Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
bereskan dia , Ending


__ADS_3

Brak....


"Ada apa?" ucap Diandra terkejut atas tindakan anak buahnya yang membuka pintu tiba-tiba.


"Bos temenku bilang ada polisi menuju arah sini. Kita harus kabur kalau tidak. Kita akan ketangkap!" ujar anak buah Diandra yang tampak khawatir.


"Apa...,"Diandra Terperanjat, tangganya terlepas dari leher Emeli, membuat Emeli terbatuk dan bernafas lega.


"Cepat lepaskan ikatannya, kita pindah markas!"


Raut wajah Diandra sangat kahawatir.


"Baik, bos!" lelaki kekar itu, melaksanakan perintah Diandra.


"Kali ini kamu aku lepaskan, tapi tidak lain kali Emeli!" Diandra menegaskan sambil mengacungkan tangan ke wajah Emeli yang menatapnya.


"Aku tidak takut! Jika aku mati, setidak aku mati dengan tenang. Setelah misiku memenjarakan mu berhasil.


"Jangan mimpi, itu tidak akan berhasil!" teriak Diandra.


Emeli di bawa dengan tangan terikat dan mulut di lakban. Mereka sangat buru-buru, kedua anak buah tertangkap, Sedang Emeli dan Diandra duduk di kursi belakang.


"Cepat jalan! Aku tidak mau, kita tertangkap"


titah Diandra.


"Baik bos!" Pria kekar itu melajukan mobilnya.


tiba-tiba berhenti mendadak, Saat sebuah mobil menghadang lajunya.


"Ada apa?" tanya Diandra, terlihat sangat panik.


" Ada yang menghadang bos!" Diandra mendogakkan wajah terlihat Saga keluar dari mobil.


"Saga?" ucap Diandra, terkejut.


"Bereskan dia, kalau perlu bunuh saja." Diandra. memerintah.


"Baiklah!"


"Hem, Hem!" Emeli tidak bisa berucap hanya bisa mengelengkan kepala dengan manik mata berkaca-kaca.


"Kenapa? kamu tidak ingin Saga mati.


Mungkin hari ini, hari terakhir untuk mu dan Saga hidup di dunia ini." ujar Diandra


Emeli dan Diandra melihat pertarungan Saga dan anak buahnya, mereka berdua menatap dengan seksama, pertarungan sengit yang tak seimbang itu.


Meski berkelahian belum berakhir tapi besar kemungkinan Saga menang, terlihat dari dua pria kekar itu kewalahan menghadapi bela diri Saga yang mempuni.


Diandra terperangah mengambil pisau anak buahnya yang tertinggal di mobil, lalu menarik tangan Emeli keluar dari mobil. Emeli mencoba berontak tapi tidak bisa, tenaga Diandra lebih kuat.


"Saga jangan melawan, atau aku membunuh Emeli!" Diandra berucap sambil mengalungkan pisau di leher Emeli.


"Jangan...., Diandra! Apapun yang kamu inginkan Aku lakukan tapi jangan sakiti Emeli." ucap Saga.

__ADS_1


"Emeli mengeleng, menolak, menatap ke arah Saga. Akan tetapi Saga hanya mengedipkan mata lalu mengangkat tangan. Membuat Emeli menangis sejadi jadinya.


Saat melihat Saga di pukuli membabi buta oleh anak buah Diandra. Bahkan wajahnya lebam banyak darah keluar dari pelipis dan bibirnya. Emeli berontak. Melihat keadaan Saga yang menyedihkan.


"Kasian sekali kamu, melihat kekasihmu mati di depan mu sendiri, sungguh tidak bisa aku bayangkan," Diandra berucap, sambil melepaskan lakban di mulut Emeli.


"Diandra kamu bajingan, aku tidak akan pernah maafkanmu, kalau terjadi apa-apa dengan Saga." Mendengar itu Diandra hanya tergelak.


