
Fadli masuk ke dalam rumah Pak RT, kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. Bu RT datang membawa nampan berisi teh panas dan gorengan kemudian menyuguhkannya pada Fadli, setelah itu berlalu ke dalam.
"Ayo diminum!" Ucap Pak RT membuka pembicaraan.
"Terima kasih, Pak!" Fadli menyeruput teh manis yang masih mengepul asapnya. "Begini Pak RT, aku kesini ingin bertanya apakah warga disekitar kita ada yang mahir mengatasi hal-hal ghaib?" Tanya Fadli.
Pak RT diam sesaat, kemudian menyeruput teh manis miliknya.
"Hal ghaib seperti apa? Boleh aku tahu permasalahannya?" Tanya Pak RT.
"Istriku terkena kiriman santet Parang Maya. Aku membawanya kemari karena aku tidak bisa merawatnya di kampung!" Fadli menjelaskan.
"Sudah pernah berobat ke orang pintar?" Tanya Pak RT.
"Sudah, di kampung! Dan aku tak mungkin bolak-balik kampung saat sudah dinas begini! Oleh karena itu aku ingin mencari informasi tentang orang pintar pada Pak RT!" Jawab Fadli.
"Aku punya kenalan yang sering menyembuhkan orang sakit seperti itu, dia keturunan dari suku Dayak, orangnya hebat. Kira-kira kau cocok untuk bertemu dengannya." Pak RT memberi saran.
Keduanya berbincang-bincang membahas kenalan Pak RT, tak ada yang tidak mengenal orang-orang dari suku Dayak di pulau seribu sungai itu. Suku Dayak terkenal hebat dan sakti yang bisa membinasakan lawannya dari jarak jauh tanpa melukai.
"Kapan aku bisa kesana, Pak?!" Tanya Fadli.
"Kau bisa sekarang, lebih cepat lebih baik!" Tegas Pak RT.
"Baiklah, apakah aku harus mengajak istriku ikut serta denganku?" Fadli meminta pendapat.
"Itu lebih bagus, agar dia langsung di obati!" Jawab Pak RT.
"Baiklah, aku pulang menjemput istriku!" Ucap Fadli.
Pak RT menyarankan Fadli untuk menitipkan bayinya pada Bu RT saja, agar Lara lebih leluasa saat bepergian. Fadli setuju dengan saran Pak RT, ia bergegas pulang menjemput Lara dan Nada.
Setengah jam kemudian, Fadli datang kembali ke rumah Pak RT sambil menggendong Nada.
__ADS_1
"Minta maaf yang sebesar-besarnya, jadi merepotkan keluarga Pak RT!" Ucap Fadli sungkan.
Bu RT bergegas mengambil Nada dari gendongan Fadli.
"Tak perlu sungkan, anggap saja kami saudaramu! Bu, jaga bayi Pak Fadli ya!? Kami harus pergi sekarang!" Ucap Pak RT.
"Baik Pak! Hati-hati dijalan!" Pesan Bu RT sembari masuk ke dalam rumah.
Fadli mengajak Pak RT masuk ke dalam mobil, sementara Lara duduk di jok depan dari tadi dengan keadaan lemah dan terkulai lesu, wajahnya nampak pucat.
Tak menunggu lama, mobil Fadli sudah meluncur menuju rumah teman Pak RT di salah satu kecamatan di kota itu. Pak RT memandu jalan yang lumayan sulit dilalui karena jalan menuju rumah tersebut berliku dan sempit, selain itu banyak anak-anak bermain di pinggir jalan. Fadli tidak bisa menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan seperti itu.
Menjelang Maghrib, mereka tiba dirumah kenalan Pak RT. Seorang pria berusia sekitar 50 tahun dengan perawakan tinggi besar keluar dari rumah kayu mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Pria itu kemudian menoleh kearah Pak RT sembari tersenyum, ia bergegas menyambut Pak RT yang kenal baik dengannya.
"Mari Pak Fadli! Perkenalkan ini Pak Mantir, kenalanku sejak lama! Pak Mantir, ini adalah Pak Fadli warga yang tinggal satu komplek denganku!" Pak RT mengajak Fadli berkenalan dengan temannya, merekapun berkenalan sambil berjalan tangan.
Pak Mantir mengajak mereka masuk, Fadli memapah Lara dan masuk ke dalam rumah menyusul mereka. Pak RT menjelaskan kedatangan mereka secara rinci pada Pak Mantir.
Mereka pun duduk di kursi rotan sederhana yang sudah tua dan mulai rusak namun masih kokoh. Pak Mantir pamit ke dalam sebentar, kemudian muncul lagi. Tak lama kemudian, istri pak Mantir datang membawa nampan berisi teh dan makanan ringan kemudian menyuguhkan pada mereka.
