MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 47. Melepas Rindu


__ADS_3

Kematian Ibu Jamilah menjadi perbincangan hangat warga desa, apalagi setelah suami dan anak almarhumah Ibu Jamilah hengkang meninggalkan rumah mereka setelahnya. Sang suami dan anak almarhumah Ibu Jamilah tak ingin mengambil resiko, karena mereka memang sering diganggu penampakan-penampakan dirumah mereka.


Sementara dengan Lara, kondisinya mulai sehat, tidak menjambak rambut dan mencakar wajahnya seperti beberapa hari lalu, ia sudah mampu untuk bangkit dan beraktifitas, lebih baik dari kondisi sebelumnya yang bahkan untuk ke kamar mandi tidak bisa berjalan sendiri, untung Fadli selalu ada untuk membantunya.


Malam telah berlalu, tibalah matahari pagi menampakkan sinarnya yang keemasan, Fadli memasukkan koper dan beberapa buah tas kedalam bagasi mobil, hari itu ia akan pulang ke kota dan membawa Lara serta Nada bersamanya. Mereka berpamitan dengan Mama Hanum dan Bi Ratih serta keluarga dekat, Mama Hanum sebenarnya tak mengizinkan Lara dan Nada diboyong ke kota, tapi Fadli bersikeras ingin membawa mereka. Setelah berpamitan, Fadli mengajak Lara yang sedang menggendong Nada untuk masuk kedalam mobil. Perlahan mobil berjalan dan menghilang di tikungan, Mama Hanum dari tadi berdiri didepan rumah melepas keberangkatan anak, menantu dan cucunya.


...*****...


"Masa cuti Fadli sudah berakhir hari ini, dia tidak datang kemari untuk pamit, pasti dia sangat marah padaku!" Gumam Shinta dalam hati sembari melipat pakaian-pakaian bayi yang akan dibawanya ke rumah sakit bersalin nanti.


Antara kesal dan rasa bersalah menghantui perasaan Shinta, rasa kesal karena dituduh mengirim santet pada Lara, disisi lain ia merasa bersalah karena pernah melakukan ritual mengariyau beberapa kali. Tapi dirinya yakin tidak pernah mengirim guna-guna lain apalagi mengirim santet, namun sangat disayangkan Fadli sudah terlanjur marah besar padanya.


"Shinta, kau tidak memberitahu Fadli bahwa bulan ini kau akan melahirkan?" Tanya Bu Rohani tiba-tiba masuk kekamarnya.


"Eee, Fadli sudah tahu, Bu?!" Jawab Shinta.


"Kau bilang hari ini masa cutinya berakhir, berarti dia pulang ke kota?" Tanya Bu Rohani.


"Benar, hari ini seharusnya dia sudah kembali ke kota!" Jawab Shinta membenarkan.

__ADS_1


"Apakah dia tidak berpamitan padamu?" Tanya Bu Rohani menyelidik.


"Mungkin dia masih marah!" Jawab Shinta pendek.


"Kalau dia lelaki bertanggung jawab, dia akan datang menengokmu, apalagi kalau dia tahu bulan ini kau melahirkan!" Ucap Bu Rohani mengelus pundak Shinta.


"Semoga dia lelaki yang bertanggung jawab!" Ucap Shinta berharap meski di dalam hatinya berkecamuk rasa kalut dan gelisah.


Bu Rohani pergi meninggalkannya sendirian di kamar, Shinta sesekali menyesali dirinya telah menerima lamaran Fadli waktu itu, padahal ia tahu bahwa Fadli pria beristri. Tapi semuanya sudah terjadi, tak ada yang bisa memutar waktu kebelakang untuk mengembalikan keadaan seperti semula.


"Mungkin ini resiko sebagai istri kedua, wanita yang mengambil suami orang. Aku harus menerimanya dengan tabah!" Gumam Shinta menyadari posisinya sebagai istri kedua. "Meski Fadli tidak kembali lagi, aku tak akan mencarinya. Biarkan dia pergi, aku akan membesarkan anakku sendiri."


"Maafkan ibumu, nak! Kehadiranmu tidak salah, tapi ibumu yang salah mencintai ayahmu yang sudah punya istri!" Isak Shinta sembaei mengusap perutnya.


...*****...


"Kita sudah sampai!" Ucap Fadli seraya turun dari mobil dan berjalan kesamping membukakan pintu untuk Lara. "Ayo turun!"