"Aku mohon! Jangan begini Saga, lawan mereka, aku mohon Saga, lebih baik aku mati dari pada melihatmu tersiksa. Aku mohon jagan begini!" teriak Emeli yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Hiks hiks hiks


Emeli menjatuhkan diri, dia tidak sanggup lagi melihat Saga di pukuli.Saga aku mohon lawan mereka..,lirih Emeli sambil terisak.


Devan mengerjapkan mata, mendengar teriakan Emeli. Keningnya masih berdarah, Akibat kecelakaan tadi yang membuatnya pingsan, hanya keningnya saja yang terluka sedangkan Saga baik-baik saja. Karena di buru waktu, Saga yang mengetahui Devan hanya pingsan terus melajukan mobilnya untuk menyelamatkan Emeli.


"Emeli" ujar Devan, yang tersadar mendengar suara teriakan Emeli.


Devan bangkit keluar dari mobil, Dia sangat terkejut, matanya melebar melihat Saga yang di pukuli, Ia melangkah gontai perasaannya hancur melihat sendiri kejahatan Diandra. Istrinya.


"Bagus bunuh dia, bunuh dia" teriak Diandra antusias tak menyadari Devan sedang menatapnya.


"Diandra?" teriak Devan, lalu melangkah mendekat pada istrinya itu.


Diandra mendogakkan wajah, wanita itu terperangah dengan mata membola melihat suaminya datang, berjalan ke arahnya.


"Devan?" satu kata terucap dengan mulut bergetar, seolah bibir itu tak sanggup lagi berkata-kata.


"Berhenti! Jagan mendekat lagi, kalau tidak. Aku akan mencelakai Emeli, Diandra mengeratkan pisau di leher Emeli, membuat Devan menghentikan langkahnya.


"Kenapa Diandra?Kenapa kamu lakukan ini?" ucap Devan, sedang Diandra hanya mengeleng dengan manik mata berkaca-kaca.


"Devan aku....!"Diandra tertunduk sedih, dia tidak sanggup memberi alasan, ucapannya tercekat dengan air mata yang mengalir di pipinya."


"Diandra.... aku tidak percaya. Diandraku bisa sejahat ini. Kamu tahu, kamu satu satunya wanita yang paling aku percaya. Aku kecewa, andai kau tahu meski kita tidak memiliki anak, asal kita bersama itu sudah cukup.


Aku bahkan berani menentang orang tuaku demi kamu. Tapi kenapa kamu masih ragu tentang perasaanku padamu.Dengarkan aku, Diandra. Kita perbaiki segalanya...., menyerahlah pada polisi aku mohon!"


"Tidak....! Setelah kamu mengetahui semuanya. Pasti kamu tidak akan pernah memaafkan ku!" Diandra menolak.


"Diandra, kita bicarakan baik-baik lepaskan Emeli." bujuk Devan


"Tidak..!" Diandra menegaskan , dari kejauhan Saga menyimak dengan khawatir keadaan Emeli yang di jadikan tawanan.


"Aku mohon...Mana Diandraku yang dulu?" Devan melangkah maju sedang Diandra mengeratkan pisau di leher Emeli.


"Angkat tangan?" ucap polisi sambil mengacungkan pistol ke arah Diandra dan anak buahnya. Diandra terperanjat anak buahnya tertangkap tinggal Dia seorang, karena menawan Emeli.


"Diandra kamu sudah di kepung, aku mohon,


Diandra." bujuk Devan, melangkah kian mendekat.


"Tidak Devan!"


Emeli yang melihat diandra tengah serius bicara dengan Devan, dengan keras menginjak kaki Diandra. Diandra terperanjat reflek melepaskan Emeli.Emeli berlari dengan sisa tenaga yang ada, sedang Diandra mengejar dengan kencang, pisau itu Diandra layangkan.

__ADS_1


Diandra mengeleng heran perlahan melepas tangganya yang penuh darah.


"Devan?" lirih Diandra bersama air mata yang jatuh di pipinya. Seketika tubuh Devan yang menghalangi tubuh Emeli yang akan di tusuk ambruk. Diandra membuang pisaunya lalu memeluk tubuh suaminya.


