MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 90. Mengusir Roh Penasaran


__ADS_3

Fadli tidak bisa tidur sampai pagi, ia memikirkan masalah dalam keluarganya yang tak pernah kunjung berakhir, hilang masalah besar, datang masalah lainnya, kematian ibunya kesedihan yang teramat sangat baginya, tapi tadi malam warga ribut dengan sosok yang menangis tersedu-sedu berlari menuju rumah mereka.


Mata Fadli menatap kosong keatas langit-langit rumah, selain memikirkan masalah yang datang silih berganti ia penasaran siapa yang bersedia menjadi penerus ibunya. Sejak lama ia berharap ada yang meneruskannya, namun tak satupun kerabat dekatnya bersedia, hingga tiba-tiba ibunya meninggal yang sudah pasti telah mewariskan ilmunya pada seseorang.


Fadli membolak-balikkan badannya kekiri kekanan mencari ketenangan agar bisa terlelap barang sekejap, orang-orang dirumah mulai bangun, masing-masing memulai aktifitas mereka. Fadli akhirnya terlelap setelah otak dan kepalanya di penuhi berbagai macam pertanyaan dan rasa penasaran yang belum terpecahkan.


Fadli tidur di kamarnya sendiri, sehingga tidak terganggu dengan aktifitas orang-orang yang sudah bangun diluar. Lara menemuinya kekamar, ia melihat Fadli sudah tertidur lelap, perasaannya lega akhirnya Fadli tertidur juga, karena ia melihatnya sejak bangun tadi masih belum tidur. Lara meninggalkan Fadli tidur, perlahan ia berjalan keluar dan menutup pintu kamar pelan-pelan agar Fadli tidak terjaga.


Bi Leha mengutus seorang warga untuk menjemput Pak Sholeh dan dibawa kerumah Bunda Najah, karena kalau tidak secepatnya ditangani, jin Qarin Bunda Najah akan meresahkan warga, dan ia tak ingin warga menggunjing kematiannya, selain itu ia kasihan pada Fadli yang pasti akan menanggung malu.


"Hidup jadi makhluk jadi-jadian, matipun jadi hantu?! Nasibmu sungguh sangat malang sahabat kecilku!" Gumam Bi Leha dalam hati.


Pemuda yang diutusnya menjemput Pak Sholeh sudah pergi, beberapa waktu warga kenalan Bunda Najah dari luar desa masih berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.


Mama Hanum dan Bi Ratih masih tinggal disitu, selain penasaran ingin tahu siapa penerus Bunda Najah, mereka juga bersandiwara agar orang-orang melihat bahwa mereka terlihat benar-benar berempati pada keluarga yang sedang berduka, selain itu mereka besan oleh almarhumah Bunda Najah dimata orang-orang.


Selepas Dzuhur, pemuda yang menjemput Pak Sholeh sudah kembali. Bi Leha menyambut kedatangan Pak Sholeh dan memintanya masuk ke dalam rumah, Fadli menemui mereka diruang tamu, kemudian menjelaskan pada Pak Sholeh tentang apa yang di lihat warga tadi malam.


Pak Sholeh orang pintar yang tinggal berbeda kabupaten dan butuh waktu tiga jam untuk bisa menemui beliau, sebagian warga desa Fadli mengenal beliau dari Pak Ahmad tetangga desa. Karena Pak Sholeh dikenal mampu mengatasi hal-hal yang berkaitan dengan dunia ghaib.


"Kita harus menundung jin Qarin almarhumah!" Ucap Pak Sholeh.

__ADS_1


"Kapan Bapak bisa melakukannya?" Tanya Fadli.


"Malam ini! Aku akan melakukannya disini, di kamar dan di pusara almarhumah!" Jawab Pak Sholeh.


"Aku benar-benar sangat berterima kasih padamu, Pak!" Ucap Fadli lega.


"Bagaimana keadaan istrimu?" Pak Sholeh bertanya tentang Lara yang tempo lalu berobat jalan padanya.


"Oh, aku hampir lupa menceritakannya pada Bapak! Ternyata ucapan Bapak benar aku pasti tak bisa mengontrol emosiku jika aku mengetahui siapa yang mengirim santet pada istriku! Kami sudah mengetahui semuanya, Pak!" Fadli mulai bercerita panjang lebar tentang perihal Lara dan siapa yang mengirim santet Parang Maya padanya.


"Jadi kalian sudah mengetahui siapa dan apa motif mereka mengirim santet terhadap istrimu?" Tanya Pak Sholeh.


