Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
aku ingin bicara


__ADS_3

"Saya tidak tahu nona, tapi tuan hanya mengatakan.Bahwa dia sedang menunggu anda di mobil, karena ada yang ingin di bicarakan dengan anda."


Mengapa aku yang ke sana, bukan kah dia yang perlu, bilang pada tuan mu.Aku tidak mau,


kalau dia mau bicara, suruh saja kesini.


"Maaf nona, sepertinya tuan tidak akan pernah ke sini menemui anda duluan ,karna saya tau betul sifatnya ,jadi sebaiknya anda ikut saya,"


"benarkah?" tanyanya dengan mulut mengerucut.


"Tentu saja benar.."ucap Jhoni dengan tegas.


"Lalu di belakang kamu itu siapa?"Jhoni berbalik dan benar saja, lelaki tampan memakai kemeja berwana abu tua, dan celana bahan berdiri tegak di belakang Jhoni, memasukkan ke dua tangan ke dalam saku dengan tampang collnya siapa lagi kalau bukan tuannya , Devan.


Seketika ,wajah Jhoni merah menahan malu,


"Dasar bos ,sudah saya puji setinggi gunung,


malah menghempaskan ku ke palung Mariana.


Gumamnya dalam hati.


"aku ingin bicara"


"bicara saja aku sibuk"


"sibuk berjoget tak jelas?"


"kau mengintip ya?"


dengan tangan mengacungkan ke wajah Devan, dengan sorot mata kesal.


"Siapa yang mengintip, kalau aku melihat mu di ruangan tertutup tampa baju, itu baru mengintip" Dengan raut wajah datarnya seakan


Tampa dosa.


"Apa kamu bilang?"


"Kalau aku melihat mu tam, Tiba-tiba Emeli menutup mulut Devan dengan tangannya dengan sorot mata tajam.


"Diam...dasar otak mesum, mulut mu tak pernah di filter, percuma buang-buang waktu meladeni mu" Lalu bergegas pergi.


"Kenapa dia marah?"Devan menaikan satu alisnya ,dengan sorot mata heran.


Jhoni hanya menggaruk leher dan nyengir kuda."Jelas saja dia marah dengan apa yang di ucapkan anda tuan." lirih jhoni.


Devan menghampiri emeli yang sedang membeli air kemasan.


ada apalagi ,Jagan mengikuti ku terus.


"Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu,"


lalu melirik jhoni dan mengibaskan tangan


pergilah setelah setengah jam jemput aku.


"Baiklah tuan.." Jhoni menunduk lalu melangkah pergi.Emeli bergegas pergi dengan setengah berlari ,untuk menghindari Devan.


dengan cepat devan mengejarnya.


Selang beberapa lama.Devan menarik tangan Emeli.


"Aku minta maaf soal yang kemaren,"menatap lekat gadis yang berada di depannya.


"Lepaskan ? teriaknya.


"Tidak, jawab dulu pertanyaan ku?"dengan sorot mata mengancam.


"Papa ardi yang menyuruhmu kan.Baiklah aku akan bilang kalau kau sudah minta maaf.Jadi Jagan menemui ku lagi.


Seperti yang kamu katakan kemaren jadi lepaskan." Emeli meronta-ronta untuk melepaskan cengkraman Devan.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka seorang pria keluar dari mobil.


"Maaf tuan Devan ,saya di disuruh Jhoni untuk menjemput anda,"


"Inikan belum setengah jam kenapa sudah menjemput ku, lalu kemana Jhoni?"


"Dia sudah pergi karena ada urusan mendadak,


kalau anda tidak percaya... silahkan telpon saja tuan."


"Pergilah lepaskan tangan mu." ucap Emeli


Devan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Urusan kita belum selesai,,


lalu membopong emeli dan memasukkannya dalam mobil.


***********


Di dalam mobil yang melaju,mereka masih saja bertengkar.


"Apa yang kau lakukan,aku akan berteriak kau menculik ku.." ucap Emeli


"Teriak saja aku akan bilang kalau kau istriku yang sedang marah."


"Apa mau mu?" tanyanya dengan sorot mata penuh tanya.


"Mau bicara" Jawab Devan dengan wajah datar


"Kenapa tidak langsung bicara saja,kenapa harus membawaku,?"


"Aku tidak suka berbicara di jalanan,"


"dasar kau ya" wajah emeli memerah menahan kesal.


Devan melipat kedua tangan seolah tidak peduli dengan tatapan sinis Emeli.


Emeli mengambil hape dan mengirim pesan ke Saga.


aku bersama Devan sekarang ,dia memaksaku pergi.


"Apa yang kau lakukan ?"


"bukan urusan mu." lalu emeli melihat Jendela. mengabaikan Devan yang menatapnya.


Apa hubungan mu dengan saga?"tanya nya dengan sorot mata tajam.


"Apa itu penting..?" ucapnya ketus Tampa menoleh ke Devan yang menatapnya.


"Aku masih suamimu jaga kata-kata mu"


Dengan intonasi yang meninggi."


"Berapa kali aku bilang.. ini hanya pernikahan sementara jadi jangan anggap serius."


"Kau tahu Laura, siapa yang kau hadapi sekarang... jadi Jagan membuatku marah kalau tidak."


