
"Apa maksud mu, ada yang lebih penting.?"
"Nanti aku jelaskan tapi sebelum aku yakin aku belum bisa memberitahu mu Saga.?"
"Apa kamu tidak percaya padaku?" Lirihnya dengan tatapan nanar.
Melihat Saga yang sedih dengan cepat Emeli memegang tangannya mencoba menyakinkan.
"Bukan begitu saga... aku takut salah menuduh orang, aku mohon kamu mengerti, setelah semuanya jelas, orang pertama yang akan aku beritahu adalah kamu." Saga menjulurkan tangan menepuk lembut tangan Emeli yang bertumpu di tangannya lalu mengangguk tanda mengerti.
"Emeli apa yang kamu maksud orang yang kamu curigai itu, Devan." Tegas Saga membuat Emeli terperanjat lalu menggeleng kan kepalanya dengan yakin.
"Lantas siapa lagi, kalau bukan Devan, Apa iya Diandra.....?" ujar Saga sembari tersenyum geli.
"Memang kenapa kalau Diandra?" tanyanya ketus
"Yang benar saja Emeli, kamu lihat Diandra dia wanita lembut.Dan terlihat begitu penyayang mana mungkin dia menjelma menjadi seorang pembunuh berantai yang berdarah dingin." Saga terus saja tersenyum sembari menggelengkan kepala tak percaya.
"Melihat ekspresi nya jelas kalau aku menuduh Diandra. Saga tidak akan percaya Tampa adanya bukti yang kuat,"
"Kenapa diam?"tanya Saga penasaran, membuat Emeli tersadar dari lamunannya.
"Ah... tidak, tidak apa-apa, Saga aku harus kembali, aku tidak mau Devan melihat mu di sini."
"Memang kenapa kalau dia melihatku?" tanya nya sinis dengan wajah masam.
"Saga tolonglah, kamu tau Devan orang yang nekad, lagi pula aku tidak mau menambah masalah lagi dengan pertengkaran kalian."lirihnya dengan tatapan mengiba.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau," Emeli tersenyum lalu bergegas keluar dari mobil. dengan sigap Saga mencekal lengannya membuat Emeli terperanjat lalu berbalik menatap Saga.
"Siapa sebenarnya orang yang kamu curigai? Emeli menghela nafas panjang sembari memandang wajah Saga dengan serius.
"Aku kan sudah bilang, setelah aku memastikannya baru aku memberitahu mu."
"Tapi Emeli...".
"Saga jagan terlalu khawatir, aku akan baik-baik saja," lalu memegang tangan Saga yang berada di lengannya seraya menunjukan sedikit senyuman.
******
Diandra membuka matanya saat mendengar dengkuran halus yang menandakan sang empunya sudah terlelap dan terbuai dalam mimpi.Diandra mengerakkan tangannya membelai pipi Devan dengan tatapan nanar.
"Devan kamu hanya milikku, tidak ada yang boleh merebut mu dariku....bahkan aku akan melakukan segala cara untuk mempertahankan mu."
__ADS_1
flash on
Diandra menatap tajam Devan yang menyeret Emeli ke kamar dengan marah, lalu menutup pintunya dengan keras hingga suara itu terdengar sangat nyaring.
Diandra menuruni tangga setengah berlari dengan perasaan kesal lalu mendekatkan telinganya ke daun pintu.
Samar-samar terdengar teriakan Emeli dari balik pintu, Diandra mengepalkan tangan dengan dengan tatapan penuh emosi.
"Tidak Devan, kamu tidak boleh menyentuhnya kamu hanya milik ku."
"Aku harus cari cara mencegah devan tapi apa?" ujarnya bingung.
Diandra yang gelisah berjalan ke sana ke mari dengan keringat bercucuran dan debaran jantung yang tak menentu karena di buru waktu.
Dalam kecemasan Diandra yang panik mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, tiba-tiba matanya terhenti pada pisau yang tergelatak di meja dapur.
"Aku harus membunuhnya, Emeli sudah berani menyentuh suamiku . Ujarnya frustasi "
Diandra melangkah sembari menggenggam pisau dengan manik mata penuh amarah bersama tekad yang kian membara untuk membunuh Emeli.
Tiba-tiba langkah Diandra berhenti mengerutkan kening mencoba berpikir keras.
Kalau aku membunuhnya Devan pasti akan membenciku, tidak.... aku tidak mau Devan membenciku, aku harus cari cara lain tapi apa.
