
Dengan cepat Saga merebahkan diri lalu menjulurkan tangan. "ayo Emeli gapai tanganku.." ucapnya dengan suara bergetar.
"Tidak saga kamu harus kejar dia ,dia di sini kakinya terluka kejar dia."
"Jagan bodoh Emeli pegang tanganku lihatlah jurangnya begitu dalam kamu bisa mati"
"Setidaknya jika aku mati... di sini aku bisa tenang. Aku sudah memenuhi janjiku pada Caca, Kejar dia...," dengan mata mulai mengembun."Awwww... pekik Emeli meringis kesakitan mendapati Luka di lengannya terus mengeluarkan darah.
"Jagan bodoh Emeli ,gapai tanganku..." Saga berteriak penuh emosi.. menatap Emeli yang memprihatinkan.
Gadis itu menggelengkan kepala seraya tersenyum..dengan air mata yang telah lolos dari pelupuk matanya.
"Kalau kamu tidak menggapai tangan ku... Aku akan lompat biar kita mati bersama.
"Ini.... bukan ancaman" dengan sorot mata menyakinkan.
"Aku hanya tidak ingin menghambat mu."
mengeratkan pegangan yang mulai lemas
"Baiklah....Kita akan mati bersama.... dia akan menang.Itukan yang kamu mau?" bentaknya dengan penuh penekanan.
"Tidak Saga aku tidak ingin itu..."
menggelengkan kepala sembari menangis
Kalau begitu gapai tangan ku....?"
"Baiklah...." lirihnya
lalu menggapai tangan Saga.dengan sekuat tenaga saga menarik.... hingga akhirnya Emeli keluar dari jurang dengan nafas tersengal.
"Kamu tidak apa-apa..."ucap Saga menatap Emeli khawatir mendapati lengan Emeli terus mengeluarkan darah.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala.
"Aku tidak penting kejar pelakunya dia tidak akan pergi jauh... Aku mohon saga aku baik-baik saja"lirihnya dengan sorot mata meyakinkan
Emeli bangkit... Saga ingin memapahnya. Namun dengan cepat Emeli mendorongnya.
"kejar dia Saga Jagan hiraukan aku"
"Tapi.... Saga tampak bingung begitu berat meninggalkan emeli yang terluka.
"Kejar dia...., teriak emeli penuh emosi.
Saga setuju dan mulai melangkah pergi
namun tiba-tiba.
Duaaaaarrrrr
Ledakan keras terdengar. Secara bersamaan mereka berdua terlonjak kaget membuat langkah Saga terhenti.
"Apa itu saga..?"
"Entahlah ayo kita ke sana." Saga menghampiri Emeli lalu menariknya."Tapi dengan kondisiku aku akan menghambat mu..."
"Mengertilah Emeli di sini sangat berbahaya."
Emeli mengangguk lalu mereka berjalan bersama dengan saga memapah Emeli
Mereka terperanjat mendapati mobil pelaku terbakar sedang mobil yang di tumpangi Emeli menghilang.
"Kenapa dia membakar mobilnya sendiri"
tanya emeli penasaran.
"Tentu saja menghilangkan bukti....di mobil itu sudah jelas ada bukti dan bekas sidik jarinya,
__ADS_1
Dia benar-benar cerdik." Saga mengepalkan tangan penuh emosi.
Emeli terperanjat melihat mobil Saga menghilang mengingat gelang Naina berada di dalamnya.
"Saga... pekiknya matanya membola
lalu mencengkram kuat baju Saga.
Saga terdiam mematung menatap Emeli heran
"Gelang itu berada dalam mobil mu...
gelang Naina bukti satu satunya, aku telah menghilangkannya.
Menjatuhkan diri di hadapan saga.
"Aku bodoh saga..aku bodoh" memukul tubuhnya sendiri Emeli berteriak frustasi
"Tenanglah Emeli..."Saga mencoba menenangkan,namun Emeli masih histeris
"Ini salah ku.. aku terlalu ceroboh"
Emeli masih memukul-mukul dirinya sembari menangis pilu.
Dengan sigap saga memegang tangan emeli lalu menarik ke dalam pelukannya.
"Tenanglah tidak apa-apa..."kita akan mencari bukti lain"lirihnya.
Saga Mempererat pelukannya, sembari mengusap rambut Emeli tidak terasa bulir-bulir kristral telah lolos dari pelupuk matanya.
"Tidak ada kejahatan yang sempurna.
kamu tenanglah, kita pasti bisa menangkap nya."
Tiba-tiba emeli jatuh pingsan.
"Emeli Bagun Jagan buat aku takut'' teriak Saga dengan wajah panik.
"Emeli.... " teriak Saga menggema memecah senja yang hening.
Mobil Saga berhenti di sebuah jembatan seseorang keluar membawa gelang Naina
menggenggamnya dengan erat.
