Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
awas kau ya


__ADS_3

"Dasar perempuan murahan, masih saja berkilah" mendorong tubuh emeli, ingin melayangkan tamparan, namun dengan sigap tangan kekar lelaki menangkap tangan Mauren,


"Berani sekali kau,mengangkat tangan pada istriku." ucap Devan lalu menghempaskan ya.


Maureen tertegun dengan mulut menganga menatap lelaki yang begitu tampan di depannya.


Devan berbalik, menghadap emeli kedua tangannya memegang bahu emeli, menelisik setiap inci dari tubuh gadis di depannya.


bagaimana keadaan mu, apa ada yang luka dengan sorot mata khawatir?"


"Tidak aku tidak apa-apa,"dengan senyum kikuk


Devan langsung memeluk emeli "syukurlah kau tau betapa khawatir nya aku,


bisa tidak Jagan buat aku cemas." emeli hanya diam mematung terpaku dengan tindakan Devan yang tiba-tiba.


"Yasudah kita pulang" Devan melepaskan pelukan lalu menggandeng tangan emeli,


namun, Fandi mencengkram tangan emeli yang lain."Jagan pergi..." lirihnya.


"Kurang ajar..."


Tampa aba-aba Devan melayangkan pukulan keras ke wajah Fandi sampai dia tersungkur dengan mulut sedikit berdarah.


Emeli yang terkejut dengan tindakan Devan langsung menahan tubuh Devan untuk tidak memukulnya lagi, "Devan sudah aku mohon."


dengan wajah panik.


sedangkan Mauren langsung menghampiri Fandi yang terkapar.


"Tapi aku tidak rela tangannya, menyentuh mu."


"Iya aku mengerti, ini tidak akan terjadi lagi."


dengan sorot mata meyakinkan.


"Dengar jika sekali lagi kalian menganggu istriku, aku Devan Ardiansyah, akan membuat kalian menyesal, telah lahir di dunia ini camkan itu."Menunjuk Fandi dan Maureen dengan tatapan mengancam.


Devan menarik emeli pergi, sesampainya di mobil Jhoni yang sedari tadi menunggu langsung membuka kan pintu mobil,Devan dan emeli bergegas masuk,


"Kenapa kamu terus membelanya,sampai, bertengkar di jalan hanya memperebutkan lelaki itu?" menatap emeli dengan geram


"Aku tidak memperebutkannya, apalagi membelanya, sikapmu saja yang keterlaluan memukul orang seenaknya."


"Hah, kamu bilang keterlaluan... dia bahkan berani menyentuhmu, di depanku, bahkan pukulan tadi terlalu ringan, jika saja kamu tidak mencegah ku, mungkin aku patahkan kaki dan tangan."


"Apa matamu masih normal, atau aku harus membawamu ke dokter mata, agar kamu bisa melihat dengan jelas,bahwa suamimu ini lebih sempurna di banding pria jelek yang kamu perebutkan tadi."


"Aku heran kenapa kamu bisa semarah ini?"


"Tentu saja aku marah istriku, lebih dekat dengan lelaki lain,kemarin saga dan sekarang pria jelek itu,sebagai istri apa kmu tidak punya harga diri hah?" dengan intonasi membentak.


"Kamu pikir aku sehina itu?"


"Siapa, yang tidak berfikir seperti itu dengan semua yang aku lihat."


"Kamu keterlaluan Devan, dengan mata mulai mengembun lalu melengos menghadap jendela. sembari menyeka air matanya.


"Sial..." Devan yang merasa kesal membanting tangannya dengan kasar.


Cukup lama perjalanan itu, begitu hening, di sepanjang jalan Devan merasa bersalah sesekali melirik emeli yang menangis.


"Aku minta maaf, tadi aku terbawa emosi,

__ADS_1


hei... dengar tidak, aku minta maaf?"


"Untuk apa minta maaf, kalau nanti kau mengulangi nya lagi?" mendongkakan wajah menatap devan.


"Aku janji, aku tidak akan menyakitimu lagi, asal kau mau, berjanji padaku?"


"Janji pa?"ujar Emeli


"Jagan terlalu dekat, dengan pria lain apa lagi Saga." memasang wajah serius


"Kau ini kenapa... seperti orang cemburu saja?" "Aku tidak mungkin cemburu pada gadis seperti mu, aku hanya kesal... coba kau pikir, kalau orang lain tau, istri Devan Ardiansyah dekat dengan pria lain bagai mana reputasi ku.?"


