
Bu Mantir menyuguhkan sarapan di meja makan, tapi Fadli menolak ajakan Bu Mantir untuk sarapan bersama mereka, ia memilih untuk membangunkan Lara dan membawanya pulang.
"Lara sudah bangun, dan kondisinya baik-baik saja! Kami harus pamit pulang, kasihan anak kami dirumah!" Ucap Fadli berpamitan.
Lara masih merasa kelelahan namun ia tak enak meninggalkan Nada berlama-lama, sehingga ia harus kuat untuk pulang, selain itu Fadli harus bertugas. Pak Mantir mengantar mereka sampai kedepan rumahnya.
"Beritahu aku segera jika ada hal-hal yang menjanggalkan!" Pesan Pak Mantir pada Fadli.
"Baik Pak, permisi!" Fadli pamit disusul anggukan Pak Mantir.
Mobil Fadli pun meluncur menuju rumahnya, sementara Pak Mantir bersiap untuk pergi ke wilayah Kesultanan ingin bertanya pada tetua kampung disana atau orang yang paham tentang silsilah keturunan Kesultanan. Beliau memiliki teman lama dari keturunan bangsawan yang memiliki garis keturunan raja-raja di daerah Kesultanan.
...****************...
"Bagaimana kondisi yang kau rasakan saat ini?" Tanya Fadli sesampainya di rumah.
"Tidak berdaya, aku tidak merasakan sedang berpijak di bumi, ragaku serasa ringan dan melayang-layang!" Jawab Lara berjalan lunglai tak berdaya.
Fadli menuntunnya menuju kamar, Fadila menyambut mereka sambil menggendong Nada yang baru saja bangun.
"Dila, kau bisa pulang sekarang jika kau mau!" Saran Fadli.
"Nanti saja, aku lagi malas pulang kerumah!" Sahut Fadila enggan pulang, ia kerasan tinggal dirumah Fadli.
"Baiklah, asal ayah tidak mencarimu!" Ucap Fadli.
"Ayah tidak akan mencariku selama dia tahu aku ada disini!" Jawab Fadila.
"Bagus sekali! Aku pergi tugas ya?! Tolong jaga Lara dan Nada! Kondisi Lara mulai menurun setelah kejadian tadi malam." Ucap Fadli sambil menceritakan semua kejadian tadi malam pada Fadila.
"Bola besar berwarna keperak-perakkan seperti cahaya lampu neon? Kemudian turun dari langit seolah jatuh menggelinding dan masuk ke dalam raga Kak Lara?" Tanya Fadila takjub.
"Iya, aku masih tak percaya bisa melihat peristiwa yang tak pernah kulihat selama ini! Tapi setelah bola berwarna perak itu masuk kedalam raga Lara, ia berhenti bergetar dan bola api berwarna merah membara itupun padam! Tapi kondisi Lara sangat lemas, tolong jaga dia ya?!" Ucap Fadli sambil mengelus-ngelus rambut adik bungsunya itu, Fadila mengangguk.
Fadli pamit pada Fadila untuk berangkat tugas, Fadila menemui Lara di kamarnya, ia membantunya berbaring kemudian menyiapkan sarapan untuknya.
Fadila dan Mbak Mina bergantian menjaga Nada dan mengerjakan tugas di rumah.
"Untung orang tua kakak sudah pulang di saat keadaan kakak begini!" Ucap Fadila pada Lara.
__ADS_1
"Dan mereka menyerang kakak karena melihat kondisi kakak segar bugar!" Gerutu Lara kesal.
"Mereka akan menyesal suatu saat nanti!" Ucap Fadila yakin.
"Aku tak sabar mereka mengetahui bahwa aku sudah tahu kebejatan mereka semua!" Sambung Lara.
"Akan ada waktunya di mana mereka harus mengetahuinya! Aku yakin mereka pasti menyesali tindakan mereka selama ini!" Fadila menambahkan.
"Aku boleh tidur?" Tanya Lara menahan matanya yang sangat berat karena kantuknya yang luar biasa.
"Baik kak, silakan tidur! Kata Kak Fadli tadi malam kakak tidak tidur semalaman!" Fadila menyelimuti Lara yang nampak tak berdaya itu.
Perlahan-lahan mata Lara meredup dan terpejam, Fadila keluar dari kamar setelah yakin Lara sudah terlelap, ia menemui Mbak Mina untuk membantunya mengerjakan tugas rumah.
...****************...
Setelah sekian lama Fadli sibuk dengan kesembuhan Lara, ia hampir tak punya waktu untuk menjenguk Bunda Najah dan Shinta di kampung selama beberapa minggu ini.
