
Beberapa saat setelahnya, Pak Sholeh muncul sambil membawa baskom kecil berwarna putih berisi air, beliau duduk berhadapan dengan Fadli.
"Nak, aku tidak yakin kau bisa mengontrol amarahmu jika kuberitahu siapa orang yang mengirim santet 'Parang Maya' pada istrimu! Sebaiknya kau tak perlu tahu siapa orangnya, tapi lebih baik berusaha semaksimal mungkin untuk melenyapkan parang maya ini!" Pak Sholeh menagguhkan keyakinan Fadli.
...Dag dig dug seeer...
Fadli terkejut dan mengelus dadanya saat tahu Lara menjadi target santet parang maya, ia makin penasaran siapa pelaku yang mengirim santet mematikan itu. Parang Maya, adalah santet yang sangat mematikan, dukun sakti dipedalaman Kalimantan bisa menyakiti dan membunuh target tanpa menyentuh sesuai dengan persetujuan dengan pelaku. Pelaku bisa meminta sang dukun untuk membuat targetnya sengsara bahkan gila sebelum meninggal, dan santet ini juga bisa dibuat berjangka, misal pelaku ingin melihat targetnya sengsara terlebih dahulu selama satu atau dua tahun, baru kemudian mati.
"Pak, tolong beritahu aku siapa yang tega mengirim parang maya ini? Dan apa sebab mereka melakukan hal buruk ini pada istri saya? Tolong beritahu aku siapa mereka?" Tanya Fadli memaksa.
"Tidak, banyak resiko yang akan kau hadapi, kau pasti akan marah dan yang aku takutkan kau melakukan tindak kriminal, sebaiknya kau tak perlu tahu! Cukup singkirkan parang maya ini. Kalau perlu, kalian tak usah memberitahu kedua belah pihak keluarga saat kalian pergi untuk melenyapkan santet itu!" Pak Sholeh menasehati Fadli.
"Tapi pak, setidaknya kami tahu siapa orangnya, agar berhati-hati dalam berbuat, dan mengantisipasi kalau-kalau orang itu menyerang istriku disaat aku tidak bersamanya!" Fadli masih memaksa.
"Tidak, nak! Belum saatnya, nanti kau juga akan tahu siapa dan apa sebab mereka mengirim parang maya ini pada istrimu! Oh iya, kau juga masih dalam pengaruh guna-guna, seseorang mengubur fotomu bersama jenazah hingga istrimu melihatmu bagaikan mayat yang tak diminati siapapun." Pak Sholeh menolak memberitahu pengirim santet parang maya, dan yang lebih mengejutkan, beliau tahu siapa pelaku yang mengubur foto Fadli agar Lara membencinya.
"Jadi Bapak juga tahu siapa pelaku yang mengubur foto saya bersama jenazah?" Tanya Fadli dengan keterkejutannya.
Pak Sholeh mengangguk, "Dan kau tak perlu mengetahui siapa pelakunya, sekarang aku minta kau dan istrimu fokus dalam menyingkirkan semua guna-guna yang telah menguasai diri kalian! Sekarang tak perlu mencari tahu siapa pelakunya, kau siap?" Pak Sholeh tetap tak mau membocorkan siapa pengirim semua guna-guna.
"Siap, bahkan sangat siap! Tolong kami pak, lepaskan guna-guna ini dari kehidupan kami!" Fadli berharap penuh dengan wajah memelas.
"Aku akan berusaha membantu kalian sebaik mungkin, aku akan mengirim makhluk-makhluk ghaib itu ke gunung Halau-Halau agar tidak kembali lagi!" Pak Sholeh berjanji.
Fadli lega, karena merasa dibela oleh Pak Sholeh, meski beliau hanya seorang manusia sepertinya, tapi beliau diberi kelebihan oleh Sang Pencipta untuk membantu mereka yang membutuhkan.
