
Papa... kapan datang.
Ucap Emeli sembari memicingkan mata menatap mertuanya membawa bubur di tangannya.
"Barusan sayang..." lalu melangkah masuk dan menaruh bubur itu, di atas laci sebelah ranjang.
Emeli tampak ragu, hanya diam mematung di depan pintu.
"Kenapa diam sayang sini...duduk."
Ardi menepuk kasur di depannya sembari tersenyum.Emeli menghampiri Ardi lalu duduk di depannya dengan rasa gugup.
"Katanya kamu belum makan dari semalem," Ardi mengambil mangkok lalu menjulurkan sendok berisi bubur itu ke mulut Emeli.
"Aak..." sembari membuka mulutnya sendiri seperti menyuapi bocah.
Emeli tersentuh dengan sikap hangat mertuanya, lalu memakan bubur itu setelah beberapa suapan dia memegangi tangan mertuanya yang masih memegang sendok untuk menyuapinya.
"Pa aku kenyang."Ucapnya terdengar manja.
"Baru beberapa suap sayang, ayo makan lagi" ucap Ardi dengan tatapan hangat.
namun Emeli menggelengkan kepalanya.
Ardi tersenyum Lalu menaruh bubur itu di atas laci.
"Apa... papa tidak marah padaku karna kejadian semalem," tanya Emeli tampak ragu. karena pertanyaan itu suasana menjadi serius.
Ardi mendongkakan wajahnya menatap wajah Emeli yang nampak serius, Dia tersenyum lalu memegang punggung tangan Emeli dengan tatapan tak terbaca.
"Untuk apa papa marah, seharusnya papa minta maaf padamu," jawabnya lesu.
"Maksud papa apa, jelas-jelas aku yang salah, telah mencoreng nama baik papa.
"Sayang semua ini tidak akan terjadi, jika papa tidak memaksamu untuk bersama Devan."
Ardi menghela nafas panjang dengan wajah tertunduk.
"Aku kira dengan kalian bersama, akan membuat kalian bahagia. tapi aku salah."
Ardi menatap Emeli dengan mata berkaca-kaca.Lalu menjulurkan tangan menyentuh pipinya.
"Percayalah nak andai papa tau kamu mencintai orang lain.Papa tidak akan memaksa mu..., maafkan papa nak, lirihnya dengan tatapan penuh penyesalan.
"Ini semua bukan salah papa, Laura juga salah pa, tidak seharusnya Laura memiliki perasaan terhadap orang lain. Karna bagaimanapun Laura istri devan.
"Emeli memegang tangan Ardi menatapnya dengan manik mata serius. Kalau papa mau Laura bersama Devan. Laura akan belajar menerimanya pa, Laura janji." Ucapnya penuh penegasan.
"Tidak Laura kamu berhak bahagia dengan pilihan mu, aku lihat dia lelaki yang tulus padamu.Aku akan bicara pada Devan,kali ini papa akan mengambil keputusan yang terbaik untuk mu dan Devan."
"Tapi satu permintaan papa nak, meski suatu saat Laura bukan lagi menantu di sini, Laura tetap jadi Putri papa kan?" Tanyanya Dengan wajah sedih.Melihat ekspresi Ardi Emeli langsung memeluk mertuanya dengan rasa haru.
__ADS_1
"Iya pa... , sampai kapan pun Laura akan selalu jadi putri papa."jawabnya penuh penegasan.
"Terimakasih nak papa hanya ingin yang terbaik untuk mu dan Devan." Lirihnya sembari mengusap lembut rambut Emeli
******"
Di kantor Devan yang tengah sibuk dengan berkas-berkas nya matanya teralih ketika mendengar langkah yang kian mendekat.
Devan mengerenyitkan kening melihat papanya datang, lalu menutup berkas di tangannya.
"Ada pa tumben ke sini?" tanyanya heran.
"Ada yang ingin papa bicarakan dengan mu."
Lalu duduk di kursi, di depan Devan yang di pisahkan dengan meja.
"Apa tentang semalem...., itu semua salah paham, lelaki itu bukan kekasih Laura, dia hanya.."
"Papa sudah tau semuanya..." Ardi menyeka sebelum ucapan Devan selesai.
"Maksud papa apa?" Tanya Devan dengan sorot mata menyelidik.
"Papa sudah memikirkan cara yang terbaik untuk hubungan mu dan laura." Ucapnya tegas sembari memandang tajam putranya.
"Tolong di perjelas aku tidak mengerti pa," tanyanya lagi.
"Ceraikan Laura dan sebagai gantinya aku akan menerima Diandra jadi menantuku. Kamu bisa mengumumkan pernikahan kalian setelah Kamu menceraikan Laura."Ujar Ardi berusaha bersikap tenang ditengah kekalutan di depan putranya.
Devan bangkit dengan tatapan penuh amarah dia tidak menyangka papanya akan menyarankan itu.
"Duduk kita bicarakan baik-baik Devan." ujarnya dengan intonasi meninggi.Devan menghela nafas kesal lalu duduk kembali.
"Maaf pa... keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan pernah menceraikan Laura, karna..., ucapannya terhenti sembari berfikir keras.
