MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 86. Teka-Teki Pewaris Ilmu Kuyang


__ADS_3

"Hanum, coba perhatikan Lara! Dia baik-baik saja, dan tidak nampak sakit sama sekali, seharusnya dia terkapar tak berdaya di pembaringan terakhirnya! Aku yakin Lara yang mewarisi ilmu Kuyang milik Najah!" Bisik Bi Ratih saat Lara dan yang lain dibelakang.


"Tapi dia baru saja datang!" Sanggah Mama Hanum.


"Kau ingat? Waktu itu Fadli datang ke kampung dan kerumahmu pagi-pagi, apa jangan-jangan dia pulang hanya untuk mengambil minyak Kuyang milik ibunya? Dan setelah itu kita menjenguk Lara di kota, kondisinya segar bugar. Apakah saat itu dia sudah menguasai ilmu Kuyang? Sungguh tak masuk akal jika manusia normal tidak mempan oleh Parang Maya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres!" Bi Ratih yakin bahwa Lara mewaris ilmu Kuyang milik Bunda Najah.


"Lambat laun kita akan mengetahuinya! Aku jengkel kenapa dia tidak mampvs juga sampai saat ini!" Mama Hanum kesal.


Jenazah Bunda Najah segera di shalatkan kemudian dimakamkan di pemakaman kampung di samping rumah beliau sendiri.


Suasana duka menyelimuti keluarga Fadli, baru saja selesai pemakaman, tiba-tiba datang seorang utusan dari tempatnya bertugas membawa surat perintah agar dirinya diutus bertugas kesebuah wilayah di kota karena sedang mengalami kekacauan. Dengan terpaksa Fadli meninggalkan keluarganya yang belum selesai berkabung, sebelum berpamitan Fadli berpesan untuk mengadakan pengajian dan tahlilan untuk almarhumah ibunya, kemudian ia pergi tugas ikut dengan utusan yang menjemputnya.


"Jaga dirimu baik-baik, dan tolong jangan sakiti hati Shinta!" Fadli berpesan pada Lara.


Lara mengangguk pelan, Fadli masuk kedalam mobil tugas mereka dan lenyap seketika dipersimpangan.


"Kasihan Fadli, pasti sangat terpukul harus pergi meninggalkan rumah duka secepat itu!" Gumam Bi Leha lirih.


"Fadli lelaki yang tangguh dan hebat, dia pasti bisa melalui masa-masa sulit seperti ini!" Ucap Mama Hanum.


Mereka mulai berdiskusi untuk mengadakan pengajian dan tahlilan, keberadaan Bi Leha lebih sangat berjasa dalam keluarga Fadli, beliau dipercaya untuk mengemban segala keperluan keluarga.


Lara belum sanggup bicara dengan Shinta, ia lebih memilih menyibukkan diri berbaur dengan warga mengerjakan persiapan pengajian atau memasak di belakang sehingga jarang memiliki waktu luang untuk bersama-sama dengan Shinta.


Sama halnya dengan Shinta, ia belum berani menyapa Lara, ia merasa segan untuk sekedar berkenalan. Untung orang tuanya datang, sehingga ia dapat menghabiskan waktu bersama mereka.

__ADS_1


Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka, apalagi Mama Hanum begitu kecewa terhadap Lara yang tak nampak menunjukkan terkena kiriman santet terakhir, tapi ia berusaha menyembunyikan kekecewaannya didepan Lara.


"Kalian kira aku tidak tahu!" Gerutu Lara didalam hati.


Lara memperhatikan gerak-gerik Mama Hanum dan Bi Ratih, ia khawatir mereka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Bisa saja mereka meracuninya atau menjebaknya dengan sesuatu disaat dirinya lengah. Lara merasa kesendirian di tengah banyak orang, meski Fadil ada bersamanya, tapi ia membutuhkan Fadli.


Pak Hamdan belum pulang dari pusara Bunda Najah, beliau sangat bersedih atas kematian istri pertamanya yang sudah lama tidak di hiraukannya. Rasa bersalah dan menyesal datang mengganggunya, kalau saja dirinya tidak beristri lagi, mungkin Bunda Najah tidak akan menempuh jalan yang salah. Pak Hamdan menangis sesenggukan diatas makam istrinya tersebut.