"Devan..., kenapa kamu lakukan ini, Kenapa?" lirih Diandra.


"Diandra aku mencintaimu, aku menerima kamu apa adanya, mungkin ini salah ku. Kurang memberi perhatian padamu, jadi ini hukuman yang pantas untuk!" lirih Devan, sambil menahan kesakitanya.


"Tidak...., Devan kamu harus selamat, aku mohon, Aku akan membawamu ke rumah sakit, kamu akan selamat." Diandra berucap, sambil terisak melihat suaminya terluka karena dirinya penyesalan sangat dalam terasa.


"Aku mohon Devan kamu harus selamat, jika kamu mati. Aku akan mati dengan mu, aku mohon..., Aku mohon...!" Diandra terisak.


Diandra yang memeluk suaminya, dengan air mata yang terus mengalir, tangan Devan yang penuh dara bergerak mengusab wajah sedih Diandra sembari tersenyum


"Diandra kamu gadis yang baik setelah kepergianku, aku mohon jadilah Diandra yang dulu." lirih Devan.


"Baiklah..., aku akan berubah aku akan melakukan apapun yang kamu mau, aku juga akan menyerahkan diri pada polisi, tapi aku mohon kamu harus selamat." ucap Diandra penuh penyesalan.


"Kamu memang istri yang penurut Diandra.


lirih Devan. mengerakkan tangan mengusab wajah Diandra yang menagis terisak.


Emeli, dan Saga yang sedari tadi di samping Devan, tangan Emeli sudah terbuka karena Saga sudah melepasnya.


"Emeli..." lirih Devan menahan sakit.


"Ini aku, Devan, Aku di sini" Emeli berucap, sambil memegang tangan Devan, air matanya jatuh melihat lelaki yang selama ini mencintainya dengan tulus terkapar tak berdaya.


"Emeli aku mohon....,maafkan Diandra, yang patut di salahkan di sini aku, aku bukan suami yang baik untuknya." lirih Devan.


"Iya Aku akan memaafkannya, kamu harus bertahan Devan." Emeli mengeratkan tangannya memegang tangan Devan.


"Terimakasih Emeli, aku bahagia bisa mencintai wanita hebat seperti dirimu."


"Jangan bicara begitu devan..., kamu akan selamat aku yakin aku mohon bertahanlah" lirih Emeli begitu takut kehilangan. Devan mengeleng lemah.


"Bolehkah, aku minta satu permintaan" lirih Devan dengan tatapan memohon.


"Apa....?"


"Aku titip Diandra padamu Emeli..., dia tidak punya siapapun di dunia ini. Aku yakin kamu bisa merubahnya tidak seperti aku yang gagal.


Aku mohon." Emeli menganggukkan setuju.


"Kalian berdua wanita yang aku cintai dan aku tidak pernah menyesal mencintai kalian berdua."


"Devan aku janji, aku akan menjaga Diandra, Aku janji Devan" lirih Emeli sambil terisak.


Devan tersenyum sedikit senyum, pria itu meringis dengan perlahan matanya tertutup


"Devan..... jangan tinggalkan aku, Devan...." teriak Diandra memeluk jasad suaminya, Diandra menangis sejadi-jadinya penyesalan begitu amat dia rasa.


Sedang Saga memeluk Emeli yang menangisi kepergian Devan.Hembusan angin terasa bersama Isak tangis yang terdengar memilukan. Terlihat tubuh Devan bersimbah darah. Diandra histeris, cinta yang selama ini dia agung agungkan. Bahkan Segala cara di pertaruhkan untuk Devan, tapi kini Devan meninggal di tangganya sendiri. Inilah hukuman yang paling menyakitkan yang di terima Diandra.


Cinta itu indah! tapi, kadang kala cinta yang berlebihan membuat orang hilang arah.

__ADS_1


Tamat


Terimakasih telah membaca sampai tamat


__ADS_2