Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
hanya penyesalan


__ADS_3

Devan tersenyum penuh arti menatap tingkah istrinya... lalu memelankan langkah agar bisa lebih lama memeluk emeli.


menyusuri lorong rumah sakit dengan tampang acuh.


Setelah beberapa menit menunggu Devan mulai resah, dia mondar mandir ke kanan dan ke kiri terus menerus menatap pintu.. yang tak kunjung terbuka.


Pikirannya melayang jauh ada cemas dan gugup bertumpu jadi satu. Sudah hampir setengah jam namun dokter yang memeriksa emeli belum juga menapak kan batang hidungnya. Ia duduk di kursi menundukkan wajahnya dengan kening mulai berkerut.


Tiba-tiba pintu terbuka terlihat seorang dokter dan suster keluar dari pintu hampir bersamaan. Devan bergegas menemui dokter berparas cantik Nan muda. Sedangkan suster itu bergegas pergi meninggalkan devan dan dokter yang ingin bicara.


Terlihat jelas wajah masam dokter itu saat Devan mulai mendekat.


"Bagaimana keadaan istri saya dok ucapnya dengan wajah khawatir.?"


"Bisa ikut keruangan saya sebentar."ucap dokter itu dengan ketus lalu melangkah pergi


sedangkan Devan mengekornya.


Sesampainya di ruangan Devan duduk menghadap Dokter itu.Dengan rasa canggung karena selalu di tatap dengan tatapan sinis.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?"


pertanyaan yang sekian kalinya dia tanyakan lagi.


Dokter itu menghela nafas kesal dengan sorot mata tajam.


"Anda mungkin lebih tau kondisi istri anda sekarang...ujarnya datar.Devan mengerenyitkan kening mendengar ucapan dokter yang penuh tanda tanya.


"Maksud anda apa dok... tolong Jagan main teka-teki dengan saya.?"ujarnya dengan intonasi meninggi.


"Saya juga tidak suka basa basi dengan lelaki seperti anda." lalu memutar matanya malas.


"Anda tau sekarang sedang berbicara dengan siapa.... berani sekali dokter seperti anda menghina saya." Devan bangkit dari duduknya dengan sorot mata mengancam.


"Kenapa tidak... saya dokter Adila Larasati akan berada di baris paling depan membela wanita yang teraniaya.


Bahkan saya tidak takut dengan titel yang berjejer di depan maupun di belakang nama anda. Karna bagi saya keadilan wanita itu paling utama." ucapnya penuh penekanan.


Devan memejamkan mata dan menghela nafas kesal."Anda salah faham dok, itu tidak seperti yang anda lihat".sanggahnya.


Hah... dokter Adila tergelak.


"Sudah jelas di jaman sekarang orang sering membolak-balikkan fakta.


Bukankah lebih baik jika bukti berbicara, dari pada bicara di jadikan bukti."


ucapnya tajam kian menusuk.


"Kalau anda masih mementingkan ego...


sebaiknya pergi dari sini... karena saya tidak mau buang-buang waktu untuk lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti anda."


Devan menghela nafas dan duduk kembali mengesampingkan harga dirinya demi gadis yang di cintai. "Baiklah saya minta maaf...tapi tolong jelaskan bagaimana kondisi istri saya sekarang.?" tanyanya lagi.


"Anda sadar karna perbuatan anda bukan hanya fisik,psikisnya juga terluka....terlihat jelas dari matanya yang penuh tekanan.

__ADS_1


Belum lagi luka cakaran dan lebam di tubuhnya.


Saran saya... jika anda tidak bisa membuatnya bahagia sebaiknya lepaskan saja"


"Tidak dok... itu tidak akan pernah terjadi, bahkan sampai matipun aku tidak akan melepasnya."ucap Devan dengan sorot mata penuh amarah.


Dokter Dila hanya menghela nafas letih sembari menggelengkan kepala.


"Kalau anda begitu mencintainya yakinkan dia bahwa anda yang terbaik, dari semua pilihan yang terbaik. ucapnya datar Tampa memandang Devan sembari menulis di kertas catatan.


"Apa obat sebelumnya masih ada, dari rumah sakit yang menjahit lengan istri anda."


"tidak tahu.." lirih Devan.


Adila mengerutkan dahi mendengar jawaban Devan. dengan mata tajam.


"Bagaiman mungkin seorang suami tidak tau istrinya terluka." gumanya


Devan yang mengerti dengan tatapan dokter Adila ingin bergegas pergi.