Kondisi Bunda Najah benar-benar dalam keadaan tidak baik, bau bangkai dan busuk makin menyengat bahkan sampai keluar rumah, warga sangat resah karena mengganggu ketenangan mereka, terutama tetangga yang rumah mereka berdekatan dengan rumah Bunda Najah.
Beberapa warga berbondong-bondong mendatangi rumah Bunda Najah untuk menyelesaikan permasalahan yang pelik itu.
"Kami sudah cukup lama bersabar!" Sahut warga.
"Kami minta waktu dua hari saja untuk membuat keputusan!" Bi Leha kembali bernegosiasi dengan warga.
"Jika tidak ada keputusan dalam waktu dua hari, Bunda Najah harus di asingkan ke dalam hutan, karena sudah mengusik warga." Pinta warga yang tak sanggup untuk mencium bau menyengat tiap hari.
"Baiklah!" Jawab Bi Leha singkat.
Warga akhirnya pergi meninggalkan pekarangan rumah Bunda Najah, Bi Leha melangkah masuk ke dalam rumah sahabatnya itu. Namun.. .
"Assalamualaikum!"
Tiba-tiba datang seorang wanita muda bersama bayinya menghampiri Bi Leha.
"Kau siapa?" Tanya Bi Leha.
"Apakah ini rumah orang tua Bapak Fadli?" Wanita itu balik bertanya.
__ADS_1
"Iya! Dengan siapa?" Bi Leha penasaran.
"Arghrghrgrhgrh arghrghrgrhgrh arghrghrgrhgrh!!!" Terdengar Bunda Najah menggeram sangat keras dari dalam kamar.
Bi Leha bergegas masuk ke dalam untuk memastikan apa yang terjadi, sampai lupa dengan wanita yang sedang menemuinya. Wanita itu ikut masuk ke dalam rumah mengikuti Bi Leha, erangan Bunda Najah makin melengking, bau busuk dan bangkai mati sangat menusuk indra penciuman. Wanita itu menyaksikan Bi Leha sedang memberi makan Bunda Najah, seperiuk nasi dan seperiuk sayur mayur habis dilahapnya dengan sekejap.
Tak sengaja Bi Leha mengarahkan pandangannya kearah pintu, ia terkejut karena wanita muda tadi sudah ada di dalam kamar bersamanya.
...****************...
"Rumah adat ini begitu besar, barang-barang berharga mereka bisa menjadi harta karun yang tak ternilai!" Seru Mama Hanum setelah masuk kedalam rumah adat peninggalan keluarga Lara.
"Barang-barang berharga ini tidak boleh terlihat publik, karena mereka akan mempertanyakan dari mana asalnya, dan mereka pasti tahu pemiliknya adalah orang-orang bangsawan! Kalau dilihat dari barang-barang ini, nampaknya dari kesultanan!" Tukas Pak Burhan.
"Percuma jika barang-barang berharga ini disimpan disini, kita harus membawanya ke kampung, bisa saja kita beralasan bahwa kita membelinya dari orang kaya di kota!" Timpal Mama Hanum.
"Barang-barang ini identik milik bangsawan kesultanan Banjar, mana mungkin diperjual belikan!" Sanggah Pak Burhan.
"Kalau begitu, bagaimana keluarga Lara bisa mendapatkan barang-barang berharga dan antik ini?" Tanya Bi Ratih.
"Benar juga!" Kata Mama Hanum.
"Apakah mereka keturunan kesultanan?" Ucap Pak Burhan menduga-duga.
"Ah mana ada keturunan Kesultanan tinggal dipedalaman, di dalam gunung yang terpencil ini!" Mama Hanum menepis kecurigaan.
"Iya, tidak masuk akal jika keturunan kesultanan tinggal di hutan belantara, diatas gunung yang dikelilingi jurang terjal dan sangat terpencil ini!" Sahut Bi Ratih menguatkan.
"Mungkin mereka membeli barang-barang berharga ini dari Kesultanan sejak dahulu kala!" Pak Burhan mencoba meluruskan.
"Sudahlah, tidak penting kita memikirkan dari mana asal barang-barang berharga ini! Sekarang lebih baik kepemukiman warga untuk menunggu mobil yang akan membawa kita turun ke kampung!" Mama Hanum mengajak mereka kepemukiman warga.
"Mari, kita sarapan dulu di sana!" Ajak Pak Burhan seraya berjalan keluar.
"Burhan ikut turun ke kampung?" Tanya Bi Ratih.
"Tidak, kalian saja!" Jawab Pak Burhan.
Mereka bertiga keluar dari rumah adat Malaris peninggalan keluarga Lara, ketiganya pergi menuju pemukiman warga
__ADS_1