Diandra berbalik arah menuju dapur, mencari barang untuk melancarkan rencananya,Diandra menjulurkan tangan mengambil sebuah mangkok di rak memakai tangan kirinya.
"Ini demi kamu, apapun akan aku lalukan Devan," ujarnya dengan tatapan tajam
Diandra mengangkat tangan kanannya yang memegang pisau, lalu menggoreskan pisau itu ke tangan kirinya. Hingga darah segar menetes di lantai lalu meletakkan pisau itu di atas meja dengan noda darah yang masih tertinggal.
Diandra berjalan mendekati tangga lalu memecahkan mangkok itu hingga berkeping-keping, lalu berteriak-teriak sembari menatap pintu kamar Emeli dengan tangan mengucurkan darah.
Diandra menghela nafas kesal menatap Devan tak kunjung datang. Dia berteriak lebih keras lalu merebahkan tubuhnya di samping serpihan sedangkan tangan yang berdarah dia letakan di tengah serpihan beling yang berserakan.
"Diandra..." suara Devan terdengar bersama langkah kaki yang kian mendekat.
Dengan sigap Devan menggendongnya ingin membawa nya ke rumah sakit, tidak lama mobil Devan berhenti di sebuah rumah sakit
dengan tergopoh-gopoh Devan keluar dari sembari mengendong Diandra dengan bertelanjang dada
Membuat banyak pasang mata yang di lintasi Devan menatapnya seksama.
"Tolong... tolong istri saya Dok dia pingsan tangannya terus mengeluarkan darah, mungkin terkena serpihan beling" ucapnya khawatir.
__ADS_1
"Baiklah masukan ke ruangan saya,"dokter memeriksa Diandra lalu menggelengkan kepala heran.
"Tidak ada yang harus di kahawatir kan lukanya tidak terlalu dalam sebaiknya anda pergi keluar saya akan memeriksa istri anda tuan" saat menyadari Devan tidak memakai baju dokter itu memanggil nya lagi.
"Tunggu tuan" membuat Devan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap dokter.
"Ada apa dok...? tanpa menjawab dokter mengambil baju dalam loker lalu memberikannya pada Devan.
"Sebaiknya anda pakai saja baju ini , mengenai istri anda dia akan baik-baik saja" ujarnya dengan sopan.
"Terima kasih dok," devan bergegas keluar ruangan dan menunggu hasil pemeriksaan dengan cemas.
Saat memeriksa Diandra dokter ini mengerutkan kening dengan raut wajah bingung, Dokter itu melipat kedua tangannya menatap Diandra yang terbaring di ranjang dengan tajam.
"Anda boleh bangun, suami anda tidak di sini"
Diandra terperanjat lalu membuka matanya dengan gugup.
"Kenapa anda lakukan ini... anda tau betapa khawatir nya suami Anda, bahkan dia tidak memakai baju dan Tampa alas kaki berlarian mengendong anda ke sini." tanyanya dengan intonasi tinggi.
"Apa maksud dokter?" ujarnya Diandra mendongakkan wajah menatap dokter itu yang terlihat marah.
"Saya ini seorang dokter, kenapa kamu menipu suami mu sendiri, jelas sekali di tangan kamu bukan luka karna serpihan beling.
itu sebuah sayatan dari benda tajam yang mungkin kamu sendiri sengaja menggoresnya.
beri saya penjelasan yang masuk akal.
kalau tidak saya akan mengatakan kebenarannya pada suami mu." Ancamnya.
Sejenak Diandra tertunduk dia bingung harus berbuat apa dengan cepat Diandra menangis lalu menagapai tangan dokter itu.
"Tolong Dok Jagan lakukan itu, saya mempunyai alasan untuk melakukan ini" Elaknya.
"Baiklah jelaskan" tegasnya lalu menghempaskan tangan Diandra dengan sorot mata penasaran.
" Awalnya suamiku sangat mencintaiku Dok, sampai ada seorang wanita penggoda yang menggodanya." Diandra menghela nafas lalu tertunduk lesu.
"Hiks hiks hiks..."
Sekarang sikapnya berubah, dia tidak perduli lagi padaku, dan lebih mementingkan selingkuhannya, kecuali kalau aku jatuh sakit baru dia mau memperhatikanku. Ujarnya sesenggukan.
"Katakan Dok... apa salah ku, sebagai seorang istri aku ingin di perhatikan." Lirihnya dengan air mata yang terus berlinang,tangisan Diandra terdengar sangat memilukan membuat dokter itu tersentuh,
__ADS_1
"Baiklah apa yang bisa saya bantu?"
"Begini Dok, saya minta tolong ......"