
Kegiatan pengajian dan tahlil di laksanakan tiga hari berturut-turut selepas Maghrib, keluarga dekat masih berada dirumah itu, hanya Fadli tidak bisa hadir karena masih bertugas.
Lara dan Shinta mulai bertegur sapa, tidak terlalu akrab tapi setidaknya mereka sudah mau saling memaafkan dan menerima kenyataan, Fadli pasti bangga melihat mereka bisa akur.
"Bi Leha tetap disini kan?" Tanya Lara.
"Untuk apa? Najah telah tidak ada, berarti tugasku sudah selesai. Aku akan kembali kerumahku!" Jawab Bi Leha.
"Maksudku, Bi Leha disini dulu sampai Fadli kembali!" Ucap Lara.
"Oh, iya aku akan disini, mungkin setelah selesai tahlil ke dua puluh lima hari!" Jelas Bi Leha.
"Baiklah, kenapa tidak menunggu sampai tahlil empat puluh hari? Itu kalau Bi Leha tidak keberatan!" Ucap Lara sambil tersenyum membujuk.
"Kita lihat nanti, aku berlama-lama disini setelah Najah tiada, rasanya tak sanggup. Aku selalu teringat padanya" Ucap Bi Leha menunduk sendu.
"Bi Leha tak usah khawatir, mungkin aku akan berada disini sampai tahli tujuh hari, bahkan sampai empat puluh hari nanti jika Fadli mengizinkan!" Lara berharap bisa menemani Bi Leha.
"Aku tak akan memaksa kalian jika tidak bisa datang setelah ini, nanti aku yang akan mengatur pengajian dan tahlil untuk seterusnya sampai stratus hari!" Ucap Bi Leha tulus.
"Kami juga ingin bersama Bi Leha disini!" Balas Lara.
"Malam sudah larut, sebaiknya kau tidur, beberapa hari ini pasti kau kurang tidur!" Bi Leha menyuruh Lara tidur.
"Baiklah! Bi, orang tua Shinta sudah pulang?" Tanya Lara tiba-tiba.
"Iya tadi sehabis makan malam, mereka pulang! Kau tidak ada disini, padahal mereka mencarimu dan ingin berpamitan!" Ucap Bi Leha.
"Oh, sepertinya tadi aku pergi bersama beberapa pelayat keliling rumah warga untuk membagikan berkah buat mereka yang ada dirumah!" Jawab Lara.
"Tak mengapa, ayo tidur!" Bi Leha mengambil selimut tebal lebar dan menghamparnya di ruangan untuk mereka tidur bersama-sama.
Lara menemui Mama Hanum dan Bi Ratih di dapur yang masih berberes-beres bekas piring cangkir orang-orang makan malam.
"Ma, Bi! Sebaiknya tinggalkan kerjaan sekarang, malam telah larut, tidur yuk!" Ajak Lara.
"Nada mana?" Tanya Mama Hanum sok perhatian pada cucu palsunya.
"Tidur bersama Fadila dan kakeknya di kamar Fadil!" Jawab Lara.
"Oh, sepertinya Nada dekat sekali dengan kakek dan tentenya!" Seru Mama Hanum.
__ADS_1
"Iya, Ma! Nada senang bersama Fadila!" Jawab Lara singkat.
"Mana istri muda Fadli?" Tanya Bi Ratih celingak celinguk mencari Shinta.
"Di ruang tengah bersama Bi Leha!" Jawab Lara datar.
"Kau tidak marah?" Tanya Mama Hanum.
"Kenapa harus marah?" Tanya Lara sambil tersenyum.
"Aah, kau sangat berhati besar, bisa-bisanya tidak marah pada istri muda suami! Jarang ada wanita seperti ini, beruntung sekali aku punya anak yang sangat baik!" Ucap Mama Hanum memeluk Lara penuh drama telenovela.
Lara sengaja bermanja-manja agar mereka tidak mencuriga dirinya yang telah mengetahui semua borok mereka. Bi Leha berdiri di ambang pintu dapur, ia menyaksikan keakraban anak dan ibu sambil tersenyum kecut.
"Drama!" Celetuk Bi Leha pelan.
Bi Ratih meninggalkan Mama Hanum dan Lara yang sedang bersayang-sayangan.
"Ayo tidur!" Ajak Bi Leha berbasa-basi.
"Iya, malam sudah larut!" Jawab Bi Ratih.
"Kita tidur di ruang tengah bersama-sama, tempat tidur sudah kusiapkan!" Bi Leha menunjuk kearah hambal lebar dan empuk yang terhampar di ruang tengah dengan beberapa biji bantal yang sudah tersusun siap untuk di tiduri.