"Pak, jika Bapak mengusir makhluk-makhluk ghaib itu ke gunung Halau-Halau, apakah mereka tidak mengganggu istri saya lagi?" Tanya Fadli was-was.
__ADS_1
"Menurut almarhum ayahku dan kepercayaan masyarakat, makhluk-makhluk ghaib yang dikirim ke gunung Halau-Halau itu tak akan pernah kembali lagi kealam manusia, dengan kata lain mereka berada di dimensi lain dan tak boleh lagi kealam manusia. Tapi makhluk-makhluk ghaib itu banyak, dan dukun sakti lain yang bisa memanggil jin-jin jahat juga sangat banyak!" Jelas Pak Sholeh.
Fadli mendengarkan penjelasan Pak Sholeh dengan seksama, yang ia tahu gunung Halau-Halau itu sangat dikeramatkan suku Dayak Meratus dipedalaman, gunung Halau-Halau merupakan bagian dari puncak pegunungan ( seven summits ) Meratus, dan gunung tertinggi di Kalimantan yang membelah tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Tanah Bumbu. Dilansir oleh portal Media Indonesia, silakan cek Google!
Fadli merinding membayangkannya, selain itu warga percaya jika siapapun yang meninggal dan arwahnya (jin qorin) tidak tenang, maka jin qorin tersebut akan dikirim ke gunung Halau-Halau. Dengan begitu, gunung Halau-Halau itu sangat angker, selain tempat pengiriman makhluk-makhluk ghaib dari santet dan berbagai macam guna-guna, gunung itu juga tempat pengiriman jin qorin orang-orang yang meninggal tidak tenang, Allahu a'lam, kembali pada kepercayan masing-masing.
"Jangan sering-sering termenung, karena makhluk-makhluk ghaib mudah merasukimu disaat kau kosong, berpikirlah yang jernih dan tidak usah berputus asa! Istrimu sudah dibawah pengaruh makhluk-makhluk ghaib, terkadang sikap kesehariannya bukan dirinya sendiri, tapi sikap-sikap makhluk ghaib kiriman. Parang Maya itu sudah menyusup dalam seluruh jiwanya, susah dilenyapkan, serahkan semuanya pada Allah SWT, bertawakkal hanya pada-Nya! Seandainya parang maya itu masih baru, ada banyak kemungkinan untuk melenyapkannya, dengan cara mehalat diri. Sekarang sudah hampir terlambat, tapi insya Allah ada jalan keluar yang terbaik!" Ucap Pak Sholeh panjang lebar.
"Berarti istriku sekarang tidak bisa melakukan mehalat diri?" Tanya Fadli.
"Tidak untuk saat ini, karena makhluk-makhluk ghaib sedang menguasainya. Kalau mehalat diri sekarang, sama artinya memagar makhluk-makhluk ghaib itu dalam jiwanya! Nanti setelah makhluk-makhluk ghaib itu keluar satu persatu, baru bisa mehalat diri." Terang Pak Sholeh.
Mehalat diri masih dalam bahasa Banjar, Kalimantan Selatan. Makna mehalat diri adalah memagari diri kita agar tidak diganggu oleh makhluk-makhluk ghaib dan sejenisnya.
"Kapan Bapak akan mengusir makhluk-makhluk ghaib itu?" Tanya Fadli.
"Adakah syarat-syarat yang harus kusiapkan?" Fadli bertanya lagi.
"Ada beberapa sarana dan media yang harus kau siapkan, tapi kau bisa menebus sarana dan media tersebut padaku jika kau kesulitan mencarinya atau tidak ingin diketahui keluargamu! Mari ikut aku!" Pak Sholeh mengajak Fadli masuk kesebuah ruangan.
Fadli menggendong Nada, ia membiarkan Lara tertidur setelah makhluk ghaib meminjam raganya berdebat dengan pak Sholeh. Fadli mengikuti Pak Sholej masuk kedalam ruangan yang dipenuhi berbagai macam benda-benda kuno, disertai sarana dan media untuk ritual pengusiran jin-jin dan makhluk-makhluk ghaib.