Lara beranjak turun dari mobil, "Ayo, nak! Kita sudah sampai!" Ucap Lara mengajak Nada bicara, Nada belum mengerti apa-apa, ia hanya tertawa riang.

__ADS_1


Fadli mengeluarkan koper dan tas-tas milik mereka dan membawanya masuk kedalam rumahnya, Lara mengikutinya dari belakang. Keduanya masuk kedalam rumah Fadli yang berukuran sedang itu, nampak seisi ruangan masih terlihat rapi, namun debu berserakan dimana-mana setelah satu bulan tidak dibersihkan semenjak Fadli cuti ke kampung.


Fadli mengambil selimut tebal dari dalam lemari dan menyerahkannya pada Lara untuk alas Nada berbaring, Lara menaruh selimut tebal tersebut pada ranjang dan membaringkan Nada disitu, kemudian ia mulai membantu Fadli membersihkan rumah yang kotor oleh debu tersebut.


Fadli masuk kekamar kemudian merapikan pakaian-pakaian milik Shinta dan memasukkannya kedalam koper kemudian menaruh koper tersebut diatas lemari, ia tak ingin Lara melihat pakaian Shinta ada di dalam lemari miliknya. Dugaan Fadli benar, hampir saja Lara melihat pakaian milik Shinta saat ia masuk kedalam kamar. Untung Fadli sudah mengamankan semua barang milik Shinta. Lara menatap Fadli dengan tatapan tajam, ia seolah tahu perasaan apa yang disembunyikan Fadli. Namun Lara tak ingin berdebat, ia memilih keluar dari kamar dan melanjutkan aktifitasnya membersihkan ruangan-ruangan yang penuh debu.


Fadli menghampiri Lara seraya merangkulnya dari belakang, "Lara, aku ingin hubungan kita terjalin seharmonis dulu! Percayalah, aku tetap mencintaimu meski aku telah berkhianat padamu! Tapi cinta sejatiku hanya ada padamu!" Ucap Fadli merayu Lara.


"Sudahlah, lupakan saja! Kita jalani yang menurut kita nyaman, bila sudah tidak nyaman, kita pilih jalan masing-masing!" Ucap Lara tak mau berharap lebih.


"Kau tak boleh bersikap dingin padaku, aku benar-benar sangat mencintaimu sepenuh jiwaku, aku mengakui bahwa diriku sangat menyesal telah menduakanmu!" Fadli berlutut di depan Lara sambil terisak.


Lara menjadi iba, iapun sebenarnya sangat mencintai Fadli, pria pertama yang menjadi tambatan hatinya. Lara duduk sejajar dengan Fadli yang bersimpuh didepannya, ia mengusap air mata Fadli, air mata penyesalan. Lara menyandarkan kepalanya dibahu Fadli, gayung bersambut.. Fadli membiarkannya bersandar dibahunya, Lara mendongak kearahnya dengan tatapan penuh kasih, Fadli dapat menangkap sinyal cinta dari tatapan mata Lara. Keduanya lama saling tatap tanpa bicara, suasana berubah menjadi hening, hanya terdengar suara napas keduanya yang berpacu laju. Karena rasa cinta Lara yang sangat dalam pada Fadli, ia telah memaafkannya bahkan sebelum Fadli meminta maaf.


Dua makhluk berbeda jenis itu seolah baru bertemu sejak perpisahan yang sangat lama, keduanya terbuai dengan berbagai macam perasaan saat itu, hari telah gelap diluar sana. Fadli tak membiarkan Lara beranjak dari tempatnya, ia terus memacu napas Lara semakin tinggi, akhirnya kedua napas mereka bertemu dalam satu arah dan tujuan, hingga Lara tak berdaya. Fadli membiarkan Lara tergeletak lemah setelah kerja bakti bersamanya, tak sampai disitu, Fadli kembali mengajak Lara mengadakan kerja bakti untuk beberapa kali, karena wilayah yang mereka kerjakan sudah lama tak terjamah, sehingga butuh beberapa kali kerja bakti agar tidak ada yang terbengkalai.


Lara terkapar kelelahan membantu Fadli melakukan kerja bakti yang berkali-kali semalaman suntuk, untung Nada tidur pulas, sehingga kerja bakti mereka berjalan lancar dari tepi bukit sampai kepuncak.


"Terima kasih!" Ucap Fadli sembari mengusap keringat yang bercucuran diwajah Lara.

__ADS_1


Lara tak membalas ucapan Fadli, ia hanya tersenyum kearahnya.


__ADS_2