
Pak Hamdan tidak pernah menyangka dengan keadaan yang di alami oleh Bunda Najah, istri pertamanya. Pak Hamdan tahu bagaimana resiko seorang kuyang, tapi tidak terlintas dalam benaknya sampai sedemikian rupa dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, di semen dan cor, bagaikan jasad mati tak bergerak hanya kepalanya saja yang bisa menggeleng kekiri kekanan.
"Ma'afkan aku Najah!" Pak Hamdan berucap lirih seraya meneteskan air mata.
"Pa, beliau istri pertama Papa?" Tanya Fadila.
Pak Hamdan mengangguk, Fadila nampak takut melihat kondisi Bunda Najah yang jorok dan menjijikkan, matanya tertuju pada sebuah foto besar tergantung di samping ranjang, foto sosok wanita cantik dan bersahaja, mengenakan kebaya berwarna kuning emas dengan rambut yang disanggul besar dan selendang putih transparan di bahunya. Fadila berdecak kagum melihat kecantikan sosok wanita di dalam foto itu.
"Pa, itu foto siapa?" Tanya Fadila penasaran.
"Najah, saat menjelang pernikahannya denganku, dia yang terbaring sakit sekarang!" Jawab Pak Hamdan.
Fadila seolah tak percaya, karena wajah wanita di dalam foto tersebut sangat jauh berbeda dengan sosok wanita tua yang terbaring kaku bagaikan mayat.
Bi Leha tak banyak bicara, ia masih emosi dengan Pak Hamdan yang puluhan tahun meninggalkan sahabatnya, hanya karena melihat kekurangannya.
Pak Hamdan menghampiri Bunda Najah yang terbaring tak berdaya, ia berbisik di dekat telinga istrinya. Entah apa yang dibicarakan oleh Pak Hamdan pada Bunda Najah, suaranya pelan dan tak terdengar jelas. Bi Leha tak mau tahu, ia tak peduli apa yang ingin diucapkan Pak Hamdan pada sahabatnya.
Tok tok tok!!! Terdengar seseorang mengetuk pintu diluar sana, Bi Leha bangkit dari duduknya dan melihat siapa yang datang.
"Bi Leha, mana Pak Hamdan?!" Tanya seorang pemuda.
"Ada di dalam!" Jawab Bi Leha singkat.
"Tolong panggil beliau, Bi! Ada yang ingin bertemu!" Pinta pemuda tersebut.
Belum sempat Bi Leha memanggil, Pak Hamdan muncul dari belakang.
"Ada apa?!" Tanya Pak Hamdan.
"Pak, ini ada orang yang ingin bertemu dengan Bapak!" Jawab pemuda itu seraya pergi.
"Oh kau Raji? Mari kita pergi melihat pabrik penggiling padi yang ingin kau beli!" Ajak Pak Hamdan seraya mengajak pria bernama Raji ikut bersamanya.
"Ayo!" Ucap pria yang lebih muda dari Pak Hamdan itu.
Keduanya masuk kedalam mobil belakang, "Fadila, ayo antar kami meninjau lokasi pabrik penggiling padi!" Ucap Pak Hamdan pada Fadila.
__ADS_1
Fadila menurut, ia masuk kedalam mobil sembari menghidupkan mesinnya dan perlahan meluncur pergi.
"Misi apa yang ingin dia lakukan dengan pria itu?" Gumam Bi Leha dalam hati, ia kembali ke dalam kamar Bunda Najah.
...*****...
"Dukun mana lagi yang membantumu anak ingusan?!" Bentak dukun pengirim santet Cuca Peruntus marah.
Dukun tersebut merasa ada hawa panas disekitar targetnya, hawa yang membuatnya emosi, karena perapian dupa miliknya selalu padam.
"Ternyata kau berani menantangku! Baik, aku akan mengirim makhluk-makhluk ghaib menyeramkan tanpa henti agar kau gila kemudian binasa!" Cerocos dukun santet tersebut kesal karena kekuatannya dilawan.
Dukun itu kembali menyalakan api dan menjaganya agar tidak padam, berkali-kali ia menyalakan api tersebut, namun selalu padam. Emosinya terpancing, ia mengambil benda-benda tajam lebih banyak lagi dan melemparnya ke dalam perapian kemudian memasukkan kayu dan menyalakannya. Tapi perapian miliknya tak mau menyala, padam berkali-kali.
"Kurang ajar! Benar-benar laknat, siapa yang mengganggu pekerjaanku!" Sang dukun marah-marah sendirian.
