
Diandra berjalan menuju kamar, melewati Devan yang duduk termenung di depan pintu kamar Emeli.
"Bruk....bruk...bruk..."terdengar kegaduhan dari lantai atas, Devan mendogakkan wajahnya mendengar kegaduhan itu, lalu bangkit sedikit berlari menaiki tangga.
Devan buru-buru berlari menatap pintu kamarnya sedikit terbuka, dia berhenti di depan pintu dengan nafas tersengal, matanya tertegun menatap kamarnya berantakan.
Pandangannya teralih pada Diandra yang berdiri menatap pergelangan tangannya, dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Dengan satu tangan yang lain memegang silet.
"Kalau kamu tidak menginginkan ku lagi, untuk apa aku hidup Devan." Ucap Diandra.
Diandra yang cemburu merasakan sakit hati yang luar biasa, saat lelaki yang di cintanya ,mencintai orang lain. Tampa berpikir lagi dia mengayunkan tangannya untuk mengakhiri penderitaan nya.
Dengan cepat, Devan mengengam silet yang
di pegang Diandra berniat memotong pergelangannya. Darah segar mengucurkan di sela jari-jari Devan, menatap istrinya nanar, lalu menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca.
"Devan....." Lirihnya Diandra yang terkejut melepaskan silet itu, menangis terisak lalu mendorong tubuh Devan hingga terjungkal.
"Pergi tinggalkan aku..., aku mau mati saja, kamu sudah tidak menginginkan ku." Teriaknya histeris.Devan mendekat lalu menarik tubuh rapuh Diandra dalam dekapannya.
"Lepaskan....Devan, lepaskan aku, aku ingin mati saja, kamu tidak mencintaiku lagi." Dengan sisa tenaga Diandra memukul-mukul dada Devan, terisak, sedangkan Devan mengeratkan pelukannya bingung harus berbuat apa.
Devan hidup diantara dua hati yang harus di jaga, Diandra yang rapuh sangat membutuhkan nya, sedangkan Emeli adalah wanita yang benar-benar yang inginkan hatinya.
Dia seperti terjebak di gulungan benang yang sudah kusut. Sulit untuk menguraikan, sulit untuk di lepaskan.
"Jagan lakukan itu Diandra, aku tidak tau harus berbuat apa, jika terjadi hal buruk padamu." Lirihnya, kedua tangannya terjulur memegang pipi Diandra dengan sorot mata meyakinkan.
"Diandra maafkan aku, aku berjanji mulai sekarang akan mengutamakan mu, tidak akan aku lakukan lagi, hal yang membuatmu terluka, aku janji... kamu mau kan.?" tanya Devan dengan sorot mata memohon.
Diandra mengangguk lalu memeluk Devan lagi,Devan mengusab kepala Diandra dengan lembut,
"Maafkan aku Laura, keputusan ini ku ambil karna kondisi diandra yang rapuh. meski sebenarnya ini sangat berat bagiku."
*****
Emeli menyenderkan kepalanya di pintu dengan tangan mengepal.
kenapa jadi begini...., aku seperti wanita murahan yang terbuai dengan ciuman Devan, tangannya mengepal memukul-mukul keningnya, merasa bingung.
"Aku harus apa, aku telah lupa dengan misiku sendiri, dia tertunduk dengan tatapan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Tidak emeli kamu harus membuat rencana yang matang , setelah melihat reaksi Diandra aku yakin dialah orang nya.
Lalu bagaimana dengan Devan, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku seperti tadi...,
aku harus bagaimana, Dia melangkah ke sana ke mari berpikir keras.
"Sebaiknya aku pergi dari sini, sampai aku memiliki rencana untuk membongkar kebusukannya Diandra."
Emeli bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya setelah nya, mengepak beberapa baju dalam ransel, lalu bergegas pergi.
Saat keluar dari pintu, suasana begitu hening tidak terlihat batang hidung Diandra maupun Devan, Emeli menghela nafas, mengerakkan kakinya melangkah keluar rumah.
"Nona anda mau kemana?' tanya sekuriti yang berada dalam pos jaga,
"Saya mau keluar sebentar, mau mengantar barang ini, ke teman."jawabnya menunjuk tas ransel berwarna biru muda yang menempel di punggung Emeli.securiti mengerutkan kening mencoba berpikir keras.
