


"Tidak tahu!" Jawab Izul berlari terbirit-birit sambil memejamkan matanya.


Keduanya tidak berani menoleh kebelakang, mereka mempercepat lari agar sesegera mungkin sampai dirumah masing-masing.


...************...

__ADS_1


__ADS_2