"Silakan di minum! Oh iya, siapa nama istri Pak Fadli?" Tanya Pak Mantir.
"Lara!" Jawab Fadli.
"Baiklah, aku periksa dulu! Silakan di minum!" Pak Mantir pamit sembari mempersilakan mereka minum.
Pak Mantir masuk ke dalam, sementara Pak RT dan Fadli menunggunya sambil menikmati suguhan dari keluarga Pak Mantir. Fadli mengajak Lara minum, namun ia menolak karena rasa sakit di seluruh tubuhnya masih menggorogotinya sehingga tak ada selera untuk makan dan minum. Fadli sangat prihatin dengan penyakit yang di derita Lara.
Beberapa menit berlalu, Pak Mantir muncul dengan segelas air putih dan memberikannya pada Fadli seraya menyuruh Lara untuk meminuk air putih tersebut. Fadli membantu Lara memegang gelas air putih itu, Lara perlahan mereguknya sedikit demi sedikit dengan ekspresi wajah meringis seolah kesakitan.
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Pak Mantir.
"Sakit!" Ucap Lara pelan.
__ADS_1
"Kau terkena teluh Cuca Peruntus (bahasa Dayak, teluh yang merusak organ dalam tubuh target tanpa melukai fisik luar). Dukun santet yang mengirim teluh ini orang dari suku Dayak sama seperti diriku! Dia suku Dayak dari pedalaman Hulu Sungai, tapi berguru di Kalimantan Timur sehingga ia memiliki ilmu hitam teluh Cuca Peruntus tersebut. Organ dalam tubuhmu perlahan akan hancur, mereka menginginkan kau binasa!" Jawab Pak Mantir membuat bulu roma berdiri. "Kau tak perlu takut, aku akan berusaha yang sebaik-baiknya untuk mengirim balik teluh ini pada pengirim yang sebenarnya, jika kau mau!"
Ucapan Pak Mantir yang awalnya mengejutkan, namun dapat membuat lega Fadli dan Lara karena Pak Mantir bersedia membantu mereka.
"Berdosakah kami jika mengirim balik teluh itu, Pak?" Tanya Fadli.
"Tentu saja! Sebaik-baiknya manusia di muka bumi ini adalah orang yang pemaaf, tapi jika kau ingin puas, kau bisa mengirim balik ilmu teluh tersebut pada pengirimnya!" Jawab Pak Mantir.
"Kirim balik saja, biar tahu bagaimana rasanya menderita!" Ucap Pak RT ketus berapi-api.
"Tapi siapa yang mengirim teluh ini, Pak?" Tanya Fadli penasaran.
"Kerabat dekat kalian, dua orang wanita dan satu orang lelaki!" Tegas Pak Mantir.
Lara dan Fadli saling pandang.
"Apakah pengirimnya Shinta, dan kedua orang tuanya?" Gumam Fadli dalam hati.
Lara memandang Fadli yang sedang melamun.
"Kalau boleh tahu, apa tujuan mereka mengirim teluh ini, Pak?" Tanya Fadli masih tak berani menanyakan siapa sebenarnya orang yang mengirim teluh.
"Perebutan tahta dan kekayaan!" Jawab Pak Mantir tegas.
...Dag dig dug seeer...
Jantung Lara berdegup kencang, ia curiga pada Shinta yang ingin merebut tahtanya sebagai istri agar kekayaan Fadli jatuh ketangannya, kecurigaan Lara juga dirasakan oleh Fadli. Keduanya mencurigai Shinta lah pengirim teluh yang sebenarnya.
"Tolong beritahu kami siapa pengirim santet Cuca Peruntus ini, Pak?" Tanya Lara masih dalam keadaan lemah, tapi karena rasa penasarannya yang begitu tinggi, ia berjuang untuk bicara meski kelelahan setiap berbicara.
"Aku tak ingin kau menyimpan dendam pada mereka! Tapi kuberi waktu satu Minggu, jika mereka tidak berhenti mengirim gangguan dalam seminggu, aku akan memberitahu siapa orangnya! Kalian bisa kembali kemari minggu depan, dan dalam waktu seminggu ini jangan berobat kemana-mana agar aku tahu gangguan apa saja yang mereka kirimkan padamu!" Ucap Pak Mantir yang juga seorang supranatural yang memiliki keturunan asli suku Dayak tanpa adanya percampuran darah dengan suku Banjar.
Malam itu tak ada ritual khusus untuk melawan kiriman guna-guna dari dukun santet di pedalaman Hulu Sungai tersebut, mereka akhirnya pamit pulang.
__ADS_1