Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
kesempatan mu


__ADS_3

Emeli beranjak pergi mendekati Devan dan Diandra yang tengah duduk berbincang mesra di dalam mobil.


Emeli membuka pintu mobil lalu menjatuhkan tubuhnya, dengan beberapa tas belanjaan yang di lempar dengan pelan di sampingnya. Lalu dengan santainya memainkan handphone tampa memperdulikan tatapan tajam mereka berdua.


"Dari mana saja kamu ,kenapa lama sekali?" tanya Devan dengan nada tinggi.


"Aku sedang belanja hingga lupa waktu, jawabnya singkat Tampa menoleh ke arah Devan yang sedang menatapnya serius.


"Apa kalau aku tidak menelpon mu,kamu akan seharian berada di tempat ini." bentak Devan yang mulai tersulut emosi menatap Emeli yang terlihat acuh.


"Sudah sayang kamu harus ingat dia masih mudah jadi masih ingin senang-senang." sahut Diandra, mengusab lembut lengan Devan agar lebih tenang.


"Pintar sekali berakting, aku tidak menyangka Diandra memiliki kepribadian yang bertolak belakang, aku harus waspada pada wanita licik seperti dia."


Emeli memejamkan mata, dan memilih berpura-pura tidur dari pada harus menjawab beberapa pertanyaan Devan yang selalu membuatnya kesal.


****


Saga mendekati Wijaya yang tengah asyik membaca koran,lalu duduk di kursi disampingnya.


"Saga ada apa?" tanya Wijaya setelah sejenak menatap putra asuhnya itu, terlihat gelisah, dia duduk di kursi bersebelahan dengan Wijaya yang di pisah meja.


"Saya ingin mengatakan tentang Laura tuan." jawabnya dengan tatapan serius.


"Katakanlah,ucapnya lalu menyeruput segelas kopi yang sedari tadi berada di atas meja.


"Maaf jika sebelumnya saya lancang," tuturnya terdengar ragu.Wijaya mengerutkan kening, mendengar uacapan Saga lalu mendogakkan wajahnya menatap Saga penasaran.


"Ada apa Saga katakanlah Jagan ragu.?" tegasnya.


" Tuan saya pikir Devan bukan suami yang baik untuk putrimu Laura,"ucapnya terjeda setelah menatap Wijaya yang melihatnya tajam.


"Bukan maksud saya..... tapi mengingat perlakuannya kemaren yang terlihat sangat kasar, saya jadi khawatir tentang keselamatan Laura." Wijaya menghela nafas letih lalu tertunduk.


"Sejujurnya aku jauh khawatir dari mu Saga, kamu tau dialah putriku satu-satunya, sebenarnya cukup berat untuk ku menerima Devan, tapi apa boleh buat, aku sudah berjanji pada Ardi." Wijaya bangkit pandangan kosong terarah ke depan berjalan beberapa langkah.


"Saya tau tuan, tapi apakah karena perjanjian itu tuan rela, anak tuan tersakiti." Sanggah Saga yang mengekori dari belakang.

__ADS_1


"Aku juga sudah berencana untuk mengatakan ini semua pada Ardi, dan meminta penyelesaian dari masalah putriku."Lalu berbalik menatap Saga serius.


"Kamu taukan Saga, aku bukan orang yang ingkar pada janjiku, tapi aku jga tidak bisa melihat putriku di seret seperti kemaren." jawabnya lesu seperti ada beban berat yang dipikulnya.


"Saya mengerti tuan, saya yakin anda akan membereskan masalah ini dengan baik,"ucap Saga, memandang wajah Wijaya yang terlihat sendu dengan tatapan mata meyakinkan.


Wijaya tersenyum menjulurkan tangan menepuk pundak Saga pelan, lalu beranjak pergi.


"Tunggu saja Emeli, aku akan mengeluarkan mu dari rumah Devan secepatnya." ujar Saga dengan tangan mengepal.


*****


Emeli duduk di kursi menghadap langsung pada kolam renang, dia tersenyum menatap air yang meliuk-liuk di terpa hembusan angin malam yang sedikit kencang.


Emeli mengusab kedua lengannya yang mulai meremang karna suasana dingin menyelimutinya.Dia tertegun saat seseorang mengalungkan selimut dari belakang lalu memeluknya.


"Udara dingin sayang nanti kamu sakit" ucap Devan, menopang dagunya di bahu Emeli, dengan tangan melingkar, mempererat pelukan.


Emeli mendogakkan wajah menatap wajah Devan yang begitu dekat dengannya hingga hangat pipinya terasa di wajah Emeli.


