
Pintu terbuka dengan cepat Devan masuk.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" ucap Devan yang langsung menodongkan pertanyaan ke Dokter.
"Anda jagan khawatir, tapi..." ucap dokter terjeda merasa bingung sejenak menatap Diandra yang terbaring.
"Tapi apa... dok?" tanya Devan penasaran melihat raut wajah dokter itu terlihat bingung.
"Luka di tangannya baik-baik saja, tapi anda harus memperhatikan sikis istri anda."
" Memang kenapa Dok?"dokter menghela nafas panjang dengan sorot mata datar.
"Tadi istri anda sempat sadar lalu mengigau seperti orang ketakutan akan kehilangan sesuatu, saya kira istri anda syok karena terlalu banyak tekanan membuat tubuhnya lemah dan rawan sakit.
Jika dia terus-menerus tertekan aku takut akan menambah parah keadaannya.
Jadi sebagai seorang suaminya, aku harap anda menjaga perasaan istri anda dan sebisa mungkin menuruti kemauannya."
"Apa....." Devan menganga tak percaya kalau selama ini Diandra tertekan dengan sikapnya Devan berjalan dengan gontai mendekati Diandra dengan tatapan nanar. Lalu menjulurkan tangan mengusap lembut rambut istrinya yang terpejam.
"Maafkan saya tuan Devan telah membohongi anda, saya hanya ingin anda menjadi lelaki setia." lirih dokter lalu bergegas pergi.
"Maaf kan aku Diandra Karena keegoisanku selama ini kamu menderita." Ucap Devan penuh penyesalan.
*****
Emeli sudah Bagun lebih pagi ,dia sudah berniat untuk menyelinap ke kamar Devan di saat mereka berdua berangkat kerja.
Emeli menatap jam di dinding menunjukkan pukul 08:20 perasaan gelisah mulai muncul sedari tadi, dia berdiri di depan pintu untuk mengintai. Tapi sedikitpun tidak terndengar suara Devan dan Diandra.
"Apa mereka sudah berangkat, tapi biasanya mereka sering bercanda di meja makan, tapi kenapa dari tadi aku tidak mendengar, aku harus memastikannya."
Emeli membuka pintu lalu bergegas keluar dia menatap sekeliling yang terlihat sunyi.Lalu berjalan mendekati meja makan yang masih terlihat rapi.
"Kenapa mejanya masih rapi... apa mereka makan di luar, terserah itu bukan urusan ku yang pasti aku harus mendapatkan baju itu."
Emeli berjalan dengan santai menaiki tangga tiba-tiba matanya terbelalak menatap Devan dan Diandra, berjalan beriringan melihat kearahnya secara bersamaan.
Dengan cepat Emeli berpikir keras lalu menundukkan kepalanya seolah mencari-cari sesuatu.
Devan mengerutkan keningnya, tersenyum menatap Emeli sedang Diandra mengeratkan pegangan ke lengan Devan lalu menatap Emeli dengan tajam.
"Ngapain kamu di sini?"tanya Devan penasaran
__ADS_1
"Ah aku sedang mencari sesuatu gelang ku terjatuh di tangga semalem,tersenyum.
"Semalem kamu dari mana kok bisa jatuh di tangga" sahut Diandra dengan tatapan menyelidik.
"Aku dari balkon ingin melihat pemandangan dari atas." Ucap Emeli bohong dia yang gugup terus menunduk sembari mengigit bibirnya, membuat Devan yang menatapnya tersenyum gemas.
"Sejak kapan kamu punya gelang?" tanya Devan mengejek.
"Sudah cukup, kenapa kalian terus mengintrogasi ku seperti seorang pencuri."
"Karena kamu memang seorang pencuri" ucap Diandra serius, membuat Emeli dan Devan membelalakkan mata memandang Diandra bersamaan.
"Apa Diandra tau, kalau aku semalam menyelinap ke kamarnya."
Melihat Devan dan Emeli menatapnya tajam Diandra tertawa geli.
"Ha-ha-ha....Lihat ekspresi kalian aku hanya bercanda sayang." ujarnya sembari menepuk lengan Devan.
"Astaga, Diandra bercanda mu itu tidak lucu,"
"Sudahlah sayang aku lapar sekali. Ayo kita berangkat."devan dan Diandra melangkah pergi meninggalkan Emeli yang terus mematung.
Tiba-tiba Devan berbalik melepas tangan Diandra lalu melangkah mendekati Emeli.
