
"cantik"
tangannya mengelus pipi gadis berparas cantik itu,
entah mengapa ada desiran hangat yang menyeruak ke dalam hati,
membuat Devan begitu bahagia bersamanya,
manik mata menelisik setiap inci wajah emeli, tatapan berhenti pada bibirnya yang masih ranum,merah merona dan begitu menggoda ,hingga tangan Devan beralih menuju bibir emeli.
mata emeli mengerjjab ,merasakan sentuhan ,
Devan terkejut melihat ekspresi emeli langsung menurunkan tangan,
gadis itu membuka mata ,melihat Devan dalam dekapannya, langsung melepaskan.
"maaf semalam, kamu demam jadi,"
emeli mengigit bibir bawahnya karena gugup,
"aku mengerti,"
dengan senyum di paksakan ,
suasana berubah jadi canggung,mereka terdiam dengan pikiran masing-masing,
"Laura,
ucapan Devan membuyarkan suasana ,
"iya"
"terima kasih untuk semalam ,karena,"
"iya tenang saja Jagan sungkan", emeli memotong ucapan Devan karena malu, jika membahas yang semalam.
"bagaimana luka mu?"wajahmu terlihat pucat,
"benarkah ,memang masih terasa sakit
sambil memegang wajahnya.
"kita harus keluar dari sini, bahaya jika lukamu di biarkan."
emeli memapah Devan dan berjalan mencari jalan keluar.
setelah cukup lama berjalan , emeli yang melihat tubuh Devan semakin lemah memutuskan berhenti.
"maaf telah menjadi beban mu."
dengan wajah tertunduk,
"sudah berapa ribu kali kau minta maaf ,sudahlah Jagan di bahas lagian aku tidak keberatan menolong mu," menampilkan senyum semanis mungkin
Devan pun tergelak.
tiba-tiba semak-semak bergerak mendekati mereka ,
emeli berdiri dan mengambil sebilah kayu, lalu memunggungi Devan ,
gadis itu memasang ancang-ancang bak pemain baseball profesional.
"siapa di sana?"
teriaknya"
keluarlah seorang pria, berbaju hitam,
mulai mendekat
"berhenti di situ, atau aku akan memukul mu?"
"tenang nona aku orang suruhan tuan Jhoni."
"bohong, kamu bohong kan?"
sedangkan Devan hanya bisa melihat nanar, karna tubuhnya begitu lemas
"Laura?"
emeli melihat ke arah sumber suara, tiba-tiba menjatuhkan kayu di tangannya.
air matanya tak terbendung dan berlari ke arah saga,lalu memeluknya dengan erat,
hiks hiks hiks
"aku takut...."
"tidak apa-apa kamu aman sekarang,"sambil mengusap-usap rambut emeli,
" apa ada yang terluka?"
mendorong tubuh emeli memindai kondisinya dari ujung rambut sampai kaki,
"emeli hanya menggelengkan kepala,
saga memeluknya lagi
"syukurlah kau tau ,betapa khawatirnya aku ,jika hari ini kau tidak di temukan aku akan benar-benar gila"
emeli mengeratkan pelukan
menyembunyikan wajah di dada bidang saga,
"sudah tenanglah, ada aku, tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan."
sedangkan Devan yang terkulai lemas,
menatap penuh amarah, seolah ada belati yang mengoyak hati ,
"sial mengapa sesakit ini.
__ADS_1
tangan kekarnya memegang erat dedaunan kering yang yang berserakan di tanah.
Jhoni yang baru datang ,melihat tuannya terluka langsung menghampiri,
"tuan ,anda terluka,sebaiknya kita ke rumah sakit?" dengan wajah khawatir
namun Devan hanya diam mematung menatap kearah saga dan emeli Tampa berkedip.
"tuan ?"
menggoyangkan lengan kanan Devan.
"ada apa?"
dengan nada membentak,menatap Jhoni dengan raut wajah kesal,
"sebaiknya kita pergi sekarang tuan?"
hemmm
"bagaimana dengan dermawan ?"
"dermawan dan anak buahnya sudah saya bereskan tuan."
"bagus..."
Devan memijat pelipisnya, kepalanya pening , penglihatan mulai kabur
"anda kenapa tuan?"
bruuuuukkk
Devan pingsan tubuhnya ambruk di tanah
********
Devan membuka mata,menyapu ruangan yang cukup besar , memijat pelipisnya merasa pening,melirik tangganya yang masih di infus
pintu terbuka seorang pria datang mendekat.
"anda sudah sadar tuan?"
hmmm
"berapa lama aku di sini ?"
"sudah 2 hari paska operasi, anda tidak sadarkan diri,"
"apa istriku kemari?"
"nona baru saja pulang, dia slalu setia menunggu anda"
"benarkah?"
menari sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"tuan besar jga baru pergi, karena harus menghandle rapat penting.
"tentu nona baik-baik saja"
"bukankah, keningnya terluka?"
Jhoni mengerutkan dahi mencoba berfikir,
mungkin tuan berhalusinasi saat tidak sadar gumamnya.
