
"Aku harus bagaimana laura agar kamu mencintaiku lagi" lirihnya. Dengan air mata yang telah lolos dari pelupuk matanya.
Emeli melangkah dengan cepat lalu masuk ke kamar mengunci pintu dan menghempaskan. tubuhnya di ranjang, Dia mengambil bantal dan lalu menutupi kepalanya yang telungkup sembari menangis.gedoran pintu dan teriakan Devan tidak di hiraukan.
Di luar Devan terus saja menggedor pintu meski tidak ada sautan.
"Laura buka pintunya... kita harus bicara" Laura teriak Devan dengan penuh amarah.
Dia memutar-mutar gagang pintu namun tetap terkunci.
"Bibi....bibi...." teriaknya penuh emosi. seorang pembantu separuh baya, datang menghampiri dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa tuan ," tanyanya dengan raut wajah takut.
"Mana kunci cadang kamar ini."tannya nya, sembari menjulurkan tangan meminta.
Namun wanita paruh baya itu diam dengan gugup, terlihat jelas guratan ketakutan di wajahnya.
"Kenapa diam cepat ambil," teriak Devan penuh amarah.
"Ma...af maaf den," jawabnya terbata-bata karena gugup,sembari meremas dasternya.
"Ada apa lagi?"mendongakkan wajahnya menatap bik Imah yang terlihat gelisah dengan sorot mata tajam.
"Kemaren nona Laura bilang, kunci kamar nya hilang dia meminta kunci cadangannya den."
"jadi kamu berikan?"tanyanya lagi.
"iya den" jawabnya takut-takut.
"Kamu.... "teriaknya sembari mengacungkan tangan, lalu mergertakkan giginya dengan sorot mata penuh amarah, menatap Imah.
Melihat Imah yang gemetaran , Devan memutar matanya malas sembari menghela nafas panjang.
"Pergilah sebelum aku kehilangan kendali" lirihnya. Wanita paruh baya itu mendongakkan wajahnya menatap Devan yang sedari tadi tertunduk. Lalu buru-buru pergi.
Devan berbalik menghadap pintu menggedor pintu kembali.
"Tok tok tok... Laura kita bisa bicara baik-baik Jagan begini aku mohon. Aku tau aku salah tolong beri aku kesempatan."
Namun tetap saja tidak ada jawaban.
Devan menghela nafas latih, mengusab wajahnya dengan kasar lalu menyenderkan tubuhnya di samping pintu sembari memejamkan mata.
*****
Sementara di tempat lain Fandi yang berada di Basemen duduk termenung dengan wajah lebamnya berpikir keras untuk melepaskan Emeli dari cengkeraman Devan.
Tiba-tiba tepukan halus di punggungnya membuatnya mendongakkan wajahnya ke belakang menatap pria tampan yang berdiri di sampingnya.
"Anda." ucapnya dengan tatapan terkejut.
"Boleh aku bicara"ucap Saga datar.
__ADS_1
"Silahkan.." jawab Fandi sembari menggeser sedikit tubuhnya memberi ruang untuk orang itu duduk di sebelahnya.Lelaki itu menarik nafas letih, Sebelum memulai pembicaraan yang terlihat serius.
"Seberapa kenal anda dengan Emelia Anandita ?" tanyanya dengan mata menyelidik menatap netra Fandi yang terlihat heran.
"kamu...?" Fandi mengacungkan tangannya ke tubuh Saga mencoba mengingat wajah pria di depannya.
"Aku Saga teman Emeli, dan aku juga yang membuatnya terjerumus ke dalam masalah ini," ujarnya todopoint dengan tatapan sendu.
"Aku tidak menyangka keputusanku, membuatnya nyawanya terancam."
Saga menundukkan wajah mengusab kasar rambutnya dengan sorot mata penuh penyesalan.Fandi membelalakan mata mendengar penyataan Saga.
"Benar karna kamu, Emeli ku dalam bahaya."
Jawab Fandi dengan sorot mata tajam penuh amarah menatap Saga
"Justru itu, aku menyesal aku tidak mau ada korban lain karna ke keegoisan ku. Saga mendongakkan wajahnya menatap Fandi dengan raut wajah tidak terbaca.
"Apa maksud anda?" tanya Fandi menyelidik.
"Bawa dia pergi.... pergi sejauh mungkin yang kamu bisa. Aku lihat dia masih mencintaimu, aku percaya kamu akan membuatnya bahagia. kali ini tolong bantulah aku." Saga memegang tangan Fandi dengan tatapan mengiba.
Fandi melepaskan tangan Saga lalu berdiri menjauh.Terlihat jelas Fandi sedang kebingungan.
"Kamu tau siapa yang mengikat Emeli bukan orang biasa, Dia Devan Ardiansyah memiliki kekuatan dan kekuasaan, apalagi melihat Kemarahannya tadi. Aku tidak yakin bisa membawanya pergi."ucapnya penuh penekanan.