"Sebaiknya tulis saja nanti saya tebus di apotik terdekat.. "ujar Devan


"Baiklah ini catatan obatnya... "menjulurkan tangan memberi catatan pada Devan.


"Baik... "ucapnya sesaat Devan terdiam memandangi catatan.


"Kenapa masih di sini ucap Adila ketus.?"


"Ah tidak dok..." Devan gelagapan dan salah tingkah.


ucapnya Tampa menoleh karena sibuk mengerjakan berkas-berkas pasien.Tampa kata Devan bergegas pergi.


Sampai di ambang pintu Devan bergidik ngeri melihat Adila yang tampak sibuk.


"Apa mulutnya terbuat dari cabe... kenapa ucapannya begitu pedas."


Lalu melangkah pergi.sesampainya di pintu Emeli.Devan menghela nafas panjang, lalu merapikan penampilannya.


Dia membuka pintu perlahan, mengedarkan pandanganya dan terhenti pada seseorang yang terkulai lemas di ranjang


dengan infus yang menancap di tangannya.


Ada guratan penyesalan yang mendalam . Karena perlakuannya yang begitu kasar.Tangan Devan menjulur lalu membelai Surai hitam nan panjang. Devan mencium kening emeli sembari memejamkan mata. Seolah menyalurkan rasa perih yang tak terungkapkan.


Devan mendongakkan wajah menjauhkan bibirnya dari kening emeli. mengusap sudut mata yang mulai menganak sungai.


Dia menghempaskan tubuhnya di kursi, samping ranjang, lalu meraih tangan Emeli menjadikan sandaran di wajahnya.


Dengan sorot mata nanar. Menatap wanita yang dicintainya penuh iba.


Awal rasa yang kau tawarkan


membuatmu mengejar Tampa kepastian..


kini rasamu telah hilang, terombang-ambing tinggal kenangan ...

__ADS_1


Sedang aku, aku terluka... aku terbuang namun cinta ini... berdiri kokoh meski hidup dalam penolakan


Ketika rasa ini mulai mendalam dan rindu kian meradang, yang tersisa hanya penyesalan.


Devan Ardiansyah.


Pagi telah tiba seorang pria memakai kaca mata bergegas masuk dalam rumah sakit membawa beberapa helai pakaian dan berkas dalam dekapannya.


keningnya berkerut menatap jarum jam yang menandakan jam 08.30.


Tuan pasti sangat marah,ini sudah terlalu siang


mempercepat langkah dan fokus pada hpnya yang berdering terus menerus.


Brukkk Jhoni menabrak seseorang hingga berkas itu berceceran di lantai begitu pula dengan tas yang di tenteng nya.


"Maaf... maaf... ucapnya sembari memunguti lembaran proposal yang berserakan.


Lalu mendogakkan wajah menatap seorang yang tengah ikut membantu membereskan .


Jhoni terperangah menatap gadis manis di depannya.Lalu Menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Ada desir hangat yang mengalir dalam hati membuat wajahnya sulit berpaling pada gadis manis di depannya.


Gadis itu menjulurkan berkas ke Jhoni


"Tuan ini berkasnya. Lain kali hati-hati.?"ucapnya.


Namun Jhoni hanya diam mematung Tampa menjawab sembari tersenyum.


"Tuan..." ujarnya lagi setengah berteriak.


membuat Jhoni tersadar dari lamunannya.


"Ah iya saya telah buta..."ujarnya dengan mata berbinar-binar.


Dokter Adila mengerenyitkan kan kening dengan nafas kesal jelas sekali orang ini tidak buta.Membuat dia menggelengkan kepala dengan wajah masam lalu melangkah pergi.


"Tunggu anda harus bertanggung jawab?"


Dokter Adila berbalik dan menatap Jhoni lagi. "Apa maksud anda.... padahal anda sendiri yang menabrak dan sekarang ingin menyalahkan saya.. dan satu hal lagi anda bukan orang buta seperti apa yang anda ucapakan."


"Aku memang buta nona" ucap Jhoni melangkah mendekati Adila.


Dokter Adila tidak habis pikir seorang menganggap dirinya buta padahal sudah jelas dia baik-baik saja


"Saya ini seorang dokter jadi jelas tau kondisi anda, mau menipu saya"


mengacungkan jari telunjuk ke wajah Jhoni yang telah mendekat.


Jhoni memegang telunjuk dokter Adila sembari menunjukan gigi putihnya yang berbaris rapi


membuat adila melotot tajam.


"Aku buta akan cinta mu" ucap jhoni

__ADS_1


__ADS_2