
Kejadian ini berawal, dari ketidak setujuan mertuaku. Ardiansyah, hingga Devan memutuskan hubungan kami, yang sudah berjalan empat tahun. Saat itu aku terpukul, Bahkan sempat depresi, Akhirnya aku mengetahui Devan akan pergi ke luar negeri untuk meneruskan kuliahnya di sana.
Aku putuskan untuk mengejarnya, Kakakku yang khawatir dengan keadaan ku. Dia bersikeras ingin menemaniku, bukan cuma dia, istrinya juga ikut. Aku yang sangat kacau, menyetir mobil seperti orang kesetanan.
"Akhirnya... bom!" Diandra berucap, sambil mengangkat kedua tangannya, Ia mengeleng bersama air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya, lalu berbalik menatap Emeli yang menyimaknya dengan seksama.
"Kecelakaan besar itu terjadi Emeli. Kakakku meninggal di tempat, hanya aku yang selamat, Iparku yang saat itu sedang hamil muda juga meninggal. Hanya aku, hanya aku yang selamat Emeli" Diandra berucap lirih, sambil mencengkram kuat bajunya.
"Hanya aku yang selamat!" Gadis itu tertunduk, kesedihan begitu di rasa.
"Duniaku hancur..., saat itu hanya Devan. Yang membuatku sanggup bertahan, tapi Devan juga meninggalkan ku." Diandra terisak, membuat Emeli berkaca-kaca yang mendengarnya.
Waktu itu aku kehilangan semuanya. Aku depresi sampai dokter Naina menyarankan untuk berobat ke temannya. Yang seorang psikeater.
Bukan itu saja yang lebih menyakitkan....
Kau... tau? Akibat kecelakaan itu, aku tidak bisa punya anak. Harapanku benar-benar hancur.
Aku yakin, Saat Devan mengetahui itu, pasti dia akan meninggalkan ku." Diandra menjatuhkan dirinya. Kakinya tidak bisa lagi menopang, kesedihannya teramat kuat, dadanya sesak mengingat orang-orang yang di sayangi telah tiada. Diandra mengusap air matanya, lalu tertawa lepas.
"Tidak ada lelaki, yang mau menerima istri mandul!" Diandra kembali tertawa dan menagis bersamaan.
Sedangkan Emeli yang melihatnya. Ada rasa iba pada gadis di depannya. Andai dia mau berfikir jernih hal ini tidak harus terjadi. kejahatan yang dia lakukan karena rasa takut kehilangan.
"Ya... aku, tidak akan punya anak, dengan kecelakaan itu aku membuat Devan kembali padaku, Aku membuatnya iba padaku. Devan merasa bersalah karena secara tidak langsung dia penyebab utama keluargaku meninggal. Kami bahagia, bahkan dia menikahi ku, meski ayahnya tidak setuju.Tapi semua terusik saat Laura mengetahui kebenaran kalau aku wanita mandul. Dia mengancam akan memberitahu Devan, kalau aku hanya wanita mandul yang gila. Malam itu....
__ADS_1
Kami sepakat bertemu di pinggir danau, dia menunjukkan kertas hasil kesehatan ku. Aku berebut mengambil kertas itu. Pertikaian kami membuatnya jatuh ke danau.Aku sempat ingin menolongnya, tapi kemudian aku berfikir kalau Laura mati rahasiaku akan aman.
Aku biarkan dia mati, aku juga masih ingat bagaimna tarikan nafas terakhirnya. Sampai dia menghilang dalam air. Aku tinggalkan dia pergi membiarkan jasadnya kedinginan.Aku tidak salah Emeli dia yang salah, dia yang mencari mati." Diandra tertawa sembari mengusap air matanya yang jatuh.
"Aku menikmati kematiannya Emeli. Aku menikmati menghabisi siapa saja yang menghalangi jalanku"
"Diandra aku tau kamu orang baik, kamu hanya terjebak keadaan dan ketakuatan mu sendiri,
Diandra masih ada waktu. Serahkan dirimu ke polisi, jelaskan semuanya pada Devan, aku yakin dia akan menerimamu." lirih Emeli dengan sorot mata memohon.
"Apa kamu gila Emeli, dengan begitu sama saja aku membiarkan Devan meninggalkan ku, kamu tau aku sangat mencintainya. Bahkan aku akan mati kalau dia meninggalkan ku."
"Cinta mu salah Diandra, cinta tak seharusnya seperti itu." ucap Emeli penuh penekanan.
"Kamu tau apa, tentang hatiku? Berani sekali kamu menilainya, aku yang mengerti semuanya. Aku mencintai Devan dia yang mendukung ku saat orang lain hanya mencemoh dan memandang hina diriku.
"Diandra, aku tidak percaya kamu bisa melakukan sejauh itu."
"Aku melakukan itu karna aku tidak mau Laura mengambil Devan ku, dia satu-satunya yang aku miliki. Aku mencintainya, aku sangat mencintainya. Mungkin aku akan mati jika Devan meninggalkan ku."
Devan yang mendengar kejujuran Diandra dari ponsel, tidak sanggup berkata-kata lagi. Dia memang sangat marah pada Diandra, tapi tidak bisa di pungkiri Diandra berbuat seperti itu karena terlalu mencintainya.
"Apa masih lama Saga?" lirih Devan, tidak sabar.
"Tidak, sebentar lagi kita sampai"
__ADS_1
"Cepatlah Saga ,aku harap kita tidak terlambat."
"Tidak akan, sebentar lagi kita akan sampai." Saga berucap, sambil mengencangkan laju mobilnya. Tiba-tiba truk besar melintas tak terkendali mendekat ke Arahnya.
"Awassss" pekik Devan,
Aaaarkkk...
Diandra yang mendengar suara jeritan, langsung menundukkan wajahnya. Mencari sumber suara. Emeli terkesiap, dia bingung harus berbuat apa. Dia sangat yakin Diandra tidak akan tinggal diam.
"Apa itu?" Diandra mengambil handphone yang masih menghubungi Saga.Tangannya mengepal penuh amarah.
"Kurang ajar! Kalian berani main-main rupanya?" Diandra yang marah, lalu membanting ponsel dengan penuh emosi mendekati Emeli,
Plak
Plak
Plak
Tamparan berulang kali mendarat keras di pipi Emeli, hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Berani sekali kamu dan Saga menipuku?
Bersiaplah Emeli, kamu akan mati."
__ADS_1
Mata Emeli melebar mendengar ucapan Diandra. Apalagi tangan wanita itu bergerak ke arahnya, Diandra mencekek leher Emeli dengan kencang, bahkan urat tangannya terlihat.
Emeli tidak bisa berbuat apa-apa, Sedangkan tangan dan kakinya terikat. Nafasnya kian berat, kesakitan begitu amat terasa.