"Karna kamu mencintainya" tanyanya menyelidik.
"Kalau papa tau kenapa papa menyuruhku menceraikannya" Jawabnya geram.
"Karna kamu sudah memiliki Diandra, lagi pula Laura tidak mencintaimu, dia sudah mencintai orang lain. Papa tidak ingin kalian terikat dengan hubungan yang membuat kalian menderita.Lepaskan Laura devan...,
dia berhak bahagia dengan pilihannya sendiri.
"Tidak pa sampai kapanpun aku tidak bisa melepasnya." Jawabnya penuh penegasan dengan sorot mata tajam, Devan bangkit dan melangkah menjauh.
"Kenapa devan, Kamu sudah memiliki Diandra biarkan laura memilih sendiri jalan hidupnya," Ardi bangkit lalu menepuk pundak putranya.
"Aku mohon mengertilah Devan.lirihnya melihat kemarahan putranya.Devan berbalik menatap serius wajah menua Ardi di depannya.
"Pa perasaan ku dengan Laura dan Diandra berbeda, bahkan aku tidak bisa membayangkan kalau aku berpisah dengannya pa.?" Ardi mengerenyitkan dahi mencoba berfikir dengan peryataannya putranya.
"Apa maksudmu devan?"tanyanya menyelidik.
__ADS_1
"Papa dulu bilang, aku hanya terobsesi pada Diandra, dan sekarang aku sadar hanya Laura yang benar-benar aku cintai,aku tekankan sekali lagi pa.., aku tidak bisa melepasnya."
"Tapi Devan...?"
"Cukup pa , dulu papa yang memaksaku menikahinya, sekarang setelah aku mencintainya. Papa menyuruhku meninggalkannya, tolong pa Jagan paksa aku hatiku bukan permainan yang bisa di pindahkan begitu saja."
Ardi menghela nafas merasa bingung dia duduk sembari memijat pelipisnya karena frustasi.Devan melangkah mendekat dan berlutut di depan Papanya.
"Pa... beri aku kesempatan untuk membahagiakan Laura, aku yakin bisa membuat dia mencintaiku lagi. Aku mohon pa." Devan menundukkan kepalanya Di pangkuan Ardi dengan manik mata mulai mengembun.
Ardi tidak menyangka putranya yang tegas kini begitu rapuh karna Emeli.Ardi menghela nafas sembari mengusab rambut putranya dengan perasaan kalut.
"Baiklah nak buktikan kamu bisa membuat Laura bahagia."
*****
Entah apa yang terjadi pada Saga, beberapa hari ini dia berubah lebih lembut dan sangat perhatian, bahkan dia yang jarang menghabiskan waktu untuk dirinya karena sibuk berkerja. Malah meluangkan waktu bersama Emeli hanya untuk sekedar jalan-jalan.
Emeli dan Saga pulang berjalan kaki di sepanjang jalan, setelah selesai bermain dan berbelanja.
"Saga sebenarnya kamu kenapa." tanya Emeli heran.Saga mengerenyitkan kening lalu mendongakkan wajahnya menatap Emeli.
"Maksudmu?" tanyanya sembari mengangkat satu alisnya.
"Tidak biasanya kamu bersikap sebaik ini padaku, lihat tangan ku, penuh dengan tas belanjaan yang kamu belikan.Ucapnya sembari mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan tas belanjaan.
"ya karena aku ingin saja, membuatmu senang." Jawabnya datar sembari meneruskan langkahnya.
"Saga kenapa kita tidak naik taksi saja, kenapa harus jalan kaki capek tau.." gerutunya dengan wajah masam.
Saga berbalik dan mencubit pipi emeli.
"Dasar manja, kamu harus banyak olah raga biar sehat." Lalu tersenyum dan melangkah pergi.
Emeli membelalakan mata dengan raut wajah kesal atas tingkah saga, namun tidak bisa membalas tangannya penuh dengan tas belanjaan.
"Sakit tau kebiasaan cubit-cubit pipi orang." Ucap Emeli sembari berjalan dengan wajah masam.
Saga tergelak langkahnya terhenti menunggu Emeli datang mendekat sambil menggelengkan kepala.
"Kamu tau mungkin itu salah satu hal, yang akan aku rindukan." Emeli mendogakkan wajah menatap wajah saga yang terlihat sedih.
"Maksud kamu apa?"tanyanya.
Tampa aba-aba saga menarik tubuh Emeli dalam pelukannya.memeluknya dengan erat sembari memejamkan.Emeli melonjak kaget hingga tas belanjaannya jatuh dengan tangan masih menggantung
"Ka...mu kenapa saga," tanya Emeli terbata bata.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja... aku mohon." lirihnya dengan mata mulai mengembun
"Entah sejak kapan perasaan ini hadir, tapi hatiku begitu sakit... untuk melepas mu
__ADS_1
percayalah Emeli semua aku lakukan demi kebaikan mu, meski kamu tidak tau hancurnya hatiku.Cukuplah perasaan ini tersimpan dalam hati, dan tenggelam bersama waktu."
Sunyi terasa tidak ada tanya maupun jawaban. Hanya angin malam yang menyelimuti dua insan yang sedang berpelukan.