Emeli mengigit bibirnya seraya berfikir, "apa yang di katakan, cukup masuk akal."


gumamnya.


"Baiklah aku berjanji, tapi Jagan menggertak ku, apalagi menakuti ku seperti semalam.?"


"Ok aku janji, tapi jika suatu saat kamu yang menginginkanku aku bisa apa?"


"Hah... itu tidak mungkin,"


"Benarkah..."dengan seringai menggoda.


"Jagan menatapku seperti itu,kau membuatku ngeri."


"Hahahaha" Devan tertawa lepas


Devan mendekatkan wajahnya. "hei.. kau mau apa, Jagan macam-macam?" emeli memundurkan tubuhnya.


"Mau apa... lihat dirimu begitu berantakan."


membenarkan rambut emeli.


"Aku bisa sendiri, aku bukan anak kecil."


"Hah... yang benar saja,"


emeli bergidik ngeri.


Devan mengambil gawainya, mengirim pesan pada Jhoni.


emeli merasa perjalanannya begitu lama, lalu menatap jam ditangan.


"lni hampir dua jam, kenapa belum juga sampai?" dengan wajah kesal.


"Siapa bilang, kita mau pulang?"


saut Devan dengan wajah datar.


"Maksudmu mu?" tanya emeli penasaran.


"Sebentar lagi kamu jga tahu."


mobil itu berhenti di pinggir pantai, dengan pasir putih yang indah.


"Kenapa kita ke sini?"


"Aku ingin menghibur diri," melipat kemeja yang di kenakan, mulai keluar, tentu saja dengan kaki telanjang, Devan membungkukkan bahunya menatap emeli yang mematung.


"Ayo turun... ngapain disitu?"


"Lo kok jadi ke sini?" belum selesai keheranan emeli devan menjulurkan tangan.

__ADS_1


"Nanti kalau tidak aku turuti, dia akan bertidak nekat, lebih baik ikuti saja.


emeli membalas tangan Devan.


Mereka keluar bergandengan, "lepaskan... aku bisa jalan sendiri." "diamlah, kalau kau terus menolak Jagan salahkan aku, jika mencium mu di depan Jhoni."


"dasar manusia mesum?"


"hahaha" Devan tertawa renyah.


Devan dan emeli berjalan menyusuri pantai, tangan saling bergandengan "bukankah sangat indah" menunjuk matahari yang terbenam


" Iya benar.... sembari tersenyum" namun tatapan Devan berbalik ke emeli.


"Cantik.."


" Siapa yang cantik.?" dengan tatapan menyelidik.


"Matahari... kamu pikir siapa?" menarik pipi emeli.


"aAwwww sakit..." gadis itu mengusap pipinya dengan wajah masam.


"biar saja biar pikiranmu, tidak mesum?"


"jaga bicaramu, aku tidak punya pemikiran seperti itu," dengan wajah kesal.


"Oh benarkah, bagiku kamu gadis mesum." kembali menarik pipi emeli.


" Sakit, tarik ucapan mu itu, Devan?" ujar emeli dengan nada berteriak.


"Tidak akan" menjulurkan lidahnya mengejek emeli,"


"Kau ini...." hendak memukul Devan, tapi Devan berlari.


" Coba saja tangkap aku, gadis mesum"


"Devan ... awas kau ya?" merekapun berlarian layaknya anak kecil Devan yang begitu bahagia sedang emeli sangat kesal.


Jhoni menggelengkan kepala sambil menyenderkan tubuhnya di badan mobil "baru kali ini tuan sebahagia itu,


sifat angkuh dan sombong yang


begitu dia jaga seolah menghilang di hadapan nona Laura" Jhoni menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


******


Di sebuah restoran tepi pantai emeli dan Devan makan bersama.


"aku kenyang sekali" di sini makanannya enak" sembari menunjukkan kedua jempolnya, Devan hanya tersenyum.


"Kenapa makanan mu masih banyak?"


"Kenapa kamu mau,sini aku suapin"


menjulurkan makanan ke mulut emeli.


"Tidak itu bekas mu"sambil melambai-lambaikan tangan dengan wajah jijik.


"Ayo tidak papa bekas suami sendiri " Devan terus meledek sembari tersenyum.


"Gak lucu tahu" dengan mata melotot dan bibir mengerucut.


hahahaha tawa Devan menggema. "kau lucu sekali" sembari mengacak-acak rambut emeli.

__ADS_1


"Ayo kita pulang aku capek" ucap emeli dengan wajah letih.


"Kata siapa kita akan pulang ,kita akan menginap di sini."


__ADS_2