"Benar kemaren nona hanya pergi sebentar lalu balik lagi"
"Baiklah nona hanya sebentar saja, lagi pula ini sudah jam sebelas malam."ujar satpam dengan sopan, lalu membuka pintu gerbang.
" Terima kasih pak." jawab Emeli lalu bergegas pergi dengan gelisah.
Emeli bisa bernafas lega, karna alasannya bisa di terima sekuriti Tampa curiga. Setelah cukup jauh Emeli berhenti di jalan yang terlihat sepi.
"Aku harus menghubungi Saga untuk menjemput ku," Emeli merogoh saku celana di depan, di belakang, matanya terbelalak mengingat handphone nya tertinggal di kamar.
"Astaga aku melupakannya, aku harus bagaimana, tidak mungkin aku balik lagi."
Emeli menggaruk lehernya frustasi menatap sepanjang jalan yang terlihat lengang dengan angin yang berhembus kencang.
Emeli mengusab kedua lengannya yang mulai meremang karna kedinginan, dia berharap ada mobil yang melintas hanya sekedar memberi tumpangan sampai di jalan besar.
Tiba-tiba sebuah mobil Avanza berhenti, Emeli tertegun menatap seseorang yang keluar dari mobil.
"Kamu....? ucapnya, Emeli menganga tak percaya dengan tangan menunjuk. orang itu tersenyum lalu dengan cepat membungkam mulut Emeli dengan sapu tangan yang di beri obat bius.
Emeli sempat melawan meronta-ronta ingin di lepaskan, namun pandangan mulai kabur, sekujur tubuhnya serasa lemas lalu tangan nya terjatuh lemas dan pingsang.
Orang itu tersenyum, lalu menyeret tubuh Emeli ke dalam mobi, lampu mobil menyala, melaju dengan kencang memecah kesunyian malam dengan sebuah tanda tanya.
*****
__ADS_1
Saga yang berbaring di ranjang sangat sulit memejamkan matanya, dia sagat gelisah setelah berkali-kali menelpon Emeli tapi tidak ada jawaban.
Perasaan khawatir dan takut bercampur jadi satu seakan menyuruhnya untuk menemui Emeli, Saga bangkit dari tidurnya menatap jam di dinding menunjukkan pukul 03:00. Menghela nafas letih ,lalu memijat pelipisnya frustasi.
"Kenapa perasaan ku tidak enak saat memikirkan Emeli, semoga kamu baik-baik saja di sana."
****
Dert... dert... dert... dering handphone Devan berbunyi, Devan yang masih tertidur pulas di bawah selimut yang lembut seakan terbuai dan enggan terjaga.
Tapi ponsel itu terus berdering, membuat tidur Devan terusik, dia menjulurkan tangan
meraba- raba mencari ponselnya yang tergeletak di atas laci dengan mata terpejam.
"Halo....." ucap Devan,saat handphone itu sudah di tangannya.
"diTuan anda dimana.. rapat akan di mulai setengah jam lagi." tanya Jhoni dari sebrang, yang terdengar khawatir.
"Apa..." seketika Devan bangkit menatap jam sudah jam 09:00 pagi, dia bergegas ke kamar mandi untuk bersiap setelahnya Devan keluar kamar.
Setengah berlari pandangannya teralih pada bik Imah yang sedang mencuci piring.
"kapan datang bik tanya Devan,?" dengan tangan mengambil roti lalu mengolesi selai dengan cepat.
"Tadi pagi Den" jawab nya sopan.
Diandra kemana bik,?" tanyanya lagi datar.
"Sudah berangkat, tadi pagi Den."
"Kalau Laura kemana, apa dia sudah sarapan." Devan bertanya sembari mengunyah roti di tangannya.
"Saya belum melihat nona, dari tadi Den... apa perlu saya bangunkan,?" Devan mengerutkan keningnya mendengar ucapan bik Imah.
"Apa perlu saya bangunkan Den.?"Tanyanya lagi ke Devan yang sedang termenung.
"Ah tidak usah bik, mungkin dia sedang tidak ingin keluar, dan antar kan saja, makanan ke kamarnya.
Setelah puas mendengar jawaban bik imah, Devan bergegas pergi namun langkahnya Terhenti, mengerutkan kening lalu berbalik ke kamar Emeli.
"Tok...tok ..tok sayang....?"
__ADS_1