"Kau hanya memerlukan dua tiga lembar kain putih, dupa, dan beberapa macam bunga seperti bunga Kenanga dan Melati! Aku akan membantumu menyediakan sarana dan media tersebut untuk memulai pekerjaanku melenyapkan makhluk-makhluk ghaib yang mengendalikan istrimu. Perlu kau ingat, kau harus mengetahui gelaja apa saja yang dialami istrimu, kalau perlu kau catat semua rasa sakit atau apapun yang dirasakannya. Nanti beritahu aku!" Pak Sholeh meminta Fadli bekerjasama dengannya untuk memudahkan proses pengusiran makhluk-makhluk ghaib kiriman orang pada Lara.
"Baik Pak, aku akan melaksanakannya! Berapa biaya menebus sarana dan media yang kami perlukan?" Fadli menyetujui kerjasama dengan Pak Sholeh.
"Aku tidak ingin meminta untung dari semua sarana dan media, kau tebus harganya layak harga dipasar saja!" Ucap Pak Sholeh tak serakah.
__ADS_1
"Terima kasih Pak, apakah kami bisa pulang sekarang?!" Tanya Fadli.
"Iya, tapi kalian harus datang kemari, setidaknya satu kali dalam seminggu!" Pak Sholeh memberitahu.
"Baiklah, aku usahakan dengan sebaik-baiknya!" Jawab Fadli.
Keduanya keluar dari ruangan tempat sarana dan media untuk ritual, Fadli merogoh sakunya seraya mengambil beberapa lembar uang kertas bernilai seratus ribu dan menyerahkannya pada Pak Sholeh.
"Jangan, nak! Ini terlalu banyak, simpan uangmu!" Pak Sholeh menolak sambil mengembalikan lembaran uang kertas milik Fadli.
"Tidak, Pak! Ini hak Bapak!" Fadli tak mau menerima kembali uang miliknya. "Pak, ada hal lain yang sangat penting ingin kutanyakan pada Bapak!" Ucap Fadli.
"Tentang ibumu dan pesugihan milik ayahmu?" Tanya Pak Sholeh mengetahui permasalahan Fadli yang lain tanpa diberi tahu.
"Iya, Pak! Tapi kenapa Bapak bisa tahu? Apakah Pak Ahmad memberi tahu bapak sebelumnya?" Tanya Fadli menduga.
"Ahmad pernah datang padaku menceritakan perihal kedua orang tuamu, tapi hari ini aku melihatnya sendiri lewat sarana air milikku. Baru saja aku ingin menanyakan tentang Ahmad, dan kau sudah mendahuluiku!" Ujar Pak Sholeh. "Kita bahas hal itu perlahan, karena ilmu hitam milik kedua orang tuamu tidak bisa dilenyapkan kecuali diwariskan. Untuk sekarang, kita fokus pada istrimu!"
Fadli kagum dengan kelebihan Pak Sholeh yang mampu mengetahui hal-hal yang belum diceritakan, ia yakin tak salah memilih orang pintar yang lebih terkenal religius bukan seorang dukun.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Pak! Sekarang kami pamit, biar keluarga dirumah tidak berpikir macam-macam tentang kami!" Fadli berpamitan.
"Ingat, tak perlu berterus terang kemana dan dimana kalian saat tidak ada dirumah, baik itu pada kerabatmu maupun kerabat istrimu!" Pesan Pak Sholeh.
Lara sepertinya sadar kembali, ia duduk dengan tenang menunggu Fadli dan Pak Sholeh dari tadi.
"Lara, mari kita pulang, mumpung hari masih siang!" Ajak Fadli buru-buru karena hari sudah mulai petang.
__ADS_1
Fadli berpamitan pada Pak Sholeh, ia mengantar Lara masuk kedalam mobil, tatapan Lara kosong dan datar karena belum sadar sepenuhnya.