"Lepaskan...." Ucap Emeli berontak,namun Devan malah mengencangkan pelukannya, menyamankan posisinya dengan mata terpejam.


Emeli yang tidak bisa berbuat apa-apa,hanya terdiam, memutar matanya malas, tiba-tiba pandangannya teralih pada Diandra yang sedang menatap tajam dari jendela kamarnya.


"Diandra.... ini kesempatan mu Emeli, untuk mengetahui keadaan kejiwaan Diandra, sekaligus membuktikan pada Devan kalau diandra tak selembut yang dipikirkan."


Devan membuka mata, menatap wajah Emeli dari dekat,membuatnya tersenyum dengan seringai liciknya. Tangannya beralih ke pipi Emeli lalu membalikkan wajah Emeli menghadap dirinya.


Seketika mata Emeli terbelalak, menatap Devan yang menatapnya penuh cinta dengan posisi mata terus menatap bibirnya.


"Tidak, Emeli kamu harus tahan agar semuanya semakin jelas, berkorban lah sedikit saja."


Devan tersenyum gemas menatap ekspresi Emeli,yang di rasa sagat lucu tampa melawannya. Devan memejamkan mata lalu mencium Emeli dengan lembut. Emeli mengepal sebisa mungkin menahan emosinya yang mulai membuncah.


Jantung Emeli berdebar tak menentu merasakan kenikmatan yang Devan berikan, Emeli yang tadinya terpaksa mulai menikmati permainan Devan yang memabukkan.Devan mendogakkan wajah menatap Emeli intens.


"Terima kasih sayang "lirih Devan menatap Emeli yang terdiam dengan mata membola,

__ADS_1


setelah itu Devan mendekatkan bibirnya lagi dan mulai meneruskan permainannya yang sedikit terjeda.


Namun rasanya kali ini bukan lagi kecupan yang lembut, melainkan ciuman mulai menuntut bersama gairah yang mulai datang, tangan Devan mulai teralih ke tengkuk leher Emeli lebih mendekatkan wajahnya agar bisa merasakan kenikmatan lebih dalam.


Emeli yang mulai terhanyut menjulurkan tangan Mencengkram lengan Devan, membuat devan lebih semangat melancarkan aksinya yang membuat dia terbang ke awang-awang.


Saat gairah menutupi pikirannya, dengan jantung yang saling bertalu-talu dengan deru nafas kian memburu bersama sensasi yang berbeda.Tiba-tiba diandra menarik Emeli dan menamparnya.


"Kurang ajar siapa suruh menyentuh suamiku." lalu mencekik Emeli dengan kencang, dengan sorot mata penuh amarah.


Emeli yang tiba-tiba di serang, tidak bisa melawan dengan nafas yang mulai sesak menatap Diandra yang seolah ingin menerkamnya.


Devan yang sesaat tertegun, langsung mendorong tubuh Diandra hingga tersungkur, Emeli yang baru saja terlepas dari cekikan Diandra terbatuk-batuk sembari memegang dadanya yang terasa sesak.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanyanya melihat Emeli yang kesakitan sembari mengusab kelapanya dengan khawatir.Diandra yang kalap bangkit langsung mendorong Emeli....


"Byruuuuuu.... Emeli terjatuh ke kolam membuat Devan menganga tak percaya melihat Diandra yang begitu bringas.


"Kamu kenapa Diandra, kamu kenapa, aku tidak menyangka kamu sekejam ini." teriaknya penuh amarah.


"Devan aku...." sanggahnya memegang legan Devan dengan sorot mata mengiba.


"Cukup Diandra" teriaknya dengan tatapan tajam lalu melompat ke kolam, menolong Emeli.


Devan naik dari kolam renang, bersama Emeli dengan tubuh basah kuyup dia memapah Emeli pergi, melewati Diandra yang menganga tak percaya dengan air mata yang jatuh. sesampainya di pintu langkah kaki emeli terhenti.


"Kenapa sayang...?" tanya Devan heran.


"Pergi Devan, aku ingin sendiri."Lirihnya dengan tangan mengepal.


"Tapi..."sanggahnya


"Aku bilang ingin sendiri...teriaknya melengking tajam membuat Devan terperanjat, lalu masuk dan menutup pintu dengan keras, Emeli menahan pintu dengan perasaan bercampur aduk.


"Sial.... "ucap Devan mengacak-acak rambutnya, frustasi. Lalu menjatuhkan tubuhnya duduk memelas di depan pintu kamar Emeli,dengan mata mulai mengembun.


thank you all telah stay di ceritaku.

__ADS_1


setuju yang mana nich Devan apa saga?


__ADS_2