Setelah berulang kali menyalakan api untuk ritual yang selalu padam, dukun tersebut akhirnya berhenti. Tapi ia melakukan ritual dengan cara lain, ia keluar rumah dan mengambil boneka kain putih berbentuk sosok wanita tempat jiwa Lara di perangkap. Dukun itu kemudian mengisi boneka kain putih tersebut dengan berbagai macam benda tajam, kemudian menggantungnya ke atas dahan yang lebih tinggi dimana angin berhembus sangat kencang dan deras.
"Wahai penghuni rimba, langit dan bumi serta samudra, keluarlah! Keluar, usik wanita ini!" Ucap Dukun tersebut memberi komando pada makhluk-makhluk ghaib yang bersekutu dengannya untuk mengusik Lara.
Tak peduli malam atau siang, dukun kejam itu tak hentinya mengirim santet dan membuat Lara tersiksa sepanjang waktu.
...*****...
"Fatima? Ada apa tergesa-gesa?" Tanya Bi Leha baru saja keluar dari kamar Bunda Najah karena mendengar Bu Fatima memanggilnya di teras.
"Apakah kau tahu Pak Hamdan menjual pabrik penggiling padi pada seseorang dari kota?" Tanya Bu Fatima sambil memberitahu Bi Leha.
"Tidak?! Siapa orang yang membeli pabrik penggiling padi?" Bi Leha balik bertanya.
"Pria yang bersama beliau baru saja!" Jawab Bu Fatima.
"Oooh, jadi pria tadi datang untuk negosiasi pabrik penggiling padi?! Aku baru saja mengetahuinya!" Tukas Bi Leha.
"Berarti Pak Hamdan benar-benar menjualnya?!" Bu Fatima masih kurang yakin.
"Aku belum tahu secara jelas! Nanti aku akan menanyakannya langsung pada Hamdan!" Jawab Bi Leha.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu aku pergi dulu!" Ucap Bu Fatima.
Bi Leha mengangguk dan berbalik ke dalam rumah. Baru saja ia melangkah, mobil Pak Hamdan muncul dan berhenti di depan rumah. Bi Leha mengurungkan niatnya masuk kekamar, ia berdiri di depan pintu ingin menanyakan apa tujuan Pak Hamdan menjual pabrik penggiling padi miliknya.
"Saleha, ini Raji! Sekarang dia adalah pabrik penggiling padi, dia membelinya dari ku!" Ucap Pak Hamdan memberi tahu.
"Oh, selamat!" Ucap Bi Leha menyalami Raji.
"Terima kasih, bu!" Ucap pria bernama Raji itu. "Pak Hamdan, sepertinya aku harus pergi sekarang!" Ucapnya lagi.
"Mengapa hadus terburu-buru? Makan siang dulu?" Pak Hamdan menawar pria itu agar tidak pulang.
"Tidak bisa, Pak! Aku harus pergi, ada urusan penting!" Jawab Raji beralasan.
"Fadila, tolong antar paman Raji ke depan!"
Fadila mengangguk seraya masuk ke dalam mobil, Raji mengikutinya dan duduk di bangku belakang.
Dengan sekejap mata, mobil Fadila menghilang dari pandangan.
"Saleha, aku menghibahkan pabrik penggiling padi untuk pria itu sebagai imbalan ilmu pesugihan, aku tak ingin anak cucuku menderita oleh karena ilmu hitam ini!" Pak Hamdan menjelaskan maksud jual beli pabrik penggiling padi.
Bi Leha menghembuskan napas kasar kemudian menaruliknya dalam-dalam, dibalik rasa marahnya pada Pak Hamdan, ia lega karena salah satu masalah keluarga sahabatnya telah terselesaikan, tinggal menunggu pewaris ilmu kuyang yang bersedia memilikinya.
"Saleha?!" Pak Hamdan memanggil Bi Leha yang termenung sejenak.
"Syukurlah, karena jin pesugihan milikmu mengincar cucu pertamamu! Putri oleh Fadli dan Lara." Jelas Bi Leha memberitahu.
"Fadli punya anak? Dimana mereka?!" Pak Hamdan tak percaya putra sulungnya sudah memiliki seorang putri.
"Fadli sekarang di kota, kau bisa menemuinya disana!" Jawab Bi Leha sembari memberitahu dimana alamat Fadli berada.
Sesaat kemudian, mobil milik Fadila memasuki pekarangan, Fadila memarkir mobilnya.
"Pa, kapan kita balik ke kota?" Tanya Fadila.
"Beberapa hari lagi!" Jawab Pak Hamdan.
__ADS_1
Fadila nampak tidak betah berada disitu, selain tak terbiasa, ia merasa ngeri dengan suasana di rumah ayahnya yang pengap, temaram dan remang-remang.