FlASH ON
Naina sedang sarapan dengan Felicia sembari bercanda. Tiba-tiba ponsel Naina berdering.
dia mengambil ponselnya lalu mengernyitkan dahi menatap layar ponsel tertera nama seseorang.
:"Halo"
"Apa kamu. sudah membaca pesanku?
"Siapa yang mencari tahu tentangku..."
"Entahlah seseorang dari kota, katanya berita tentang mu sangat penting berhubungan dengan saudaranya yang hilang."
"Jagan temui dia dan Jagan ikut campur urusanku."
Bagaiman mungkin aku seorang dokter ini menyangkut nyawa seseorang."
Apa benar kamu yang melakukannya?"dengan intonasi lebih meninggi.
" Dia terlalu banyak tau tentang ku"
"Kamu sakit... harusnya kamu berobat ke Selin ,aku akan mengatakan semuanya tentang mu pada orang yang ku temui besok."
"Berani kamu...?"
__ADS_1
"kenapa tidak... apa yang kamu lakukan salah Kamu harus berhenti."
"Aku dengar kmu memiliki putri yang cantik."
"Jagan macam-macam kau mau mengancam ku." teriak Naina
Membuat Felicia yang memainkan gelang Naina terlonjak kaget hingga menjatuhkan gelang itu.
" Alamat telah aku kirim, temui aku kalau tidak, kau tau akibatnya.
lalu memutuskan sambungan telepon."
"Halo... halo..." lalu menatap layar ponsel yang telah mati.
"Apa yang dia mau sekarang?" ucapannya kesal.
Notifikasi pesan Naina berbunyi setelah membaca dia buru-buru pergi mengambil tas dan gelangnya.
"Bunda mau ke mana, ucap Selin sambil memegangi rok Naina.
Naina menunduk mensejajarkan wajahnya ke ke wajah Feli sembari tersenyum.
"Bunda ada urusan sayang.." sambil membenarkan anak rambut Caca.
"Bunda caca mau bilang" ucapnya tampak takut.
"Ngomongnya nanti aja ya... bunda buru-buru Caca baik-baik ya sama nenek... dan Jagan nakal" lalu mencium pipi Caca dan bergegas pergi.Caca hanya terdiam mematung menatap punggung bundanya yang menghilang di kejauhan .
Mobil Naina berhenti di tempat yang di tuju
dia turun dan mengedarkan pandangan
yang terlihat jalanan yang lengang dan sebuah mobil terparkir beberapa meter dari tempatnya berdiri.Naina menghampiri mobil itu, menatap seseorang yang duduk di dalamnya.
"Masuklah aku ingin bicara" ucapnya Tampa menoleh."Ada apa menyuruhku ke sini?"
orang itu tersenyum lalu berbalik menatap Naina. "Aku hanya ingin kamu tutup mulut dan merahasiakan semuanya."
Naina terlonjak.. lalu mendogakkan wajahnya menatap orang itu."Aku seorang dokter bagaimana mungkin aku mengabaikan nyawa seseorang."
"Kamu lupa... ini juga salah mu memberikan rekam medis ku pada Laura."menatap naina dengan geram.
"Kamu tau... waktu itu aku tersudut."
Naina memegang lengan orang itu.
"Aku sudah lama mengenal mu, kamu yang dulu begitu lembut kenapa sekarang berubah, kamu harus berobat aku akan mengatakan pada Selin.Aku yakin dia bisa menyembuhkan Mu."
Orang itu menghempaskan tangan naina dengan kasar."Jika aku melakukan itu sama saja orang yang ku cintai akan mengetahui segalanya... pasti dia akan meninggalkanku aku tidak mau itu terjadi."dengan intonasi meninggi
"Kalau mereka benar-benar tulus padamu, mereka akan menerima mu apa adanya." lirihnya penuh penekanan.
"Tidak... aku tidak mau mengambil resiko..."
brakk.. mengebrak setir mobil di depannya.
Naina menghela nafas panjang.. suasana di mobil begitu hening tidak ada pembicaraan setelah itu.
Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing
tiba-tiba notifikasi pesan masuk dari hp orang itu. dia menyunggingkan senyum.
"Baiklah aku tidak bisa memaksamu?"
Naina mendogakkan wajah menatap heran orang di depannya.
"Aku sadar kamu orang yang tidak bisa di paksa.. Turunlah aku masih banyak pekerjaan.
Naina turun dari mobil itu menggelengkan kepala dengan heran melihat tingkah pasiennya yang berubah ubah.Lalu bergegas pergi menuju mobilnya.
__ADS_1
Saat Naina sedang menyetir notifikasi pesan masuk di hpnya.Mata Naina terbelalak menatap pesan yang terpampang jelas. tubuhnya bergetar dengan hati mulai bergemuruh
"pergilah dengan tenang putrimu yang cantik akan aman."