"Itu semua benar, tapi aku jg punya kekuasaan semua urusan Devan aku yang akan menanggungnya. Kamu hanya fokus saja membawa Emeli pergi, aku akan mengatur secepatnya keberangkatan kalian keluar negeri ."
"Kenapa kamu lakukan semua itu," tanyanya lagi.
Saga tertunduk lesu sebenarnya sangat berat untuk membuat keputusan ini tapi dia sadar ini semua untuk kebaikan Emeli.
"Aku merasa bersalah telah melibatkan nya dalam masalahku, bukan cuma sekali nyawanya terancam.Aku mohon bawa dia pergi."
Fandi menghela nafas lalu mengangguk.
"Bolehkan aku bertanya sesuatu" tanya Saga menyelidik.
"Apa..?" tanya Fandi.
"Bagaimana kamu tau, kalau minuman Emeli di racuni, bahkan kmu tidak ada di sana saat kejadian"
Aku mendengar seseorang pria berbicara ingin menghabisi gadis yang mengaku sebagai Laura Wijaya jadi aku sadar kalau itu Emeli."ungkapnya.
saga mengerutkan kening mendengar penyataan Fandi
Kenapa pria, bahkan aku ingat betul seorang wanita yang memberi minuman itu ke Emeli.
"Itu tidak mungkin aku mendengar sendiri pria itu bicara, tunggu dia bilang polisipun tidak akan bisa melacaknya."
Tiba-tiba Fandi bangkit dan berjalan menuju tempat sampah di ikuti Devan di belakangnya. Dia mengambil kantong plastik berwarna hitam
"Ada apa Fandi?" tanya Saga heran dengan sikapnya.
__ADS_1
"Aku melihatnya membuang ini siapa tau ini sebuah petunjuk" ucap Fandi menyakinkan.
Buru-buru dia membuka mereka tertegun melihat yang berada di dalamnya.
"Pantas saja dia benar-benar pintar" ucap saga sembari mengepalkan tangan penuh emosi.
"Dia mengubah dirinya menjadi seorang wanita dengan wik dan baju ini. Aku yakin dia akan kembali untuk mencelakakan Emeli."
"Iya kamu benar, dia sangat licik pasti dia akan kembali sebelum berhasil mencelakai Emeli."ucap Fandi tampak khawatir.
" Aku akan cepat mengurus semuanya agar Emeli cepat pergi dari sini." ujar saga
Fandi mengangguk tanda setuju.
*******
Devan sedari tadi yang gelisah mondar-mandir di depan pintu.Tiba-tiba melihat diandra datang. Melangkah masuk dengan wajah kesal. Tampa menyapa nya menuju kamar atas.
Devan menghela nafas menyadari kemarahan Diandra.
pyyyyyyarrrrrr pyyyyyyarrrrrr
terdengar suara gaduh dari kamar atas. Devan terkejut lalu berlari mendekat matanya terbelalak menatap kamar yang berantakan.
Dan melihat Diandra histeris membuang semua barang ke segala arah.
"Ada apa ini Diandra." tanya Devan yang terlihat terkejut. Namun Diandra tidak menghiraukan pertanyaan Devan, dia tetap melempar semua barang dengan emosi.
Dengan cepat Devan merengkuh lengan Diandra menatapnya penuh amarah.
"Ada apa lagi Diandra tolong Jagan buat aku tambah pusing" teriaknya penuh emosi.
"Kamu bilang ada apa, setelah meninggalkanku dia sana dan mengakui Laura istrimu di depan banyak orang hah." Jawabnya penuh amarah.
menghepas tangan Devan dengan kasar lalu melangkah menjauh,sembari menghapus air matanya yang jatuh.
"Maafkan aku Diandra aku telah menyakitimu aku tadi terlalu marah aku tidak bisa mengontrol emosiku." Devan menyentuh bahu Diandra mencoba menenangkan.
Diandra berbalik menatap Devan dengan sorot mata penuh amarah
"Aku kurang apa Devan, semua aku lakukan untuk menyenangkan mu tapi apa yang kau lakukan?"
"Diandra maafkan aku, aku.." jawabnya lirih
"Cukup Devan kamu keterlaluan, kamu lupa kesalahan yang pernah kamu lakukan padaku.?" teriaknya sembari terisak. Devan mendekat merangkul tubuh Diandra dari belakang,mencoba menenangkan.
"Aku ingat Diandra aku coba untuk membalasnya dengan melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk mu, aku sudah berusaha Diandra percayalah padaku."
"Baiklah kalau begitu tinggalkan saja Laura biarkan dia hidup dengan kekasihnya." Devan melepaskan pelukannya dia terkejut dengan permintaan Diandra.
"Cukup Diandra kamu boleh meminta apa saja kecuali itu." jawab Devan penuh ketegasan sembari membuang wajahnya ke arah lain
Diandra mendekat lalu mencengkram baju Devan,dengan sorot mata penuh amarah.
__ADS_1
Kenapa tidak Devan?"
"Aku...