"kenapa diam?"
"tidak tuan"
"kapan istriku kembali ?"
"mungkin nanti sore,nona Diandra masih ada sedikit urusan tuan."
"kenapa Diandra?"
"bukankah istri tuan nona diandra.
jhoni menggaruk lehernya merasa frustasi dengan jawaban bosnya.
"apa kau bodoh, melupakan istriku yang lain"
"apa maksud tuan nona Laura?"
"hmmm
"nona tidak pernah sekalipun menjenguk anda di sini tuan"
"apa...
dengan sorot mata kecewa,
apa aku tidak penting baginya....
semenjak mendengar emeli tak perduli Devan uring-uringan dan sering marah-marah tidak jelas.
**********
di rumah Wijaya,
dua orang pria yang sudah berumur ,duduk di teras rumah yang menghadap taman.
Ardi menarik napas panjang,
"ada yang ingin aku bicarakan padamu. menatap lekat wajah sahabatnya itu
"ada apa bicaralah?"
menyodorkan sebuah amplop putih
"apa ini?"
__ADS_1
"bukalah..."
mata Wijaya terbelalak ,mulai mengembun
"ini tidak benar kan Ardi?"
Ardi memegang tangan Wijaya yang tampak gemetar,
"itu benar aku sudah mengeceknya berulang kali."
"apa, Devan tahu tentang ini?"
"aku tidak ingin dia tahu."
menggelengkan kepalanya, sembari menunduk,
"aku akan mencarikan dokter dan rumah sakit yang terbaik untuk mu."
memegang tangan Ardi dengan mata berkaca-kaca ,
Ardi mendongkakan wajahnya menghadap Wijaya sembari tersenyum lirih,
"aku sadar jantungku sudah sangat kronis,dan penyakit ini bisa kapan saja membunuhku.
Ardi melepaskan tangan Wijaya berdiri lalu ,berjalan beberapa langkah menatap kosong kedepan,
"aku hanya ingin meminta satu permintaan padamu "
"apa itu?"
"putrimu Laura."
Wijaya mengerutkan dahi mencoba berfikir, lalu berdiri mendekati Ardi ,
"apa maksudmu?"
"dipersatukan Devan dan laura,"
Ardi menyeka air matanya dan berbalik menghadap Wijaya,yang menatapnya dengan rasa iba,
"kamu tahu keadaan nya sangat rumit, apalagi Devan tidak mencintai Laura dia jga sudah memiliki, seorang istri."
"aku tahu,tapi
aku tahu betul putraku, dia tidak mencintai Diandra, dia hanya terobsesi ,dengan kelembutan Diandra, dia menganggap Diandra pengganti sosok ibunya,
sebaliknya aku yakin suatu saat dia akan mencintai Laura."
"kau tahu , berapa Tahun laura mengejar anakmu tapi hatinya tetap saja menolak putriku,"
"aku mohon hanya itu permintaan terakhirku," memegang tangan Wijaya dengan sorot mata memohon
"Ardi Jagan begitu Maslah hati, kita tidak bisa memaksakan anak-anak kita,"
"tiba-tiba Ardi batuk tangan satu menutupi mulutnya dan tangan satu memegangi dadanya yang terasa nyeri,
"Ardi kau kenapa?"
melihat tangan Ardi terkena darah yang keluar dari mulut pria paruh baya itu,
"kita ke rumah sakit,"
menarik lengan Ardi.
namun Ardi hanya diam ,
"apalagi Ardi, kamu sakit kamu harus di obati,
"tidak berjanjilah padaku?"
"Jagan bodoh Ardi"
dengan sorot mata kesal.
Ardi hanya tertunduk dengan wajah pucat dan mata mulai berkaca-kaca,
Wijaya merasa iba dengan kondisi sahabatnya itu, memejamkan mata dan menghela nafas panjang ,
"aku berjanji padamu,"
Ardi mendongkakan wajahnya menatap manik mata sahabatnya mencari sebuah kejujuran, "lalu memeluknya terima kasih aku bisa pergi dengan tenang."
"tidak sebelum itu kamu harus berjuang untuk sembuh, berjanjilah padaku,"
aku berjanji terima kasih Wijaya.
sedangkan tak jauh dari situ ada saga yang yang sedari tadi mendengar obrolan mereka, dia bergegas masuk mobil, menjalankan mobil dengan kencang berhenti di tepat sepi dia membanting banting tangannya ke setir mobil lalu menjambak rambutnya ,
aaaaaakkkkhh
"mengapa jadi seperti ini "
saga menyenderkan kepala di setir mobil,
"apa yang harus aku lakukan?"
menatap dengan tatapan kosong
"apa aku harus mengambil resiko membiarkan emeli bersama devan,bukankah dengan begitu emeli bisa mencari bukti tentang hilangnya Laura,
tapi mengapa dadaku begitu sakit, lalu
menepuk-tepuk, dadanya yang terasa sesak
aaaakkkkkkkhhh
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
terimakasih sudah mampir semoga kalian suka