"Maafkan aku Najah, aku terlalu egois, ini semua salahku! Aku rela menebus dosa-dosamu di hari pembalasan nanti!" Ucap Pak Hamdan pelan.


"Pa, pulang yuk?!" Ajak Fadila di seberang jalan.


"Papa masih ingin disini, nanti Papa pulang kok!" Pak Hamdan menolak ajakan Fadila.


Fadila berbalik, ia tak mau memaksa keinginan ayahnya yang sedang meluahkan perasaannya pada gundukan tanah yang basah tempat pembaringan terakhir Bunda Najah. Pak Hamdan menyesali semua perbuatannya, kalau saja dirinya tidak menikah lagi, mungkin nasib Bunda Najah tak akan seburuk ini. Seandainya menikahpun, asal bisa membagi waktunya, mungkin Bunda Najah tak akan mengambil langkah yang salah.


"Aku sangat berdosa, Intan! Kejahatanku di dunia ilmu hitam sangat banyak, mungkin sudah tidak bisa di maafkan lagi!" Ucap Pak Hamdan sambil berjalan menuju rumahnya.


"Kita wariskan apa saja yang masih berkaitan dengan ilmu hitam, Pak!" Bu Intan menyarankan.


"Satu ajian yang tak bisa kukeluarkan adalah ilmu kebal yang sudah menyatu dalam dirinku, menjadi darah daging bahkan sampai tulang-tulangku! Aku ingin membuangnya, tapi tak pernah bisa!" Pak Hamdan mengeluh.


"Kita coba mencari orang pintar yang bisa melenyapkan ilmu kebal tersebut! Pasti ada solusinya, kata orang-orang dulu, jika makan pisang emas maka ajian apapun yang tertanam di dalam tubuh akan lenyap, karena itu adalah pantangan mereka!" Bu Intan memberitahu.


"Berbeda dengan ajian yang ku anut, ajian kekebalan ini tak akan lenyap hanya dengan makan pisang emas! Itu identik bagi para wanita pemilik ilmu pengasih, pisang emas salah satu pantangan mereka!" Gumam Pak Hamdan.

__ADS_1


"Pak, kira-kira siapa yang mewaris ilmu Kuyang kak Najah?" Tanya Bu Intan mengalihkan pembicaraan.


"Ini yang jadi tanda tanya besar bagiku!" Sahut Pak Hamdan sambil mengelus janggut tipisnya.


"Apakah wanita paruh baya itu?" Tanya Bu Intan lagi.


"Leha?" Pak Hamdan balik bertanya.


"Iya, aku curiga karena dia sahabatnya dari kecil!" Bu Intan berasumsi.


"Seharusnya dia, tapi entahlah siapa yang bersedia mewarisi ilmu menyesatkan itu!" Pak Hamdan kurang yakin tentang Bi Leha yang sekarang menjadi Kuyang menggantikan Bunda Najah.


"Tanyakan saja pada orang yang bersangkutan!" Saran Bu Intan.


"Sepertinya kurang bagus menanyakan hal begitu!" Sahut Pak Hamdan.


"Karena kita semua tahu tentang almarhumah kakak Najah, seharusnya dia tidak akan mati kecuali mewariskan ilmunya pada orang lain!" Ucap Bu Intan.


"Nanti akan kucoba menanyakannya langsung pada Leha!" Pak Hamdan pun turut penasaran.


Keduanya berjalan memasuki pekarangan, satu persatu tamu berdatangan untuk mengadakan tahlilan setelah Maghrib nanti, Pak Hamdan menyambut tamu-tamu dan mempersilakan mereka masuk keruang tengah.


Rumah yang dulu temaram dan gelap, kini berubah menjadi terang benderang oleh lampu-lampu yang menyala untuk keperluan bertahlil dan pengajian.


Acara tahlil berlangsung dengan lancar, para tamu makan malam bersama setelah mendoakan almarhumah Bunda Najah. Menjelang pukul sebelas malam acara berakhir, para tamu pulang kerumah mereka masing-masing.

__ADS_1


Bi Leha menangis di kamar Bunda Najah, ia teringat sahabatnya menghabiskan hidupnya di kamar itu, kini hanya tersisa kamar kosong.


"Meskipun kau seorang Kuyang, tapi kau sahabat kecilku, kau orang baik dan sopan santun, kenapa ini harus terjadi padamu!" Isak Bi Leha.


__ADS_2