"Tidak aku di sini saja , aku tidak mau ikut dengan kalian" Emeli meronta ingin di lepaskan namun Cengkraman Devan terlalu kuat.
"Jagan membantahku, aku tidak suka di bantah." ucap Devan seraya meneruskan langkah.
"Kamu ikut saja, kita hanya jalan-jalan sebentar" ujar Diandra yang mengekori mereka sedari tadi.
"Aku tidak tau, apa yang ingin kamu dapat kan tapi aku tidak akan membiarkannya."
Sesampainya di mobil Devan membuka pintu belakang mobil lalu memaksa Emeli masuk, di sepanjang perjalanan Devan dan Diandra terus-menerus bersikap merasa, sesekali Devan melirik Emeli dari kaca spion mobil yang terlihat acuh.
"Apes sekali aku, kenapa aku harus ikut dengan mereka, membuat semua rencana ku gagalkan."
"Apa kamu senang Diandra, kita jalan-jalan begini," Diandra hanya menjawab dengan senyuman.
"Aku baru sadar ternyata sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama kalian berdua." Ujar Devan sesekali melirik Emeli yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mereka sampai di tempat perbelanjaan Devan dengan setia menemani Diandra sedangkan Emeli lebih memilih memisahkan diri dari mereka berdua, Emeli yang sedang malas duduk di sebuah kafe dengan santai.
Tiba-tiba matanya teralih pada Diandra yang berbelanja sendiri tampa Devan.
__ADS_1
"Apa benar kecurigaan ku salah, kalau di lihat gadis selembut Diandra tidak mungkin menjadi pembunuh berantai. Lagi pula aku tidak punya petunjuk selain baju itu."
"Plak..... "suara tamparan terdengar nyaring membuat banyak orang berkerumun, Emeli yang baru saja bermain ponselnya, penasaran
lalu mendekat.
Seketika dia membelalakkan mata, menatap Diandra yang sedang menjambak seorang wanita dengan penuh amarah.
"Apa itu Diandra... apa aku tidak salah liat,dia sagat mengerikan ketika marah, sudahlah.....ini bukan urusan ku."Lalu berbalik Tampa berpikir untuk melerai.
"Bruk.... " tubuh gadis itu terjatuh di samping Emeli Tampa Diandra sadari lalu dengan cepat Diandra mencengkram bajunya.
"Dengarkan aku, sekali lagi aku melihat mu menganggu suamiku, aku bersumpah akan melenyapkan mu." Ancamnya Diandra pada wanita itu.
Emeli terperanjat, menganga tak percaya mendengar ancaman Diandra dia menutup mulut lalu dengan cepat berbalik memunggungi Diandra dengan deru nafas yang kian memburu.
"Apa itu Diandra mengapa sikapnya sangat berubah."Herannya.
Tiba-tiba Devan datang lalu merelai dengan pintar nya Diandra menangis tersedu-sedu.
"Kamu kenapa,?"tanya Devan khawatir.
"Wanita itu menyerang ku, aku takut ucapnya menunjuk seorang wanita sembari menangis di pelukan Devan.
"Dasar gadis gila...., kamu tadi yang menyerang ku sekarang menuduhku, menyerang mu!
Gadis itu mencoba menyerang Diandra namun dengan sigap Devan mendorong tubuh wanita itu hingga tersungkur, lalu mempererat diandra ke pelukannya khawatir.
"Aku tau istriku dia begitu lembut dia tidak akan mungkin menyerang mu...., kalau kamu berani menyerang istriku lagi, aku pastikan kamu akan mendekam di penjara."
"Pergi..... teriak Devan, wanita itu langsung bergegas pergi,membuat Diandra tersenyum puas.
"Diandra sayang... kamu sudah aman sekarang,ada aku di sini, Devan mengusab lembut kepala Diandra di dalam pelukannya.
"Terimakasih sayang,kalau tidak kamu aku tidak tau harus berbuat apa," ucapnya dengan nada sedih.
Devan mengajak Diandra pergi Tampa menyadari Emeli berada di belakang punggungnya.
"Diandra.... apa benar dia Diandra, aku tidak menyangka dia mempunyai dua wajah, aku semakin yakin Diandra adalah dalangnya.
Tapi aku harus bagaimana,tunggu bukan dr Naina pernah mengatakan kalau pelakunya mempunyai gangguan jiwa,
Aku harus membuktikannya, kalau benar Diandra pelakunya pasti emosinya tidak stabil. kamu harus menjadi umpan Emeli untuk membongkar kebusukannya."
__ADS_1