"Kalau tidak apa?"jawabnya menantang.


"Karena kau yang menginginkannya."


Mata mereka saling beradu.. Lalu membuangnya muka ke arah lain.


"Emeli kau harus sabar menghadapinya, ini semua demi Laura,"gumamnya dalam hati.


mereka menghadap jendela mobil dengan lamunan masing-masing.


Emeli mengerutkan kening.Melihat jalanan begitu sepi dan begitu banyak pohon yang rimbun seperti hutan.


"Kita mau ke mana?" tanyanya


"Entahlah" jawab Devan acuh.


"Jagan bercanda ,kau mau membunuhku?"


"Berhenti berbicara omong kosong"


Menatap Emeli dengan sorot mata tajam.


Tiba-tiba HP Devan, berdering...


Devan:"Ada apa..?"


Jhoni : Tuan dimana,


saya cari-cari dari tadi,tapi anda tidak ada."


Deg


Devan mengedarkan pandangannya, dia melihat sekeliling yang terasa asing ,mobil itu seperti berjalan ke tengah hutan.


Tidak ada satupun mobil yang melintas.


"Pantas saja Laura bertanya seperti itu. Sepertinya memang ada yang aneh.


Apalagi gestur sopir itu sangat mencurigakan. Berulang kali dia melirik ku dari kaca spion,


Sial kenapa aku tidak menyadarinya." gumamnya

__ADS_1


Jhoni : halo tuan... anda di mana tuan?"


Devan mematikan ponselnya dan mengirim pesan ke Jhoni,


"sepertinya aku di jebak cepat lacak posisiku dan laporkan pada polisi,"


Devan mencekik leher supir itu.


" Siapa yang menyuruh mu?" tanyanya. Supir itu tersenyum mengejek.


"Anda sudah terlambat."


Sedangkan Emeli yang melihat tingkah Devan melonjak kaget.


"Ada apa Devan?" ujarnya dengan suara setengah berteriak.


"Kita di jebak Laura.."


"Apa..." Tubuh Emeli serasa lemas dia tidak menyangka akan berada di situasi seperti ini. Matanya sudah mengembun tapi sekuat tenaga mencoba untuk menutupi ketakutan nya.


Devan berusaha merebut kemudi mobil.Sopir itupun tak mau kalah...posisi mereka yang saling merebut membuat laju mobil tak terkendali.


Brakk....Mobil menabrak pohon besar hingga mengeluarkan asap.


Sedangkan Saga yang khawatir pada Emeli. Melajukan mobil dengan cepat. Tiba-tiba


melihat Jhoni yang berada di taman tak jauh dari rumah Laura, Dia segera menghampiri, dan langsung mencengkram baju Jhoni.


"Di mana Laura?"tanyanya dengan sorot mata tajam. "Aku jga sedang berusaha mencarinya."ucap Jhoni.


"Apa maksudmu,bukankah Laura bersama dengan Devan?" ujar Saga menyelidik.


"Memang benar, bahkan aku tadi bersama mereka.Tapi tuan Devan menyuruhku pergi dan menjemputnya setengah jam lagi.


ketika aku kembali tuan Devan dan laura sudah menghilang...Lalu.." ucapan Jhoni terhenti.


"Lalu apa?" tanya Saga


"Tuan Devan mengirim pesan, bahwa dia dan nona Laura sedang di jebak."


Saga melepaskan cengkeramannya tubuhnya terasa lemas.Apa yang di takutkan selama ini akhirnya terjadi. Lalu duduk dan memijat pelipisnya.


"Tenanglah.." ucap Jhoni menenangkan.


"Aku sudah menelpon polisi... lebih baik kita pergi ke lokasi yang tuan Devan kirim


sambil menepuk punggung Saga.


Merekapun bergegas pergi melajukan mobil dengan kencang. Ketempat yang di tuju.


Emeli mengerjjabkan mata.


Melihat sekeliling, manik matanya terhenti pada Devan yang sedang pingsan. Lalu menepuk-nepuk pipinya hingga sadar.


"Ayo kita pergi dari sini" , setelah Devan sadar, dan berhasil keluar dari mobil.Mereka bergegas pergi.


"Kening mu terluka?" Ucap Devan menunjuk kening Emeli.


Emeli mengusap keningnya terlihat ada sedikit darah yang menempel di tangan.


Tidak apa-apa ini hanya luka kecil..


Di sini tidak ada sinyal," ujar Emeli sambil menggoyangkan handphone nya.


"Handphone ku jga mati" ujar Devan tampak bingung.


"Kita harus bagaimana?" tanya Emeli dengan raut wajah khawatir.


"Tenanglah ada aku.. kita akan keluar dari sini,"


Tiba-tiba ada sebuah mobil Jeep datang, berhenti di depan mereka.


Ada empat orang pria keluar dari mobil itu.


Satu pria sudah separuh baya dan yang lain masih muda dan berotot kekar layaknya preman.


Devan mengepalkan tangan,dengan sorot mata


penuh amarah.Melihat kedatangan mereka.


"Halo tuan Devan Ardiansyah, yang terhormat"


...****************...


...****************...

__ADS_1


...****************...


terimakasih telah mampir ,semoga kalian suka .


__ADS_2