Fadli mengangguk "Sejauh ini kami mengetahui motif mereka mengirim santet tersebut untuk menguasai harta kekayaan leluhur istriku!" Fadli menceritakan semua apa saja yang diketahuinya dari Pak Mantir pada Pak Sholeh.


"Kami sangat berterima kasih atas beberapa detail yang Bapak beritahu pada kami, kalau saja tidak karena Bapak, mungkin aku dan istriku menganggap remeh hal ini!" Ucap Fadli.


"Tapi aku salut dengan kalian masih bisa menjaga hubungan kekeluargaan meski kalian sudah mengetahui kedok mereka!" Ucap Pak Sholeh yang dulu ia khawatirkan Fadli dan Lara akan marah besar terhadap orang yang mengirim santet, ternyata dugaan Pak Sholeh tidak benar, Fadli dan Lara mampu mengontrol emosi mereka.


"Ini berkat campur tangan Tuhan, Pak! Dan dukungan orang-orang sekitar yang masih baik pada kami!" Ucap Fadli.


"Suatu hari nanti istrimu pasti akan bebas dari cekaman pengaruh ilmu santet itu, apalagi penjaganya naga putih dan burung enggang itu! Sesuatu yang tak pernah kuduga, tapi aku melihat aura berbeda pada istrimu kala awal pertama kali bertemu dengannya, aura keturunan kesultanan sangat nampak pada dirinya tapi tak semua orang bisa memahaminya kecuali orang yang memiliki kelebihan seperti Mantir itu! Kau sangat beruntung bisa menemukan orang pintar yang benar-benar membantu kalian. Baiklah, aku akan memulai prosesi ritual menundung (mengusir arwah). Berhubung hari mulai petang, aku akan memulainya sekarang karena lebih cepat lebih baik!" Pak Sholeh kemudian meminta Fadli untuk menyiapkan apa saja keperluan yang dibutuhkan untuk ritual pengusiran jin Qarin almarhumah Bunda Najah yang mulai meresahkan beberapa warga sejak kematiannya.

__ADS_1


Menjelang Maghrib, Pak Sholeh sedang mengaji dan khusyuk berdoa di atas sejadahnya sambil menunggu waktu sholat. Seiring bergantinya petang dengan malam, lamat-lamat terdengar suara rintihan dan lama-lama berubah jadi tangisan. Pak Sholeh membawa sebuah botol kaca berwarna putih, konon kata beliau botol itu untuk menangkap roh atau jiwa yang masih gantung antara dunia dan alam barzakh, jika berhasil menangkap roh tersebut dan memasukkannya kedalam botol, maka beliau akan mengirimnya ke gunung Halau-Halau tempat pembuangan roh yang tertinggal di dunia.


"Apakah benar makhluk itu jin Qarin bunda?" Tanya Fadli yang turut mengaji di samping Pak Sholeh.


"Bukan saja jin Qarin miliknya, tapi memang benar-benar arwah ibumu, dia mati penasaran karena tidak menerima keadaannya saat menjelang kematiannya!" Ucap Pak Sholeh.


Fadli sedih mendengar ibunya bernasib seburuk itu.


"Jangan bilang pada yang lain jika itu memang arwah penasaran ibumu, jangan sampai berita seperti ini menjadi buah bibir warga!" Pesan Pak Sholeh menasihati.


Fadli mengangguk sembari menyeka air matanya, ia sangat rapuh karena telah lama merasakan kesedihan ibunya.


"Jadi selama ini memang Bunda yang menangis di atas unggukan pusara beliau? Dan masuk kerumah ini? Sekarang beliau berada dimana, Pak?" Fadli menyerang Pak Sholeh dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Apakah kau sanggup mendengar dimana keberadaannya?!" Tanya Pak Sholeh.


"Apapun itu, aku akan siap menerimanya dengan ikhlas!" Jawab Fadli.


"Ibumu berdiri mengawang-awang layaknya roh kebanyakan orang yang tidak di terima bumi akibat perbuatannya yang bersekutu dengan iblis!" Jelas Pak Sholeh, "Dirinya menunggu anak cucunya membebaskannya dari alam seperti itu, sehingga kita mendengar tangisannya!"


Fadli benar-benar terpukul mendengar arwah Bunda Najah tidak diterima dan masih mengawang-ngawang menunggu anak cucunya membebaskan jiwanya dan mengantarnya ke alam barzakh.

__ADS_1


Pak Sholeh pamit keluar menuju pemakaman untuk mengambil roh Bunda Najah yang masih mengawang di dunia, Fadli menyusul Pak Fadli melakukan ritual.


__ADS_2