"Mau kekamar kecil!" Ucap Bi Leha sembari pergi menuju kamar kecil di dekat dapur.
Bi Ratih berjalan menuju ruang tengah untuk beristirahat selama beberapa sibuk dan kurang tidur, ia berselonjor sambil memijat-mijat kakinya yang nyeri efek dari usianya yang sudah lanjut.
"Ayo tidur!" Sapa Bi Leha pada Mama Hanum dan Lara.
"Iya, ini mau keruang tengah untuk beristirahat!" Sahut Mama Hanum seraya bangkit dari duduknya. "Lara, ayo?!" Ia mengajak Lara pergi tidur bersamanya.
"Duluan saja, Ma! Lara mau kekamar kecil!" Lara menolak, ia menyusul Bi Leha ke kamar kecil dan menunggunya di luar.
"Baiklah!" Mama Hanum pergi ke ruang tengah.
Dijalan menuju ruang tengah Mama Hanum berpapasan dengan Shinta yang menuju kebelakang.
"Belum tidur?" Sapa Mama Hanum ramah.
"Belum, bu! Mau kebelakang!" Ucap Shinta berpamitan.
__ADS_1
Bi Leha muncul, ia bertemu dengan Shinta yang berjalan kebelakang.
"Shinta? Kau belum tidur?!" Tanya Bi Leha.
"Belum, Bi!" Sahut Shinta.
"Mau kemana?" Bi Leha bertanya.
"Kebelakang!" Ujar Shinta singkat.
"Oh, baiklah!" Bi Leha curiga, ia takut terjadi apa-apa pada Shinta dan Lara jika berduaan saja.
Shinta berdiri di depan kamar kecil yang di dalamnya masih ada Lara, kamar kecil tersebut terpisah dari ruang dapur, dan harus keluar dulu, tapi kamar kecil masih berada di dalam rumah, hanya saja tidak di dalam. Dan jika menunggu, mereka akan melihat langit yang membentang luas, serta suara berbagai macam binatang malam di belakang yang kebetulan jalan menuju sawah dan hutan.
"Hmmm, mencurigakan! Aku khawatir mereka bertengkar, sepertinya aku harus menunggu mereka disini!" Gumam Bi Leha dalam hati, ia mengurungkan niatnya untuk pergi tidur.
Bi Leha sengaja duduk di tempat yang tidak tampak oleh mereka agar mereka tidak tahu keberadaannya.
Suara air ditimba terdengar dari kamar kecil, Shinta berdiri dengan sabar di depan pintu kamar kecil tersebut.
"Duh, ini pasti Lara!" Gumam Shinta dalam hati.
Tiba-tiba ia ingin mengurungkan niatnya, Shinta berbalik, tapi tak mungkin karena ia harus kekamar mandi. Akhirnya ia terpaksa menunggu Lara keluar dari kamar kecil, tangan dan kaki Shinta mulai panas dingin karena harus berhadapan dengan Lara, istri pertama oleh suaminya. Decit pintu kamar kecil berbunyi, perlahan Lara keluar, ia tersentak sejenak melihat Shinta yang berdiri tak jauh darinya.
"Shinta?" Sapa Lara singkat.
"I..iya kak!" Shinta gugup.
"Silakan!" Lara memberi Shinta jalan untuk kekamar kecil.
Shinta bergegas masuk ke kamar kecil karena tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Lara. Tapi.. .
"Shinta!" Lara memanggil Shinta.
Shinta terhenti melangkah, ia berbalik kearah Lara.
"Setelah selesai dari kamar kecil, aku ingin bicara denganmu!" Ucap Lara membuat jantung Shinta berdegup kencang dan nafasnya tak beraturan karena gugup.
Shinta mengangguk, kemudian masuk kekamar kecil, Lara menunggunya di depan pintu.
"Heeeeh apa ku bilang! Pasti mereka ingin bertengkar!" Gumam Bi Leha dari kejauhan yang sedang memantau mereka. "Istri pertama dan istri kedua bertemu empat mata, aku harus bagaimana? Apakah aku pura-pura saja ke kamar kecil untuk menggagalkan pertengkaran mereka?" Bi Leha menduga-duga dalam hati.
__ADS_1
Sementara Shinta ingin sekali berlama-lama di dalam kamar kecil agar tidak bertemu dengan Lara, tapi itu mustahil.
"Aaah seandainya aku bisa menghilang!" Ucap Shinta dalam hati.